Ini saya baca beberapa bulan lalu, saat tergesa2 ke Jakarta di Pagi hari
naik Lion Air, ternyata saya menemukan weblog angku Ed (HYPERLINK
"http://edzoelverdi.com"http://edzoelverdi.com) ini juga, banyak juga
tulisan2 beliau tentanh ranah.

Salam (Nofend)

Terowongan sepanjang 4 km berliku di perut Kota Wisata Bukittinggi —
peninggalan zaman penjajahan Jepang, terbuka untuk kaum pelancong. Petunjuk
tentang apa yang ada di dalamnya, sejauh ini baru sebatas catatan di gerbang
gua.

 HYPERLINK "http://www.edzoelverdi.com/images/muda-mudi-moto.JPG"ATTENTION…!
Untuk kepuasan dan kenyamanan anda, para pengunjung Taman Panorama dan
Lobang Jepang, kami menyediakan jasa pemandu yang berlisensi. Begitulah gaya
pengumuman di kertas lusuh yang ditempel di dinding tebing, beberapa langkah
dari gerbang Lubang Jepang di Ngarai Bukittinggi, Sumatera Barat.

Lalu di bawahnya, ada selembar kertas lagi berisi tulisan: Pengunjung yang
terhormat. Nikmatilah keunikan serta keindahan Lobang Jepang ini !!! Mohon
jangan melakukan aktivitas yang melanggar aturan serta perbuatan asusila !!!
Semua aktivitas anda termonitor pada kamera kami… Terimakasih atas
perhatiannya, ttd… Penanggung Jawab.

Di sebelahnya — masih pada dinding yang sama, ada panil denah terowongan di
perut Kota Bukittinggi ini. Di situ tertulis petunjuk apa saja yang ada di
dalam gua tersebut. Yaitu, ada mini teater, lorong maket geologi dan
tatakota, lorong patung akrilik, lorong museum geologi, lorong pameran
lukisan dan foto-foto, kafe, lorong duduk & istirahat, mushala wanita,
mushala pria, toilet wanita, toilet pria.

Kemudian, begitu lewat mulut gua segera kita menuruni perut bumi. Seluruhnya
132 undakan atau anak tangga, sampailah kita di dasar gua. Atau pada
kedalaman 40 meter dari permukaan tanah. Panjang terowongan total 4 km.
Dengan satu pintu masuk dari arah Panorama, jika jalan langsung ke arah
pintu di ujungnya hanya sekitar sekilo. Ada tiga pintu ke luar di bagian
darah Bukit Apik. Tapi cuma dua yang berfungsi. Satu persis di bawah tebing
gardu panorama, telanjur ditutupi sampah.

 HYPERLINK "http://www.edzoelverdi.com/images/ayu-lg-japang.JPG"Di dalam gua
ada penerangan listrik. Lantainya dilapisi konblok. Dinding serta
langit-langit dipoles semen. Menurut Azwarman — Kepala Seksi Sarana
Prasarana Kantor Pariwisata Bukittinggi, pemolesan dinding serta
langit-langit gua ini dilakukan tahun 1974. Ketika terjadi gempa hebat
beberapa waktu lampau, ada bagian terowongan yang retak. Tapi hanya lapisan
semen saja. Sedangkan tanahnya tetap utuh. Unik juga konstruksi tanah di
bawah Kota Bukittinggi ini. Sebab bagian lain yang merupakan tebing kota ini
ada yang runtuh. Longsor parah terjadi di tebing seberang, bagian dari
Nagari Kotogadang.

Pengumuman pada panil di gerbang gua, tinggal sebatas catatan di atas
kertas, rupanya. Sepanjang lorong yang dilewati, masih berupa lubang asli
buatan Jepang. Ada ruang amunisi, yang diberi pintu terali besi. Di bagian
kiri kanan dinding menjelang mulut gua untuk keluar, ada mushala
masing-masing untuk pria dan wanita. Juga toilet sendiri-sendiri, yang kini
masih terkunci. Belum ada air masuk ke sini. “Bak airnya sudah lama dibikin
di atas,” kata Azwarman. “Tapi sampai sekarang belum juga disambungkan pipa
ke sini”.

Menarik dicatat adalah lokasi yang dituliskan sebagai Ruang Romusha alias
pekerja paksa (lihat juga : Tak Ada Kerja Paksa). Tampaknya untuk membuat
“Lobang Jepang” sebagai objek wisata, perlu dilengkapi dengan riset yang
akurat datanya. Sehingga penyuguhan aneka materi tontonan lain — sebagaimana
tercantum pada panil di gerbang, memang memperkaya khazanah pengetahuan
publik secara sahih.

Sedikit tambahan, para petinggi Kota Bukittinggi mungkin pernah ke Mesir.
Tentu sempat menyaksikan piramida peninggalan zaman Fir’aun tempo dulu. Ini
sudah lama dijadikan tontonan khas di waktu malam. Puluhan lampu sorot
bermain di padang pasir dihiasi suara, terkenal sebagai sonne et lumiere
alias suara dan cahaya.

Juga di Thailand. Ingat, ada film yang dibintangi Alec Guines bernama Bridge
on the River Kwai. Jembatan ini dikerjakan tahun 1943 oleh Jepang, dengan
mengerahkan tawanan perang yang terdiri dari pasukan Sekutu serta romusha
dari Asia. Proyek berdarah ini tulen kerja paksa untuk menghubungkan bagian
daerah Thailand dengan Burma. Lokasinya di Provinsi Kanchanaburi, 130 km di
barat Kota Bangkok.

Drama sekitar jembatan itu, kini merupakan bahan tontonan malam —
menggunakan pola suara dan cahaya pula. Konsep serupa tampaknya bisa
diterapkan untuk atraksi khas Lubang Jepang di Bukittinggi.

Tak Ada Kerja Paksa

 HYPERLINK "http://www.edzoelverdi.com/images/hirotada-honjyo.JPG"ADALAH
Hirotada Honjyo, lahir 1 Januari 1908, di kota kecil Iizuka, Provinsi
Fukuoka, Kepulauan Kyushu, Jepang Selatan. Tamatan Fukultas Hukum, Hosei
University, Tokyo, penggemar olahraga rugby ini, bekerja di perusahaan
tambang batu bara, Asou Koggyo. Ia beroleh pengetahuan dasar tentang
pertambangan dan terowongan. Berikut ini penuturannya yang ditulis tanggal
17 April 1997. Ia meninggal dunia tahun 2001.

Honjyo-san harus membuat “lubang perlindungan” di Ngarai Bukittinggi, atas
instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Bala Tentera Jepang, Letjen
Moritake Tanabe. Waktu itu, ia berpangkat Kapten Angkatan Darat, perwira
staf keuangan, sebagai jurubayar, untuk merencanakan, membuat dan mengawasi
pelaksanaan sebuah “lubang perlindungan”.

Semua berkas mengenai rencana, gambar, spesifikasi dan anggarannya, sudah
tidak ada lagi. Semua dibakar sesaat balatentara Jepang kalah, tanggal 15
Agustus 1945, sesuai perintah Panglima Letjen Moritake Tanabe. “Walaupun
telah lewat 50 tahun lebih, saya masih ingat menggambarkan dan menyatakan
cara pembuatan dan perencanaan pelaksanaan lubang lindungan tersebut,” kata
Hojyo-san.

Konstruksinya mulai dikerjakan bulan Maret 1944, dan selesai pada awal Juni
1944. “Hal ini tidak bisa saya lupakan, karena sampai sekarang ada album
kenang-kenangan yang saya simpan,” katanya. Pembuatan terowongan  dikerjakan
di bawah pimpinan tiga ahli tambang batubara, dikirim dari perusahaan
Hokkaido — Tanko Kisen Co. Perusahaan tambang batu bara terkenal di Hokkaido
ini selama pendudukan balatentera Jepang, juga mengerjakan tambang batubara
Ombilin.

Ketiga ahli terowongan itu adalah (1) Ir. Toshihiko Kubota, sebagai ketua,
(2) Ir. Ichizo Kudo (3) Ir. Uhei Koasa. Mereka sudah meninggal. Selain dari
orang-orang Jepang, ada juga beberapa orang Indonesia yang bekerja di
tambang batubara Ombilin diperbantukan mengerjakan “lubang perlindungan”
ini.

Konstruksi lubang perlindungan tersebut dijalankan menurut pembagian peranan
keahlian, dengan contoh “sakiyama” membuat tambang batubara yang digali,
kemudian diteruskan dengan “atoyama” atau mengambil galian “sakiyama”
tersebut. Jadi “atoyama” dikerjakan sesudah pelaksanaan “sakiyama.” Urusan
“sakiyama” dikerjakan oleh ahli-ahli bangsa Jepang, kemudian secara
“atoyama” dikerjakan orang-orang Indonesia dan buruh-buruh harian.

Mereka yang menggali dan membuat dinding kayu untuk menahan reruntuhan.
Lubang dibuat sempit, dapat dilalui seorang dengan membawa alat-alat
pengebor, sehingga tidak dapat dikerjakan oleh banyak orang. Tiap hari
rata-rata memerlukan tenaga kerja 50 atau 100 orang. Para pekerja ini
didatangkan dan disediakan oleh Kantor Kotapraja Bukittinggi, yang terdaftar
dan dibayar sebagai buruh harian. Mereka membawa bekal makanan sendiri untuk
makan siang.

“Saya adalah seorang perwira staf keuangan, sebagai ahli jurubayar dan
selama bertugas tidak menggunakan kekuasaan tentara dan fasilitas lainnya,”
kata Honjyo-san. “Kepada saya diperbantukan seorang sersan dari Markas Besar
Panglima dan beberapa lori untuk keperluan angkutan kerja”.

Selama tiga bulan bertugas, katanya, tidak ada terjadi insiden atau
kecelakaan. Dan selama bertugas tidak menggunakan senjata, baik senjata
berupa pedang samurai maupun senjata api lainnya. “Lubang perlindungan
Jepang” itu tidak merupakan benteng pertahanan. tapi hanyalah lubang untuk
melindungi diri. Supaya terhindar dari serangan bahaya udara.

Instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang itu
menyebutkan lagi: (1) membuat sebuah lubang perlindungan yang bisa menahan
getaran letusan bom sekuat 500kg. (2) membuat lubang perlindungan yang
dilengkapi dengan ruangan-ruangan untuk keperluan Markas Besar, ruang kantor
dan fasilitas-fasilitas lainnya untuk keperluan Divisi ke-25 Angantan Darat.

Konstruksi lubang perlindungan tersebut tidak rahasia dan tidak ada yang
perlu dijaga. Untuk bisa menahan getaran letusan bom di atas 500kg, perlu
penggalian sedalam 40-meter dari permukaan bumi atau 20-m dari ujung
penggalian jurang tebing. Untuk menguatkan dan kokohnya dinding lubang,
dibuat bentuk “torii-gumi” — menyerupai pintu depan lambang agama Shinto.
Yaitu bagian bawah lebih besar daripada bagian atas.

Lubang perlindungan ini terbagai dua. Satu blok khusus untuk keperluan
Markas Besar Divisi ke-25 Angkatan Darat. Satu blok lagi yang lebih aman
terhindar dari serangan bahaya udara, dapat melindungi dan menyembunyikan
diri. Tiap ruangan dihubungankan dengan jalan udara dari ujung jurang tebing
yang agak besar sampai ke ujung yang lebih kecil. Sehingga udara segar bisa
leluasa berlalu-lintas di dalamnya.

Kapasitas lubang tersebut direncanakan untuk 500 orang. Ditambah dengan k
pegawai kantor bisa mencapai 1000 orang dalam keadaan darurat. Di dalam
lubang perlindungan tersebut tidak ada dapur. Sebab kalau memasak, akan
mengurangi zat asam, mengeluarkan asap yang mengusik oksigen. Dengan kata
lain, rancangan membuat kafe di dalamnya nanti perlu dipertimbangkan
masak-masak.

Ed Zoelverdi

* Lionmag - the inflight magazine of Lion Air, edisi September 2008.


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.16/1842 - Release Date: 10-Des-2008
18:53
 
      

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: muda-mudi-moto.JPG>>

<<inline: ayu-lg-japang.JPG>>

<<inline: hirotada-honjyo.JPG>>

Kirim email ke