Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Carito parami-ramian 'alek'.......

*RODA-RODA*



Roda berputar ke atas ke bawah. Semua roda. Seperti roda keretapi. Seperti
roda mobil. Seperti roda pesawat terbang. Seperti roda gerobak demo, gerobak
beroda tiga itu sekalipun. Setiap titik pada bagian roda itu bergantian
turun dan naik. Menarik sekali mengamati perputaran roda-roda itu.



Cerita ini asli tentang perputaran roda. Bukan cerita kiasan. Roda pertama
yang bersinggungan dengan mataku adalah roda sepeda ayahku. Sejak mulai
dengan didudukkan di kursi rotan  yang diikat entah dengan cara bagaimana di
batang sepeda laki-laki ayah, di depan, sampai kemudian dibonceng di
belakang. Dibonceng di belakang itu aku alami selama setahun aku bersekolah
di Taman Kanak-Kanak Ibu Kate di Atas ngarai. Ketika itu kami tinggal di
Lambau, di seberang sekolah pertanian di Bukit Tinggi. Ayahku menjemput dan
mengantarku dengan sepeda setiap hari.



Di jalan Lambau itu lalu lalang banyak mobil. Lebih istimewa di hari Rabu
dan Sabtu, hari pasar di Bukit Tinggi, karena bus dari arah timur (dari arah
Paya Kumbuh) dibelokkan melalui jalan itu. Melihat roda oto berbaris-baris
itu jadi pandangan yang menyenangkan, sedang naik oto merupakan keinginan
yang terbawa mimpi ketika itu. Sekali-sekali ada juga aku dibawa ayah
menompang naik mobil. Bahkan suatu kali aku dijemput ke sekolah (SR 11
Simpang Mandiangin) dan dibawa ayah ikut dalam perjalanan dinas beliau ke
Lubuk Basung. Kami singgah di sebuah restoran di tepi danau Maninjau dan
ayah membawaku melihat orang kedai mengambil ikan yang akan digoreng dari
dalam danau. Kenangan itu sudah berumur lebih setengah abad. Ketika itu
usiaku baru enam tahun lebih sedikit. Di Lubuk Basung kami melihat beruk
memanjat kelapa, kenangan yang juga selalu bercokol di benakku.



Beberapa puluh meter saja dari tempat kami tinggal terdapat rel keretapi
Bukit Tinggi - Paya Kumbuh. Cuitan panjang keretapi serta asap hitamnya
adalah bagian lain dari kenangan masa kanak-kanakku. Roda-roda lokomotif uap
yang banyak sekali dan saling berpacu-pacu itu sempat pula jadi bahan
pengamatanku. Kami, kanak-kanak, biasa meniru-niru gerakan roda keretapi itu
dengan mengayun-ayunkan tangan kiri dan kanan bergantian, sambil
mendesus-desus meniru bunyi lokomotif berwarna hitam itu. Tidak lupa kami
meniru cuitan keretapi dengan suara melengking.



Ada sebuah permainan yang kami buat (tepatnya aku dibuatkan) dari tutup
botol limun yang dipipihkan dengan  cara *dilindihkan* di rel keretapi, lalu
dibuat gasing. Botol limun itu menjadi pipih, bulat dengan pinggiran
bergerigi. Bagian tengahnya dilobangi dengan paku dan ke dalam lobang itu
dimasukkan benang yang lalu dipertautkan. Gasing tutup botol limun pipih itu
kami mainkan dengan menarik dan mengulur benangnya dengan kedua tangan
digerakkan saling mendekat lalu saling menjauh.



Kalau berpergian sekeluarga, misalnya ke kampung, kami dibawa ayah dan ibu
berkendaraan bendi. Sebuah bendi untuk kami sekeluarga. Aku sering duduk di
depan, dekat mak Kusir. Jadi paslah, duduk di samping mak Kusir yang sedang
bekerja.



Ketika kami hijrah ke kampung karena perang PRRI, pemandangan roda-roda
tidak lagi sebanyak waktu di jalan Lambau. Di kampung yang agak sering
terlihat hanyalah roda bendi. Dan roda pedati yang ditarik kerbau. Atau roda
gerobak dorong pengangkut kerupuk ke pekan Lasi. Kampung kami satu setengah
kilometer dari pinggir rel keretapi. Tapi cuitan keretapi masih terdengar
sangat jelas. Ketika berumur delapan tahun, aku pernah ikut dengan
teman-teman yang lebih besar naik keretapi ke Bukit Tinggi tanpa minta ijin
kepada ibu.  Waktu ibu tahu sore harinya, aku dimarahi.



Tamat sekolah rakyat, aku melanjutkan sekolah ke SMP di Tanjung Alam,
sekitar tiga setengah kilometer dari kampung. Ada teman-teman yang memilih
naik keretapi untuk pergi ke sekolah dengan resiko sering terlambat. Aku
lebih menyukai berjalan kaki saja, bergerombol melalui jalan pintas.
Kadang-kadang kami berjalan memotong jalur melalui pematang sawah. Di
kejauhan dapat kami lihat keretapi dengan asap hitam membubung ke udara. Di
kejauhan terlihat pula mobil besar kecil lalu lalang di jalan besar di
sebelah rel keretapi itu.



Hujan besar dan banjir yang menghanyutkan jembatan terjadi ketika aku
sekolah di SMP sekitar tahun 1964. Sebuah jembatan berlantai kayu, yang
kutempuh setiap hari untuk pergi ke sekolah runtuh karena tebing sungai
dikikis air bah. Sebuah jembatan lain yang lebih vital ikut pula runtuh.
Jembatan Batang Air Tumbuk, antara Biaro dan Baso di jalan raya Bukit Tinggi
– Paya Kumbuh. Akibatnya lalu lintas dibelokkan melalui kampung kami.
Jadilah jalan kampung kami seperti jalan besar. Oto gadang-gadang, bus dan
oto prah, berseliweran *menolong* menambah rusak jalan kampung yang tidak
beraspal, yang selama ini hanya untuk ditempuh bendi. Dan kampung jadi ramai
oleh dendang kalason bus yang mendayu-dayu. Bus-bus yang datang dari Pakan
Baru, di subuh buta dapat kami tebak dari bunyi dan irama kalasonnya.
Adabus Lega Ekspress yang akan ke
Padang. Ada bus Kampar Djaja yang akan ke Bukit Tinggi.



Di akhir tahun 1966 aku duduk di sebuah bus menuju Pakan Baru. Bus Batang
Kampar nomor 10. Sopirnya si Idrus (dalam lidah Minang si Duruih) adalah
seorang *jagoan* sejati. Dia memetik, memainkan kalason sambil berdendang,
sambil menyetir bus besar itu melalui jalan yang berlobang-lobang sangat
besar.  Roda bus itu terpelanting-pelanting keluar masuk lobang sebesar
kubangan gajah. Jalan Bukit Tinggi – Pakan Baru sejauh 221 km itu aku tempuh
berkali-kali dengan bermacam-macam bus (yang paling sering Cahaya Kampar),
antara tahun 1967 dan 1969 awal, ketika aku ikut kakak sepupuku, bersekolah
SMA di Rumbai.



Di Rumbai aku sering melihat roda traktor besar pembajak jalan. Jalan tanah
yang dibajak itu kemudian disiram dengan minyak mentah. Begitu cara orang
Caltex membuat jalan di daerah operasional mereka. Jalan berminyak itu aman
untuk kendaraan Caltex yang dibekali paku pengaman pada bannya, tapi sangat
berbahaya bagi kendaraan umum yang menggunakan roda dengan ban biasa. Tahun
1978, ketika mahasiswa Bandung menuntut agar Suharto berhenti menjadi
Presiden, aku menulis sebuah makalah kecil untuk buku biru perjuangan
mahasiswa, menyoroti pemerintah yang tidak pernah terpikir untuk membuat
jalan beraspal antara Pakan Baru – Dumai.



Kelas tiga SMA aku pindah ke SMA 3 Bukit Tinggi Aku bersekolah disana
sepanjang tahun 1969. Inilah masa ketika aku berlangganan keretapi. Di hari
pekan keretapi itu dijejajali  penumpang dan jalannyapun sangat terlambat.
Seringkali aku bergelayut di bordes (bagian luar gerbong) sambil mengamati
roda keretapi yang berdengkang-dengkang di atas rel. Menompang keretapi
seperti itu sangat tidak mengenakkan. Sering-sering mata kelilipan pecahan
bara sebesar ujung beras.



Naik keretapi yang sedikit lebih nyaman aku rasakan antara Jakarta dan
Bandung di saat aku kuliah di Bandung. Jarak lebih kurang 180 km antara
kedua kota ini ditempuh sekitar lima jam. Keretapi Parahiyangan belum lahir
waktu itu.  Jauh hari kemudian, di tahun 1983 aku naik keretapi dari Pariske
Madrid. Di perbatasan Perancis dengan Spanyol roda keretapi harus diganti
karena ukuran rel di kedua negara itu tidak sama. Kami dikejutkan oleh suara
berdengkang-dengkang pula di tengah malam. Tapi anehnya kereta api sedang
berhenti. Suara aneh itu berasal dari pekerjaan mengganti roda tersebut.



Roda pesawat Boeing 747 menggelinding selama lebih dari 60 detik sebelum
pesawat itu mengapung ke udara. Roda yang menggelinding itu tidak tampak
tapi suara dan getarannya dapat dirasakan. Ketika menunggu menjelang take
off di kesibukan turun naiknya pesawat di bandara, kita bisa melihat dari
jendela, roda pesawat lain menimbulkan asap saat dia mendarat. Seandainya
roda-roda itu macet maka pastilah akan menjadi urusan besar bagi pesawat
yang mendarat itu.



Di dalam pesawat, menggelinding roda troley yang didorong pramugari ketika
menghidangkan makanan dan minuman. Roda yang berderit halus, seringkali
tertahan-tahan di sela senyuman sang pramugari.



Roda yang berputar kencang dari mobil yang kukendarai sendiri pernah naas
dua kali. Yang pertama ketika aku berlima beranak dalam perjalanan menuju ke
arah selatan Perancis. Mobil yang sedang melaju dalam kecepatan 140 km sejam
itu tiba-tiba bergetar dahsyat. Bawah sadarku menyuruh tanganku melepaskan
kontrol pegangan stir sekaligus menarik kaki dari injakan gas. Dalam
beberapa puluh detik mobil itu pelan-pelan berhasil aku ketepikan dan
berhenti. Ternyata ban belakang sebelah kanan pecah. Aku menggigil dan
berkeringat dingin. Dan tidak punya kekuatan bahkan untuk sekedar membuka
baut roda. Istrikulah yang membuka baut-baut itu.



Kejadian kedua hampir sama, terjadi di jalan tol Cikampek beberapa bulan
yang lalu. Untungnya saat jalan agak ramai dan kecepatan mobilku
sedang-sedang saja. Ban roda kanan depan hancur berderai bagai kerupuk.
Masih aku temukan penyebabnya. Paku besar menancap di ban yang malang itu.



Roda-roda yang menggelinding itu selalu asyik diamati.






*****



 *di* http://lembangalam.multiply.com *dan*
www.palantalembangalam.blogspot.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke