Menyongsong Hari Ibu Aku Teringat Amak Senin, 22 Desember 2008 Penulis memanggil ibu dengan sebutan amak, mungkin karena penulis orang kampung yang lahir di sebuah desa di kaki Gunung Talang arah ke timur. Beliau dipanggil Allah dalam usia delapan puluh dua tahun, pada awal tahun 1996 atau lebih kurang hampir tigabelas tahun silam. Beliau meninggal pada dua hari bulan Ramadhan setelah sakit beberapa waktu lamanya.
Sosok amak bagi penulis sangat menentukan jalan hidup. Walaupun adalah kewajiban beliau untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya menuju kedewasaan, namun sosok amak lebih dari segalanya terutama nasehat-nasehatnya yang masih tetap diberikan saat penulis sudah dewasa punya istri dan anak-anak. Pada peringatan hari ibu ini sengaja penulis mengungkapkan kepribadian beliau di samping nasehat-nasehatnya yang mungkin ada manfaatnya untuk yang lain. Asam kandih asam galugua. Masih terngiang pantun amak sewaktu menasehati penulis sewaktu kecil seperti di bawah ini: 1. Asam kandih asam galugua Katigo asam siriang-riang Managih mait dalam kubua Takana badan tak sumbayang 2. Layang-layang tabang malayang Sugi-sugi pamaga baniah Ado eloknyo urang sumbayang Hatinyo suci mukonyo janiah Dua pantun di atas sangat sering beliau dengungkan agar kami (penulis bersama adik-adik) tidak lupa melaksanakan shalat. Tentang shalat ini selalu disampaikan amak ketika beliau datang melihat penulis sekeluarga atau sewaktu kami berkunjung kekampung tempat beliau tinggal. Pertanyaan beliau sangat sederhana: Lai waang sumbayang (Apakah kamu selalu shalat)? Pertanyaan tersebut selalu berkumandang sampai saat beliau menghembuskan napas terakhir sementara penulis sudah cukup tua atau lebih lima puluh tahun. Alhamdulillah sampai saat ini tidak lupa nasehat amak, semoga nasehat itu disamping kewajiban beliau sebagai Ibu akan menjadi amal saleh di sisi Allah dan membebaskan beliau dari siksaan kubur dan api neraka. Amin. Guru adalah Pekerjaan Mulia Ditakdirkan penulis adalah anak guru,walaupun amak hanya jadi guru sampai menikah sedangkan abak alhamdulillah sampai pensiun.Sewaktu penulis kecil amak bercerita bahwa sewaktu awal kemerdekaan abak pernah ditawari pekerjaan dalam pemerintahan dan berhenti jadi guru.Setelah bermusyawarah dengan amak kemudian abak menolak jabatan itu walaupun dimata masyarakat cukup baik. Alasannya adalah karena menurut amak jabatan guru adalah jabatan mulia, walaupun penghasilannya tidak sebanyak dalam jabatan yang ditawarkan itu. Amakpun menasehati penulis dan adik-adik supaya bila sudah dewasa kami juga jadi guru. Secara halus kami menolak, kami ingin pekerjaan lain. Namun tampaknya doa amak sangat makbul, kami bertiga semua jadi guru kecuali adik perempuan tidak jadi tamat SGA nya karena menikah. Penulis dan adik bungsu ditengah perjalanan karier harus berhenti jadi guru karena dipindahkan untuk jabatan lain. Ketika penulis konsultasi dengan amak tentang kepindahan itu amak hanya diam, melarang tidak menyetujui juga tidak. Salah satu alasan amak mengapa jabatan guru adalah mulia, karena guru tidak mungkin melakukan hal-hal negatif termasuk korupsi seperti sekarang. Walaupun tidak sampai pensiun dari jabatan guru hati cukup puas karena sempat menyenangkan hati amak. Surat Ibrahim Ayat Tujuh Penggalan surat Ibrahim ayaut tujuh yang berbunyi "Lain syakartum laa azidannakum walainkafartum inna adzaabii la syadiid" artinya "jika kamu bersyukur akan Kutambah nikmatKu kepadamu, jika kamu kafir azabku amatlah pedih", sangat hafal oleh amak. Bersyukur terhadap nikmat yang diberikan merupakan hal mutlak bagi amak. Kalau mau tahu bahwa keadaan kita lebih baik senantia selalulah melihat sekeliling maka akan tampak bahwa banyak lagi orang yang berada jauh lebih buruk dari kita. Kalau kita bisa makan tiga kali sehari orang lain mungkin hanya sekali. Kita tinggal di rumah orang lain mungkin hanya di pondok kecil. Demikian amak senantiasa mengingatkan agar senantiasa bersyukur terhadap keberhasilan walaupun kecil atau sedikit. Sekali waktu amak bertanya kepada adik penulis yang disamping guru juga melibatkan diri dalam usaha pertanian. Amak bertanya bagaimana hasil pertanian? Dijawab oleh adik penulis "kalau tidak hujan hasilnya tiga kali lipat dari yang diperoleh sekarang". Padahal dengan yang ia peroleh saat itu sudah sangat menguntungkan, tetapi masih tidak bersyukur malahan menyalahkan hujan. Amak marah besar dengan mengatakan "aden indak kamamintak ka waang doh, tapi waang indak bersyukur saketek juo".Maksudnya saya tidak akan meminta kepadamu, tapi kamu tidak mensyukuri terhadap yang sudah diperoleh. Usaha menjalani,untung menyudahi. Biasanya penggalan surat Ibrahim ayat tujuh di atas berkaitan erat dengan subjudul ini. Kalimat ini selalu berulang-ulang disampaikan amak agar kami anak-anaknya tidak suka berkeluh kesah. Di samping beliau benci dengan orang yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah beliau juga tidak suka kepada orang yang suka mengeluh. Banyak teman-teman beliau atau siapa saja yang mengeluh dihadapan beliau selalu dinasehati dengan kalimat di atas. Bagi beliau bekerja dan berusaha harus dijalankan lebih dulu sebagaimana juga disampaikan ustad bahwa usaha itu wajib dijalankan. Setelah berusaha, berusaha, berusaha . tapi belum juga berhasil maka kita harus bersabar dan jangan hanya mengeluh. Untung atau takdir itu terletak diujung usaha. Bila sudah berusaha dengan baik jangan lupa berdoa untuk keberhasilan usaha tersebut. Perempuan yang keras hati Semua perempuan yang melahirkan mungkin mempunyai cit-cita yang sama agar anak-anaknya kelak menjadi orang, mampu hidup tanpa menyusahkan pihak lain.Punya pekerjaan,punya keluarga atau apa saja sesuai kebutuhan hidupnya. Mereka mampu menghidupi diri dan keluarganya, paling kurang lebih baik dari keadaan ibu itu sendiri. Begitu juga amak juga mengharapkan kami anak-anaknya untuk dapat hidup bahagia setelah dewasa. Untuk itu amak mendidik dan menyekolahkan kami, agar kami mampu hidup ditengah masyarakat kelak. Dengan latar belakang ijazah sekolah guru,penulis melanjutkan kejenjang lebih tinggi FKIP Unand, kelak menjadi IKIP dan kini UNP. Kehidupan waktu itu sangat sulit, apa lagi hanya ditunjang dengan penghasilan abak sebagai kepala sekolah yang tidak begitu besar.Pada waktu serba sulit itu pula penulis diangkat menjadi guru SR (sekolah rakyat) kini SD.Penulis ingin meringankan beban orang tua dan akan melaksanakan SK sebagai guru nun disebuah desa. Dengan berbekal SK sudah tentu perkuliahan harus terputus, karena penulis diangkat jauh dari kota Padang di mana penulis kuliah. Walaupun dengan berat hati,niat penulis ini diterima oleh abak, namun amak menolaknya mentah-mentah dan penulis harus terus kuliah. Apa yang dikatakan amak (dalam bahasa Indonesia) "Walaupun kami disini akan makan batu (karena kesulitan ekonomi) namun kamu harus tetap kuliah dan adik-adikmu tetap sekolah". Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Minang dan masih segar dalam ingatan punulis amak berurai air mata. Alhamdulillah doa amak makbul, penulis dapat menyelesaikan Sarjana muda. Berbekal ijazah sarjana muda inilah penulis kelak menjadi guru, sesuai dengan pekerjaan yang disukai amak atau pekerjaan yang amat mulia. Sebagai penutup kenangan kepada amak, penulis kini hanya bisa berdoa sebagaimana doa yang juga sering diajarkan kepada kita semua "rabbigfirli waliwaalidaiya warhamhu kamaa rabbaiyaani sagiira". Semoga kedua orang tuaku ditempatkan pada tempat yang sebaik-baiknya disisi Allah. Amin. (H Djamhur Sjarif, tinggal di Pariaman) http://www.padangekspres.co.id/content/view/26270/114/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
