Mak Lembang, Riri dan Adi Dunsanak, Loko Uap yg tinggal saat ini di Sumbar, hanya 1 unit lagi yg dijadikan "tugu" di Simpang Haru tsb. Yang lainnya ludes dess... Padeks bbrp waktu lalu coba mengangkat berita ini ada 1 unit di Logas, Sijunjung yg sdh parah bgt dan karatan habis...
Sktr Sep 2006 lalu, saya kaget juga dapat informasi dari Kepala Stasiun Sawahlunto, Pak Zulkifli (msh menjabat disana sampai saat ini). Kalau perlu nomor hp beliau, saya punya krn kita tetap kontak terus. Kata beliau dulu sktr 50 unit lbh Loko-Loko tua kita dilego sbg besi tua. Karyawan KAI Sumbar pada nangis tuh Pak waktu itu kata beliau... Belakangan saya baru tahu dari info Mak Darul bahwa pada era tsb, banyak besi diperlukan utk mendukung Proyek Krakatau Steel. Yg minta Pak Rusmin Nuryadin kalau gak salah katanya... Ketika saya dg Alm Pak Chaidir mengajak BA-1 menghadap Dirjen KA yg dijabat Pak Soemino utk minta dukungan dan tambahan gerbong (yg diresmikan 13 Sep lalu) buat KA Wisata akhir Feb.2007 lalu, saya mengutarakan juga niat utk memiliki Loko Uap di Sumbar. Tapi beliau keberatan. Waktu itu saya belum paham kenapa Pak Soemino bilang bahwa gak usahlah mikir Loko Uap lg. Mahal biaya perawatannya. Kita punya banyak Loko Diesel yg bisa dirubah jadi mirip Loko Uap kata beliau...:) Kita mampu kok merubahnya. Ketika saya ngobrol lagi dg Pak Zulkifli, beliau ngasih tahu bahwa Loko-Loko tsb dilego ketika Pak Soemino menjabat sbg Kadivre KAI Sumbar. Ttp saya yakin beliau gak mungkin mutusin sendiri, paling hanya melaksanakan perintah saja... Waktu tahun-tahun ini, siapa ya yang jadi Gubernur Sumbar...? Mungkin beliau lebih tahu cerita sebenarnya... Krn sensasi loko Uap ini sgt besar dan gak punya pilihan lain, makanya Pemko Sawahlunto pernah menganggarkan hingga 500jt agar Mak Itam yg di Ambarawa tsb bisa dibawa pulang kembali. Ttp ternyata banyak kendala dan kurangnya dukungan, baik di internal Sumbar maupun dr pusat sehingga dana tsb tidak jadi digunakan. Stlh MPKAS terbentuk dan kunjungan IRPS ke Sumbar Des 2006, isu Mak Itam ini kita coba angkat kembali. Bbrp tokoh2 IRPS yg memberikan inisiatif agar kalau bisa mengembalikan Mak Itam ke habitatnya lagi. Sehingga sejak itu, perjalanan panjang kita coba lobby berbagai pihak dg berbagai cara-cara yg tidak umum dan menggunakan isu-isu kepentingan Nasional utk mendukung Visit Indonesia Year, dlsbgnya, sembari sosialisasi Konsep KA Wisata Sumbar jalan terus. Akhirnya diluar dugaan kita, ternyata dukungan tak terbendung dan Dirut PT KAI akhirnya "berani" mengeluarkan surat perintah: Mak Itam segera dipulangkan ke Sumbar. Ketika hal ini kita komunikasikan kembali ke Pemko Sawahlunto, apakah masih tertarik dan mau menanggung biaya pengiriman, Pak Wako lgs tegas: "Ado, ambo siapkan pitihnyo...". Dan lagian tidak sebesar anggaran semula... Stlh itu koordinasi berlangsung antara Pemko dg PT KAI hingga Mak Itam sampai di kampuang lagi... Saat ini Mak Itam sedang dalam proses "menicure pedicure" dan di cat ulang agar lebih ngecring atas perintah Direksi PT KAI. Direksi PT KAI rupanya gak menyangka bahwa kondisi perawatan Mak Itam disana sangat minim skl. Tidak seperti yg dibayangkan spt sensasi yg dikembangkan oleh kawan2 kita disana. MPKAS jg bantu mencarikan sponsor utk pengecatan itu. Semoga Mak Itam yg skrg jd "The Old Baby" Kota Sawahlunto, hidupnya dimasa tua ini bisa lbh baik dan ikut mengangkat citra Industri Prwsta Sumbar. Bukan cuman Prwsta Sawahlunto saja. Amin... Salam, Nofrins Riri Chaidir <[email protected]> wrote: Waalaikumsalam wr wb UDa Dave, Manuruik dafar "absen" bulan Agustus 1985 tu ado 33 lok Diesel dan 29 lok Uap di Sumbar. Terbanyak ado di Padangpanjang, 27 buah (8 Diesel + 8 uap). Ambo ndak tau bara nan ado kini. Nan jaleh, waktu ambo ka stasiun padangpanjang tahun 2005, stasiun tu sabana langang. Kalau lah ndak ado tu memang berarti dijua baonggok sebagai basi tuo, bara ribu ton bana totalnyo, dan kalau dikali jo sekian rupiah hargo besi bekas ... yo, tragis bana, da Dave Riri Bekasi, L 36 2008/12/28 Muhammad Dafiq Saib <[email protected]> Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu Tragis Riri, Kalau tahun 1985 masih ado bararati sasudah itu barang tu dijua baonggok sabagai basi tuo. Indak yakin ambo ka ado juo bakehno lai di Padang Panjang. Kok nyampang masih ado, manga pulo ka jauah-jauah bana si Nof manjapuik sisono ka Ambarawa. Wassalamu'alaikum Lembang Alam 2008/12/28 Riri Chaidir <[email protected]> Dunsanak, Dari milis subalah, ado foto2 mak itam tahun 1980 - kebanyakan di foto di stasiun padangpanjang Silahkan klik di http://www.flickr.com/photos/malawirail/sets/72157600049290563/ Di salah satu foto tu, ado E1007, nan buatan Swiss, dan F102X nan baroda 12 (F berarti 6 sumbu), jadi labiah gadang dibandiang Mak Itam nan pulang kampuang kapatang. Waktu "diabsen" tahun 1985, baliau2 tu masih ado. Antahlah kalau kini Riri Bekasi, L 46 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
