Profil DPR Mendatang Sulit Diprediksi

 

 

Ditulis oleh admin    

Monday, 09 February 2009 

Jakarta, Kompas - "Liberalisasi" sistem pemilihan semakin membuat profil
DPR mendatang sulit diprediksi. Kapasitas calon bukan satu-satunya
jaminan untuk mendapatkan kursi parlemen. Banyaknya calon anggota
parlemen yang siap dipilih oleh rakyat bukan pula jaminan kinerja DPR
mendatang akan lebih baik.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari di Jakarta, Sabtu (7/2),
mengakui, wajah parlemen hasil Pemilu 2009 bakal lebih sulit diprediksi,
termasuk kinerjanya. Wajah DPR semakin sulit diprediksi karena putusan
Mahkamah Konstitusi yang menetapkan mekanisme calon terpilih lewat suara
terbanyak ibarat "kotak pandora".

Jika merunut hasil penelusuran Litbang Kompas, jika dibandingkan dengan
profil pendidikan anggota DPR hasil Pemilu 2004, terlihat profil tingkat
pendidikan calon anggota legislatif (caleg) saat ini mengalami
peningkatan kualitas.

Delapan dari tiap 10 caleg tercatat berpendidikan sarjana, mulai dari
yang strata satu hingga yang menyandang gelar doktor. Jumlah sarjana
tercatat hampir 5.000 orang, pascasarjana sebanyak 1.599 orang, dan
doktor 281 orang.

Begitu pula usia caleg. Mereka yang berusia relatif muda mendominasi
profil caleg pada Pemilu 2009.

Namun, menurut Qodari, bisa jadi calon anggota parlemen dari kalangan
populer, seperti artis yang semula dipasang sebagai vote getter untuk
parpol, justru yang lebih banyak terpilih. Padahal, merujuk pengalaman
2004, wajah DPR yang semuanya dipilih dan tidak ada anggota yang
ditunjuk sempat membersitkan harapan besar.

"Kenyataannya, banyak produk legislasi menjadi persoalan dan tak pernah
mencapai target," kata Qodari.

Secara terpisah, Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem)
Didik Supriyanto bahkan lugas memprediksi bahwa para tokoh lokal akan
dominan di DPR. Sebaliknya, para legislator mumpuni yang ada di DPR
sekarang sebagian besar bakal tersingkir.

Didik mengakui, kondisi itu mengancam kinerja DPR mendatang. Imbasnya,
kinerja DPR tidak akan jauh berbeda dengan DPD sekarang ini. Kalaupun
ada tokoh hebat, DPR bisa tenggelam bersama mereka yang lebih nyaman
menikmati status dan fasilitas.

Didik khawatir, DPR periode mendatang justru semakin kental dengan
politik transaksional ala "dagang sapi". Apalagi jika pemilu tidak
menghasilkan blok politik yang jelas antara kubu pemerintah dan oposisi
sejak awal.

Jika kondisinya seperti itu, parlemen bisa-bisa akan menjadi "pasar
politik". Semua keputusan diambil berdasarkan kalkulasi untung-rugi
material bagi legislator bersangkutan. Hal tersebut bukan semata-mata
karena cupetnya idealisme dan integritas, tetapi juga karena
ketidakmampuan memahami masalah dan dinamika politik.

Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi)
Sebastian Salang sependapat bahwa calon yang ribuan tidak serta-merta
menjamin akan diperoleh DPR terbaik pada periode mendatang.
Penghambatnya, pemilih sangat sulit mendapatkan informasi memadai
tentang latar belakang dan kemampuan calon tidak diketahui.

Keterbatasan informasi tentang calon menyebabkan pertimbangan memilih
masyarakat hanya sebatas popularitas, tingkat pengenalan, ataupun karena
faktor keluarga. "Persoalan DPR periode mendatang, calon yang memiliki
kemampuan baik namun tidak dikenal tidak akan dipilih," kata Sebastian.

Perbaikan

Namun, Sebastian menilai, penentuan calon terpilih berdasarkan suara
terbanyak cukup baik untuk kepentingan jangka panjang. Mekanisme itu
membongkar dan mengubah paradigma partai politik maupun politisi. Pemilu
2009 bakal memberikan pelajaran penting bagi politisi bahwa untuk
menjadi anggota parlemen mesti melalui proses politik yang panjang dan
menuntut kerja keras. "Tidak ada jalan pintas untuk menjadi politisi,"
tutur Sebastian.

Sementara itu, Qodari merujuk pada hasil survei Indo Barometer Desember
2008 menyangkut harapan rakyat pada anggota DPR baru yang menunjukkan
bahwa keyakinan paling tinggi ada pada kemampuan pengawasan. Adapun
keyakinan paling rendah ada pada kemampuan membuat anggaran yang
berpihak kepada rakyat.

Qodari berpendapat, perbaikan kinerja DPR yang paling efektif dan
realistis adalah melalui perbaikan Undang-Undang Susunan dan Kedudukan
Anggota MPR, DPR, DPD, dan DPRD serta Tata Tertib DPR. "Jadi, perbaikan
tidak semata diserahkan pada 'keinsafan' anggota DPR, tapi oleh sistem,"
katanya.(DIK)

http://minangkabaunews.com/index.php?option=com_content&task=view&id=301
&Itemid=40

 



The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke