*Bekisar Merah; Sebuah Kritik Atas Nama Kesejahteraan*
Presiden Sukarno memasuki masa suram kepemimpinannya sejak dekade 60-an. Pada masa itu, nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing telah membuka peluang baru bagi bisnis anak negeri. Namun seiring dengan itu, bisnis ini menggurita dan mempertontonkan karakter kapitalis yang mencekik. Semangat sosialisme yang diusung Sukarno sebagai pisau bedah atas sistim kapitalisitk perlahan tumpul. Ahmad Tohari meramu latar belakang tersebut dalam novelnya Bekisar Merah. Kisah ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung pada Harian Kompas periode Februari hingga Mei 1993. PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkannya untuk pertama kali pada Mei ditahun yang sama. Cerita bermula dari kehidupan desa penyadap kelapa, Karangsoga. Darsa dan Lasi, keluarga penyadap muda yang kesehariannya tercurah untuk menghasilkan gula merah untuk dijual. Ketenteraman keluarga kecil ini terusik sejak kecelakaan yang menimpa Darsa. Ia jatuh dari pohon kelapa. Kecelakaan ini membuat Darsa tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai suami, termasuk menafkahi istrinya dalam urusan tempat tidur. Ia harus dirawat untuk beberapa lama di Rumah Sakit. Lasi, seorang istri *nrimo* yang setia menemani sakit suaminya. Ketiadaan biaya membuat mereka mengambil keputusan memulangkan Darsa dari Rumah Sakit. Darsa lantas dirawat Bunek si dukun urut. Perlahan derita Darsa membaik, ia telah menjadi laki-laki normal kembali. Kebaikan Bunek tentunya bukan tanpa tujuan. Bunek berniat mengawinkan Darsa dengan anak bungsunya yang pincang, Sipah. Antara sadar dan tidak, Darsa terlanjur menanam benih di rahim Sipah. Sipah hamil dan minta dikawini. Lasi terpukul karenanya. Lasi melarikan diri ke Jakarta. Kecantikannya memang luar biasa, maklum ia merupakan anak keturunan wanita lokal dengan pria dari Jepang. Di Jakarta, kehidupan Lasi berubah lantaran ia dikawini oleh sorang veteran perang yang kaya raya. Kehidupan rumah tangga kedua ini bahkan tidak lebih menyenangkan bagi Lasi. Ia hanyalah boneka pajangan dan terpaksa memungkiri kata hatinya sendiri. Kanjat kecil kini telah dewasa. Ia yang sedari dulunya menaruh hati pada Lasi sekali lagi harus menelan pil pahit ketika Lasi memilih kawin dengan orang lain. Walau diantara keduanya saling cinta. Tampaknya Kanjat dan Lasi menganut kepercayaan bahwa cinta tak harus bersatu. Kanjat menyimpan jauh-jauh kekecewaannya. Ia memilih untuk memperbaiki kehidupan kaum penyadap melalui riset-risetnya, karena walau bagaimanapun kehidupan yang ia nikmati merupakan hasil dari rente ekonomi gula merah yang menadi bisnis bapaknya. Tohari menutup kisahnya dengan akhiran yang sumbang dan menggantung. Ia menceritakan Darsa yang terpuruk lantaran 10 dari 12 pohon kelapanya harus tumbang sebagai bentuk kepasrahan atas pembangunan jaringan listrik. Sementara Lasi dan Kanjat meneruskan kehidupan mereka masing-masing. Seperti trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Tohari tak bisa lepas dari kedekatannya dengan alam. Ia begitu mulus memberikan ilustrasi tentang burung-burung, aneka serangga serta pepohonan. Tohari juga mahir bertutur tentang kehidupan rakyat kecil pedesaan dengan suasananya yang khas. Terlepas dari alur ceritanya yang sedikit membosankan, Tohari memprovokasi pembaca dengan memunculkan dinamika politik pada zaman itu. Ia bercerita tentang korupsi, perilaku para pembesar negeri yang mulai menyelewengkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, tahta, harta dan wanita. Tohari mengecam sistim perdagangan yang tidak adil. Bahkan ia juga tidak segan-segan menyentil pembangunan yang tidak berbasis budaya. Kritik Tohari agaknya menjadi referensi berharga pada masa kekinian. Pemberantasan korupsi yang masih berlangsung mengindikasikan bahwa korupsi memang sedang menghisap kekayaan negara dengan berbagai modusnya. KPK sebagai pilar terdepan untuk masalah ini masih harus bekerja keras untuk menyelamatkan aset negara yang coba diselewengkan. Dipihak lain, korporasi nasional yang sebagian besar telah kehilangan semangat kerakyatannya juga perlu mendapatkan sorotan. Beberapa aset nasional memang telah lepas lagi ketangan pihak asing, namun yang masih tersisa layak dipertahankan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan golongan atau sekelompok orang saja. Sementara pada ranah lain, kehidupan masyarakat terus saja merosot hingga batas nadir yang mengkhawatirkan. Tak perlu melihat golongan menegah keatas yang nota bene adalah golongan pengusung status quo. Tapi coba lihat kenyataan pada masyarakat kebanyakan yang harus hidup dari mengais sisa beras di gudang-gudang beras, anak-anak tidak bersekolah dan harus bekerja karena menanggung beban hidup yang semakin berat, fasilitas dan layanan kesehatan yang tidak mencukupi dan lain sebagainya. Kenyataan ini tentunya merefleksikan kinerja pemerintah serta dinamika politik. Pada titik inilah Tohari menyampaikan kritiknya. Mudah-mudahan buku ini menggugah simpati golongan menengah keatas untuk kembali bercermin atas penghasilan yang diperoleh hari ini. Bekisar Merah Ahmad Tohari PT Gramedia Pustaka Utama, diterbitkan pertama kali Mei 1993 Cetakan kelima, Agustus 2005 Direct link: http://syafrizaldi.multiply.com/reviews/item/12 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
