salam kenalan dalam diskusi dibawah ini. saya hanya menambahkan sedikit 
masukan, masalah untuk memajukan sumbar tidak perlu sama sekali mengemis ke 
pusat cukup dengan putra2 putri2 cerdik pandai perantau  minang yang berada di 
luar sumbar agar membantu daerah asal masing2 dan kita perlu kesepakatan 
bersama. kalau tidak, bagaimanapun baiknya program2 atau proposal 
dikemukakan tanpa hati nurani yang tulus dan  suci, jangan harap mimpi anda2 
terkabulkan. mari kita himbau semua perantau minang kembali ke desa masing2 
dan bangun sesuai kemampuan kita secara bersama. mulai dari pendidikan dan 
ciptakan lapangan kerja buat sanak saudara di kampung.
insya allah cita2 kita semuanya untuk kemakmuran dan kemajuang sumbar  dapat 
tercapai.
wassalam 
eri baheram perantau

 



________________________________
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, December 15, 2008 1:00:11 AM
Subject: [...@ntau-net] Fwd: Bahan Diskusi ---> mengapa tidak lahir tokoh-tokoh 
filsafat di Minangkabau ?

Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya teruskan email dari Sanak Andrinof A. Chaniago di bawah ini beserta 
jawaban saya kepada beliau, yang memuat pertanyaan mengapa tidak lahir 
tokoh-tokoh filsafat di Minangkabau ?
Mudah-mudahan dapat menggugah minat dan perhatian kita.

Wassalam,
Saafroedin Bahar, 72 th, Jakarta.


---------- Forwarded message ----------
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
Date: 2008/12/15
Subject: Re: Bahan Diskusi
To: Andrinof A Chaniago <[email protected]>
Cc: [email protected]


Waalaikumsalam w.w. pak Andrinof,
Maaf terlambat menjawab, karena saya agak jarang membuka gmail ini. Biasanya 
yang yahoo saja.
Naskah pak Andrinof ini baik sekali untuk didiskusikan dalam Lingkar Studi 
Filsafat Minangkabau yang sedang dipersiapkan oleh pak Shofwan Karim, Rektor 
Universitas Muhammadiyah di Sumatera Barat.
Dalam pandangan saya, tema pertama yang perlu kita telaah dari perspetif 
fifsafat adalah ABS SBK, yang sampai sekarang masih belum jelas apa dan 
bagaimana menindaklanjutinya dalam kehidupan orang Minangkabau.



2008/10/8 Andrinof A Chaniago <[email protected]> 


Ass., Wr., Wb., Pak Saaf.
Mohon maaf lahir dan bathin. Mungkin tulisan di bawah perlu kita diskusikan di 
milis tantau_net dan lain-lain.
Salam,

Andrinof A Chaniago


Yunani Kuno dan Minangkabau  
 
Padang Ekspres, Teras Utama, Rabu, 08 Oktober 2008  
Oleh :Andrinof A Chaniago, pengajar di Universitas Indonesia
Antara kehidupan Yunani Kuno dan Minangkabau, terdapat jarak waktu pemisah 
lebih dari duapuluh abad lamanya. Melihat pencapaian luar biasa dari bangsa 
Yunani Kuno, juga bukan hal yang setara untuk membandingkannya dengan 
Minangkabau yang hanyalah sebuah suku bangsa di antara duaratusan suku bangsa 
di Indonesia. Tetapi, jika melihat sejarah tokoh-tokoh pemikir terkemuka 
berikut warisan karya-karya pemikir dari kedua masyarakat  ini, kita akan 
menemukan sesuatu yang relevan untuk dibandingkan. 
Sama dengan sikap hidup individu orang Minangkabau, masyarakat Yunani Kuno 
menyukai kehidupan yang bebas dan merdeka. Selain itu, keduanya dikenal dengan 
masyarakat yang haus akan pengetahuan. Sebagian orang Yunani Kuno juga suka 
merantau. Namun, di sini mulai tampak perbedaan mereka dengan orang Minang. 
Orang-orang Yunani Kuno pergi merantau karena sebagian besar tanah mereka 
gersang dan tandus. Dengan demikian, motif orang-orang Yunani Kuno pergi 
merantau semata-mata untuk ekonomi. Sementara bagi orang Minang, merantau bukan 
semata-mata untuk tujuan ekonomi, melainkan juga untuk belajar hidup, 
sebagaimana bisa kita lihat dari beberapa pepatah Minang. 
Tanah di wilayah fisik-geografis orang Minang adalah tanah yang subur, karena 
memiliki lahan lapisan vulkanik yang luas dan memiliki bukit-bukit yang 
ditumbuhi tanaman lebat yang membuat bukit-bukit itu sebagai "prasarana" 
irigasi alami bagi lahan pertanian di dataran rendah. 
Dari sumber air yang berasal dari ruas pegunungan Bukit Barisan itu, bukan saja 
padi dan tanaman palawija yang tumbuh sehat, tetapi juga bermanfaat untuk 
membesarkan ternak hewan dan membudidayakan ikan air tawar. Bahkan, dengan 
sumber air yang datang dari pegunungan itu yang kemudian ditampung oleh Danau 
Maninjau dan Danau Singkarak, daerah ini menjadi tempat produksi listrik yang 
biaya produksinya hanya seperlima dari listrik yang diproduksi oleh sistem 
pembangkit batu bara ataupun gas. 
Selain itu, sejalan dengan watak ekspansionis modal, beberapa sumber air alami 
di Sumbar itu pun menjadi sumber produksi air kemasan yang populer dengan nama 
air mineral.Di zaman Orde Baru, para penguasa pemerintahan di Sumbar, yang 
sering sekali mengklaim bertindak untuk dan atas nama masyarakat penganut 
kebudayaan Minangkabau, secara terang-terangan mengingkari kekayaan alam yang 
dianugerahkan Tuhan tadi. Mereka dengan tanpa beban mengatakan, "Daerah kita 
miskin. 
PAD kita kecil. Kita tidak punya minyak seperti Provinsi Riau atau deposit 
tambang lain seperti di Kalimantan atau Papua." Ungkapan seperti ini tidak lain 
dimaksudkan untuk mengajak masyarakat mendukung Pemda meminta "kemurahan hati" 
Pemerintah Pusat agar mengucurkan dana lebih besar untuk Sumbar. Karena itu 
pula, masyarakat Sumbar harus menunjukkan dukungan yang besar kepada Golkar 
yang ketika itu merupakan alat hegemoni kekuasaan Pemerintah Pusat. 
Begitulah cara elite-elite politik Sumbar di zaman Orba memandang kekayaan alam 
Sumbar. Arti kekayaan alam pun dipersempit menjadi ketersediaan deposit tambang 
sambil menutup mata terhadap harta yang luar biasa nilai potensinya, seperti 
perbukitan, gunung-gunung, sungai-sungai, danau-danau dan pantai-pantai yang 
memberikan akses mudah untuk memanfaatkan sumber-sumber alam di atas dan di 
dalamnya. 
Padahal, pengukuran kekayaan harus dimulai dengan kemudahan mendapatkan 
barang-barang dan jasa kebutuhan pokok, mulai dari makanan, pakaian, 
pendidikan, dan kesehatan? Kalau di daerah-daerah lain masyarakatnya 
membutuhkan usaha yang panjang dan modal lebih besar untuk mendapatkannya, 
sementara di Sumbar secara rata-rata lebih mudah, bukankah berarti itu kekayaan 
