Sanak Elthaf,

He he, nagari awak ko makin kamari makin suko jo hari libur dan pesta tahun
baru. Satahun ado 5 tanggal merah karano tahun baru: 1 Januari, Hijriyah,
Imlek, Saka, dan Waisak. Indak salah lo kawan ambo batanyo, "Riri, how many
calendars do you have?"




Riri
Bekasi, L 46











.





2008/12/31 Elthaf (elthaf) <[email protected]>

>  FYI
>
>  ------------------------------
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]]
> *On Behalf Of *abu aisyah alinda
> *Sent:* Sunday, December 30, 2007 8:55 AM
> *To:* [email protected]
> *Subject:* [manhaj salaf] Selamanya Tahun Baru
>
>   *Selamanya Tahun Baru*
>
> Ada rutinitas ritual 365 hari (kadang-kadang 366) sekali pada saat jarum
> jam mendekati pukul 24.00 di sebagian besar belahan bumi ini. Orang banyak
> menyebutkannya sebagai tahun baru dan menobatkan tanggal 1 Januari sebagai
> permulaannya.
> Banyak cara untuk merayakan ritual ini. Orang biasa membeli terompet kertas
> atau plastic untuk kemudian bersiap-siap meniupnya jika jarum jam mendekati
> pukul 24.00 tanggal 31 Desember tahun lama -yang konon juga berarti pukul
> 00.00 tanggal 1 Januari tahun baru. Orang sangat beragam dalam cara dan
> acara perayaannya. Yang berjiwa bisnis memanfaatkan momen ini dengan menjual
> terompet tersebut. Yang berjiwa bisnis lebih serakah biasanya menggelar
> acara-acara khusus menyambut tahun baru di hotel, klub malam, atau Cuma
> sekedar dipertontonkan kepada pemirsa layar kaca. Yang sekedar senang
> hura-hura cukup buat acara sendiri dengan sesama teman, atau anak dan istri.
>
> *Relativitas Tahun Baru*
> **
> Apa artinya tahun baru? Secara mudah, perayaan tahun baru adalah perayaan
> habisnya 1 periode tahun yang lalu dan datangnya periode tahun yang
> setelahnya. Jadi, hari ini bisa tahun baru, besok juga bisa tahun baru,
> bahkan sebulan yang lalu bisa juga tahun baru. Hal ini disebabkan  karena I
> periode tahun bagi suatau komunitas -entah yang berdasarkan etnis atau
> kepercayaan tertentu- bisa berbeda dengan komunitas yang lain, baik dalam
> hal durasi I tahun ataupun kapan mulainya. Dan perbedaan ini sah-sah saja.
> < div align="justify">Hanya saja, yang beruntung di dunia internasional
> atau di planet bumi ini adalah Julius Cesar. Kalender buatannyalah yang kita
> tahu sejak kita sekolah di Taman Kanak-Kanak. Dan perayaan tahun baru yang
> dirayakan adalah tahun baru untuk penanggalan yang ia buat.
>
> Kalender made ini Julius Cesar merupakan kalender yang dibuat berdasarkan
> perputaran bumi bumi menggelilingi matahari. Konon kalender ini dihitung
> sejak hari Kristus lahir. Walaupun Kristus dipercayai oleh umat Nasrani
> lahir pada tanggal 25 Desember, tapi mereka baru merayakan tahun baru 6 hari
> setelahnya. Wallahu a'lam, mengapa jadi seperti ini.
> Namanya buatan manusia, kalender ini pernah keliru juga. Gara-gara tidak
> memperhitungkan seperempat hari terakhir dari waktu keliling bumi terhadap
> matahari, kalender Julius Cesar pernah mengalami 'pemotongan' beberapa hari
> p a da zaman  Paus Gregorius. Duniapun kalang kabut. Bayangkan saja jika
> Anda berjanji untuk rapat antar pemegang saham pada, misalnya 12 Februari,
> dan tiba-tiba intruksi 'suci' dari Vatikan menghapus hal tersebut, dan
> tahu-tahu esok hari sudah 27 Februari.
> Orang Cina tidak begitu beruntung dengan penanggalannya, tapi kalender
> mereka masih dipegang teguh di Cina daratan maupun kepulauan. Bahkan yang
> sudah imigrasi ke kepulauan Indonesia pun masih sering memakainya. Coba
> lihat beberapa cetakan kalender di negeri kita ini. Setelah reformasi,
> mereka pun mendapat angin segar untuk merayakan Imlek secara lebih terbuka.
> Berbeda dengan kalender Masehi yang baru 2007, orang Cina sudah merayakan
> pergantian millennium III-nya beberapa ratus tahun lebih awal daripada
> pengguna kalender Masehi.
> Kaum muslimin masih bisa berbangga dengan penanggalan Hijriyah yang
> ditetapkan oleh Umar bin Khattab. Kalender ini dihitung sejak hari
> Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Karena Nabi Muhammad adalah nabi
> yang diutus setelah Nabi Isa, wajar saja jika kalender Hijriyah lenih muda
> sekitar 580 tahun daripada kalender Masehi.
> Berbeda dengan kalender lain yang perhitungan tiap bulannya pasti, tidak
> begitu dengan kalender muslim. Penentuan awal bulan dilakukan dengan melihat
> hilal pada akhir hari ke-29. Jika hilal terlihat, besok berarti tanggal I
> bulan baru. Jika tidak, besok masih merupakan hari ke-30. bahkan mendung
> yang menutup hilal pun bisa jadi penyebab ditetapkannya hari ke-30.
> Sebagian kaum muslim berusaha 'memastikan' durasi tiap bulan dengan ilmu
> hisab dan falak. Tapi ini tidak bisa jadi patokan karena mnyelisihi sunnah
> Rasulullah. Selain itu, perhitungan dengan hisab malah menimbulkan
> kebinggungan kaum muslim negeri ini. Mending kita patuh kepad a ulil amri
> yang walaupun kadang memakai hisab, tapi masih menghargai sunnah Nabi untuk
> kepastiannya.
> Orang Jawa lain lagi, dalam masalah hitungan jumlah hari pun mereka sudah
> berbeda. Jika orang Nasrani masihbisa kompromi dengan kaum muslim dalam hal
> jumlah hari, tidak demikian dengan orang Jawa. Orang Jawa cukup beraktivitas
> dalam 5 hari dan tidak tujuh hari sebagaimana penanggalan lainnya. Memang
> aneh, tapi ini cukup bermanfaat bagi takmir masjid yang membuat jadwal
> khatib Jum'at di masjid-masjid pulau Jawa. Jika mereka menjadwal khatib
> berdasarkan Jum'at I, II, III dan IV, maka kadang-kadang khatib pada Jum'at
> IV bisa tidak kebagian jatah karena bulan Februari mungkin cukup tiga minggu
> saja. Sebaliknya, jika ada Jum'at V, pihak takmir masjid kebinggungan
> mencari khatib baru. Alih-alih dengan system di atas, sitem Jum'at Pon,
> Jum'at Wage, dan seterusnya tidak menimbulkan kekacauan di atas.
> Dari empat komunitas di atas saja sudah cukup berbeda durasi tahun dan
> starting point tahunnya. Tak menutup kemungkinan penduduk asli Timbuktu,
> orang Eskimo, suku Mohican dan Indian Maya atau Aztec punya tahun
> sendiri-sendiri yang sangat berbeda dengan apa yang telah kita ketahui.
>
> *Sekedar Jadi Bebek*
> **
> Lalu jika tahun baru bisa berbeda-beda, mengapa kita begitu hangar binger
> merayakan tahun baru?
> Inilah hasil hegemoni barat. Dari situ tampak ketidakpercayaandiri kaum
> muslim untuk bangga menggunakan kalender Hijriyahnya.
> Mungkin ada yang berpendapat bahwa kalender Hijriyah su l it digunakan.
> Misalnya saja, untuk penjadwalan rapat perusahaan dan perencanaan kurikulum
> beberapa bulan ke depan akan sulit jika untuk bulan ini saja kita tidak tahu
> akan terdapat 29 hari atau 30 hari. Tapi keyantaannya, Kerajaan Arab Saudi,
> yang tentunya membutuhkan rapat kementrian dan penyusunan kurikulum sekolah,
> bisa berjalan dengan penanggalan berdasarkan Sunnah Nabi. Mungkin kita perlu
> membuka hubungan lebih dalam ke Negara-negara muslim daripada membebek ke
> negara kuffar.
> Kalau pun alas an penggunaan kalender Masehi demi kemudahan bisa
> dibenarkan, toh kita bisa mengatasi penggunaannya sekedar untuk
> alasan-alasan di atas. Dan itu berarti, tak perlu merayakannya dengan hingar
> bingar.
> Ikut merayakan tahun baru Masehi hanya akan menambah daftar masalah kita di
> akhirat nanti. Pertama, hal tersebut berarti tasyabbuh, meiru-niru kaum
> kafir, sedangkan kita dilarang dengan keras oleh Rasulullah terhadap hal
> itu. Sabda beliau, "Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk
> kaum tersebut." (HR. Abu Dawud)
> Kebanyakan perayaan tahun baru juga merupakan hura-hura. Alangkah baiknya
> jika harta yang dihamburkan hanya untuk kesenangan itu digunakan untuk
> membantu orang yang tak punya sehingga bisa jadi tabungan kita di akhirat
> nanti. Lebih-lebih lagi, orang yang mubadzir sudah dinyatakan Allah sebagai
> saudara setan, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
> setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya."(Al-Isra':27)
>
> *Ritual Kontemplasi*
> **
> Sebagian aktivis muslim menanggapi tahun baru Masehi dengan acar a yang
> menurut mereka lebih sejuk. Yaitu dengan menggelar muhasabah tahunan pada
> malam tahun baru. Rame-rame mereka merenungi apa yang telah dilakukan pada
> hari-hari kemarin dan apa yang musti direncanakan tahun depan.
> Boleh-boleh saja kita melakukan muhasabah, bahkan hal itu dianjurkan. Umar
> bin Khattab pernah berkata, "Hisablah diri kalian sebelum dihisab.
> Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan berhiaslah untuk
> menghadapi hari penampakan yang agung." Walaupun konteks muhasabah
> dianjurkan untuk menghisab persiapan di akhirat, tak mengapalah muhasabah
> dilakukan untuk melihat amalan setahun lalu. Toh, hakikatnya tetaplah
> menghitung amalan untuk bekal ke akhirat nanti.
> Walaupun muhasabah dianjurkan, kegitan berbentuk seperti di atas perlu
> dikritisi. Karena mnegkhususkan dan merutinkan muhasabah setiap pergantian
> tahun Masehi dengan rame-rame memerlukan dalil khusus. Jangan-ja ngan
> perbuatan ini merupakan amalan baru yang tidak ada contohnya dari
> Rasulullah. Jelas bukan kebaikan jika maksiat dilawan dengan bid'ah.
> Yang terbaik adalah yang melakukan muhasabah setiap waktu, setiap ia merasa
> telah melakukan kesalahan sekecil apapun dan setiap kali ia telah selesai
> melakukan amal kebajikan. Tak perlu menunggu satu tahun, apalagi menunggu
> adanya acara muhasabah tahunan.
>
> *Setiap Hari adalah 'Tahun Baru'*
> **
> Jika masalahnya 'hanya sekedar' muhasabah, ingat pentingnya waktu, sejak
> dulu Islam seudah memperingatkan hal itu. Allah sendiri bersumpah dengan
> waktu, dan jika Allah bersumpah dengan sesuatu berarti sesuatu tersebut
> mempunyai nilai yang sangat penting. Orang Arab sendiri berkata, "Waktu
> adalah pedang." Artinya jika kita tidak hati-hati menggunakan waktu, kita
> sendiri yang akan binasa.
> Hal ini karena karakteristik waktu itu sendiri. Yang pertam adalah cepat
> berlalu, sehingga seakan kita baru beraktivitas sebentar di pagi hari,
> ternyata kita sudah menemui sore hari. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Allah
> dlam firman-Nya yang artinya, "Pada hari mereka melihat hari berbagkit itu,
> mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja
> seperti di suatu waktu) di waktu sore atau pagi hari." (An-Naziat:46)
> Kedua, waktu mustahil kembali. Sebagaimana kata Hasan Al basri, "Tiada hari
> tanpa menyeru, "Hai, anak Adam, aku adalah mahluk baru, dan aku menjadi
> saksi terhadap amalmu. Maka berbekallah denganku, sebab jika aku sudah
> lewat, tak mungkin bisa kembali sampai hari kiamat."
> Ketiga, waktu itulah kehidupan yang sebenarnya. Masih kata Hasan Al-Basri,
> "Hai anak Adam, sesungguhnya hidup kamu adalah himpunan hari-hari. Setiap
> hari milikmu itu pergi, berarti pergilah sebagian darimu."
> Tidak ragu lagi, setiap hari adalah modal keselamatan setiap anak manusia.
> Tak bijak jika dilewatkan dengan hura-hura. Kata lainnya, setiap hari harus
> dipersiapkan dengan baik. Setiap hari butuh semangat baru untuk hidup barau
> yang lebih baik. Setiap hari yang berlalu harus dihisab setiap hari. Untuk
> kemudian memperbaiki kesalahan hari ini agar hari esok lebih baik. Tak perlu
> menunggu tahun baru.
>
> Sumber : - Majalah Nikah edisi 10/I/2002, hal. 20-22
>            &n b sp; - Pustaka Aisyah http://safuan.wordpress.com
>
> ------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! 
> Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping>
>
> The above message is for the intended recipient only and may contain
> confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you
> are not the intended recipient, you are hereby notified that any
> dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment,
> is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us
> immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary.
> Please delete the message and the reply (if it contains the original
> message) thereafter. Thank you.
> >
>
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke