Sanak Sapalanta di RN

 

Saya posting tulisan ringan saya, silahkan sanak
memberikan tauziyahnya, mungkin buya MA sedikit bias memberikan santapan
rohaninya jika kita dalam menghadapi cobaan yang berat yang rasa-rasanya kita
sebagai manusia yang lemah dan rapuh di hadapannya tidak (belum) kuat
menghadapinya. Selamat membaca, semoga berkenan..Wass-Jepe

-----------------------------

 

 

REGITA DAN VAREL-ZAKIR DAN VIVI

By : Jepe 

 

 

Empat hari Varel teman sehati (soulmate) Regi anak saya di
opname di Rumah Sakit Ibnu Sina Pekanbaru. Varel teman sebangku dan bermain
Regi di sekolah terserang gejala Thypus ringan, suhu badannya tinggi dan
memaksa orang tuanya melarikan ke rumah sakit untuk dirawat. Hari kedua sejak
Varel dirawat,  saya  dan istri saya beserta Regi datang untuk
menjenguk Varel ke Rumah Sakit, sebelum menuju rumah sakit kami singgah dulu di
toko roti sekedar membawa makanan buat Varel.

 

Regi merekomendasikan pada kami, agar Varel dibawakan Roti
yang berisi coklat kegemarannya. Sesampai di rumah sakit, diruangan tempat
Varel dirawat kami disambut oleh orang tua Varel, sementara Varel terbaring
lemah dengan tangan di infuse, tapi kondisinya mulai membaik dan panas suhu
tubuhnya sudah normal. Sejenak kami mengobrol sama orang tua Varel, sementara
Regi duduk disamping tempat tidur Varel.

 

Sebagai anak-anak Regi  belum tahu banyak apa
kata-kata bijak yang menghibur temannya jika sedang sakit yang harus
disampaikan. Regi hanya mentap Varel dengan senyuman manis sambil tangan Varel
dipegang dan memberikan belaian pada rambutnya. Sementara Varel menatap Regi
dengan senyum yang lemah. Dari bahasa tubuh mereka kelihatan Varel merasa
bahagia dikunjungi oleh salah seorang sahabat kentalnya

 

Tidak ada kata-kata “cerewet” yang terlontar dari mulutnya
layaknya Varel sehat dan berkomunikasi dengan hape yang menanyakan urusan PR,
besok jajan apa disekolah dan cerita-cerita lainnya tentang sekolah. Mereka
hanya saling menatap dan melempar senyum, bahasa tubuh Regi meisyaratkan “cepat
sembuh ya Varel dan masuk sekolah lagi” begitu juga dengan Varel ada
kerinduaannya agar segera cepat sembuh bisa bersekolah dan bermain lagi bersama
Regi.

 

“Ayo Regi, kasih Roti coklatnya sama Varel..suapin” Istri
saya mengomandoi Regi

 

Regi mengambil sebungkus Roti coklat dan membukanya, lalu
menyuapin Varel, kelihatan Varel seleranya masih pahit, tapi sejumput roti
berselai coklat yang disuapi Regi kemulut kecil Varel disambut dengan hangat
oleh Varel walau dengan “terpaksa” dia harus mengunyah pelan-pelan. Potongan
kecil kedua yang disuapin Regi kali ini Varel menolak karena memang dalam
kondisi sakit tentunya apapun makanan enak-enak kesukaannya terasa pahit
dilidah

 

“Kasih minum dong Varelnya Regi” kali ini saya mengomandoi
Regi

 

Regi meraih air mineral disamping Varel dan menuntun pipet
yang berada di botol plastic air mineral tersebut kemulut Varel, sejenak Varel
mengisap pipet untuk mendapatkan seteguk dua teguk air yang membahasi
kerongkongan dan rasa hausnya karena sejumput roti yang dikunyahnya
“ogah-ogahan”

 

 Kami berbicara dengan orang tua Varel  terutama
lebih focus terhadap jajanan anak disekolah yang kadang-kadang kurang bersih dan
bisa membahayakn kesehatan anak (terutama jajanan diluar pagar sekolah yang
luput dari pengawasan guru-guru) dan menasehati mereka berdua agar jangan jajan
sembarangan di sekolah cukup bawa makanan dan minuman dari rumah jika ingin
jajan hanya dibolehkan saat pulang sekolah bersama orang tua. Regi dan Varel
menyimak cukup serius karena Mama Varel mencontohkan anaknya (walau bisa saja
Varel sakit bukan akibat jajanan disekolah)

 

“Regi ama Varel jangan jajan-jajan lagi ya di sekolah,
makanan-makanan diluar sekolah tersebut membuat kita sakit…….tuh..Varel…sakit
deh…lihat  tangannya di infuse” Mama Varel berkata

 

Regi kelihatan agak “ngeri” juga ketika tangan Varel di
Infus, sementara tangan yang satu lagi ada bekas suntikan pengambilan sampel
darah, Regi hanya menjawab singkat

 

“Ya tante…Regi dan Varel nggak mau jajan disekolah lagi”

 

(Sebuah nasehat yang membekas dihati mereka berdua )

 

Setelah cukup lama kami berbincang-bincang dengan orang tua
Varel, kami pamit diri sambil memegang tangan Varel dan mengusap rambut, wajah
dan meraba dahinya untuk merasakan suhu tubuh Varel yang kembali normal.

 

“Regi salam dan sayang Varelnya dulu” Mama Regi berkata
sebelum kami meninggalkan ruangan tempat Varel di rawat

 

Regi lalu menyalami Varel dan menyium pipi Varel dengan
tulus sambil berkata “cepat sembuh ya Varel”. Varel hanya mengangguk lemah
dengan senyum manis sambil berkata (didikte mamanya) “terima kasih ya Regi, Om
dan Tante”

 

Senin kemaren (17 Nov) Varel telah sembuh, mereka asyik
kembali dengan segala dunia sekolah dan bermainnya. Nasehat penting dari kedua
orang tua dengan ada contoh Varel di rawat membuat mereka tidak pernah jajan
lagi disekolah, cukup saat jam istirahat siang menikmati dan saling tukar
menukar kue-kue , roti dan minuman  yang di bawa dari rumah masing-masing.
Jikapun ingin jajan hanya dibolehkan dibawah pengawasan kedua Ibunya setiap
pulang sekolah saat dijemput..

 

***

Varel sahabat Regi yang sakit dan harus diopname ini,
mengingatkan saya kepada salah satu istri sahabat kita Zakir, Vivi yang sedang
terbaring lemah dan berjuang melawan sakit yang dideritanya. Zakir bercerita
melaui milist yang diteruskan oleh Andry tentang sakit yang dialami oleh
istrinya selama 1,5 Tahun kebelakang. Betapa Zakir telah meupayakan segala
daya, usaha dan doa buat kesembuhan Istri tercintanya. Saya membayangkan
seorang Zakir dalam memberikan yang terbaik buat kesembuhan istrinya tentu
menguras segala waktu, energi dan biaya.

 

Cerita Zakir yang paling menyentuh tentunya dia sangat
berharap sekali doa yang tulus dari kita kepada Allah Swt sebagai sahabatnya
yang pernah satu sekolah di PPSP IKP Padang . Hanya dengan doa paling tidak
sedikit meringan beban sakit yang diderita Vivi istrinya. Zakir menceritakan
apa adanya saat orang-orang berkunjung melihat istrinya yang sedang terbaring
lemah di Rumah Sakit dengan berdoa, Vivi merasakan kepedihan sakit yang di
deritanya seakan hilang sesaat, tapi setelah sahabat, handai tolan dan saudara
Zakir dan Vivi meninggalkan rumah sakit, maka Vivi kembali merintih menahan
sakitnya.

 

Seperti Totis, sayapun begitu yang mencoba “menimpakan”
cobaan ini jika saya dan keluarga mengalaminya. Sebagai manusia yang lemah dan
hina di hadapanNya, jujur saja saya tidak atau belum sanggup menghadapi cobaan
yang seberat itu yang dialami Zakir, Vivi dan anak-anaknya…entahlah saya tidak
bisa membayangkan apa yang harus saya perbuat, berdoa pada yang kuasa itu
pasti, tapi sekali lagi saya manusia yang lemah dan rapuh hidup di dunia di
hadapanNya. 

 

Saya juga membayangkan kapan Zakir akan kembali dapat
merasakan kebahagiaan dan keceriaannya bersama Vivi dalam melalui dan menapaki
hidup bersama anak-anaknya. Sebagai manusia yang lemah hidup dimuka bumi ini
saya adalah “laki-laki” yang sering berpisah dengan Istri berhari-hari karena
tugas kelapangan.Saya selalu merindukan kehangatan istri saya bukan saja secara
biologis, saya rindu kehangatan “marahnya” cerewetnya jika saya sedikit asal
dan bercanda dalam hal-hal yang kadang-kadang perlu dibicarakan serius.

 

Tentunya Zakir juga merindukan hal-hal seperti itu walau
dalam bentuk  “kehangatan”: yang pasti ada beda dengan saya,  tapi
semua itu bermuara kebahagian dalam suka dan duka hidup berumah tangga disaat
segala sesuatunya berjalan normal. Saya yakin 1,5 tahun kebahagian dalam suka
dan duka Zakir dan Anak-anaknya bersama Vivi telah hilang, tapi saya tidak bisa
menduga tentu ada juga sebuah “kebahagian dan kepuasaan” bathin yang dirasakan
oleh Zakir dalam bentuk lain yang saya tidak tahu ketika Istrinya menderita
sakit selama 1,5 tahun  dengan segala kesetiaan,  daya dan upaya
dikerahkan dengan tulus oleh Zakir buat istrinya tercinta, hanya Zakir dan sang
Khalik yang tahu kebahagian apa yang di dapat oleh Zakir.

 

Semoga Allah Swt memberikan yang terbaik buat Vivi istri
Zakir dan kita memohon kepadaNya dijauhi dari cobaan yang memang belum sanggup
kita terima, jikapun diberi cobaan yang teramat berat semoga hati dan jiwa kita
yang rapuh diberikan ketegaran dan kekuatan olehNya. Amin ya rabalallamin.

 

Sibuhuan, 18 November 2008

 




      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke