Assalamualaikum w.w. Sanak Nofiardi dan para sanak sa palanta,

Terima kasih Sanak telah mem-forward artikel Sanak Nelson Alwi di bawah ini, 
yang saya setujui sepenuhnya. 

Tantangan yang kita hadapi dewasa ini adalah bagaimana caranya me-dekonstruksi 
dan me-rekonstruksi  kehidupan kita sebagai suatu suku bangsa, sehingga kita 
bisa menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang yang terbuka pada masa kini 
dengan sikap percaya diri, dan mengurangi sikap saling menjatuhkan seperti yang 
lazim terjadi selama ini. 

Secara pribadi saya berpendapat bahwa hal itu perlu dilakukan pada dua tataran, 
yaitu tataran nilai, serta tataran kelembagaan untuk melaksanakan nilai itu.

Tataran nilai sudah mulai kita tangani secara lebih konsepsional, dengan 
membentuk sebuah Tim Perumus ABS SBK, yang sudah mulai mengadakan sosialisasi 
untuk menampung masukan.

Tataran kelembagaan rasanya baru mulai disentuh, dengan mengadakan penelitian 
latar belakang sejarah, khususnya tentang sejarah nagari dan sejarah 
kerajaan-kerajaan yang ada d  Minangkabau ini, tentu juga dengan membahas 
keterkaitannya dengan NKRI yang ikut kita dirikan bersama.


Wassalam,
Saafroedin Bahar(L, masuk 72 th, Jakarta)Alternate e-mail address: 
[email protected];[email protected]



--- On Sat, 1/17/09, Nofiardi <[email protected]> wrote:

From: Nofiardi <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Minangkabau, dan Masalah Kedirian Yang Menahun
To: [email protected]
Date: Saturday, January 17, 2009, 9:58 AM




 
 

 

 

 












 
  
  Minangkabau,
  dan Masalah Kedirian Yang Menahun 
  
  
    
  
 
 
  
  Minggu, 11 Januari
  2009 
  
 
 
  
  TIPIKAL kebanyakan orang Minang dewasa ini cenderung
  stagnan dan, mengalami degradasi. Hal-hal yang di tahun 1930-an dikritik 
Hamka,
  seperti mengagung-agungkan kebesaran zaman baheula serta mengelu-elukan orang
  kaya lagi terkenal, tetap berlanjut. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Di tengah santernya masyarakat dunia mengupayakan kesejahteraan
  dan kemajuan kita berkutat merawikan kehebatan serta kemuliaan Iskandar
  Zulkarnain (leluhur etnik Minang menurut Tambo). Dan dalam setiap kesempatan
  kita pun selalu menyebut kiprah dan keteladanan KH Agus Salim, Tan Malaka,
  Rohana Koedoes, Hatta, Sjahrir atau tokoh masa lampau lainnya. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Kecuali itu, saat berbagai negara ngotot memformulasikan
  wujud persamaan dan demokrasi yang ideal kita meninggalkannya, memasuki
  lingkaran sistem feodalistik dengan cara, misalnya, habis-habisan menelusuri
  asal-usul orang. Kemudian berbesar hatilah kita karena Taufik Kiemas pernah
  jadi First Gentleman Republik Indonesia, sementara Wapres Jusuf Kalla adalah
  orang semenda awak pula. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Apalagi —berdasarkan sejarah ekstra panjang ekspedisi
  Pamalayu kedua tahun 1292— nenek moyang Sri Sultan Hamengkubuwono X,
  Dara Petak, bersaudara dengan Dara Jingga, ibunda raja Minangkabau
  Adityawarman alias Aji Montrolot. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Ironi 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Sejumlah intelektual (asal) Minang masa kini, seperti
  Sjafri Sairin, Saafroedin Bahar, Edi Utama atau Darman Moenir, dalam berbagai
  forum diskusi/seminar maupun melalui media massa, juga sering melancarkan
  (oto)kritik. Mereka mengisyaratkan bahwa urang awak (baca: orang Minang)
  sedang mengalami krisis kedirian dan kebangkrutan (ke)budaya(an). 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Tak pelak, dengan beragam elah kita memang proaktif
  mengembangbiakkan sikap mental “asal yang di atas senang”. Dengan
  aneka motivasi kita mengobral gelar-pusaka-adat “Datuk” ke
  seantero jagat. Dengan semangat epigonisme kita berpartisipasi aktif
  mempopulerkan istilah dan atau tradisi asing. Dengan tujuan-tujuan tertentu
  banyak di antara kita yang mengekor kepada sesuatu yang dianggap
  “wah”, dan latah mengagumi sekaligus membeli sekian macam titel
  akademik. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Lebih dari itu, tidak sedikit pemangku adat dan pemuka
  agama teperdaya (atau diberdayakan?) untuk memihak, sehingga terkadang, tak
  segan-segan mendukung sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Wakil rakyat
  apalagi para pejabat yang secara kasat mata begitu khusyuk beribadah di muka
  umum, sesampai di kantor… maling sembari beretorika ria. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Implikasinya, setelah berbusa memprihatinkan mutu
  pendidikan, mekanisme rekrutmen tenaga edukatif maupun kepala sekolah 
dipermainkan.
  Sehabis memuji dan berkata wajib menghormati guru, (rapel) gaji dan honor
  serta insentif para “pahlawan tanpa tanda jasa” itu dipenggal,
  kenaikan pangkatnya dipersulit. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Selagi beroptimis-optimis dengan program pariwisata dan
  upaya meningkatkan pendapatan daerah, dalam birahi malu-malu tapi mau
  mengutuk pangkal susu cewek bule yang menyembul dari balik blus atau
  kutangnya yang (di)longgar( kan ).
  Terkait ini, dikernyit-kernyitkanlah kening untuk membuat Perda Antimaksiat
  yang, sejatinya sudah sejak lama terdapat di lingkungan masyarakat
  adat-beragama (di) ranah Minang. Tidak lupa, diteriakkan juga tema besar
  “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, yang ditengarai
  menjadi acuan hidup lahir batin orang Minang, sekalipun belum pernah
  ditafsirkan atau dijabarkan secara konkret dan cerdas oleh pemikir maupun
  cendekiawan yang berkompeten.  
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Dan sekadar berwacana, dirancang sekaligus
  didengung-dengungkan pula proyek mercu impian “kembali ke nagari”
  dan “kembali ke surau”. Sejenak orang-orang boleh bernostalgia,
  mengenang spontanitas akar rumput dalam melaksanakan dan menyambut, sebutlah
  alek nagari. Tidak ada mobilisasi dan politisasi, tidak dimanipulasi dan,
  mungkin juga tidak dikorupsi oleh para penguasa. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Selintas orang-orang pun bisa berfantasi tentang sebuah
  surau yang sinkron dengan kekinian: dilengkapi fasilitas modern seperti
  perpustakaan, sarana dan prasarana olah raga, peralatan musik, televisi,
  komputer serta P(lay)-(S)tation yang game-gamenya bernuansa Islam(i),
  sehingga anak-anak maupun remaja betah. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Dalam pada itu, Ahmad Syafii Maarif ternyata berhasil
  menyabet Magsaysay Award 2008. Betapa berbunganya perasaan kita. Dan, bak
  padi masak jaguang maupiah, perjuangan panjang kita juga tidak sia-sia. Salah
  seorang putra terbaik kita, Moh Natsir, berdasarkan SK Presiden Nomor
  041/TK/TH/2008 tanggal 6 November 2008 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional
  dan Bintang Mahaputera Adiprana. Selain itu, tanggal 19 Desember —hari
  pencanangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi tahun
  1948— dikukuhkan sebagai Hari Bela Negara. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Upacara selamatan serta pidato sambutan Presiden SBY
  menyangkut momen-momen penting tersebut di atas berulang kali ditayangkan 
stasiun
  televisi-stasiun televisi yang ada di Sumbar. Terdengar bisik, sumbang, wajar
  kalau urang awak larut sejenak dalam euphoria 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Kesejatian Minangkabau    
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Orang Minang dikenal luas sebagai etnik yang menjunjung
  tinggi paham egalitarian. Hal mana terpatri dalam pepatah adat duduak samo
  randah, tagak samo tinggi. Konon di sinilah kelebihan orang Minang,
  sebagaimana dibuktikan, umpamanya, oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang
  konsisten, yang tidak mau melalukan saikere, sekalipun di muka para petinggi
  militer(isme) Jepang. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Namun kelebihan atau kekuatan orang Minang itu tak bakalan
  mangkus jika tidak ditunjang oleh sifatnya yang terbuka menghadapi/menerima
  realitas dan perubahan. Pertanyaannya, realitas dan perubahan yang bagaimana?
  Pandangan mungkin bisa ditukikkan ke falsafah adat raso dibaok naiak, pareso
  dibaok turun. Artinya adalah, yang dihadapi/diterima ditilik dengan mata-hati
  dan dicerna dengan nalar, sebaliknya, yang diperbuat perlu dipikir
  direnungkan dan disaring dengan nurani.  
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Esensi pepatah dan falsafah adat dimaksud menyiratkan
  fatwa bahwa orang Minang, seharusnya, memang tak mudah terjerembab atau
  tenggelam dalam ironi, pendewaan maupun emosi yang berlebihan. 
  
 
 
  
    
  
 
 
  
  Karenanya, kembali kepada rasionalitas serta
  kebijakbestarian Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, dua
  filsuf penggagas dasar-dasar keminangkabauan, tepat sekali kiranya bilamana
  kita berupaya merevitalisasi alias memfungsikan kembali unsur-unsur tungku
  tigo sajarangan: para pemangku adat, alim-ulama dan cerdik-pandai, yang
  secara substansial berperan mutlak lagi sangat menentukan dalam rangka
  membangun nagari (baca: bangsa dan negara) serta memecahkan masalah-masalah
  sosial-kemasyarakatan di ranah tercinta
  
ini.*)                                                                                                                                                                               
   
                                                                                
                                                                                                                                                   
  Nelson Alwi, pemerhati budaya, tinggal di
 Padang 
  
 


  


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke