BEGINILAH TINGKAH LAKU ANGGOTA DEWAN
By : Jepe
Saya bersama dengan kawan-kawan
lain yang bekerja di Swasta (Perusahaan) yang sering berurusan dengan para
anggota Dewan yang terhormat, mencoba meneliti dan membahasa segala tingkah
laku anggota Dewan sebut saja anggota Dewan disebuah daerah dan Negara Antah Berantah.
Jikapun sidang pembaca menduga Negara antah berantah ini di Indonesia
silahkan saja, kami menghargai kebebasan berpendapat dari pembaca sekalian.Perusahaan
tempat kami bekerja ini juga berada di daerah dan Negara Antah Berantah,
Tingkah laku anggota dewan Negara
antah berantah ini yang kami amati, lihat dan lansung berhubungan dengan mereka
karena ada hubungan atau paling tidak menurut mereka “perusahaan kami
bermasalah” dari segi apanya mereka juga tidak pernah memberi alasan yang pasti
atau berkekuatan hukum sehingga syah dinyatakan bersalah, Lebih vocal lagi
mereka berbicara mengataskan nama rakyat “Perusahaan harus bubar”, Apa mereka
tidak tahu sebuah perusahaan tersebut telah beroperasi terang-terangan dan
telah melengkapi segala perijinan yang telah digariskan pemerintah. Tapi
bisik-bisiknya mereka semata-mata “sok” membantu rakyat untuk merebut simpati
maklum di Negara antah berantah ini akan ada pemilihan umum dalam waktu dekat.
Perilaku anggota dewan yang kami
teliti dan amati ini adalah anggota Dewan yang oportunis suka memeras terlalu
“dalam” perusahaan apakah itu namanya amplop, uang terima kasih, sogokan,
grafitasi atau kong kali kong.Sikap oprtunis akibat idiom mereka “Belum tentu duduk
lagi periode berikutnya, sekaranglah kesempatan”
Sikap jujur mereka patut kami
ajungi jempol, mereka berkata sebelum kami ini duduk Pak telah banyak berkorban
harta bahkan sampai utang sana sini, inilah kesempatan kami membalikan modal
dan mengumpulkan uang sebanyak-banyak baik untuk modal pemilu selanjutnya atau
jika tidak terpilih minimal kami sudah puas balik modal dan punya simpanan.
Ya..kesimpulan kami sederhana saja seperi perusahaan juga “No Pain No Gain”
jangan harap jika tidak ada pengorbanan meraih keuntungan.
Nah ada juga sih anggota dewan
Negara antah berantah itu yang jujur dan idealis tidak oportunis, tapi biasanya
ciri-ciri mereka taat beribadah, sebelum menjadi anggota dewan memang telah
kaya, hanya menerima gaji maupun tunjangan yang resmi ditetapkan oleh
peraturan.Tercemarnya sedikit saja kalaupun ini dianggap sangat ideal juga
tidak mau menerima dalam bentuk apapun dari pihak ketiga yang berurusan
dengannya yaitu mereka rata-rata mau juga kami traktir sekedar makan siang atau
malam.
Anggota dewan yang jujur dan
idealis ini biasanya bawaannya tenang dan punya karisma ada dua kemungkinan
saja, dia tetap lurus sebagai anggota dewan, jika kawan-kawannnya bermain dia
tidak ikut tapi merasakan, Diantara kawannya yang oportunis seperti diatas dia
disegani dan dihormati.Apa penyimpangann yang dilakukan kawannya dia hanya
mengurut dada dan jarang mau berkoar-koar karena apaboleh buat toh teman juga,
dia hanya bisa berkata “Seandainya nanti
beresiko ditangkap aparat hukum silahkan tanggung jawab masing-masing dan saya
tidak terlibat”
Jika anggota dewan ini idealisnya
sangat luar biasa dan sangat muak melihat segala tingkah laku temannya baik
separtai (fraksi) maupun tidak separtai (Komisi) dari pada dia makan hati maka
dia mengajukan pengunduran diri, ini dibuktikan salah satu anggota dewan di
Negara Indonesia yaitu almarhum Sophan Sophian dia mengungkapkan secara
eksklusif dalam sebuah acara talk show di Q Channel dalam program Impact yang
dipandu oleh Peter F Gontha dulu ketika dia secara mengejutkan keluar menjadi
anggota Dewan.
Inilah tingkah laku anggota dewan
daerah dan Negara antah berantah yang oportunis atau aji mumpung tersebut yang
coba kami amati, bahas dan diskusikan disaat mengobrol waktu istirahat jam
kerja maupun sedang santai-santai di lobi dan kamar hotel saat bertugas :
- Penampilan anggota dewan ini memang “Chic” dan
parlente, biasanya berpakaian stelan safari sewarna antara celana dan baju
dengan kancing baju yang
besar-besar. Sepatu mereka rata-rata sepatu kulit mulai dari harga ratusan
ribu sampai jutaan rupiah seperti Bally dengan model sepatu sebatas mata
kaki atau semi bot, warna hitam mengkilat dan selalu disemir (habis
mainnya bukan ke sawah-sawah sih di kafe-kafe dan hotel aja).
- Dikantong baju mereka terpajang dua pulpen
rata-rata merek terkenal seperti Mont Blanc, terserah apa ini Mont Blanc
“kapiran” atau palsu atau pun yang asli berharga satu juta keatas., yang
penting diatas puncak pulpen tersebut ada salju putih yang menjadi ciri
khas pulpen yang menggambarkan puncak gunung di Eropa yaitu Mont Blanc.
- Jika mereka berpakaian santai selalu kelihatan
fashionable dan trendy (karena mampu beli sih barang-barang atau produk
branded) ciri khasnya selalu memakai jaket tipis gelap dengan kancing
resleting terbuka, tidak pedulu jika suhu udara sedang panas terik tapi
tetap dipakai kemana-mana.
- Telepon seluler meraka atau hape minimal dua, salah
satunya jenis komunikator, paling sebal saat berbicara serius dengan
mereka masih asyik saja mainkan komunikator nggak tahu juga apa yang
dipencet atau sudah kebiasaan yang :”gatal” aja buka-buka flip komunikator atau mau pamer
hape komunikator terkini kepada lawan berbicara. Sebentar-sebentar
pembicaraan terputus karena anggota dewan yang terhormat ini bukan main
tinggi frekwensi orang yang ingin berkomunikasi dengan dia. Jika telepon
sangat rahasia biasanya dia memisahkan diri dari kami saat berdiskusi dan
pergi agak jauh berbicara “ya..ya..ya..pak..oh..jangan……...atur aja…..bla..bla..bla..bla”
- Ngomong paling pintar kata Iwan fals kebanyakan
baca Kho Ping Ho, jika kami dengar pendapat dengan mereka (hearing) karena
tuduhan yang telak atas nama rakyat perusahaan harus bubar, selalu tidak
pernah mengkedepankan sisi legalitas atau hukum serta peraturan dan
undang-undang yang berlaku, selalu saja atas nama rakyat. Ya apaboleh buat
habis hearing kami kumpul-kumpul dilobi hotel bercanda “Dasar bodoh tu
anggota Dewan” lalu yang lain menimpali “La iyalah wong sekolahnya dibawah
batang jambu”
- Kalau lagi rapat suka memanggil saudara-saudara
kesemua orang, saudara direktur, saudara Bupati, saudara kepala Dinas,
sementara rakyat dan lawan bicaranya seperti Direktur Perusahaan terpaksa memanggil memanggil Bapak
Ketua, Bapak anggota dewan yang terhurrrrrrrrmatttt (saking hormatnya
kale). Kita maklumi juga ibarat pisau memang anggota Dewan ini terpegang
ditampuknya sementara kami ini
apalah pegang diujung pisau, tapi jika urusan fulus memang kami memegang
gagangnya itupun dia masih memegang tampuk juga alias menekan dan memeras.
- Selesai rapat yang “panas” dan bubar baru salah
satu dari kami yang jago lobi diutus untuk menjinakan para anggota dewan
yang “liar” ini dan kami sudah tahu siapa dan berapa orang, biasanya
nereka basa basi dulu berbicara dengan tukang lobi ini, setelah dapat slah
dan mengarah “hadiah” pembicaraan mulai cair dan ketawa cekakak cekikan.
Muara pembicaraan tidak bertele-tele “Oke Pak kita makan malam di restoran
ini, ajak kawan-kawan lain ya”
- Mereka jika ketemu dengan kami (perusahaan) jarang
bergerak sendiri-sendiri minimal tiga orang dari partai yang berbeda
(berjamaah..kali), sebab mereka mengakui kalau sendiri-sendiri tidak enak
perasaan sama teman yang lain, karena mereka merasakan “Tu si Anu main
sendiri tuh,,kita ditinggalin..payah” walau belum tentu mereka “bermain”
dengan kami. Ini akibat mereka memang oportunis satu dengan yang lainnya
saling curiga
- Karena mereka cukup ngeri dan takut dengan segala
kecanggihan teknologi maka mereka tidak mau berbicara mengenai
“angka-angka” baik melalui telepon , sms apalagi email, hadiah atau
grafitasi harus dalam bentuk tunai walau uang tersebut satu kopor,
Dilarang keras pakai check, check giro atau travel check (takut di Negara
Indonesia sudah ada contoh si Al Amin)
- Setingan episode penyerahan uang ke anggota dewan
daerah atau Negara antah berantah ini adalah diutus beberapa orang
perusahaan, jika uangnya banyak dan telah disepakati angka-angkanya dibawa
dengan tas sandang murahan seperti tas model Lap Top, lalu bertemu misal
makan malam disebuah restoran, Saat ketemu dan menikmati makan malam
sambil cekakak cekikik penuh persahabatan mereka sudah merasakan sinyal
yang dalam jika dalam tas tersebut banyak fulus. Lalu salaman berpisah
orang utusan perusahaan pura-pura tidak tahu itu tas mereka tinggal saja
di kursi makan.Selanjutnya ya terserah mereka, paling dibawa ke hotel atau
suatu tempat ya dibagi-bagi dong.
Banyak lagi sebenarnya tingkah
laku anggota dewan daerah dan Negara antah berantah ini yang kami amati dan
diskusikan, sungguh mereka ingin mencari kesempatan karena mereka duduk
tersebut begitu banyak berkorban harta untuk mendapatkan sebuah kursi di
Parlemen. Sekali lagi “No Pain No Gain” Bung..bohong jika ada anggota dewan
atau caleg modal ludah doang, kecuali dia memang seorang tokoh teladan dan
panutan di daerah atau Negara antah berantah.
Atas situasi ini kami hanya
mengucapkan syukur Alhamdulillah bekerja diswasta, kami bukan sok idealis tapi
seandainya kami seperti dia bisa jadi akan terseret arus seperti mereka yang
oportunis dan tukang peras. Kami memang merasa salut dan hormat bagi kawan
mereka yang jujur dan idealis tidak neko-neko dan bisa melihat jika kami
(perusahaan) salah ya dari kaca mata hukum, bukan mengataskan namakan rakyat
yang berkata “Pokeke Perusahaan Bubar” dan itu adalah sebuah gertak bergaya
klasik untuk memeras Perusahaan dan
mitra-mitra lain. Jika kami ingat sebuah berita yang masih hangat di Negara
Indonesia tentang salah satu anggota Dewan yaitu Al Amin yang telah diputuskan
bersalah 15 tahun penjara serta membayar denda dan kerugian Negara milyar
rupiah…wah sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan hati seorang Al
Amin galau, stress..kacau…sakit..mau bunuh diri kah dan betapa pedihnya jika mengingat lagi masa-masa
indah berbulan madu dengan salah seorang artis mungil cantik si KD alias
Kristina Dang Dut.
Sidang pembaca apakah anda pernah
juga mengamati dan meneliti tingkah laku anggota dewan di negara Indonesia
samakah dengan hasil penelitian kami dengan tingkah laku anggota dewan daerah
dan Negara Antah Berantah
Pekanbaru. 13 Desember 2008