Salam sanak sapalanta :
 
Selamat membaca dan sudi menyimak...
 
 
Pengalaman Naik Pesawat Udara
Oleh  : 3vyniz
 
Entah mengapa disaat aku berkeinginan untuk menulis kisah Pengalaman Naik 
Pesawat Udara – tiba tiba muncul berita di media elektronik kemarin tanggal 29 
Oktober 2008, bahwa sebuah pesawat Cesna milik Sekolah Penerbang milik swasta 
telah terdampar mendarat di jalan Tol ; Km 71 – Jakarta – Cikampek. Seandainya 
instruktur dan siswanya sempat mengemukan pengalaman pribadi saat ia menentukan 
pilihan mendarat di jalan tol itu pasti kisahnya juga akan menarik.   
 
Apa dan bagaimana yang pernah kualami adalah begini. ..
 
Ketika masih kecil doeloe, apa yang terbersit dibenakku, mana kala ditayangkan 
iklan pesawat Garuda Indonesian Air Ways – GIA – adalah aku akan meraup begitu 
banyak permen yang disodorkan oleh pramugari pesawat. Persis aku ingin meniru 
perbuatan anak pemeran iklan pesawat Garuda itu. Ternyata apa yang aku 
angan-angankan itu berbeda dengan apa yang aku alami disaat naik pesawat 
pertama kalinya.
 
Setelah menempuh perjalanan selama enam hari enam malam naik kapal laut dari 
Tanjung Priok Jakarta menuju pelabuhan Sultan Hasanuddin Makassar, maka 
menginaplah kami di Mess tamu milik PT Aneka Tambang beberapa hari lamanya. 
Ketika itu aku dan 2 orang abangku bermaksud mengisi liburan panjang kami di 
Unit Pertambangan Nikel Pomalaa – Kolaka - Sultra. Aku yang saat itu selesai 
mengikuti Ujian akhir sekolah dasar serta abangku selesai mengikuti ujian SLTA, 
ditawarkan Kakak perempuanku/suami untuk berlibur  ke Lokasi tempat suami 
berdinas yaitu Unit Pertambangan Nikel Pomalaa. 
“ adik-adik ; evi..dst,  naik kapal laut saja, sekalian mengisi liburan panjang 
kalian, demikian surat kawat yang kami terima waktu itu. Sebelumnya aku sudah 
melonjak kegirangan – karena membayangkan bahwa aku akan naik pesawat dan akan 
meraup permen sebanyak-banyaknya, sesuai dengan khayalanku. Walau kami bertiga 
kecewa saat itu – maklum semuanya kepengen naik pesawat – kami patuh mengikuti 
saran kakakku itu untuk naik kapal laut ke Makassar pada akhir tahun 1970 itu.
 
Singkat cerita ; di Kota Makassar kami sudah menginap selama 4 hari. Namun 
angkutan yang akan mengantarkan kami ke desa terpencil itu tak kunjung tiba. 
Mengapa demikian ?  Satu satunya angkutan menuju kesana adalah menunggu kapal 
muatan nikel yang balik dari Jepang dan singgah di pelabuhan Makassar itu atau 
pesawat Cesna. Sesungguhnya Kapal itu sebesar kapal tanker yang kita kenal, 
sering dugunakan untuk melayani dan mengangkut Pempinan/karyawan Unit Nikel 
termasuk orang yang berkunjung kesana. 
 
Demikian, pada hari kelima di kota Makassar, menjelang sholat Jum’at, seorang 
staf PT Antam menemui kami dan berkata : “ Adik-adik nanti setelah sholat 
Jum’at, kalian Oom antar ke Bandara  “. Kalian kami berangkatkan dengan pesawat 
Cesna… 
Aku diam karena tidak mengerti dan bersikap tidak kepingin tahu. Sementara 
abangku tersenyum senyum sambil berkata : Waduh… kita bak orang kaya nih… Tahu 
gak kamu Evy… ini pesawat kecil yang biasanya digunakan untuk mengangkut 
jutawan atau digunakan sebagai pesawat latih.  “Hemmm .. terserahlah, sambil  
aku angkat bahu. 
 
Sesampai di Bandara, aku melihat pesawat itu bagai sebuah burung raksasa yang 
putih dan cantik. Seperti aku melihat burung “ Bourag “ yang akan diarak 
sebagai Tabut – pada masa kecil sebelumnya. 
“ Benarkah ini pesawat…????, bisikku gemetar. Kok kecil sekali..
 
Pada jam 14.00 WIT siang itu,  berangkatlah kami sebanyak 5 orang, yaitu kami 
bertiga bersaudara, satu pejabat keuangan Unit Nikel dan sang Pilot. Tidak ada 
pramugari yang manis-manis datang membawa makanan semisal sebuah kotak yang 
cukup mewah isinya serta menu bergizi dengan standar empat sehat lima sempurna 
serta menawarkan minuman kepada kami, seperti yang semula aku khayalkan. kami 
serasa duduk diatas sebuah minibus yang zaman dulu dikenal dengan nama ' 
Commuter". 
Pesawat Cesna itu terbang dengan kecepatan sedang-sedang saja. Apa yang 
kuangankan aku akan meraup permen dan meminum apa yang aku suka seperti teh 
manis, susu coklat dan softdrink lainnya, sirna semua dari angan angan itu.  
Pilot berkaca mata hitam cuek .. saja pada kami. Bagiku serasa naik mobil kecil 
saja …
Mengisi perjalanan yang katanya 45 menit itu, aku menatap kedarat dan betapa 
indahnya alam Sulawesi Selatan ini. Hampir menyerupai alam Minangkabau - walau 
saat itu aku belum mampu membandingkannya. 
Ketika pesawat berbelok akan melintasi teluk Bone…, tiba datang awan gelap 
menghadang kami. Cummuter Udara itu terlonjak – lonjak. Pilot sibuk 
bercakap-cakap di radio – menggunakan bahasa yang tidak kami mengerti. Kami 
berempat ketakutan. Rasanya tenggorokanku tercekik. Rasa haus datang mendera…., 
tapi tidak ada pelepas dahaga yang akan mengobati rasa haus ini.  Aku belum 
mengerti bagaimana harus bersikap. Aku hanya anak kecil yang baru belajar 
mengaji hingga juz 25. Belum tahu cara menenangkan diri. Aku teringat Papa… dan 
ibu yang kupanggil Nanak.. Yang kulihat Oom Massie – pejabat Antam itu – tiap 
sebentar membuat tanda salib dimuka dan didadanya. Dia khusuk berdoa… Demikian 
pula, Abangku komat –kamit. Akhirnya dengan cara yang lugu aku berdoa : " 
Tuhan… aku masih ingin bertemu Papa… jangan pisahkan aku dengan Nanak, bujukku 
pada Tuhan. 
Sementara itu terdengat permbicaraan antara sang Pilot dan pemandu udara. 
Terdengar kata – kata.. yanki… yanki … tanggo .. alpha…. Beta … romeo, dalam 
percakapan itu. Itulah kalimat yang pertama kali kudengar di bumi Allah ini,  
ada bahasa yang tidak aku mengerti… Persis juga seperti aku mengenal pertama 
kali huruf morse - ketika Papa dulu bertugas sebagai Kepala Stasiun Kereta Api 
di Sumbar. Dengan kode morse itulah ia memberitakan bahwa kereta api telah 
dilepas dari Stasiun yang dikepalainya. 
 Dalam himpitan ketakutan seorang anak kecil dikala itu, tidak berapa lama 
kemudian pesawat Cesna kami berhasil lolos dari sergapan awan gelap dan masuk 
ke awan yang seputih  salju. Disaat pesawat menerobos awan putih itu, 
suara-suara komando mulai jarang terdengar. Tidak berapa lama kemudian – 
mulailah aku melihat sisi pantai dengan pasirnya yang putih. Pantai itu adalah 
salah satu kaki yang miring dari lekukan pulau Sulawesi yang berinisial huruf 
K. 
Satu setengah jam sudah kami meninggalkan Bandara – Makassar.. Akhirnya pesawat 
Cesna mendarat di lapangan tanah merah yang menimbulkan kepulan berwarna merah. 
Anak-anak dari masyarakat sekitarnya berlarian menuju pesawat kami. Kepulan 
berwarna merah itu menerpa baju dan mukaku   dan menyisakan warna pula pada 
baju baju kami. 
Dengan perasan lega, kami bertiga bersaudara tertawa gembira sambil abangku 
berkata : Gile bener…. Benar-benar menegangkan…  
Bagi anak sekarang yang sudah merasakan naik kora-kora, halilintar dan tornado, 
begitulah yang dirasakan oleh kami waktu itu
 
Tahukah Anda… bahwa pesawat yang aku dan abangku ditumpangi pertama kali ini, 
sebenarnya memiliki jarak tempuh 45 menit saja, namun saat itu kami menempuh 
perjalanan selama 1 jam 15 menit. 
 
Bagaimanakah kisah berikutnya dari pengalaman naik pesawat ini..? 
Terus terang, ada sahabat saya menuliskan pengalamannya Pertama Naik Pesawat 
Terbang,  dalam sub  judul : 
- Pengalaman Pertama Melihat Awan dari  Udara, jawab saya Huuu…. Seram.. 
 
- Pengalaman Pertama Membaca di Udara, jawab saya .. yang ini ndak ada .. wong 
pesawatnya kecil mungil..
 
- Pengalaman Pertama Makan dan Minum Soft Drink di Udara, jawab saya .. yang  
ini nih… yang saya khayalkan ingin meraup permen sebanyak-banyaknya, namun 
tidak kudapatkan.
 
- Pengalaman Pertama Buang Air Kecil di Udara, jawab saya… Walah…ketika rasa 
ketakutan datang menyergap diri, keinginan itu tidak bisa dibendung. Tetapi 
siapa yang membolehkanmu untuk melakukan hal ini jika dalam keadaan genting…???
 
Nah... diantara beberapa pengalaman sahabat saya itu, ada yang belum 
didapatkannya yaitu : “ pengalaman Jumping diudara…” 
 
Ondeh mande iyo sabana suerruuu... kata salah satu anggota grup lawak Bajaj...
 
Mari kita tunggu carito rabab abad millennium berikutnya.
 
Wassalam,


  3vy Nizhamul 

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com


 
"suheimi ksuheimi" [EMAIL PROTECTED]
 
Bagus sekali kisahnya  mencekam dan mendebarkan
kami usulkan supaya kisah-kisah di Pesawat atau di kapal  dilantunkan ke Rantau 
net
 
salam beriring do'a
 
K Suheimi


 
 






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke