Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Dalam tahun-tahun belakangan ini kita orang Minangkabau tercengang-cengang saja dengan tuduhan kekejaman yang dilakukan oleh tentara Paderi di Tanah Batak, yang disebut sebagai tingki di pidari. Bacalah tulisan Ir Mangaradja Onggang Parlindungan, atau Basyral Hamidy Harahap. Paling akhir, kita membaca aksi petisi Ir Mudy Situmorang untuk mencabut gelar kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol.
Didorong oleh hasrat untuk ikut membangun saling pengertian dan persatuan sesama bangsa Indonesia, kita memprakarsai Seminar Sejarah Perang Paderi pada tanggal 22 Januari 2008 yang lalu, dan berhasil merumuskan suatu kesimpulan yang bersifat rekonsiliatif.
Walaupun demikian, tudingan tertulis dalam buku-buku Parlindungan dan Harahap tersebut di atas -- yang masih disebarluaskan dalam masyarakat -- memerlukan penjernihan secara tertulis pula. Hal itu jelas tidak mudah. Sudah barang tentu kita tidak bisa lagi mengharapkan ralat dari almarhum Parlindungan. Lagi pula, masih dapat dipertanyakan apakah Harahap bersedia membuka diri untuk memeriksa lagi kesimpulannya tentang Perang Paderi, apalagi oleh karena tulisannya bertujuan untuk menunjukkan keberanian nenek moyang beliau melawan Belanda dan seiring dengan itu ketidakberanian para tuanku Paderi, khususnya Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai.
Saya termasuk salah seorang yang risau dengan tuduhan-tuduhan tersebut, dan demi ketuntasan, berusaha mencari keterangan lebih lanjut mengenai  tuduhan-tuduhan tersebut dari tokoh Batak yang lain. Syukur Alhamdulillah, saya menemukannya dalam disertasi Bungaran Anthonius Simanjuntak,2001, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba,Penerbit Jendela, Yogyakarta. Dalam halaman 12 beliau menulis sebagai berikut.
 
"  Memang telah terjadi banyak peperangan antardesa dan antarkelompok marga yang berlangsung lama, seperti dicatat dalam laporan para penulis terdahulu (Joustra, 1910; Warneck, t.t.). Bahkan perang Paderi diperalat sebagai penyulut perang antardesa, walaupun orang-orang Paderi sudah tidak terlibat. Para aktor perang memperalat nama Paderi untuk melegalisasi perangnya sekaligus menyembunyikan jatidiri mereka. "

Sekedar catatan, disertasi Simanjuntak (2001) tersebut di atas tidak terdapat dalam Bacaan Rujukan dari buku Basyral Hamidy Harahap (2007).
Sesuai dengan judul disertasinya, Simanjuntak menerangkan bahwa konflik dalam masyarakat Batak -- khususnya masyarakat Batak Toba -- sudah berlangsung lama. Konflik tersebut berakar pada pandangan masyarakat Batak tentang apa yang dianggap baik sebagai tujuan dalam hidup, sehingga dapat dikatakan bahwa konflik tersebut bersifat sistemik dan struktural.
Kehadiran Paderi -- yang pada suatu kurun seperti diakui Tuanku Imam Bonjol sendiri memang melakukan kekejaman yang sama terhadap sesama orang Minangkabau -- merupakan suatu alasan yang pas bagi suatu marga Batak untuk menyerang marga Batak  yang lain. Menyedihkan memang. Syukur kemudian Tuanku Imam Bonjol mengoreksi kebringasan tersebut setelah mengirim empat orang utusan ke Tanah Suci, dan seiring dengan itu memfatwakan apa yang sekarang kita kenal sebagai ABS SBK.
Ringkasnya, baik untuk lebih mengerti latar belakang jatidiri kita maupun untuk dapat memilih kebijakan yang lebih baik untuk masa depan, kita memang perlu mengkaji lebih dalam sejarah kita, termasuk sejarah Gerakan Paderi.
 
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke