Sanak sapalanta, ini saya posting lagi tulisan saya ya sekedar saya
sebagai orang awam yang belum banyak tahu tentang dunia Politik, oh ya
buat Adiak Riri..baa kalau bantuak iko  komennyo tentang tulisan
ambo..nan kecek diak Riri carito parlemen JP negative..he..he

----------JP

 

ASPIRASI POLITIK SAYA

By : Jepe 

 

Jika diantara yang baik tentu pasti ada yang terbaik, sebaliknya jika
ada yang buruk tentu ada yang paling buruk.Menjelang pemilu 2009 ini
beragam pendapat masyarakat tentang partai politik kita yang lolos ikut
pemilu nanti yaitu sebanyak 34 Partai. Bagi masyarakat yang apatis bisa
jadi kekecewaan terhadap partai atau mungkin juga lagi frustasi
berpendapat ke 34 Partai tersebut sama saja "nggak bener terserahlah
siapapun yang menang dan berkuasa"

 

Jika saya ditanya kemana aspirasi politik saya akan disalurkan atau
partai mana yang saya pilih maka seperti yang saya utarakan dikalimat
pembuka tulisan ini, Jika semua partai itu baik saya akan pilih yang
terbaik (menurut saya), seandainya semua partai itu buruk tentu saya
tidak akan pilih yang terburuk (menurut saya juga, maksudnya bagi saya
terbaik  belum tentu terbaik bagi orang lainnya dan sebaliknya)

 

Menurut saya lagi dalam Demokrasi (Iklim Demokrasi Negara kita saat ini)
sepertinya kita tidak bisa melihat "Ooo ini hitam ...Ooo ini putih" tapi
lebih baik kita bisa memilah-milah mana yang hitam dan mana yang putih.
Silahkan saja jika mau berdiri di Hitam atau Putih dengan segala resiko
yang akan dihadapi jika memang kita ingin terjun di dunia Politik
Indonesia. Sebaiknya jangan berdiri di Abu-abu ini akan membuat kita
terjebak menjadi oportunis yang hipokrit, tapi nampaknya alam demokrasi
kita kadang-kadang memang harus memilih abu-abu dan tampaknya memang ini
kecendrungan para politikus kita.Mereka rata-rata bermain diwilayah
abu-abu dalam menanam pohon yang bernama Demokrasi

 

Kenapa saya sedikit berani mengatakan "Abu-abu", saya yang orang awam
dalam dunia politik berdasarkan pengamatan, apa yang saya baca, dengar
dan lihat kejadian gonjang-ganjing dunia politik kita baik dari media
cetak, elektronik dan maya bahkan bergaul dengan salah satu teman saya
dari kecil yang menjadi anggota Dewan memang begitu kenyataannya. Bukan
hal yang aneh lagi kita membaca, mendengar dan melihat besok seorang
politikus A berkata begini, lalu besoknya lagi bermanuver begini. Loncat
sana loncat sini, tidak puas disini mencari kepuasan disana. Menohok
dari depan sekarang, besoknya menohok dari belakang. Gunting dalam
lipatan diam-diam, lain waktu menggunting dalam lipatan terang-terangan

 

 Bulan ini berkata dua tambah dua adalah empat, bulan selanjutnya perlu
diralat bahwa dua tambah dua itu bisa lima malah bisa berkurang menjadi
tiga katanya "kepentingan yang abadi" atau telah ada "deal" tertentu
sehingga dua tambah dua ini penuh ketidakpastian berapa hasilnya. Jika
perlu segala cara dilakukan dalam bermanuver untuk sebuah slogan yang
bernama "Hanya kepentingan yang abadi".Begitulah alam demokrasi kita
saat ini dan itu selalu berdampak betapa mahalnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk menanam pohon demokrasi yang buahnya kadang-kadang
banyak yang busuk, masih syukur bisa dimakan separohnya yang paling
celaka buah busuk ini seekor monyet yang rakuspun enggan sekedar
mencicipinya. Satu hal lagi kita lebih mudah memprediksi berapa banyak
buah busuk dari pada berapa banyak  buah manis yang akan dihasilkan oleh
pohon Demokrasi ini

 

Saya memang seorang simpatisan sebuah partai, belum menjadi elemen
secara structural partai tersebut (menjadi anggota) tapi menurut saya
seperti yang saya katakan diatas, jika partai ini bersama 33 partai yang
lain adalah baik semua maka pilihan saya inilah yang terbaik, sebaliknya
jika ke 34 partai ini buruk semua, maka partai tempat saya menyalurkan
hak-hak politik saya ini bukan yang terburuk dan saya meyakini tidak ada
yang sempurna ke 34 partai tersebut .

 

Saya mempunyai kelompok diskusi bersama teman-teman saya satu alumni
yang terjun di dunia Politik, secara kolektivitas visi kami hanya
membahas hal-hal yang realistis saja bukan masalah "teknis politik
praktis dilapangan" seperti bagaimana bermanuver menjelek-jelekan partai
lain kepada konstituen kami atau menerapkan strategi janji-janji manis
dimulut untuk merebut suara. Kami hanya membahas jika nanti salah satu
teman kami duduk sebagai anggota dewan kami memberi panduan dan kajian
masalah-masalah yang mendasar bagi semua masyarakat tanpa membedakan
status social.

 

Itu adalah biaya pendidikan yang murah dan terjangkau oleh masayarakat
banyak jika memang tidak bisa diupayakan gratis, biaya kesehatan yang
murah jikapun terlalu susah untuk gratis, kebutuhan hidup sehari-hari
terutama sembako yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan murah tanpa
dipermainkan oleh oknum jika memang harga tersebut melambung tinggi itu
sebagai akibat mekanisme pasar,  hanya akan terjadi sesaat karena
berlaku hukum ekonomi yang dinamis (harga ditentukan oleh supply dan
demand) atau mungkin saja terjadi bencana alam yang membuat jalur
transportasi barang dan jasa terputus.

 

Disamping itu kami yang berlatar pendidikan pertanian dalam arti yang
luas ingin memberdayakan hasil pertanian dan petani kita mulai dari hulu
ke hilir yang selama ini memang memprihatinkan sebagai contoh yang
sangat memprihatinkan di toko buah terpajang kelapa muda dengan tampilan
menarik berasal dari Thailand apa ini tidak membuat kita sedih.
Berjuta-juta kelapa tumbuh di bumi Indonesia, bahkan di Pariaman ranah
minang dipesisir pantainya setiap kaki melangkah akan menemukan pohon
kelapa. Apa yang salah, dimana letak sebuah "anomaly" yang tidak masuk
akal ini, jawablah..

 

Terhadap pemberdayaan hasil pertanian dan petani anak bangsa kita ini,
kami menaruh respek kepada sebuah partai yang hampir tiap hari
menayangkan iklannya di televisi, semoga burung garuda dengan matanya
yang tajam melayang-layang diudara Indonesia bisa memantau dan mengawasi
para petani kita, jika ada serbuan produk impor sayur, buah-buahan dan
protein hewani dari negara asing yang membuat petani kita tidak berdaya
maka burung Garuda yang melayang-layang ini akan berteriak keras dengan
pekiknya lalu turun mematuk dengan paruhnya yang tajam para kompetitor
petani kita yang berasal dari negara tetangga.

 

Sebagai warga negara yang mempunyai hak-hak politik sementara begitulah
sikap saya dalam menyalurkan aspirasi dan tentunya saya (kita) berdoa
kepada yang kuasa, kepada yang maha segalanya Allah swt agar para
pemimpin, elit politik dan penguasa kita memimpin negara kearah hidup
yang lebih baik, sejahtera, adil dan merata yang dinikmati oleh segenap
lapisan masyarakat tanpa membedakan golongan, suku, ras dan agama. Amin

 

***

Pekanbaru, 13 November 2008

 

 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke