HARI RAYA I’DUL ADHA 1429 H
Oleh : Jepe
Sudah tiga tahun terakhir saya
merayakan hari raya (lebaran) I’dul Adha atau dikenal dengan hari Raya Qurban
di Pekanbaru tepatnya dua tahun terakhir saya rayakan bersama masyarakat jamaah
Mesjid An Najah komplek perumahan saya di Jalan Banda Aceh (dulunya Jalan
Sukuntala) Pekanbaru.Tahun-tahun sebelumnya saya merayakannya di Padang bersama
Orang Tua dan sanak saudara beserta jemaah mesjid Ikwanul Muslimin yang
terletak di Jl.Sri Gunting Air Tawar
Barat.Ada kerinduan tersendiri bagi saya jika merayakan lebaran qurban atau
istilah orang Minang “Hari Rayo Haji” di Air Tawar yaitu saya bisa berkumpul
dan bercengkrama dengan teman-teman
sebaya dulu yang masih setia menjaga gawang kampung Air Tawar.
Setelah shalat Idul Adha
bersama-sama dengan jemaah mesjid Ikwanul Muslimin dan masyarakat sekitarnya,
kami telah berkumpul di sebuah tanah kosong didekat mesjid (Jl.Elang), Dari
rumah saya telah mengasah pisau dan parang setajam mungkin yang nanti digunakan
untuk menguliti dan memotong daging kurban yang telah disembelih. Para orang
tua yang sudah tidak asing lagi bagi saya dan
sudah bagian keluarga besar Jamaah Mesjid Ikhwanul Muslimin sibuk mengatur
segala sesuatu pelaksanaan pemotongan hewan korban yang rata-rata kelaziman
orang minang hewan yang dikorbankannya adalah Sapi.
Disamping Orang tua saya , orang
tua yang lain juga para orang tua alumni PPSP sebut saja Papa Totis, Papa Oos,
Papa Hamdi Nur, Papa Mursil serta Papa-Papa lain yang tinggal dikomplek Dosen
Jl. Elang dan sekitarnya.sibuk mengatur pembagian kerja bagi kami untuk
menguliti, memotong tulang, memotong daging, menimbangnya lalu memasukan
kekantong kresek (Minang :Kantong Asoy) serta acara puncaknya membagikan kepada
peserta kurban dan masyarakat sesuai dengan kupon yang telah disebarkan.
Saya bersama teman-teman sebaya
dulu ketika masa kanak-kanak dan remaja di Padang begitu bersemangat sekalian
bernostalgia serta bercanda dalam kegembiraan. Kerja sukarela ini sudah menjadi
tardisi yang panjang bagi kami sejak berdirinya Mesjid Ikhwanul Muslimin di
Jalan Sri Gunting.. Setiap satu ekor sapi yang telah disembelih kami kerjakan 5
orang,. Sapi yang sudah tergeletak ini kami letakan diatas plastik biru.
Pekerjaan
dimulai dengan menguliti sapi tersebut, Biasanya ada dua orang meregang dan
menarik kakinya lalu pisau yang tajam siap membaret kulit tersebut, setelah
disayat dan kulit terkelupas lalu kami menarik kulit tersebut dengan penuh
tenaga sehingga kawan kami yang lain memudahkan menyayat kulit sapi dengan
pisau yang tajam. Akhirnya sapi ini telah “telanjang” tanpa kulit .
Lalu kami sibuk memisahkan
daging-daging, jeroan dan tulang-tulang yang kami potong menjadi bagian yang
kecil dengan parang dan kampak. Darah sapi yang berlumuran ditangan dan kaki
malah memercik muka tidak kami hiraukan, Baju dan celana kami penuh semburan
darah segar dari sapi yang kami kerjakan. Bau anyir khas darah segar sapi
seakan menjadikan suasana kesibukan kami menjadi lambing sebuah semangat
kebersamaan. Para orang tua sibuk mengomandoi kami melaui mikropon tangan
seperti seberapa banyak
daging-daging itu dibungkus baik untuk peserta kurban maupun yang akan
dibagikan buat masyarakat.
“Kelompok Andi Cs dengan sapi nomor 10 agar dibagi
daging tersebut menjadi 50 bungkus biasa dan 7 bungkus buat peserta kurban,
kantong plastik warna hitam buat daging korban untuk masyarakat, sedangkan
bungkus plastik warna merah buat peserta kurban”Begitu teriakan salah seorang
Papa dengan Mikropon ditangannya
“Kepala dan Kulit Sapi agar
dikumpul dalam satu tempat, hati-hati bekerja dengan pisau, parang dan kapak
yang tajam. Setelah selesai silahkan mengambil nasi bungkus yang telah
disediakan, bagi yang ingin minum kopi,
teh serta menyipi kue-kue dan buah-buahan telah disedikan Ibu-ibu di dalam
mesjid” Imbauan dari Papa yang lain.
Sebelum azan shalat lohor
berkumandang kami telah selesai mengerjakan seekor sapi kurban dan
membagi-baginya kedalam plastik sesuai perintah orang tua kami. Saya yang
bekerja sama-sama teman sepermaianan waktu kecil cukup seru membagi
tulang-tulang yang tersisa yang memang menjadi jatah kami, biasanya tulang kaki
(tunjang) dan tulang-tulang lainnya. Saya memang tidak berminat dalam pembagian
tersebut karena kerjanya cukup repot menguliti tulang kaki dan memotongnya
menjadi kikil dan tunjang (perlu dibakar) biasanya saya cukup puas dengan
menenteng
buntut sapi dan teman-teman sekerja saya sudah tahu jika buntut sapi ini dari
tahun ketahun setiap saya menjadi tenaga sukarelawan adalah sepenuhnya menjadi
milik saya tanpa harus meminta dan memaksa untuk mendapatkannya.
Setelah mencuci tangan dan kaki
dari percikan darah sekalian mengambil wudhuk kami shalat berjamaah di Mesjid
lalu dilanjutkan dengan makan nasi bungkus bersama, sementara para orang tua
melaui pengeras suara mengumunkan kepada seluruh masyarakat agar mengambil
daging kurban sesuai dengan kupon yang telah dibagikan, kami tidak ikut lagi
bertugas membagi-bagikan daging yang dibungkus dalam kantong plastik ini,
karena sudah ada petugas lainnya.
Saya pulang kerumah sambil
menenteng pisau dan parang yang tajam, tentunya tidak lupa 2 buah buntut sapi
yang telah saya kuliti,Sampai dirumah buntut sapi ini saya serah terima kepada
adik bungsu saya yang memang pintar membikin sop, pesan saya singkat saja
“Nilam tolong bikin dengan segera Sop Buntut yang enak diharapkan sore
menjelang magrib sudah berada dimulut Abang” Adik saya Nilam dengan cekatan
membuat sop buntutnya, dua jam setelah serah terima buntut ini istirahat tidur
siang saya terganggu gara-gara harumnya aroma sup buntut yang dibuat adik saya
ini di dapur.
Saya bergerak secepat kilat dari
tempat tidur menuju dapur melihat sop buntut yang lagi mendidih dalam
periuk menuju siap saji dan makan ini.
Sementara adik saya sibuk memasukan bumbu-bumbu akhir berupa daun bawang yang
diiris, kentang yang dibelah empat, wortel dan saledri batangan yang diikat dan
buah pala dalam bentuk utuh yang sedikit dipukul. Ah,,gila tenan aromanya..sop
buntut bikinan adik bungsu saya ini.
“Bang cobain deh garam dan
mericanya apa sudah pas” adik saya menyendok kua sop yang mendidih dan lalu
menuangkan ketelapak tangan saya.
Seperti koki terkenal saya sruput
kuah sop yang berada ditelapak tangan saya “Mmmmm…pas..pas benget” sambil saya
mengangguk-angguk tandanya ya sudah
Pas rasa asin garam dan pedas mericanya
“Boleh nggak Lam nyobain sepotong
buntut sapi”
“Oppsss tunggu dulu Bang, alun kampuah lai (Belum matang) sabar
dulu, pai lah lalok-lalok liak..aman
tu..kok lah diimbau beko, pokoknyo Nilam siapkan samangkok di Meja makan,
tingga mahampoai sajo lai Abang. Jaan dihunian juo pariuk sup ko sadang
tajarang” Adik saya menyerukan imbauan
keras intinya “Jaan dakek-dakek dapua juo lai” (Jangan mondar mandir di dapur)
Lepas shalat Ashar menjelang
Magrib Sop Buntut hasil “Lakek Tangan “ adik saya ini telah terhidang satu
mangkok penuh di meja makan khusus buat saya, saya sudah berada didepannya,
wawww !!! kabut tipis dari mangkok sop yang masih panas sudah tercium
kelezatannya. Tambahkan sambal cabe keriting yang dikukus dan digiling halus
lalu perasin sedikit jeruk nipis, rasanya memang membuat saya mabuk kepayang
dan harus sejenak terkapar dikursi kekenyangan menyantap semangkok sop buntut
yang masih panas ini, ueenaakkk bangetttt..Beibehhhh.
Itulah sepotong kisah saya
menjalani hari raya kurban di Padang bersama orang tua, sanak saudara serta
teman-teman sepermainan dikala anak-anak
dan remaja di Air Tawar. Lebaran Idul Adha 1429 H ini saya lalui bersama
masyarakat
dan jamaah mesjid dikomplek perumahan saya., kali ini saya bukan tenaga
sukarelawan sebagaimana berlebaran kurban di Padang, tapi hanya sekedar
membantu panitia dalam pelaksanaan pemotongan sapi kurban seperti membikin
daftar peserta kurban dan pembagian kelompok kerja dan mendokumentasikan
melalui kamera saku yang selalu saya bawa. Tapi satu yang tidak berubah yaitu
setelah
acara selesai dan daging kurban telah dibagikan buat masyarakat pulangnya saya
membawa sepotong buntut sapi dari 17 ekor sapi kurban tahun ini dan 5 ekor
kambing.
Allahhu Akbar, Allahhu Akbar,
Allahu Akbar, La ilahhailallah huallahhu akbar, Allahhu akbar walillahilham
SELAMAT HARI RAYA I’DUL ADHA 1429 H, SEMOGA
AMALAN KURBAN KITA DITERIMA DAN SELALU MENDAPAT RIDHO DARI ALLAH SWT. Amin ya
rabalalamin.
Pku, 8 Oktober 2008
Catatan
Sekilas foto-foto Idhul Adha
1429, menyusul diposting via email kantor yang menempel lansung ada yang
menarik, seperti Pedagang yang mencoba meraih rejeki disemarak acara pemotongan
hewan kurban salah satunya pedagang Sate dengan merek SBY pemiliknya mungkin
JK..ahaa..apa itu..tunggu saja ya fren.
Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah.
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---