Dunsanak di Palanta nan ambo hormati

Kutiko membaco artikel di suatu koran terbitan ibukota tg. 18 Desember yl.
barulah ambo tahu bahwa:
*tahun 2008 iko ditetapkan oleh masyarakat internasional sebagai Year of
Frogs.
*Sayangnyo artikel tsb. baru dipublikasikan oleh mass media disaat tahun
2008 yang hanya tinggal 13 hari lagi.
Secaro kebetulan, ambo suko memeliharo Kodok di pekarangan rumah (tanpa
kandang khusus).

Hobby membiarkan kodok berkembang di kolam kecil iko, karano ambo suko
mandanga irama dengkungan kodok yang bersahut-sahutan secara teratur ketika
musim penghujan tiba. Ada pemimpinnya yang mengatur irama dengkungan
tersebut.
Kesenangan mendengarkan suara asli nan berirama iko, mengingatkan ambo
ketika kecil di baruang-baruang jarami di tangah sawah pada malam hari
sambil menunggu para mamak mangiriak padi.
Kegiatan mangiriak padi dengan diterangi lampu strongking di tangah sawah
pada malam hari ini, otomatis terhenti ketika tantara rezim Soekarno
beroperasi di Sumatera Barat.

Bertahun-tahun sejak tahun tujuh puluhan meskipun bermukim di kota, setiap
musim penghujan tibo, ambo masih menikmati suara Kodok.
Entah karena sebab lain atau karena *pemanasan global* pada tahun 2008 yang
kebetulan bertepatan dengan Year of Frogs, Kodok dewasa tidak lagi terlihat
di kolam samping rumah.
Inikah tanda pemanasan global ?, yang katanya Kodok adalah makhluk yang
sangat peka terhadap perubahan iklim habitatnya.

Sebenarnya bukan hanyo mendengarkan suara Kodok nan ambo sukoi sebagai
bawaan dari kampuang yang tidak akan pernah hilang, tapi suara kicauan
burung-burung ambo senangi pulo, cuma kemudian ambo sadar dan kuatir
kalau mamaliharo
burung iko akan merampas hak milik anak-cucu.
Makhluk tersebut akan punah di alam bebas bila burung-burung liar
dipagalehkan terus karena pedagang hanya mendapatkannya dari pengumpul yang
membeli dari pemulung makhluk hutan.
Bulan Nopember 2007 yl. kutiko boarding dari bandara Minangkabau, ambo
maliek dinaikkan pula berkotak-kotak burung Murai untuk dikirim ke Jakarta.
Seandainya kegiatan mengirim Murai ke Jakarta ini berlangsung secara rutin
maka bisa dipastikan anak-cucu kita tidak akan pernah melihat lagi burung
Murai di hutan,
Dan tiga hari nan lalu di Newsticker pada salah satu televisi nasional
terbaca pula ratusan Monyet  nan barasa dari Sumatera Barat dilarang masuk
ke Jakarta.

Inilah salah satu ekspor Sumbar saat ini yaitu hasil tangkapan (pulungan)
dari alam bebas. Sebenarnya kerja memulung itu beribadah pula karena ikut
membersihkan lingkungan, tapi sampah plastik yang dipulung.
*Kekayaan hutan Sumbar bukanlah sampah, tapi bio diversity ...eh ambo indak
manggurui lho !!*
 wassalam

Abraham Ilyas 63 th.

www.nagari.org dan www.nagari.or.id

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: kodokglobal copy.gif>>

Kirim email ke