Sumbar? 
Merantau yang bukan semata-mata karena dorongan kelangkaan kekayaan lokal bagi 
masyarakat Sumbar tadi seharusnya menambah modal untuk membuat masyarakat yang 
menetap di Sumbar lebih makmur sejahtera dibanding rata-rata daerah di 
Indonesia.  Dengan kesejahteraan itu pula Sumbar seharusnya berkembang sebagai 
pusat pengembangan ilmu pengetahuan karena bisa menjadi sumber insentif bagi 
para tokoh intelektualnya untuk terus berkarya di tanah asalnya sendiri seperti 
yang terjadi pada kaum intelektual Yunani Kuno. 
Tetapi, di sinilah letak perbedaan lain antara Minangkabau dan Yunani Kuno. 
Kaum pemikir Yunani Kuno tidak perlu pergi merantau untuk menghasilkan 
karya-karya ilmu pengetahuan mereka. Sementara calon-calon intelektual Minang, 
harus merantau untuk menjadi pemikir kelas nasional atau internasional, baik 
untuk mendapatkan sumber-sumber pengetahuan baru maupun untuk menjadikan 
ilmunya bisa digunakan oleh masyarakat. Akibatnya, di Minangkabau sendiri tidak 
pernah lahir temuan-temuan penting atau gagasan-gagasan filosofis yang besar. 
Sebaliknya, para pemikir Yunani Kuno cukup menyerap pengetahuan yang berasal 
dari Mesir Kuno dan Babylonia, yang dibawa para pedagang dari kedua negeri 
tersebut. Pengetahuan dari luar tersebut menjadi bahan untuk diolah dan 
dikembangkan lebih lanjut di tanah Yunani Kuno sendiri. Proses seperti itulah 
yang dilalui Anaximandros, Anaximenes, Phytagoras, Xenophanes, Anaxagoras, 
Gorcias, Socrates, Plato, Aristoteles dan sebagainya. 
Proses seperti itulah pula yang membuat lahirnya beberapa pengetahuan baru di 
Yunani Kuno yang menjadi dasar pengembangan ilmu  dan peradaban Eropa, bahkan 
dunia. Para pemikir Yunani Kuno tadi adalah peletak dasar nilai-nilai kearifan 
dan ilmu pengetahuan yang mempengaruhi kehidupan nyata masyarakat dunia 
berabad-abad hingga kini. 
Dan, yang juga perlu dicatat, mereka bukan perantau yang menemukan nilai-nilai 
peradaban dan hukum-hukum ilmu pengetahuan di luar negeri leluhurnya, melainkan 
manusia-manusia yang membangkitkan masyarakat dan membangun monumen-monumen 
peradaban di negeri mereka sendiri yang gersang itu, sebelum karya-karya mereka 
itu menyebar pengaruhnya ke berbagai negeri luar. 
Pertanyaan yang muncul dalam melihat "proses menjadi" para pemikir Minang 
adalah, dengan karakter yang sama-sama suka berpikir dan suka hidup merdeka 
serta sama-sama haus pengetahuan dengan masyarakat Yunani Kuno, mengapa 
masyarakat Minang tidak melahirkan sebagian tokoh-tokoh intelektualnya di 
tanahnya sendiri? 
Jawaban valid atas pertanyaan di atas tentu tidak mudah disodorkan secepatnya. 
Tetapi, melihat potret saat ini dan kondisi sebelumnya, jangan-jangan jawaban 
itu kita temukan bersamaan dengan perbedaan berikutnya antara masyarakat Yunani 
Kuno dan Minangkabau. Masyarakat Yunani Kuno memberikan penghormatan yang 
tinggi kepada para pemikir dengan menempatkan mereka hanya sedikit di bawah 
dewa-dewa mereka. Karya-karya mereka dan ucapan-ucapan mereka begitu didengar 
oleh masyarakat. 
Sementara, di Minangkabau, bisa jadi para pemikir kurang dihormati dibanding 
para penguasa, politisi dan pengusaha, terlebih dengan mereka yang menyandang 
dua status dari dari tiga status itu sekaligus. Setidak-tidaknya suasana ini 
terasa sejak Orde Baru hingga sekarang, di mana sumber kebenaran lebih banyak 
dipercayakan kepada penguasa, politisi dan pengusaha, sebagaimana tampak dalam 
perlakuan-perlakuan yang diberikan pada acara seremonial, di media massa maupun 
di tempat-tempat umum. Mudah-mudahan jawaban sementara saya ini keliru. Mohon 
maaf lahir dan bathin. (***)  
 


-- 
Wassalam,
Saafroedin BAHAR
(Male,72, Jakarta)



-- 
Wassalam,
Saafroedin BAHAR
(Male,72, Jakarta)



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke