Generasi Muda dan Internalisasi ABS-SBK

 

Rabu, 14 Januari 2009

Oleh : Marjohan, Sekretaris PW Muhammadiyah Sumbar 1990-1995

Mengacu pada terminologi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), pemuda
atau generasi muda  adalah manusia yang berumur 17-40 tahun. Sedangkan
dalam Tarekh Islam (tahun ke 40/'Amul Fiil, Tahun Gajah), Khalifah Ali
bin Abi Thalib (20-an tahun), disebut oleh Nabi Muhammad SAW sebagai
pemuda, ketika mengikrarkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasul,
sewaktu beliau baru saja menerima wahyu pertama di Gua Hira, pada 14
abad lampau!

 

Gelora generasi muda tersebut antara lain berupa heroisme, romantisme
dan aktualisme. Dalam kancah kehidupan yang digumulinya, figur generasi
muda, baik individual maupun kolektif, selalu punya obsesi menujukkan
jati diri (self actualization) sebagai manusia yang punya makna atau
arti sebuah hidup. Mereka mampu menyandang tanggung jawab
(mas'uliyah/accountability) betapa pun beratnya. Mereka berusaha gigih
memunculkan potensi diri sebagai manusia  kaya poweritas tinggi. Aura
jiwa mudanya kerap menggeliat ke permukaan. Terutama ketika kondisi
sosial objektif masyarakat sedang labil.

 

Berbekal potensi diri plus aura muda itu pula, generasi muda sepanjang
perjalanan sejarah, senantiasa memosisikan diri sebagai pilar kekuatan
umat/masyarakat; motivator kebangkitan umat; dan penegak nilai
kemuliaan; serta penegak tiang pancang nilai budaya.  Lebih dari itu,
generasi muda adalah juga pembawa panji-panji kebenaran (al-haq), serta
pengawal barisan bagi menjuluk kemenangan dan kemaslahatan umat. Seabreg
perspektif ideal konsepsional tersebut, bukan berarti generasi muda
sunyi dari permasalahan rumit yang mengitari bahkan mengintainya tiap
saat.

 

Sebagai akibat alam global yang kian merangkak maju, tak sedikit
generasi muda yang terkontaminasi, sehingga mereka terjerembab ke dalam
lumpur kenistaan yang mengkhawatirkan banyak orang. Dekadensi moral
dalam berbagai bentuk dan manifesasinya, menjadi pemandangan yang
menyesakkan rongga dada. Indikasinya? Yang namanya kumpul kebolisme,
vandalisme, brutalisme dan anarkisme, menghiasi media cetak dan media
elektronik hampir tiap saat.

 

Kondisi bisa kian runyam, sebab selain kerapuhan kepribadian yang
acap-kali menggerayangi generasi muda, social control dari orang tua
selaku pendidik utama pun amat lemah. Ironisnya, regulasi dan program
pemberdayaan generasi muda, yang digulirkan legislatif dan eksekutif,
terkesan hanya menyentuh kulit-kulit bawang, demi meraup tujuan-tujuan
sehasta ke depan  (materialistis, pragmatis dan politis-praktis).

 

Akibat dari semua itu, sebagian generasi muda sepertinya masih renggang
dari prinsip-prinsip Islam secara substansial dan normatif doktrinal.
Khusus di  Minangkabau, kredo Islam substantif yang bertelekan pada
al-Qur,an dan Sunnah Rasul yang shahih lagi mutawatir itu, diungkapkan
dalam satu adagium : Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah
(ABSSBK). Syarak (syari'at) mangato adat mamakai!

 

Menelusuri lebih intens hal ihwal ABSSK, sampai kini tetap saja
mengapung ke perumahan pecaturan  pemikiran dari berbagai kalangan. Kaum
literati adat, berpendapat bahwa ABSSBK dideklerasikan di Puncak Pato
Bukik Marapalam, Lintau Luhak nan Tuo, Tanah Datar. Ungkapan adat yang
kerap dipakai atas konsensus kaum adat dan kaum Agama ini adalah "adat
basentak turun (dari darek/darat ke pesisir/Pariaman), dan Syarak
basentak naiak" (dari pesisir/pantai ke darek).

 

Lalu, berpijak pula pada rumusan Seminar Nasional 200 Tahun Tuanku Imam
Bonjol dan Tuanku Rao, 17-18 Desember 2008, di Lubuk Sikaping-yang
dinara-sumberi sejarawan Prof. Dr. Taufik Abdullah, Drs. Syafnir Aboe
Nain, Dr. Haedar Nashir, Prof. Dr. Mestika Zed, Prof. Dr. Gusti Asnan,
Dr. Saafroeddin Bahar dan Dr. Ichwan Azhari (dimoderatori Pimpinan
Harian Padang Ekspres, St. Zaili Asril & Budayawan/Sastrawan Darman
Moenir), dikatakan bahwa deklerasi Bukik Marapalam, kurang didukung
fakta sejarah yang shahih lagi akurat, dan sangat riskan untuk
dipertanggungjawabkan secara ilmiah berorientasi historis.  Kalau begitu
duduk perkaranya, lalu bagaimana pula kajian kaum substansialis dan
historikalis adat tentang ABSSBK?

 

Bertolak dari penelusuran panjang lagi menukik sejarawan Syafnir Aboe
Nain-seperti dicurai-paparkan di forum seminar tersebut, ditemui bahwa
kredo adat bersendi Syarak, punya tali-temali dengan gerakan Padri
dengan tokoh sentral Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai.
Beliau-beliau inilah yang digelari  Prof. Dr. Hamka (1971) sebagai trio
pembaru pemikiran Islam (tajdidu fi al-Islam ) di, dan dari
Minangkabau/Melayu. Sebelumnya, ulama kharismatik dan sejarawan otodidak
ini, telah pula menyematkan trio pembaru Islam terhadap Haji Miskin,
Haji Piobang dan Haji Soemanik (1803-1807)-yang  berhasil secara
spektakuler meletakan kerangka dasar gerakan Padri.

 

Senada dengan Hamka, sejarawan Syafnir Aboe Nain, juga lebih cendrung
menyebut Padri sebagai sebuah gerakan. Bukan perang Padri yang dalam
versi penulis-penulis Belanda, justru telah menyemburatkan konflik
horizontal antara kaum Agama dan kaum adat, seperti yang dipahami
masyarakat dan generasi muda selama ini. Soalnya, yang namanya
terminologi gerakan berkonotasi penelusuran sejarah pemikiran Islam,
yang mengandung sekebat gagasan, tindakan, pelaku, visi-misi dan
perjuangan, serta implementasinya dalam dinamika masyarakat yang dicita
dan dicitrakan Dinul Islam.

 

Yaitu suatu tatanan masyarakat yang berkualitas (khaira ummah /QS
ali-Imran : 110), dalam semua dimensi kehidupan. Dengan kata lain,
gerakan Padri yang bibitnya telah disemai Haji Miskin, Haji Piobang, dan
Haji Soemanik, Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Mansiangan (1803), punya
obsesi besar, merajut masyarakat yang seimbang antara espek 'aqidah,
'ibadah, akhlaqu al-karimah, dan mu'amalah dunyawiyah. Yang disebut
penggal akhir, tak cuma berkutat dalam hal sosial politik, yang lebih
penting  penggawe Padri juga menggerakkan ekonomi kerakyatan berbasis
kultural (Chrestine Dobbin, 2007).

 

Guna mewariskan platform gerakan plus keperjuangan Padri tersebut,
Tuanku Imam Bonjol justru menuangkan pemikiran yang bergelayut di dada
(al-'ilmu fish-shudur/ilmu & hikmah bersumber di dada), dan di kepala
beliau menjadi sebuah buku, yaitu "Naskah Tuanku Imam Bonjol"-yang
kemudian dilanjutkan anaknya, Sultan Chaniago. Dalam dokumen yang semula
berserak-serak, lalu disadur  Syafnir Aboe Nain (2007), dengan tajuk
yang sama, didapatkan penjelasan tentang proses lahirnya (hukum) Adat
Bersendi Syara'. ***

 

http://www.padangekspres.co.id/content/view/28080/55/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke