Pak Saaf dan sanak sa-palanta, Saya rasa bukan soal orang dulu lebih piawai atau kita yang berpuas diri, tetapi pertanyaannya adalah apa makanan otak yang disantap orang-orang dulu dan generasi sekarang ketika mereka sekolah?
Dalam sebuah diskusi beberapa waktu yang lalu di Leiden, Max Lane, pengamat politik dan sejarah asal Australia, mengungkapkan dua komponen yang hilang dari kurikulum pelajaran di sekolah-sekolah kita sejak masa Orde Baru. Pertama, pelajaran sejarah. Oleh Orde Baru pelajaran sejarah direduksi menjadi hanya nama-nama, tanggal-tanggal dan nama-nama tempat tanpa memberikan ruang untuk membuat interpretasi dari fakta-fakta sejarah yang ada, karena menurut Orde Baru hanya ada satu sejarah yaitu versi Orde Baru. Di Kompas beberapa hari yang lalu ada resensi buku yang mengkritisi peranan TNI dalam penyusunan sejarah Indonesia di masa Orde Baru. Pendekatan ini menciptakan generasi yang kurang peka sejarah, tidak kritis dalam berpikir dan sulit menghargai perbedaan pendapat. Meski dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia semarak dengan publikasi banyak sekali buku-buku yang mengupas sejarah Indonesia, namun perubahan dalam pengajaran sejarah di sekolah-sekolah kita rasanya masih jauh. Kedua, pelajaran sastra. Lihat artikel di bawah yang saya cuplik dari Kompas hari ini. Tidak ada buku sastra yang jadi bahan bacaan wajib di sekolah-sekolah Indonesia! Berjuta-juta anak bangsa tumbuh dewasa tanpa pernah membaca dan mencoba memahami ide-ide besar yang ada di benak bapak-bapak dan ibu-ibu penulis dan pendiri bangsa. Sehingga mereka kehilangan sumber inspirasi dan sulit membangun kepedulian untuk berpikir kemana bangsa ini akan mereka bawa di masa yang akan datang. Celakanya mereka juga jadi tidak suka membaca - karena tidak dibimbing bagaimana memahami ide-ide yang dikemukakan dalam karya sastra - akhirnya mereka lebih suka menonton acara TV yang tidak mendidik. Lebih celaka lagi, mereka tidak tahu kalau apa yang mereka saksikan di TV itu cuma umpan untuk menaikkan rating. Berbicara soal membaca, bukankah ayat pertama dalam Alquran adalah perintah membaca? Ketika menyampaikan wahyu pertama, Jibril tidak meminta Rasulullaah untuk mengulangi kata-kata yang diucapkannya. Tapi menyuruh membaca! Saya sendiri bisa jadi termasuk generasi ini, karena saya sekolah di jaman Order Baru. Setahun yang lalu, saya membaca buku surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris. Rasanya saya tidak pernah membaca "Habis gelap terbitlah terang" semasa saya kecil. Ketika saya telusuri surat-surat tersebut, saya sungguh terhenyak. Bagaimana bisa seorang Kartini, perempuan Jawa yang hidup di masa penjajahan Belanda di akhir abad ke-19, dipingit dalam lingkungan adat aristokrat Jawa yang ketat dan hanya menempuh pendidikan dasar Belanda, bisa menulis demikian tangkas dan artikulatif. Terlebih lagi, ide-idenya jelas dan bernas. Pertanyaan-pertanyaannya masih relevan. Walau setiap tahun kita merayakan Hari Kartini, sudahkah kita menyelami pemikirannya? Tahukah anak-anak kita cita-cita Kartini yang mereka lagukan? Apakah cita-citanya hanya sebatas mengenakan baju daerah? Meski kita sudah lebih 60 tahun merdeka, tapi pemikiran Kartini masih relevan untuk dipelajari dan diperjuangkan. Itu baru dari Kartini saja, belum lagi Soekarno, Hatta, sastrawan balai pustaka, pujangga baru, St. Sjahrir, Pramoedya dan banyak lagi yang lainnya. Di sekolah-sekolah kita pelajaran ilmu sosial dan ilmu bahasa direduksi menjadi hapalan sehingga dipandang sebelah mata. Pelajaran tentang nilai-nilai luhur, semangat kebangsaan dan sebagainya yang mestinya terserap dari mempelajari karya sastra dari penulis-penulis besar bangsa kita sendiri dicoba diganti dengan materi seperti PMP (entah apa namanya sekarang) yang penuh dengan instruksi dan penggambaran benar salah yang sulit diaplikasikan di dunia yang fana ini. Meski tingkat pendidikan kita jauh lebih baik sekarang dari pada masa pra-kemerdekaan, meski kita punya lebih banyak rumah sakit dan dokter, punya lebih banyak insinyur, sarjana hukum dan sebagainya, tetapi kita tidak mampu menandingi lompatan yang dibuat bangsa-bangsa lain, bahkan negeri jiran sekalipun! Bayangkan kerugian bangsa kita karena generasi muda Indonesia menghabiskan 12 tahun masa pendidikan dasar dan menengah mereka hanya untuk menghapal dan sedikit sekali berlatih untuk berpikir. Mungkin saya berlebihan, karena tidak semua yang diajarkan di sekolah itu jelek, tapi rasanya kita semua sepakat, menghapal sejarah dan ilmu bahasa bukanlah terjemahan dari 'mencerdaskan kehidupan bangsa' yang kita cita-citakan. Lebih baik terlambat untuk mulai membaca karya sastra dan berani menginterpretasikan sejarah - daripada tidak sama sekali. Salam Sutan Mangkuto Sati (35, Den Haag) http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/17/20103551/perlu.paradigma.baru.dalam.pengajaran.sastra Perlu Paradigma Baru dalam Pengajaran Sastra Senin, 17 November 2008 | 20:10 WIB JAKARTA, SENIN - Pengajaran sastra di sekolah-sekolah masih belum mengalami kemajuan. Buku-buku sastra wajib baca tidak tersedia di sekolah-sekolah. Kondisi ini diperparah oleh guru-guru bahasa dan sastra Indonesia yang kurang menyintai sastra. Bila hal ini tetap dibiarkan, sejumlah nilai luhur seperti keimanan, kejujuran, ketertiban, pengendalian diri, pengorbanan, demokrasi, kehausan pada ilmu, akan semakin hancur. Demikian benang merah dari perbincangan Kompas dengan sastrawan Taufiq Ismail dan dengan guru bahasa dan sastra Indonesia Waitlem, yang dihubungi secara terpisah di Jakarta dan Solok, Sumatera Barat, Senin (17/11). Pada kesempatan sebelumnya, ketika Kongres Bahasa Indonesia, dengan Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Baedhowi, di Jakarta, Taufiq Ismail menilai, pengajaran sastra di sekolah-sekolah masih paradigma lama. Bahkan, hasil serangkaian wawancara dengan tamatan SMU 13 negara, pada Juli Oktober 1997, dibandingkan dengan kondisi sekarang (2008), posisi Indonesia juga tak berubah. Siswa SMU Indonesia tidak satu pun ada buku wajib sastra yang harus dibaca. Nol judul. Sedangkan negara lain berkisar 5 sampai 32 judul buku sastra wajib baca. Ini dinilai Taufiq sebagai penurunan karena di zaman AMS Hindia Belanda, siswa diwajibkan baca buku sastra 25 judul bagi AMS Hindia Belanda-A dan 15 judul bagi AMS Hindia Belanda-B. Dewasa ini sejumlah nilai-nilai luhur hancur, seperti keimanan, kejujuran, ketertiban, pengendalian diri, pengorbanan, dekomrasi, dan kehausan pada ilmu. Karena itu, karya sastra yang relevan dengan nilai-nilai itu harus dipilih untuk disajikan kepada siswa, dan didiskusikan di kelas. "Hal ini akan menumbuhkan kearifan siswa kepada manusia dan kehidupan, terasah sensitivitas estetiknya, dan terpupuk empatinya pada duka-derita nasib orang-orang yang malang," katanya. Senada dengan itu, Baedhowi mengatakan, pendidikan sastra memupuk kecerdasan siswa hampir dalam semua aspek. Peran guru berada di garis depan dalam pembelajaran sastra. Guru sebagai yang digugu dan ditiru harus dapat mengubah keadaan siswa menjadi lebih baik dalam belajar, berakhlak, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan, katanya. Menurut Baedhowi, melalui apresiasi sastra siswa dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Melalui apresiasi sastra kecerdasan intelektual siswa dapat dilatih. Kecerdasan emosional dan spiritual siswa dapat dikembangkan. Tak ada buku Waitlem seperti membenarkan pernyataan Taufiq Ismail. Menurut guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP 4 Gunung Talang, Kabupaten Solok itu, kurikulum pengajaran bahasa dan sastra Indonesia sekarang memang sudah lebih baik. Hanya kendalanya selain pada guru, yang sebagian tidak menyukai sastra, juga karena buku-buku sastra yang tidak tersedia di perpustakaan. "Bagaimana menugaskan anak membaca karya sastra dan kemudian menuliskan hasil bacaannya, sementara novel yang tersedia hanya untuk dua orang anak. Buku sastra dianggap sebagai bacaan penunjang, sehingga setiap tahun pengadaannya sekitar 1-2 judul," katanya. Menurut Taufiq Ismail , untuk meletakkan dasar yang kuat suatu program kegiatan mengatasi keterbelakangan kita, terlebih dahulu perlu ditetapkan cara pandang, paradigma baru sebagai acuan dalam membantu memperbaiki pengajaran membaca, mengarang dan apresiasi sastra di sekolah-sekolah. "Paradigma baru yang mesti dikembangkan di sekolah-sekolah adalah siswa dibimbing memasuki sastra secara asyik, nikmat, dan gembira. Pendekatannya bukan pendekatan keilmuan seperti memahami fisika, dan juga bukan pendekatan penghafalan seperti penghafalan tahun-tahun sejarah. Kita harus mampu membentuk citra sastra di hati siswa sebagai sesuatu yang menyenangkan, yang membuat mereka antusias, dan yang mereka rasa perlukan," paparnya. Kemudian, siswa membaca langsung karya sastra puisi, cerita pendek, novel, drama dan esai, bukan melalui ringkasan. Karena itu, buku-buku yang disebut dalam kurikulum, mesti tersedia di perpustakaan sekolah. Kelas mengarang harus diselenggarakan secara menyenangkan, sehingga tidak terasa jadi beban, baik bagi siswa, maupun untuk guru. Mengarang, kata Taufiq, mesti dirasakan sebagai ekspresi diri yang melegakan perasaan. Cara kuno memberi judul klise seperti "Cita-citaku" atau "Pengalaman Berlibur di Rumah Nenek" mesti diganti dengan imajinasi yang kaya, yang sesuai dengan fantasi siswa. Mengarang bukan cuma menulis laporan, tapi menggugah imajinasi dan menuntun siswa berpikir. Paradigma baru lainnya adalah, ketika membicarakan karya sastra, aneka ragam tafsir harus dihargai. Tidak ada tafsir tunggal terhadapkarya sastra. Guru harus terbuka terhadap pendapat siswa yang berbeda, sepanjang pendapat itu dikemukakan dalam disiplin berpikir yang logis. Pengetahuan tentang sastra (teori, defenisi, sejarah) tidak uta ma dalam pengajaran sastra di SMU, cukup terambil saja sebagai informasi sekunder ketika membicarakan karya sastra. Siswa jangan terus-terusan dibebani dengan hafalan teori dan defenisi. Tatabahasa tidak lagi diberikan secara teoretis, tetapi dicek penggunaannya dalam karangan siswa, Taufiq Ismail menjelaskan . Menurut dia, pengajaran sastra mestilah menyemaikan nilai-nilai yang positif pada batin siswa, yang membekalinya menghadapi kenyataan kehidupan masa kini yang keras di masyarakat. 2008/11/17 Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>: > Waalaikumsalam w.w. Angku Dt Bagindo, > Sudah barang tantu kito sanang mandanga pujian urang lain ka tokoh-tokoh > kito di maso lalu. > Basamoan jo itu rancak juo kito ranuangkan kaluahan Sanak Taufiq Ismail, > bahaso urang awak maso kini indak banyak lai nan bisa manulih sapiawai urang > dahulu. Apo kolah sababnyo ? Apo dek karano urang lain labiah capek baraja > dari awak, atau awak nan alah pueh diri sajo ? > > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta) > Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED] > > > > ________________________________ > From: azmi abu kasim azmi abu kasim <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Cc: Dr..Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>; Datuk Endang > <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, November 17, 2008 11:18:24 AM > Subject: INDONESIA DIMALAI DARI MINANG, Remy Sylando > > Assalamualaikum w.w. > > > > Angku2 Bapak2 Ibu2 saratO dunsanak > > sapalanta nan ambo hormati > > > > Pado hari Sabtu tgl 15 Nopember 2008 ambo berkebetulan dapek > hadir dalam acara "Dialoq Interaktif" dengan tema "Menumbuh Kembangkan > Bakat dan Kemawan Menulis Karya Sastra di Ranah Minang" dengan pembicara > adalah : DR.H.Taufik Ismail, Haris Efendi Tahar, Remy Silando. Acara ini > diselenggarakan oleh Pemerintahan Sumatra Barat. > > Sehubungan dengan itu bersamo ini ado beberapa hal nan menarik dan ingin > ambo informasikan kepada dunsanah di palanta Minang ko, yaitu pewndapat atau > tulisan nan di sampaikan oleh Bapak Remy Slendo nan berkebetulann barasal > dari Manado . Hal tersebut adolah bagaimana pandangan orang luar terhadap > adat dan budaya Minangkabau dan tehadap tokok-tokohnyo, dan hal ini ado > kaitannyo dengan tokoh2 nan sering kito bicarokan di milis nangka, yaitu > Tunku Imama Bonjol dan Mohammad Hata, dibawah ko ambo kutibkan sebagian dari > makalah beliau. > > Demikialah ambo sampaikan mdah-mudahan ado manfaatnyo untuak kito semua > dan kemajuan Mnangkabau pada umumnyo, terima kasih > > > > Jakarta, 17 Nopember 2008 > > Wasalam, > > > > Azmi Dt.Bagindo > > > > > > INDONESIA DIMALAI DARI MINANG > > Oleh : Remy Silando > > > > Bahasa dan Satra Indonesia memang berhutang pada kepandaian > orang Minang di awal terbentuknya semangat kebangsaan. Secara acak, ingat > saja nama-nama putra terbaik Minang dalam peta kesastraan Indonesia : Marah > Rusli, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbanan, Muahamad Yamin, Usmar > Ismail, Asrul Sani dan seterusnya. > > Tidak banyak orang melihat alasan mengapa kepandaian itu berawal > dari putra-putra yang lahir dari Sumatra Barat. Saya melihat alansan itu > pada sendi kebudayaan Minang sendiri yang memang terjaga dalam tindak-tanduk > manusianya berupa peringatan kata-kata bijak : > > > > Syara' mengata, 'adat mamakai, atau > > Syara' nan lazim 'adat nan qawi > > > > Saya kira itulah puisi konkrit, atau puisi actual yang dengan sendirinya > merupakan tamadun pencapaian sastra sebagai kepandaian bahasa yang ada dalam > leluri Minang > > > > Nama harum dalam Sejarah perjuangan kebangsaan Indonesia , yang harus > disebut dengan takzim, tentulah pertama Imam Bonjol dan kedua Mohammad > Hatta. Keduanya menulis puisi. Artinya, artinya keduanya mesti di pandang > sebagai pelaku kebudayaan, di luar dari bacaan Sejarah sebagai pemimpin > perang proklamator kemerdekaan Indonesia . > > > > Berikut puisi Imam Bondjol, ditulis di Lotak, Minahasa : > > > > Dari alam maha suci > > Diturunkan aku kerahim Bunda > > Masuk sangkar badan terkunci > > Hendak keluar dapat tiada. > > > > Terkenang lama yang ditinggalkan > > Merdeka di situ lagipun aman > > Tidak ada yang di iraukan > > Segenap waktu merasa aman. > > > > Sembelan bulan dalam penjara > > Sangkar tempatku jadi sempurna > > Habis tenggang budi bicara > > Segala perlawanan tiada bergunan. > > Terpancar aku keatas dunia > > Ibu bapakku berhati suka > > Dari Allah mendapat kurnia > > Hatiku pilu becampur suka. > > > > Apakah tenggang daya upaya > > Kesenangan diberi di atas dunia > > Kebejatan hidup dating mendaya > > Bukan sedikit mendapat kurnia. > > > > Alam suci mulai lupa > > Turut berlomba mengejar kemenangan > > Kesenangan dapat tiada berapa > > Sekedar menjadi kenang-kenangn. > > > > Amat banyak nafsu menggoda > > Lepas satu dating gantinya > > Suka duka luput tiada > > Badan menderita oleh karennya. > > > > Perjuangan hidup selalau bertumpu > > Kekuatan badan menjadi lapuk > > Pungung lurus menjadi bunmgkuk > > Tapi nafsu tak mau tunduk. > > > > Panggilan dantang tiada disangka > > Dibangunkan Tuhan ibalah hati > > Diperdayakan rebab dengan kecapi > > Hiburan hidup menjelang mati. > > > > Celaka sungguh kiranya diri > > Lahir kedunia berhati duka > > Permintaan bemula sekarang diberi > > Tetapi hati menjadi duka. > > > > ( Dikutif : dari Dada Meuraxa, "Sejarah Kebudayaan Sumatera") > > > > Kemudian, berikut puisi Karya Mohammad hatta, di muat di Jong > Sumatera, 1921: > > > > > > Liahtlah timur indah berwarna > > Pajar menyingsing haripun siang > > Syamsu memancar sinarpun terang > > Chajal tersenyum berpantja indara.. > > > > Angina sepoi bertiup dari angkasa > > Merembus ketanah ranting di guncang > > Margasatwa melompat keluar sarang > > Melihat beranda indera semata > > > > Langit lazuardi teranglah sudah > > Bintang pun hilang berganti-ganti > > Tjahaja Zuhari mulai muram > > Haiwan menerima selawat alam > > Hati girang tiada terperi > > Melihat kekajaan Subhana Allah > > > > ( di kutip dari M.R.Dajoh "Patriaot Irian Damai" ) > > > > Demikian Remy Sylando yang di sampaikan di Jakarta 15 Nopember 2008 dalm > "Dialog Interaktif" tentang "Menumbuh Kembangkan Bakat dan Kemawan Menulis > Karya Sastra di Ranah Minang" > > ________________________________ > Nama baru untuk Anda! > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan > @rocketmail. > Cepat sebelum diambil orang lain! > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
