Waalaikumsalam wr wb.

Dari tulisan sanak Jepe ko, nampak di ambo bahwa pak Wali Bukiktinggi tu
memang punyo selera humor nan "lain dari yang lain".

Jadi ambo setuju lo jo niaik sanak Jepe untauk mangganti jam nyo ka jam
digital, karano jam Jepe nan kini ko, analog dengan 3 jarum - jam,
menit,detik - bisa menimbulkan asosiasi yang lebih mesum lagi ... (kiro2
logic nan nan ambo dapek).

Ambo takana baliak jo selera humor bukiktinggi nan lain, yang waktu tu
pernah lo dibahas di palanta ko, samo2 jo waktu ide penutupan jam gadang ko
dimunculkan.

Waktu itu perayaan valentine dilarang dek baliau. Untuak mengamankan
kebijakan pelarangan itu, sekaligus untuak membersihkan kota dari
permesuman, diadakan razia pas malam valentine tu. Belasan urang tatangkok.
Sekian diantaronyo dihukum.

Ba'a dek dihukum? Bukan karano ber valentine, atau ber mesum ria, tapi dek
indak mambaok KTP.

Lha, kalau pakai logika sederhana memang ndak masuak do. Tapi itulah mungkin
selera humor yang lain dari yang lain.

He he, baliak ka tulisan sanak Jepe, ambo suo caro pengungkapannyo. Mambuaek
ambo takana lo jo kota ko. Dulu waktu karajo di Padang, kalau dinas ka
bukiktinggi nan partamo dituju bukan kantua walikota atau bupati, tapi gulai
kambiang di pakaladang *(?, ambo agak ragu jo namonyo*)  Kalau makan memang
sabana lamak. Tapi kadang2 ambo agak melenceng saketek, karajo di
bukiktinggi, tapi makan siang lari ka padangpanjang, mancari sate mak
syukur, ha ha.

Nginap di bukiktinggi - tahun 85-87 - relatif murah, untuak fasilitas nan
didapek, kalau dibandiang kota2 lain di sumbar.

Nan palaing sero waktu mengaudit perhitungan APBD Sumbar. Nah, waktu
konfirmasi ke bukiktinggi dan agam - dek bajalan jo pejabat biro
perlengkapan - dapek pengalaman lo menginap di Tri Arga. Sempat lo masuak ka
kamar presiden ...

Tarimokasi, sanak Jepe. Tulisan sanak bermanfaat untuak ambo untuak memahami
selera humor pak Wali, dan untuak mengenang kembali bukiktinggi

Riri
Bekasi, L 46










2008/12/20 jupardi andi <[email protected]>

>
> **
>
> *Assalamualaikum Wr Wb*
>
> *Sanak Sapalanta, saya tergelitik juga ketika Da Riri "menginstruksikan"
> saya untuk menganalisa pernyataan Wali Kota Bukit Tinggi, ketika adrenalin
> saya dipacu atas tugas dadakan Da Riri ini maka inilah jadinya sebuah
> tulisan tentang Kota Bukit Tinggi sebuah Kota di ranah Minang dan merupakan
> sebuah Kota tjuan parawisata baik olek wisatawan domestic maupun manca
> Negara, Selamat membaca..oke Da Riri lunas utang saya, apa hadiahnya
> Da..nggak repot2 kok tolong belikan saya jam murahan digital, pengganti jam
> tangan saya yang analog jam yang pada pukul 12 atau 00 ketiga jarumnya
> dempet..ha.,ha..ha*
>
> *==============Salam-Jepe*
>
> *
> *
>
> *
> *
>
> *
> *
>
> *
> *
>
> *BUKIT TINGGI..OH,,BUKIT TINGGI KU*
>
> *By : Jepe*
>
> * *
>
> Semenjak saya kanak-kanak dibawa oleh orang tua saya bertamasya ke kota
> Bukit Tinggi sekitarnya sampai saat ini sudah tidak terhitung lagi saya
> mengunjungi kota ini. Saya sebagai orang Minang tidak akan pernah bosan
> mengunjungi Bukit Tinggi dengan segala keindahannya baik alam, budaya, adat,
> sejarah dan kulinernya, Seperti kata  pepatah "Hujan emas di negeri orang,
> Hujan Batu di negeri kita" maka dalam kontek parawisata saya tetap mencintai
> "hujan batu: di kota Bukit Tinggi dibandingkan daerah lain :Hujan Emas"
> dunia parawisatanya yang berbalut dunia gemerlap dengan segala ekses
> negatifnya.
>
>
>
> Bukit Tinggi juga mempunyai ikatan emosional yang sangat kuat bagi saya,
> disinilah masa-masa  indah saat saya SMA, dimusim libur saya bersama
> teman-teman dari kota Padang bergerak ke Bukit Tinggi.  Kemping dan hiking
> diseputar Ngarai Sianok selalu memberikan kenangan yang terindah bagi saya.
> Malam yang dingin dengan desiran angin dari Gunung Merapi dan Singgalang
> menyatukan kami berkumpul didepan tenda bercanda riang mengelilingi api
> unggun sampai larut malam. Ketika cuaca semakin menusuk tulang kami merapat
> satu sama lain tidur ditenda dengan jaket yang tebal dan memakai sebo untuk
> menutup telinga yang tidak tahan tamparan angin dingin lembah Sianok.. Kopi
> panas setelah shalat  subuh begitu nikmat  untuk di sruput lebih dalam,
> gelas yang kami pegang memberikan perlawanan pada telapak tangan kami yang
> menggigil,, tidak sampai disitu kopi yang hangat,  sambil bercanda saya
> tempelkan ke pipi teman saya, tidak ada reaksi yang berlebihan dari teman
> saya ini ketika gelas kopi yang hangat menyentuh pipinya, malah teman saya
> ini menikmati lebih kehangatan  kopi ini dipipinya yang melawan cuaca
> dingin lembah/ngarai Sianok.
>
>
>
> Saat sang mentari dengan cahayanya yang malu-malu menghujam bumi Sianok,
> selesai sarapan kami mulai bergerak mengelilingi setiap sudut Ngarai Sianok
> dengan berjalan kaki. Menikmati pemandangan alam ngarai Sianok yang indah,
> mendung-mendung tipis yang bergerak pelan, bermain air disepanjang sungai di
> lembah sianok, meneropong kera-kera yang bercanda hiruk pikuk di
> tebing-tebing yang curam, mampir dikedai-kedai masyarakat sambil menyicipi
> jajanan pasar yang khas, meminta tebu-tebu penduduk yang gemuk, berair dan
> manis untuk sekedar pelepas dahaga dalam perjalanan yang cukup melelahkan
> itulah kenangan yang  teramat indah dimasa-masa SMA dimana kami sudah
> tertarik kepada lawan jenis kami untuk sekedar "cinta monyet" anak-anak yang
> sedang puber. Hanya hitungan jari tngan  saja "Cinta Monyet" kawan-kawan
> saya ini yang berakhir di pelaminan dan itu tidak termasuk saya.
>
>
>
> Jikapun saya boleh memilih lahir di dunia ini dan punya kampuang halaman di
> Ranah Minang  maka saya akan memilih terlahir dan kampung ibu saya
> diseputar lereng atau kembah gunung merapi seperti Ampek Angkek Canduang
> atau Bukit Batabuah misalnya, Begitulah cinta saya pada Kota ini dan selalu
> tidak pernah bosan  saya kunjungi bersama keluarga untuk berlibur singkat
> dari Kota Pekanbaru.. Magnetnya daya tariknya sangat  kuat bagi saya untuk
> selalu mengunjungi kota ini, Begitu betah saya mengelilingi kota ini dengan
> segala keindahannya, suatu hal yang paling saya suka adalah
> berkeliling-keliling dipuasat jajanan atau orang minang mengistilahkannya
> "los lambuang" serta berlama-lama di pasar tradisional yang becek untuk
> memborong hasil pertanian dan jajanan khas ranah Minang.
>
>
>
> Setiap sudut dan rongga bagasi mobil saya tidak tersisa lagi jika saya
> berekreasi ke Bukit Tinggi dan kembali pulang ke Pekanbaru, ini lah isi
> rongga bagasi mobil saya tersebut, Cabe keriting lansing dan montok dengan
> warna merah meradang, mmm..sebuah warna merah yang teramat indah jika saya
> tatap lebih dalam  dan saya tidak akan membandingkannya dengan warna
> partai yang mengambil symbol warna merah terkadang  "sikap merah" nya
> sangat menjengkelkan dan membuat rakyat susah.Kentang yang padat berisi,
> kol, lobak singgalang yang manis, terung ungu yang padat berisi, petai
> dengan tonjolon bijinya seakan mau lepas dari cangkangnya, pisang buai dan
> kaliang yang ranum, alpukat yang pulen, belut kering yang crispy, kerupuk
> kulit yang gurih, kacang tanah yang montok-montok berbiji tiga (kacang abuih
> dan kacang goreng/barandang), jagung rebus dan jagung mentah yang manis dan
> siap dibuat perkedel jagung kelak di Pekanbaru, daun bawang dan seledri yang
> harum , bawang merah yang garing, labu dan pisang batu yang siap dikolak dan
> banyak lagi hasil pertanian dari tanah lereng gunung merapi dan singgalang
> yang subur dan berhawa sejuk.
>
>
>
> Oleh-oleh buat sanak saudara di Pekanbaru dengan jajanan atau panganan yang
> khas sebut saja kerupuk sanjai dan keripik balado langganan saya yaitu
> Sanjai Nitta yang terletak di pinggir jalan raya  daerah Kapas Panji.
> Kerupuk ubi siap goreng, galamai, dakak-dakak, sanjai  tipis yang krispi
> berminyak dengan rasa khas kunyit.. .keripik ubi rambat (ubi jala) dan  
> terlalu
> banyak jika saya sebutkan rasanya seisi toko tersebut ingin saya bawa ke
> Pekanbaru.
>
>
>
> Begitulah Bukit Tinggi sebuah kota tujuan Parawisata yang sudah terkenal di
> Nusantara bahkan dunia, bagi saya dia tetap sebuah kota parawisata yang
> "berhujan batu" jauh dari kota maksiat, bukan sebuah kota Parawisata
> misalnya Bali yang "berhujan Emas: dengan segala dunia gemerlap
> parawisatanya yang berekses negative atau identik dengan esek-esek, narkoba,
> bar malam dengan dentuman musik diskotik yang memabukan.Kenapa saya berani
> berkata begitu sepanjang yang saya amati setiap ke kota Bukit Tinggi dan
> sekitarnya terlalu sulit menemukan tempat-tempat berbuat mesum secara
> terang-trangan, terbuka dan vulgar. Jangan lokalisasi tempat aktivitas
> esek-esek, bahkan warung remang-remang yang berkedok tempat santai dan
> minum-minum tapi didalamnya nafasnya adalah esek-esek saya tidak pernah
> menjumpainya atau memang saya terlalu sulit mendeteksinya dimana
> keberadaannya dunia maksiat ini di Bukit Tinggi. Saya tidak bilang :tidak
> ada sama sekali alias sangat bersih",  saya rasa tetap ada tetapi para
> pelaku yang mencemari Kota Bukit  Tinggi sebagai salah satu  ikon nagari  di
> Ranah Minang yang menganut Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah
> terlalu sulit dan sempit ruang geraknya.
>
>
>
> Para pelaku dunia esek-esek ini akan berpikir 3 atau 4 kali jika melakukan
> aktivitas ini secara terbuka dan terang-terangan di depan atau ditempat
> keramaian sebagaimana layaknya kota-kota parawisata lainnya di luar Ranah
> Minang (Sumbar).Anda akan nyaman  dan nyenak tidur berselimut tebal
> menahan hawa dingin malam hari Bukit Tinggi di Hotel atau penginapan  tempat
> anda beristirahat tanpa ada gangguan suara "bisikan halus dan merayu": dari
> para pekerja sek komersial, Anda akan merasa nyaman dan tidak risih berlalu
> lalang disepanjang lobi hotel dan tempat hiburan sederhana yang menampilkan
> kesenian tradisi minang karena tidak ada mondar mandir perempuan muda yang
> seronok untuk menjajakan tubuhnya.
>
>
>
> Ketika Wali Kota mengeluarkan pernyataan seperti yang dilansir
> Padangkini,com
>
>
>
> *"Yang akan kita tutup hanya jamnya dengan kain agar masyarakat tidak
> dapat melihat jarum jam berdempetan saat pukul 00.00 dini hari saat
> pergantian tahun," kata Jufri kepada wartawan dalam konferensi pers di
> Balaikota, Jumat (19/12).
>
> Menurut Djufri, alasan penutupan jam gadang itu dilakukan sebagai upaya
> untuk menghindari kemaksiatan yang diduga sering terjadi saat malam
> pergantian tahun, jadi izin keramaian di kawasan Jam Gadang ditiadakan.
> Selain itu juga untuk mengurangi resiko kecelakaan dan tindak kejahatan
> seperti copet dan jambret.
>
> *
>
> Sebagai penguasa tertinggi di Kota Bukit Tinggi pernyataan Wali Kota ini
> bagi saya sungguh aneh dan jauh dari logika cara berpikir yang sehat, sebuah
> indicator atau parameter yang sekiranya tidak saling berhubungan,  menutup
> jarum jam gadang yang berdempet ketika pukul 00.00 pergantian tahun baru  
> untuk
> menghindari perbuatan maksiat. Saya sendiri sangat sulit menduga apa yang
> dipikirkan wali kota terhadap jarum jam  yang dempet ini, jikapun
> imajinasi Pak Wali sangat "liar" bahwa yang dempet-dempet ini perbuatan
> mesum, saya pikir bukankah masih banyak lagi posisi-posisi yang tidak dempet
> untuk berbuat mesum misalnya identik  ketika jarum jam gadang menunjukan
> pukul 3., kalau begitu perlu juga dong diutup pada pukul 3 tepat.  Entahlah
> terlalu sulit menganalisa pernyataan  Wali Kota Bukit Tinggi ini,  sesulit
> menjelaskan jika tidak ditutup jam gadang pada pukul 12 malam maka
> orang-orang akan berbuat atau paling tidak sulit menghindari perbuatan
> maksiat.
>
>
>
> Malah dengan pernyataan yang rada-rada konyol ini dari Wali Kota, seakan
> menyiratkan atau bagi orang-orang yang tidak paham secara dalam tentang
> Bukit Tinggi sebagai kota parawisata berpikir bahwa selama ini kota Bukit
> Tinggi dunia wisatanya sudah tercemar dengan segala kemaksiatan.Alangkah
> bijaknya Wali Kota ini mengeluarkan sebuah pernyataan "Silahkan datang ke
> Bukit Tinggi menikmati kemeriahan pergantian tahun di Jam Gadang dengan
> tertib dan aman, Kami tidak akan mentoleran setiap perbuatan maksiat yang
> dilakukan pengunjung, petugas kami yang berjumlah ratusan dari aparat unsur
> gabungan akan siap menindak tanpa tedeng aling atas perbuatan maksiat yang
> dilakukan oleh pengunjung sesuai dengan peraturan yang berlaku"
>
>
>
> Ini pernyataan "Jarum Jam Gadang jam 00.00 berdempet akan ditutup untuk
> menghindari perbuatan maksiat"…ampun..ampun..apa hubungannya
> kawan-kawanku..tolonglah jelaskan pada saya ini.Sementara saya berpikir
> positif saja Pak Wali mungkin melemparkan sebuah jolke segar dipenghujung
> tahun untuk mengimbangi tragedy pelemparan sepatu wartawan Iraq ke kepala
> Bush yang menghebohkan dunia.. Mudah-mudahan Pak Wali kita ini ijazah
> pendidikan terakhirnya tidak didapatkan disekolah "dibawah batang jambu",
> dia sebagai pemimpin tentu seorang yang pintar, mungkin rasa humornya yang
> cukup ":liar" membuat orang tersentak atas pernyataannya ini.
>
>
>
> Atau jangan-jangan Pak Wali kita ini pernah trauma yang cukup dalam jika
> melihat jam analog pada pukul 12 semua jarumnya dempet. Secara psikologis
> kejadian yang membuat dia trauma dan menghantui kehidupan dan aktivitasnya
> sehari-hari. Jika saya diminta analisa oleh salah seorang sahabat dunia maya
> Bung Riri, maka ada kemungkinan jam tangan Pak Wali bukan analog tapi
> digital, lalu di rumahnya maupun diruang kerja pribadinya setiap jam yang
> menunjukan waktu adalah jam digital dengan angka-angka numeric.Analisa
> "nakal" saya lagi kemungkinan Pak Wali ini telah menganggarkan di APBD tahun
> 2009 sebuah alat otomatis penutup Jam Gadang ketika pukul 12 jarum jam
> dempet maka akan menutup secara otomatis kembali lalu akan  terbuka
> kembali jika jarum jam ini tidak dempet paling tidak lima menit setelah jam
> 12 untuk lebih memastikan pandangan dari jarak jauh jika jarum jam ini tidak
> dempet lagi.Jika terealisasi rencana ini..mmm… tentu kita yang tamasya ke
> Bukit Tinggi mendapat  hiburan yang menarik menyaksikan alat otomatis
> bekerja mentutu jam gadang  pada jam 12 ketika jarum jam berdempet,
> tentunya .tanpa harus kita berbuat maksiat, hanya orang yang urat malunya
> sudah putus dan tidak punya rasa lagi jika berbuat maksiat di keramaian,
> maaf monyet ngarai sianok  saja jika ingin berbuat mesum  masih malu-malu
> ditonton tempat yang ramai oleh pengunjung yang berwisata di Lubang Japang.
>
>
> #Bukit  Tinggi oh Bukit Tinggi ku apapun kata - kata dan pernyataan Wali
> Kota mu aku tetap cinta padamu Bukit Tinggiku.*
>
> *
>
> * *
>
> Pekanbaru, 20 Desember 2008
>
> * *
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua 
> teman<http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/trueswitch/mailtagline/*http://id.messenger.yahoo.com/invite/>
> Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: stat6809.jpg>>

Kirim email ke