Sastrawan Marah Rusli Dapat Budaya Parama
Sabtu, 08 November 2008 PADANG -Selain tiga putera terbaik Indonesia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana, juga diserahkan bintang Budaya Parama Dharma kepada sutradara Wahyu Sihombing dan sastrawan Marah Rusli. Lalu siapa Marah Rusli? Namanya sangat terkenal karena karya novelnya 'Siti Nurbaya', sebuah roman dengan setting Minangkabau. Novel roman ini merupakan salah satu ikon sastra Indonesia yang amat terkenal dan membawa nama Minangkabau ke mana-mana melampaui zamannya. Hingga kini roman tersebut dijadikan salah satu bacaan para siswa di Indonesia dalam mempelajari kesusasteraan. Begitu populernya novel itu, sehingga dijadikan idiom oleh masyarakat kini untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan orang tua yang menjodohkan anaknya. Marah Rusli masih termasuk keluarga bangsawan Pagaruyung. Ia lahir di Padang, 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sutan Abubakar, gelar Sutan Pangeran. Ibunya berasal dari Jawa dan keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Ia masuk Sekolah Dasar di Padang yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar. Setelah lulus, ia melanjutkan ke sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi, lulus tahun 1910. Ia melanjutkan sekolahnya ke Vee Arstsen School (sekolah Dokter Hewan) di Bogor dan lulus tahun 1915. Setelah tamat, ia ditempatkan di Sumbawa Besar sebagai ajung dokter hewan. Tahun 1916 ia menjadi kepala peternakan. Pada tahun 1920, Marah Rusli diangkat sebagai asisten dosen Dokter Hewan Wittkamp di Bogor. Karena berselisih dengan atasannya, orang Belanda, ia diskors selama setahun. Selama menjalani skorsing itulah ia menulis novel 'Siti Nurbaya' pada tahun 1921. Karirnya sebagai dokter hewan membawanya berpindah-pindah ke berbagai daerah. Tahun 1921-1924 ia bertugas di Jakarta, kemudian di Balige antara tahun 1925-1929 dan Semarang tahun 1929-1945. Tahun 1945, Marah Rusli bergabung dengan Angkatan Laut di Tegal dengan pangkat terakhir mayor. Ia mengajar di Sekolah Tinggi Dokter Hewan di Klaten tahun 1948 dan sejak tahun 1951 ia menjalani masa pensiun di Bogor. Menurut tamanismailmarzuki.com, novelnya, 'Siti Nurbaya' mendapat hadiah dari pemerintah RI tahun 1969. Karyanya yang lain novel 'La Hami' di tahun 1952, novel 'Anak dan Kemenakan' tahun 1956, dan 'Otobiografi Memang Jodoh'. Ia juga menerjemahkan novel karya Charles Dickens yang berjudul 'Gadis yang Malang' pada tahun 1922. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi ia kokoh pada sikapnya, dan tetap mempertahankan perkawinannya. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatra Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat. Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat, adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya. Menurut wikipedia.com dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai kini. Setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, Siti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan, bahkan kemudian dibuatkan sitenronnya.kj The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
<<inline: image001.jpg>>
