Selepas solok, tepatnya setelah jalan lurus Pandan.  Jalan menikung patah.  Di 
sana lah Saok Laweh kito jelang.  Kampungnya Mak Zul Piliang. Tempat beliau 
menikmati libur panjang di kampung selama ramadan dan syawal tahun ini.

Mak Zul gelisah, ia menemukan kampung halamannya berbeda dar masa kecilnya 
dulu. Dua bulan di kampung membuat ia punya waktu menyelami kehidupan banyak 
sisi masyarakat nagari. Beda dengan kepulangan-kepulangan sebelumnya, dimana 
waktu tersedia sangat sempit.

Mak Zul bertanya, acara jalang-manjalang selama lebaran tak lagi disertai doa 
selamat.  Orang-orang lebih memilih datang, bersalaman, duduk di kursi -tak 
lagi baselo dan basimpuiah- bercerita tentang keluarga dan teman lain.  Lalu 
mencicipi makanan, berat atau ringan.  Lalu bersalaman lagi, pamit untuk pulang.

Mak berteori, tukang doa sudah berkurang di seantero nagari.  Tak banyak lagi 
pakiah, labai, malin dan semacamnya. Yang lain menyela, mendoa tak perlu 
perantara.  Langsung saja dari kita makhluknya, kepada sang khalik.  Kalau 
hanya untuk berdoa, labai dan pakiah tak perlu ada disana.  Mereka perlu ada 
untuk bertanya dan bersurah.

Mak Zul mungkin kecewa.  Ia tak bertemu rombongan anak muda berkopoiah, 
berjalan rumah ke rumah di hari raya.  Tikar membentang, makan bersama, 
bersimpuh dan bersila, lalu ditutup membaca doa.  Dimana hampir semua yang ada 
disana, kalau hanya sekadar 10 atau 15 aminn pasti bisa. Atau ketika butuh yang 
lebih hebat, pakiah dan labai yang sedang lewat diajak singgah.  Ia diminta 
berdoa di rumah kita.

Mak Zul mungkin lupa. Bahwa kampung kita berubah.  kadang berubah ke sebuah 
yang kita pahami lebih baik. Kadang ia berubah ke sebuah yang kita pahami 
sebuah buruk. Keponakan saya mampu membaca sabihisma dengan fasih.  Saya sampai 
hari ini hanya bisa mengikuti imam. Disuruh sendiri, pasti terbolak balik. 
Sepupu kecil saya, rambutnya mohawk dengan anting di telinga.

Mak Zul yang baik. Kalau kita  punya waktu dan kesempatan. Mamak akan saya 
sambangi di Bali.  Kita makan bersila.  Selesai makan, kita membaca doa 
selamat. Kalau 20-an amin, saya masih bisa. Tapi mengutip uni Fitri, saya lebih 
mungkib lebih dekat ke dubalang daripada ke malin.

Wassalam

MS/29
Powered by Telkomsel BlackBerry®
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke