Assalamu'alaikumWW, Saya orang baru di palanta RantauNet yang mencoba belajar memahami Minangkabau dan problematikanya dari sejumlah topik pembahasan di milis Minang yang populer ini. Banyak hal yang dapat saya pelajari disini dengan mencermati dan memilah milah pembahasan, perdebatan, adu argumentasi dengan beragam tingkat keseriusan, dan beragam pola pikir yang sangat menarik atas beragam pula topik yang dilemparkan. Bagi saya ibarat mendulang pasir emas, kalau rajin dan tekun, mungkin akan bisa diperoleh 2 a 3 butir pasir emas dari tumpukan pasir yang didulang. Sebagai contoh adalah pembahasan tentang "Raja/Kerajaan Minangkabau" yang benar-benar memberikan pencerahan bagi saya yang awam, tapi memang tertarik dengan topik pembahasan itu. Kali ini bung Syafril Erizon memforward satu artikel tentang sikap rata-rata orang Indonesia terhadap orang Cina di Republik tercinta ini. Dengan pikiran terbuka dan hati lapang, sejumlah hal yang dibahas dalam tulisan ini seperti sikap mental dalam perjuangan dan persaingan hidup, etos kerja, sikap hemat, dan tidak suka berfoya-foya yang ditunjukkan sebagian dari mereka ini sebenarnya sangat menarik untuk dibahas. Apalagi auto critic tentang sikap umum kita terhadap saudara-saudara sebangsa (Indonesia) yang memang secara jujur harus kita akui sebagai tidak/kurang fair, jika kita mau sedikit berempati pada mereka. Saya bersyukur bahwa kalau dibandingkan dengan kondisi di Jawa dan beberapa tempat lain di Indonesia, sikap urang awak di Sumbar terhadap warga keturunan Cina ini tergolong sangat baik dan toleran. Belum pernah terdengar insiden-insiden berbau rasis terjadi di ranah Minang ini. Tahun 1950-1960an lalu sering terdengar ucapan kemiripan "Minangkiau" dengan "Hoakiau" dalam pengertian positif seperti semangat merantau/migrasi/hijrah untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik, kekerasan hati, kemampuan untuk "berakit-rakit ke hulu", sifat hemat, dan kemampuan berdagang yang hebat. Kalau soal hemat dan kedisiplinan dalam menabung, saya kira para ibu- ibu Minang zaman dulu (mungkin juga sampai sekarang) adalah jagonya untuk hal ini. Kebiasaan mereka untuk langsung membeli emas kalau ada uang berlebih, menyimpan emas atau uang dalam rangka besi tempat tidur zaman dahulu, atau menjahitkannya dalam kasur atau bantal, adalah inovasi yang hebat sebelum adanya Bank dan Deposit box. Untuk menyekolahkan anak, para ibu ini tidak bisa menjual sawah atau paraknya seperti orang di negeri lain ; simpanan emas inilah solusi yang paling umum. Segala sesuatu kemudian dinilai dengan "ameh". Di sisi lain, kalau ada legenda yang mengatakan kita berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain, ahli antropology (kalau nggak salah) justru mengatakan kita berasal dari Dongsan nun terletak di Indo China sana. Pembahasan akan jadi kacau, kalau kita bicara tentang "A" tapi kita kemudian berargumentasi dengan "B". Umpamanya topekong dan kepercayaan mereka tentunya tidak perlu dijadikan hujah untuk menilai etos kerja, dll. Sama halnya kalau kita akan membahas teori relativitas dalam ilmu Fisika, seseorang kemudian nyeletuk : "tapi Einstein itu kan Yahudi........?" Kalau kita Muslim, kita bersyukur atas nikmat ini. Tapi juga harus diingat 20-100 juta penduduk negeri China juga Muslim. Seperti pernah dibahas 2 mingguan yang lalu bahwa pembahasan- pembahasan di palanta RantauNet memang belum mampu untuk ditindak lanjuti menjadi sesuatu yang serius dan terorganisir. Itu adalah kenyataan pahit yang belum bisa kita atasi. Tapi sekurang- kurangnya disela-sela bagarah-garah yang juga diperlukan dalam hidup ini, saya mendambakan kita juga dapat mengembangkan RantauNet ini menjadi milis yang berkualitas dalam membahas hal-hal yang dapat memberi pencerahan kepada kita semua, terutama generasi muda Minang yang di ranah maupun rantau. Kalau ada 1 a 2 orang yang tidak suka dengan materi pembahasan, ya mohon sedikit toleransilah. Materi yang tidak menarik toh akan berhenti dengan sendirinya. Usulan agar sesuatu topik ditutup saja, kalau bisa diterapkan hanya pada kasus "emergency" yang sudah mengganggu "persatuan & kesatuan" awak badunsanak seperti kasus kesalahfahaman 3 mingguan yang lalu antara seorang cendekiawan muda Minang dengan seorang bapak dari Palembang. Sejumlah generasi Minang masa kini (dengan berbagai jenis latar belakang) saya yakini mengikuti milis ini secara serius. Marilah para senior palanta ini dapat memberi pencerahan, keluasan wawasan, kearifan, dan kebijaksanaan pada mereka. Saya mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang tepat atau tidak pada tempatnya. Wassalam,
Epy Buchari (L,65th-Ciputat Timur) On 16 Feb, 08:35, Syafril Erizon <[email protected]> wrote: > Assalamualaikum W.W, > > Carito dari milis sabalah...(ndak ado SARA-nyo) > > Wassalam, > Eri Labai (35+, JKT) > > ---------- Pesan terusan ---------- > Dari: jackal_w_u_f <[email protected]> > Tanggal: 15 Februari 2009 16:15 > Subjek: [budaya_tionghua] cina...cina...cina.......... > Ke: [email protected] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
