Sanak Muzirman,

Maaf, yang ambo mukasuik "secara manis" tu tidak terbatas pada tutur bahasa
yang yang ramah (sambil cengengesan, he he), apalagi menunduk2, bukan itu.
Tapi caranya yang manis. Mendesak, melawan, bahkan inka (*he he, injek kaki,
bukan pabrik kereta lho*) pun bisa dengan cara yang manis kan?

Saya pikir ini bisa berlaku umum, baik untuk berhadapan dengan pak Lurah,
maupun dengan alumni Georgia (*Sanak Muzirman dari Georgia juga? Saya
seminggu ini kerja dengan Jorge Martinez, malam ini dia pulang ke amrik*)

Riri
Bekasi, L 46





2008/11/21 <[EMAIL PROTECTED]>

>  Sanak Riri, ambo terkesan dgn Guru2 nan di caritokan, kaduo2 nya rancak ,
> jo santiang, tp kadang2 kito paralu "affirmative dan sedikit aggressive,"
> terutama kalau tidak dilayani sbgmn adanya, kewajiban yg melayani. (tidak
> perlu berlebihan). Ini pengalaman seorang teman saya(urang awak juo) ,
> isteri nya pulang ke Indonesia
> dan berhadapan lansung dgn atasan(yg bisa jelas sbg decision maker),
> stlah di kirim surat sebelumnya. Maklum perlu bantuan financial stlh lulus
> comprehensive,  utk dissertasi , dan bbrp credits lagi. Stlh di tanyakan
> bbrp kali , juga ngak ada respon,.Menurut kemyataan, sang atasan adalah Ph.D
> alumni salah satu di Univ. di Georgia, Amrik. dan bawahan nya dgn mengunakan
> uang negara utk program Master, dan bisa dgn berusaha sendiri
> menyelesaikan comprehensive S3,. Dengan pendekatan "sampaikan secara manis"
> disinilah kita berbeda pendapat, menuurut saya Bp. atasan yg alumni Amerik
> itu harus di "lawan", dan  mengancam akan di pecat dgn tidak hormat, teman
> itu mengatakan "silahkan katanya, tp harus gunakan PTUN", kalau tidak teman
> kita itu akan gunakan PTUN.juga, sampai sekarang begitu saja.,belum ada
> penyelesaiannya. dan teman kita itu tak mau pulang ke kantornya dan tak
> peduli dgn PNS nya tergantung begitu saja. Kmd teman kita itu juga ber
> komentar, "kalau kita berhadapan dgn pak Lurah, nah disini harus kita
> sampaikn secara manis., sampai batas2 tertentu. Ingat atau pernah baca di
> Padek, seorang yg baru datang dari kampung ke Padang,kelurahanSawahan, utk
> mengurus kartu penduduk nya sampai  lbh 2 bulan, krn itulah masuk di koran
> padek.
>
> Menurut saya , system birokrasi kita sngat beringsut utk memberikan
> pelayanan yg prima, sebaiknya ada UU/Peraturan yg mewajibkan Lembaga Publik
> memberikan pelayanan yg cepat, dan kalau terlambat di bisa di jelaskan, atau
> bisa di minta ganti rugi. Termasuk mencantun kan dan jelas di baca,
> mis. utk Pengurusan KTP 4 hari, biaya sekian Ribu. dan di beri tanda
> terima.Antalah sanak bilo awak ka sanang dapek pelayanan nan selayak nya dr
> Lembaga Publik.
> Juga ingat sanak kita Suryadi, Apakah beliau sdh diangkat sbg PNS di UI
> stlh bbrp tahun sbg honorer. Udah  ajo Suryadi itnggal aja di Leiden tsb,
> nanti pensiun saja pulang ke Indonesia... ha.. ha.. haa. Ik ga Amaterdam,
> kalau ado piti.
> Wass. Muzirman
>
>
>  ------------------------------
> *From:* Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Thursday, November 20, 2008 4:57:18 PM
> *Subject:* [EMAIL PROTECTED] Re: Lain padang lain belalang
>
> Uda Zulkarnain,
>
> Dulu ado 2 "ajaran" nan ambo dapek dari 2 urang yang berbeda.
>
> "Guru" pertama mengatakan: "Jangan pernah membandingkan pelayanan (baik
> oleh pemeritah maupun oleh swasta) Indonesia dengan negara lain, nantinya
> kalau anda "terpakasa pulang", anda akan merasa hopeless". He he, dan ini
> memang saya lihat, ada beberapa teman saya di sini yang selalu mengeluh,
> waktu di Amerika ..., waktu di Astralia ...
>
> "Guru" kedua mengatakan. "Nikmati pelayanan yang baik di LN, nanti setelah
> pulang, praktekkan sebisanya. Yakinlah, kalau anda melayani orang dengan
> baik, suatu saat nanti anda juga akan mendapat pelayanan yang baik. Jika
> anda "orang yang dilayani", ketahuilah hak-hak anda, dan jika anda merasa
> tidak dilayani dengan baik, sampaikanlah "secra manis".
>
> Saya tidak tahu berapa lama "pelayanan cepat" itu berlaku menyeluruh di
> Indonesia. Tapi arah kesitu menurut saya sudah kelihatan.
>
> Kalau gratis, ya itu memang tergantung kebijakan pemerintah.
>
> Riri
>
> 2008/11/21 Zulkarnain Kahar <[EMAIL PROTECTED]>
>
>>
>>
>> Yang membuat saya terpana semua berjalan dengan CEPAT dan GRATIS tidak
>> seperser uangpun keluar dari kantong saya  …..teringat waktu
>> meminta stempel dan tanda tangan kepala sekolah SMP di cijantung diatas
>> translate rapor SMP anak saya yang harus mondok dulu satu minggu hanya untuk
>> mencap saja itupun harus dengan marah marah dulu baru distempel sangat beda
>> sekali kalau lagi minta sumbangan.
>>
>>
>>
>> ...   dalam perjalanan pulang aku berkata pada diriku kapan ya Indonesia
>> seperti ini? mimpi kali ye
>>
>>
>>
>> Salam dari Texas
>>
>> ZK/50th/Minang/Male/Malayu
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke