Ondeh Mandeh, Aia Angek ....
Tahun 1985 partamu kali pulang sasudah 20 tahun mahilang dari
Kampuang, Aia Angek adolah salah satu tujuan ambo. Jauah sabalun
matohari tabik ambo lah sampai ka sinan, barnandam di Kolam Aia 
Angek (Hot Spring). Ado urang nan baru jago lalok lah tacongang-congan
mancaliak ambo barandam sinan manikmati Aiak Angek sarato pamandangan
pagi nan indah kuliliang. 

Sabab, sabalun maninggakan Kampuang tahun 1966 ambo acok ka sinan.
Kawan ambo Angku Ayunas (kini alm) dari Aia Angek. Sadangkan keluarga
nan acok kami kunjuangi di Aia adolah Keluarga Uda Dr. Rustam Didong,
pakar ekonomi kito dari UI dan LIPI.

Mudah-mudahan ado Urang Kampuang kito nan dapek mengolah Aia Angek
menjadi sumarak pengunjung dengan atraksi Hot Spring dan keindahan
Alam Merapi Singgalang....

Baru sakali ko ambo mandanga ado Rumah Puisi di sinan. Kok bilo-bilono
ambp pulang ambo ka pai ka Aia Angek tu sarato barangan pulo di Lubuak
Mato Kuciang di Padangpanjang.

Sakitulah dahulu ambo komentari postiang ko karano memang Rindu dengan
Keindahan Kampuang Halaman Kito Basamo.

Oh iyo sabanta ko ado Urang dari Kandang Singo lapeh ka Minnesota,
manalipon ambo; Angku Junaidi sadang mancikutuik kadinginan sinan...

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Jauah di Sumbarang Lauik 
Sadang mancikutuik kadinginan
Di Tapi Riak nan Badabua
Santa Kuruih, Kalifornia



--- In [email protected], zul amri <amry1...@...> wrote:
>
> Penulis : D.Zawawi Imron  [ Minggu, 28 Desember 2008 ] Jawa Pos 
> 
> Di jalan menanjak antara Padangpanjang-Bukittinggi, Sumatra Barat, saya
> dan novelis Ahmad Tohari menjadi sastrawan tamu selama satu bulan di
> Rumah Puisi yang didirikan penyair Taufiq Ismail dan istrinya, Ati
> Ismail. Sampai hari ini saya telah sepuluh hari berada di antara Gunung
> Singgalang dan Gunung Merapi, tempat kabut dan hawa dingin menyelimuti
> kami setiap hari. Tempat kami selalu disapa desir daun-daun bambu, dan
> di depan sana ada petani-petani sayur yang tekun memakmurkan bumi.
> 
> Kami berdua benar-benar berada di tempat yang indah. Memandang ke
> Gunung Singgalang yang gagah, di kakinya tampak nagari Pandai Sikek,
> tempat orang Minangkabau menenun kain songket yang indah. Bahkan azan
> subuh di desa itu bagai diantar angin ke Rumah Puisi. 
> 
> Sedangkan
> memandang ke Gunung Merapi tampak sawah-sawah yang bertingkat-tingkat
> dan rumah-rumah para petani yang kalau malam hari lampu-lampunya
> berkelap-kelip mewakili bintang-bintang yang selalu ditutupi awan.
> Inilah wilayah yang selalu dilewati Hamka, Marah Rusli, Noer Sutan
> Iskandar. Haji Agus Salim, Muhamamd Yamin, Muhammad Hatta, Rasuna Said,
> Rohana Kudus, Tan Malaka, seratus tahun yang lalu. Saya dan Ahmad
> Tohari seperti menapaktilasi kelincahan masa kecil mereka yang cerdas,
> berpikir lincah, dan tidak mudah menyerah, sehingga namanya sampai
> sekarang tetap dibaca oleh sejarah dan jadi kenangan yang mengesankan.
> 
> Rumah Puisi sendiri adalah bangunan berbentuk sanggar, ada perpustakaan
> dengan 7.000 buku, ada ruang pelatihan untuk guru-guru sastra sekaligus
> ruang berdialog tentang puisi, sastra, dan yang berkaitan dengan dunia
> tulis-menulis. Jadi, istilah ''rumah puisi'' di sini tidak hanya untuk
> kegiatan perpuisian saja, tapi untuk seluruh yang berkaitan dengan
> sastra. Pinjam istilah Taufiq Ismail, ''puisi'' di sini menjadi kata
> sifat: bersama dan payung dari seluruh karya sastra.
> 
> Yang telah
> berlangsung selama sepuluh hari kami di sana adalah pelatihan guru
> bahasa dan sastra Indonesia. Kegiatan ini telah dilakukan oleh Taufiq
> Ismail dan para sastrawan untuk duduk bersama para guru sastra.
> Bagaimana mengajar sastra yang menarik kepada anak didik, bagaimana
> menumbuhkan minat baca dan memotivasi anak-anak untuk senang menulis.
> 
> Kegiatan yang lain ialah apresiasi sastra siswa, agar anak didik bisa
> menyenangi karya sastra, bisa mengapresiasi dengan baik, bahkan
> menumbuhkan minat menulis agar mereka menjadi generasi penerus dalam
> perkembangan sastra Indonesia.
> 
> Apa yang dilakukan Taufiq Ismail
> selama kurang lebih 10 tahun terakhir berkeliling Indonesia
> memasyarakatkan sastra itu sekarang coba dicarikan tempat yang
> permanen. Upaya ini untuk lebih memberi harkat kepada sastra karena
> sastra sesungguhnya menjadi salah satu ruh dari tulang punggung
> kebudayaan. Kegiatan yang telah berlangsung di Rumah Puisi benar-benar
> mendapat sambutan hangat dari guru-guru sastra dan para siswa penggemar
> sastra. Mereka berdatangan dari seluruh Sumatra Barat untuk bertemu
> sastrawan-sastrawan, membaca puisi, menceritakan proses kreatifnya.
> Bagaimana riwayat perjuangannya serta liku-liku hidupnya sehingga
> menjadi sastrawan. Kemudian guru-guru sastra atau siswa, bertanya
> tentang puisi, novel, dan kiat menjadi penulis atau sastrawan.
> 
> Suasana sengaja dibuat akrab, sehingga tidak terkesan sebagai sebuah
> pelatihan, karena sastrawan yang tampil tidak berpretensi sebagai
> pengajar atau penatar. Bahkan kegiatan untuk para siswa pun dikemas
> dalam suasana penuh persahabatan duduk sama rendah dan berdiri sama
> tinggi.
> 
> Selebihnya, sebagai sastrawan tamu, saya dan Ahmad
> Tohari, dipersilahkan untuk berkeliling Sumatra Barat, berintegrasi
> dengan masyarakat, mengunjungi tempat lahir Buya Hamka, Bung Hatta,
> Haji Agus Salim, dan lain-lain, dan kemudian menuliskannya. 
> 
> Saya
> dan Ahmad Tohari diundang ke Ranah Minang, merasa mendapat kehormatan.
> Kegiatan sastra yang kami lakukan selama ini telah mengantarkan kami ke
> wilayah Indonesia yang indah, dengan keramahan Danau Singkarak dan
> Danau Maninjau, serta Istana Pagaruyung yang legendaris. 
> 
> Tak mungkin  kami lupakan bahwa kami telah menjadi tamu di jantung
puisi Ranah Minang, di sebuah desa bernama Aie Angek. (*)
> 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke