Sawir Pribadi : Mak Pono Online; Seri Palanta Singgalang Padang: Singgalang [Press], 2008 (xii + 215 halaman)
Suryadi Dalam sebuah artikel saya pernah menulis bahwa Sastra Minangkabau modern kurang berkembang (Suryadi, “Sastra Minangkabau Modern: Antara Ada dan Tiada”, Padang Ekspres, 6/11/2007). Sebabnya antara lain adalah karena dalam kegiatan tulis-menulis kebanyakan cendekiawan dan intelektual Minangkabau merasa berjarak dengan Bahasa Minangkabau ragam tulis. Ekspresi seni tertulis dalam Bahasa Minangkabau ragam tulis berupa novel, cerpen, puisi, atau bentuk-bentuk lainnya, seperti cerita bersambung, esai, dan komik terlihat kurang berkembang. Satu-satunya ungkapan yang bersifat kesastraan yang sering dikodifikasikan dalam Bahasa Minangkabau ragam tulis adalah kaba. Penerbitan kaba dalam bentuk naskah, dan kemudian buku, pada awalnya juga sering diprakarsai oleh orang Belanda. Penerbit-penerbit di luar Sumatera Barat, seperti Balai Poestaka di Batavia (Jakarta) dan P.W.M.Trap di Leiden, telah ikut berjasa menerbitkan kaba-kaba Minangkabau di awal abad ke-20. Selain kaba, tak banyak kita temukan produksi tertulis genre-genre sastra Minangkabau, apalagi yang mengandung tema-teman yang modern dan mutakhir. Dalam kelangkaan bahan bacaan dan ungkapan pikiran tertulis dalam Bahasa Minangkabau itu, kehadiran buku Mak Pono Online karangan Sawir pribadi ini terasa sangat mengobati hati para pencinta bahasa dan sastra Minangkabau. Paling tidak, kehadiran buku ini, seperti halnya penerbitan kaba Bonsu Pinang Sibaribuik oleh Emral Djamal Datuak Rajo Mudo (Padang: Pusat Kajian Warisan Budaya Minang PPS Salimbado, 2005) dan Tigo Carito Randai oleh Musra Darizal Katik & Mangkuto (Padang: Dewan Kesenian Sumatra Barat, 2007), membuktikan bahwa masih ada orang Minangkabau yang berminat mengungkapkan pikirannya secara tertulis dalam bahasa ibunya sendiri (mother tongue). Mak Pono Online memuat 74 kumpulan tulisan (berupa kolom) Sawir Pribadi, wartawan senior harian Singgalang. Kolom-kolom itu, yang terbit sejak 2006, diberi judul “Palanta Minang”. Kolom-kolom itu muncul setiap hari di halaman 1 harian Singgalang, kecuali hari Minggu yang muncul di halaman dalam dengan judul “kakobeh”. Dalam kolom-kolom tersebut penulis sering menulis namanya Espe St. Soeleman (bukan Soelaiman atau Sulaiman dalam EYD). Pembukuan kolom-kolom “Palanta Singgalang” dalam Mak Pono Online ini tentu akan memudahkan pencandunya yang ingin membaca ulang seluruh kolom tersebut. Kata ‘palanta’ dalam Bahasa Minangkabau berarti bangku atau tempat duduk panjang yang terbuat dari papan yang biasa ditemukan di warung-warung kopi (lapau) di Minangkabau tempat kaum lelaki Minang duduk ngobrol (maota) apa saja sambil minum kopi. Latar (setting) kolom-kolom Sawir Pribadi alias Espe St. Soeleman ini adalah lapau Uwo Pulin di sebuah nagari yang kurang jelas tempatnya, tapi muncul kesan sepertinya di pinggiran kota Padang. Setiap kolom menghadirkan beberapa tokoh utama yang semuanya laki-laki, yaitu Tan Baro, Udin Kuriak, Mak Pono, Kari Garejoh, Angah Piyan, Ajo Tondeh, Uncu Labai, dan Uwo Pulin sendiri sebagai pemilik lapau. Kadang-kadang dalam kolom-kolom tertentu penulis menghadirkan ‘bintang tamu’. Dalam setiap kolomnya Sawir Pribadi menggambarkan sebuah lapau Minangkabau yang ‘modern’, dalam arti bahwa diskusi antara tokoh-tokoh yang disebutkan di atas dimulai dari hasil pembacaan terhadap salah satu headline (berita utama) surat kabar Singgalang. Sepertinya lapau Uwo Pulin berlangganan surat kabar yang mulai terbit tanggal 16 Desember 1968 tersebut. Seringkali perdebatan terjadi karena salah seorang tokoh memberi komentar (mengulas) berita utama Singgalang yang terbit hari itu. Lapau di Minangkabau dapat diibaratkan sebagai ‘parlemen bayangan’ pemerintah yang berkuasa. Di lapau kaum lelaki Minang mendiskusikan, tak jarang sampai bersitegang urat leher, berbagai fenomena sosial-politik dan ekonomi yang sedang mengapung, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Lapau adalah tempat bagi kaum lelaki Minangkabau berbagi informasi pengetahuan umum (politik, ekonomi, sosial, budaya) tentang daerah sendiri dan tentang rantau. Lapau juga sering digunakan sebagai ‘meja ujian’ sekaligus tempat untuk menonjolkan diri bagi perantau Minang yang secara periodik pulang ke kampung halamannya, seperti terefleksi dalam cerita pendek (cerpen) A.A. Navis, “Politik Warungkopi” dalam antologi Hudjan Panas (Bukittinggi & Djakarta: N.V. Nusantara, 1963: 23-360). Membaca semua kolom yang terkumpul dalam buku ini kita mendapat kesan betapa beragamnya tema ota atau diskusi di lapau Uwo Pulin: kasus korupsi, nepotisme, transportasi umum yang amburadul, pilkada, kelangkaan BBM, perusakan lingkungan, dll., semuanya ‘dibedah’ oleh Tan Baro dan kawan-kawannya. Seperti layaknya dalam siding parlemen, dalam debat di lapau Uwo Pulin itu selalu ada pihak yang pro pemerintah dan ada pula pihak yang beroposisi. Menarik sekali melihat bagaimana Sawir Pribadi mengkodifikasikan pikirannya dalam Bahasa Minangkabau ragam tulis dalam buku ini. Seperti kita tahu, sampai sekarang belum ada sistem ortografi Bahasa Minangkabau yang baku (standar). Memang Lukman Ali (1990) pernah menyusun Pedoman Ejaan Bahasa Minangkabau, tapi itu semacam kopian saja dari EYD, dan rupanya tidak pernah dipatuhi oleh orang Minangkabau. Sementara Ejaan Bahasa Minangkabau zaman kolonial, seperti Ejaan Van der Toorn (1891) dan Ejaan Emeis (1932) sudah lama tidak dipakai lagi. Meskipun Sawir Pribadi berasal dari Solok (lahir di kaki Gunung Talang), tapi terkesan bahwa bahasa kolom-kolomnya ini adalah Bahasa Minangkabau Umum (BMU) yang biasa dipakai di kota Padang. Ini antara lain dapat dikesan dari pemakaian partikel “se” yang dalam dialek lainnya di Minangkabau beragam bentuknya, misalnya “je” , “sae”, “sen”, dan “sajo”. Sawir juga cenderung memakai bunyi luncuran (diftong) ‘ia’ dan ‘ua’ yang biasa dipakai dalam BMU ketimbang ‘ie’ dan ‘ue’ yang terkesan lebih dialektis (‘kapunduang’ ketimbang ‘kapundueng’; ‘labiah’ ketimbang ‘labieh’, dll.). Ia juga memakai tanda sambung ‘-’ untuk mengkodifkasikan bunyi glotal stop (‘maadok-i’, ‘ditakuik-an’, dikecek-an’, ‘mampaelok-i’, dll.), bukan tanda apostrof (’) atau huruf hamzah (ﺀ) seperti pernah ditemukan pada tulisan-tulisan Minangkabau beraksara Latin pada masa lampau. Yang agak unik, ia memakai vokal panjang untuk kata tertentu: misalnya ‘di maa’ (di mana) dan ‘mangaa’ (mengapa). Kritik-kritik sosial yang disampaikan Sawir Pribadi dalam kolom-kolomnya ini terkesan ironis. Ini berbeda, misalnya, dengan kolom Wisran Hadi di Padang Ekspres edisi Minggu (rubrik Stres) yang terkesan sarkastis. Mak Pono Online jelas merupakan dokumentasi yang berharga tentang Bahasa Minangkabau ragam tulis. Jauh di masa datang, jika buku ini masih tersisa dan dibaca orang, di dalamnya si pembaca dapat mengetahui budaya politik warung kopi di Minangkabau, sistem ortografi yang pernah dipraktekkan oleh seorang penulis Minangkabau tahun 2000-an dan, yang tak kalah pentingnya, bagaimana praktisi surat kabar Singgalang mengiklankan koran mereka dalam sebuah kolom (bukan dalam bentuk iklan konvensional) yang dimuat dalam koran mereka sendiri. Suryadi, alumnus Program Studi Bahasa & Sastra Minangkabau Fakultas Sastra UNAND, dosen dan peneliti Universiteit Leiden, Belanda Sumber: Harian Singgalang, Minggu 22 Februari 2009 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
<<inline: att76f34.jpg>>
