[ Minggu, 18 Januari 2009 ] Jawa Pos
        
        
Tabung Cahaya

Penulis : Zelfeni Wimras
        
        
        
''Ibu, anak jantanmu pulang!''

Tapi,
suaraku berganti bulatan-bulatan udara, seperti gelembung sabun,
berkejaran di atas kepalaku. Suhu dalam tubuh seketika berganti. Arus
hangat menderas dari jantungku berganti aliran dingin, menyergap
tulangku. Tanganku merasakan sesuatu yang licin. Lumut hijau kehitaman
yang membungkus cabang manggis yang sedang kugelantungi pecah. Air
keruh menyebar. Serpihan lumut melintas di depan kacamataku.
Kukerdipkan mata. Menggeleng. Pecahan lumut itu menyebar. Sebagian
menempel di dinding bekas rumah yang juga dibungkus lumut. 

Dingin
makin terasa. Aku tahan-tahan gigil di pangkal lenganku. Sejenak
memandang ke beberapa arah. Arus keruh dari anak sungai kadang
menghalangi pemandangan. Seperti arus itu jugakah waktu mengubah
keadaan? Kadang tenang dan menenteramkan, tak jarang pula garang dan
lesat seperti kilat. 

Ketika di�Tanjuang Pauah akan dibangun dam skala kecil pembendung Batang Maek, 
anak Sungai Kampar Kanan, aku genap 9 tahun. 

Aku dan teman-teman sering bertengkar bagaimana cara membaca papan besar 
bertuliskan: Electric Power Service Co. Ltd yang terpajang
nyaris di tiap simpang jalan. Terlintas cerita, di kampung kami akan
dibangun waduk besar. Muara Kampar Kanan dengan Batang Maek akan
diempang dengan beton, sehingga air akan terkumpul seperti danau.

''Bagaimana kalau air tergenang, di mana kita akan mengembalakan kerbau?" 

''Kalau air tergenang, kita bisa mandi-mandi, berenang, berperahu sepuasnya, 
atau memancing sepanjang hari!''

''Bodoh! Kebun sawit bapakmu mau dikemanakan?'' 

Umurku bertambah setahun. Orang-orang yang menulis papan besar dengan Electric 
Power Service Co. Ltd
datang lagi membawa usulan: Membangun dua buah bendungan di Tanjuang
Pauah dan Koto Panjang atau bendungan tunggal berskala besar di Koto
Panjang? 

Aku mulai melupakan usiaku ketika rencana demi
rencana terus berjatuhan. Para perancang bendungan itu berdatangan dari
negeri yang jauh. Pilihan jatuh pada bendungan tunggal di Koto Panjang.
Aku dengar, tinggi bendungannya 58 meter. 

Aku sering cengang
kiri cengang kanan mendengar orang-orang kampung meributkan 26.444
rumah, 8.989 hektare kebun-sawah, jalan negara 25,3 km, dan jalan
provinsi 27,2 km akan terbenam bila bendungan itu sudah digenang.
Sedangkan, bendungan satu lagi yang dibuat setinggi 38 meter juga akan
menenggelamkan 390 rumah, 1.860 hektare sawah-kebun, dan jalan negara
sepanjang 16 km. 

Kakek-kakekku, paman-pamanku, dan
bapak-bapakku yang terpandang mulai bergairah menggalang massa dengan
jargon kebulatan tekad. Tokoh adat, pemuka agama, pemuda, pemerintah
siap berkorban untuk mewujudkan pembangunan bendungan raksasa itu. 

Aku
terdesak. Tersedak. Makin lupa pada usia sendiri. Bapak-bapakku,
kakek-kakekku, paman-pamanku terus sibuk menggalang kesepakatan. Proyek
besar di ambang saku-saku. Langkah cepat diambil. Seluruh harta
kekayaan penduduk yang bakal tenggelam didaftar. Pohon, rumah,
pekarangan, sawah, semua dicatat. 

Penduduk dilarang membangun
atau membuka lahan pertanian baru. Pembangunan sarana dan prasarana
umum seperti puskesmas, pasar, atau juga sekolah bahkan jalan sepanjang
35 kilometer di daerah ini tidak lagi diperhatikan.

Semangat
bapak-bapakku, kakek-kakekku, paman-pamanku menyala-nyala. Kebulatan
tekad digelar di mana-mana. Di Desa Pulau Godang, kebulatan tekad
dibacakan para datuk, orang-orang terpandang kami. Acara diawali dengan
penyerahan sebilah keris dan miniatur perahu. Kampung kami
diserahterimakan dan kami akan dipindahkan. Kemudian, ditempatkan
kembali seperti kumpulan keluarga sebelumnya agar adat dan tradisi kami
tidak hilang. 

Pemberian SK pembebasan tanah telah
dilangsungkan. Tak menghiraukan desakan untuk menghentikan proyek Koto
Panjang dari mereka yang peduli. Exchance Note (EN) tetap ditandatangani atas 
proyek bernama: Koto Panjang Hydroelectric Power and Asosiated Transmision Line 
Project. 

***

Waktu yang kilat. Usiaku beringsut ke tepi. Di telinga berdesakan kalimat: 
''Ganti rugi tidak bermasalah.''

''Kita di ambang kecerahan.'' 

''Industri hilir bisa lebih maju.'' 

''Sawit dan karet kita hancur, Mak!'' 

''Jadi, bagaimanapun, pembangunan harus diteruskan.'' 

''Kita berkubur di sini saja, Nak.'' 

''Tidak, kamu harus terus sekolah!''

 ''Di kampung kita yang baru, apa ada sekolah?'' 

''Ayo berteka-teki: Ditutup selebar kuku, dibuka seluas alam, apa itu? Jangan 
picingkan matamu, Nak!'' 

''Gajah yang bermukim di lokasi harus diselamatkan dengan memindahkannya ke 
tempat perlindungan yang cocok.'' 

''Ibu, jangan sakit, Ibu!'' 

''Keluarga yang kena dampak proyek tingkat kehidupannya harus sama atau lebih 
baik dari kehidupannya di tempat lama.''

''Ayah, kau juga tergiur? Kau biarkan kami terhuyung-huyung begini?'' 

''Persetujuan pemindahan bagi yang terkena dampak proyek prosesnya harus 
dilakukan dengan adil dan merata!'' 

''Ibu! Kenapa tanganmu dingin?''

''Kerbau-kerbau itu dijual saja. Setelah dapat rumah pengganti, kita pergi 
jauh-jauh dari sini!''

***

Sepanjang
tahun 1991, persetujuan pemindahan dan ganti rugi menjadi teriakan yang
menghabiskan ludah. Tuntutan demi tuntutan disampaikan dengan
mendatangi kantor-kantor pemerintah. Action plan diserahkan.
Penampungan dirancang di Koto Ronah dan Muaro Takuih. Dana tahap dua
diturunkan. Syarat-syarat pemindahan yang ditetapkan telah dipenuhi.
Kontrak perjanjian secara resmi dibuat. Masyarakat mulai dipindahkan ke
lokasi permukiman baru. 

Januari yang lain. Aku terjaga. Usiaku
23 tahun, ternyata. Tapi, ibu, aku sudah tidak di sana lagi. Kabarnya,
setelah kepergianku ke Jakarta, pembangunan mulai dilaksanakan. Dari
ranah yang jauh dan acuh, aku hanya seorang yang tak pernah berhasil
untuk lupa. Selalu kudengar hiruk-pikuk tak berkesudahan. Berimpitan.
Di telingaku terdengar ribut. Tapi, di telinga lain mungkin berubah
jadi nyanyian paling merdu. 

Yang ingin merengek, merengeklah.
Meratap, merataplah. Bernyanyi, bernyanyilah. Semua mesti didendangkan
atas nama kemajuan, kemakmuran orang banyak. Silakan mengadukan kasus
ganti rugi. Bila perlu, didampingi pengacara. 

Katakan:
Bendungan selesai dibangun dan penggenangan percobaan dilakukan, tapi
kami kehilangan tanah air kami yang sebenarnya. Penggenangan secara
resmi, penekanan tombol penurunan pintu-pintu sekat air dam digelar.
Sirene di hati kami tak kalah lengkingnya. Kami tak ingin diberi
kampung baru yang bisu, tanpa sejarah, tanpa kenangan. 

Oi,
bapak-bapak yang mengerti urusan perumahan, kami bukan tak suka
dimukimkan di penampungan baru, bukan tak mau menerima lahan kebun
karet yang bapak janjikan. Kami hanya tidak ingin terkapar di
ketidakmengertian. Kami tak ingin terjerat di kesemrawutan. 

Ah.
Mengapa hanya mendiskusikannya di ruang-ruang seminar, lalu sama-sama
sepakat mengatakan bahwa penyebab banjir besar tidak bisa dilepaskan
dari pengaruh adanya dam raksasa itu? 


  ***


Kulepaskan genggaman tanganku dari cabang manggis itu. Aku
seperti anak siamang yang belajar berayun. Sejenak kunikmati baju lumut
di batangnya. Daun-daunnya luluh, mencair. Batang manggis ini dulu
tumbuh subur di tikungan menjelang masjid. Kami menyebutnya manggis
sumatera. Konon, kala perang dulu, tentara Belanda sangat menyukainya. 

Dua
kelok menjelang batang manggis sumatera itu membangkai gedung sekolah
dasar tempat dulu bocah-bocah bercita-cita tinggi menggilai pensil dan
buku-buku. Kini, tak beratap lagi. Sekitar 500 meter lagi setelah
masjid, ada sebatang kelapa menjulang tinggi di pekarangan rumah
beratap daun rumbia. Ke sana aku kini. Di sisi batang kelapa itu, ibuku
berkubur. 

Aku masih ingin berlama-lama dengan pemandangan ini.
Sudah tak terhitung waktu yang melesat sampai aku didamparkan di ruang
berlumut ini. Lumut kenangan, lumut sunyi, lumut yang menyakitkan. Aku
betulkan masker air di mulutku. Aku tidak leluasa mengatur napas
melalui selang yang disambungkan ke tabung oksigen di punggungku. Aku
merasa seperti anak siamang yang belajar berayun. Kaku. Sementara
gelembung-gelembung air di depanku terus berkejaran. 

Kupandangi
tiang-tiang listrik yang kuyup dan karatan tegak lurus menunjuk langit.
Tak ada lagi cahaya yang akan dikirim ke rumah-rumah yang membangkai.
Di daratan sudah ada yang menggantikan. Tiang-tiang yang lebih baru dan
kukuh. 

Bagaimana lagi, bubur sudah matang. Kenapa mengidam
nasi? Lapangan bola sudah jadi rawa. Berbidang kebun karet membusuk.
Sawit mati muda (walau lukisannya terpahat manis di koin seribu).
Berhektare sawah membentang sia-sia. Demi kemajuan, tak ada padi yang
bernas setangkai. Apalah daya tangan ibuku yang mengeras di hulu
cangkul. Bertahun-tahun ia tampar sekawanan humus dan lumpur-lumpur
bumi ini. Di gulungan tali kerbau, di serajut rumput, di onggokan tahi
kambing, nasib berpilin-pilin tak terkemasi. 

Jika senja
meretas langit, burung-burung pulang ke sarang, ibu terseok di pelipis
jalan, seperti kayu bakar. Tak boleh bertunas, tak boleh berdaun, tidak
boleh basah. Lalu, siapa saja boleh jadi api. Siapa saja boleh jadi
tungku. Jadi periuk, jadi kuali. Siapa saja boleh jadi kangkung, jadi
daun ubi. Siapa saja boleh jadi garam, jadi daun kunyit, atau jadi air
yang mendidihkan. 

 ***

Tabung oksigen dan perlengkapan
renang ini kusewa di kedai-kedai kecil sepanjang jalan di pinggir
bendungan Koto Panjang. Bekas kampungku itu kini telah jadi objek
wisata bahari. Banyak turis ingin menyelaminya. 

Saat memeluk
nisan ibu yang dingin, lidahku terasa pahit. Gelembung-gelembung air
makin banyak, berkejaran di atas kepalaku. Doa-doa untuk ibu yang
kurapal-rapal sejak berangkat dari Jakarta seketika lenyap.

Arus
hangat kembali menyebar dari jantung sampai ke punggungku. Seperti ada
yang berdenging pada tabung oksigen yang kusandang. Cahaya kebiruan
memancar dari sana. Rumah-rumah yang sudah lepuh di sekelilingku pun
berbinar. Cahaya keperakan juga berpijar dari bekas bangunan sekolah
dan masjid. 

Dari ujung jalan menuju kebun karet, aku lihat ibu
dan ayah berbimbingan. Di punggung mereka juga melekat tabung bercahaya
seperti yang kupakai. Mereka melambai-lambaikan tangannya padaku.

''Pulang juga kau akhirnya, Nak?'' (*)


  Cerpen Zelfeni Wimras


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke