sebelumnya saya juga turut mengucapkan selamat kepada pak saldi isra dan Kurnia 
Warman
yang sudah mengharumkan ranah minang.

wassalam,
harman st idris (37th)


http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/04/01492311/sumatera.barat

PETA POLITIK
Sumatera Barat
Dua Dunia di Ranah Minang

Rabu, 4 Februari 2009 | 01:49 WIB 
Yoga Prasetyo dan Ignatius Kristanto

Karena letak geografisnya yang strategis, Sumatera Barat tidak bisa dilepaskan 
dari dua dunia yang bertarung. Suasana kehidupan bertani yang sederhana di 
pedalaman dataran tinggi sangat berlawanan dengan dunia pedagang di pesisir 
yang sibuk dan penuh persaingan. Dua dunia berbeda itu pula yang membuat kultur 
politik di ranah Minang selalu bergerak.

Bila dilihat dari komposisi etnis, Sumatera Barat tergolong homogen. Proporsi 
suku Minangkabau sekitar 88 persen dari penduduk provinsi ini. Meski relatif 
sewarna dalam suku dan agama, sebagian besar penduduknya menyebar di dua 
kondisi geografis yang berbeda, dataran tinggi dan dataran pantai.

Asal dan pusat daerah permukiman Minangkabau terletak di dataran tinggi deretan 
Pegunungan Bukit Barisan Sumatera Tengah. Daerah ini juga disebut sebagai 
wilayah dalam yang terdiri atas empat lembah subur di dataran tinggi, yakni 
Lembah Agam, Tanah Datar, Singkarak- Solok, dan Lembah Lima Puluh Koto. 
Kehidupan bercorak agraris yang bertumpu pada pertanian sawah sangat kental di 
wilayah ini.

Dari wilayah dalam inilah pernah muncul kerajaan pada abad ke-13. Pengaruh 
budaya India yang aristokratik sangat kental sehingga memunculkan sistem 
”raja-raja”. Bahkan, menurut Christine Dobbin (1983) dalam bukunya Islamic 
Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847, pada era 
Adityawarman, keturunan Jawa- Sumatera yang dibesarkan di Keraton Majapahit, 
Minangkabau mulai mengembangkan budayanya yang lebih tinggi dengan seni, 
bahasa, dan tulisannya sendiri.

Jika ditarik pada era saat ini, wilayah dalam kerajaan kira-kira meliputi 
delapan kabupaten dan kota, membentang dari sekitar utara Kota Bukittinggi 
hingga Kabupaten Solok.

Kontras dengan wilayah pedalaman adalah daerah pesisir barat. Pantai barat 
Minangkabau yang merupakan ”jendela menghadap dunia” tidak sehomogen wilayah 
dalam. Pengaruh perdagangan sejak dulu membuat wilayah ini lebih ”berwarna” 
dari para pendatang.

Bagi orang Minang, wilayah ini termasuk rantau, sebagai salah satu tujuan 
bermigrasi. Saat ini wilayah administrasinya meliputi enam kabupaten dan kota. 
Kota Pariaman dan Kota Padang, ibu kota Sumatera Barat, masuk dalam ranah 
rantau pesisir ini.

Kini tidak ada pembeda yang tegas dalam hal budaya antara kedua ranah dalam dan 
ranah rantau pesisir tersebut. Hanya saja, ada sedikit perbedaan di antara 
komunitasnya, terutama dalam hal respons.

Menurut pakar sosiologi politik dari Universitas Andalas, Rinaldi Eka Putra, 
pada masyarakat pesisir, adaptasi dan interaksi dunia luar lebih cepat dan 
lebih terbuka terhadap perubahan- perubahan.

Lain halnya dengan komunitas di daerah pedalaman yang relatif lambat dalam hal 
perubahan. ”Masyarakat agraris berubah tidak secepat orang pesisir. Mobilitas 
orang agraris hanya mengantar sampai ke pesisir. Setelah itu, mereka kembali 
lagi,” kata Rinaldi.

Pilihan politik

Pemilahan wilayah subkultur pedalaman dan pesisir ternyata juga terjadi pada 
perilaku pilihan politik masyarakat. Jejak-jejaknya dapat dilihat pada saat 
terjadi perubahan politik yang besar.

Jejak pertama dapat ditelusuri pada saat terjadi perubahan politik 1998. 
Sebelumnya, selama kurun 30 tahun, mesin politik rezim Orde Baru, yakni 
Golongan Karya, memang berhasil memaksakan ”kuningisasi” di ranah Minang yang 
sebelumnya lebih kental warna Islam. Namun, ketika Pemilu 1999 digelar, terjadi 
pembalikan ke partai-partai berbasis massa Islam, seperti Partai Persatuan 
Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Perubahan kembali ke partai- partai berbasis massa Islam ternyata hanya 
berhasil di wilayah pesisir. Empat dari enam kabupaten dan kota yang berada di 
wilayah ini dimenangkan oleh PAN dan PPP. Hal ini menunjukkan, wilayah pesisir 
lebih cepat menerima perubahan.

Jejak kedua dapat diamati pada perubahan sistem pemilihan kepala daerah 
(pilkada) yang dipilih secara langsung oleh masyarakat sejak tahun 2005. 
Perubahan ini membawa dampak bagi peranan partai politik karena harus jeli 
memilih calon kepala daerah yang dijagokan.

Dilihat dari hasil pilkada, wilayah pesisirlah yang paling dinamis. Artinya, 
tidak ada jaminan bahwa partai yang menang di Pemilu 2004 mampu pula menguasai 
di pilkadanya. Sebagian besar daerah ini tergolong wilayah cair, wilayah yang 
bisa berubah, pemenang pilkadanya justru didukung oleh partai-partai yang tidak 
menang di Pemilu 2004.

Contohnya di Kabupaten Pasaman Barat. Pada Pemilu 1999 dan 2004, Golkar selalu 
menang di wilayah ini. Akan tetapi, pada pilkada partai ini dikalahkan oleh 
calon yang disokong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Bulan 
Bintang (PBB), dan Partai Bintang Reformasi (PBR). Hal ini sama seperti di 
Kabupaten Pesisir Selatan, Padang Pariaman, dan Agam.

Sebaliknya, fenomena ini tidak terjadi di wilayah pedalaman. Loyalitas pemilih 
pada Partai Golkar masih relatif tinggi sehingga calon-calon yang diusung 
partai ”beringin” dapat memenangi beberapa pilkada. Bahkan, di Kabupaten Solok 
dan Kabupaten Tanah Datar, Golkar mampu menang tanpa berkoalisi.

Lalu, apa relevasinya dengan Pemilu 2009? Melihat jejak-jejak perbedaan dua 
dunia yang terbelah meski tidak tegas ini, dapat diamati bahwa probabilitas 
perubahan pilihan politik lebih besar akan terjadi di wilayah pesisir daripada 
wilayah pedalaman. (Litbang Kompas)


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke