Ass.Wr.Wb. Bapak Doktor Saafroedin Bahar serta ummat RN diPalanta yth. Maaf saja, saya hanya mengajukan banyak pertanyaan2 kepada seluruh ummat RN:
Apakah rakyat perlu DEMOKRASI atau perlu adil, makmur, sejahtera dll? Apakah demokrasi itu indikator kemakmuran? Apakah zaman kerajaan2 DAHOELOE KALA (Otorier Monarchie/Diktator) yang adil makmur dll berdasarkan DEMOKRASI? Apakah S'Pura M'Sia, Brunei dgn sytem pemerintahanya yang di-sindir/cela, rakyat-awamnya lebih melarat dibanding rakyat Indonesia, dan utangnya lebih banyak dari Indonesia? Apakah demokrasie murni di-P'Cis yang zaman doeloe sekali membawa faedah? Apakah system PEMILU/demokrasi di Indonesia bukanlah persaingan (semu) antar beberapa Partai/kelompok dan selanjutnya memungkinkan mereka2 berkoalisi? Apa faedah positiv/negativ pilih Orangnya dan atau Partainya? Apakah cara PEMILU seperti ini adil dan memudahkan bagi rakyat awam seperti saya? Apakah pemerintah/penduduk di Swiss, Norwegia dan DenMark yang dimaksud oleh penulis dibawah ini mayoritas Islam? Apakah bukan ethos dan moral yang menjadi indikator utama manusia yang baik? Wassalam, Muljadi,German Seandainya Bapak kolumnist YUDI LATIF membaca, silakan juga menjawab pertanyaan2 saya yang awam ini. BTW namanya mirip dengan satu cabang kekuasaan dari triple Montesquieu (Legislative, Exekutive, YUDI-KATIF) -------- Original-Nachricht -------- > Datum: Mon, 23 Feb 2009 16:27:59 -0800 (PST) > Von: "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]> > An: Rantau Net <[email protected]> > CC: Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat <[email protected]>, > S2 Defense MANAGEMENT <[email protected]> > Betreff: [...@ntau-net] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 55 : SISI BAIK DARI > KEHIDUPAN BERNEGARA > Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta, > > Di tengah-tengah demikian banyak berita negatif tentang kehidupan kita > bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sesekali kita ingin mendengar berita > yang positif, yang akan memberi kita semangat dan gairah untuk merancang > dan mewujudkan masa depan yang kita dambakan. > > Syukur Alhamdulillah, kolumnis Yudi Latif, menampilkan hal itu, memberi > pencerahan bahwa kehidupan bernegara bisa cerah dan bahwa kondisi negara kita > tidaklah demikian buruk jika dibandingkan dengan kondisi negara-negara > tetangga. > > Semoga bermanfaat. > > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo) > "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak". > Alternate e-mail address: [email protected]; > [email protected] > > > Politik Menebar Kebahagiaan > Kompas, Selasa, 24 Februari 2009 | 00:13 WIB > > YUDI LATIF > Kunjungan Hillary Clinton membuat kita siuman dari ketidaksadaran akan > adanya prestasi bangsa ini. Tidaklah berlebihan jika Amerika Serikat > menempatkan Indonesia sebagai titik strategis dalam poros Asia dan dunia > Islam. > Daftar kunjungan Clinton menunjukkan ”regional belt” yang > sesungguhnya. Jepang, Indonesia, Korea Selatan, China adalah wajah terdepan > dari > ”Asia-Pasifik”. > > Di Asia Tenggara, Indonesia adalah satu-satunya negara dengan perkembangan > demokrasi yang positif. Thailand mengalami ketidaktentuan. Malaysia > terkendala ”two- tier democracy”. Filipina bermasalah dalam pranata > demokrasi, dengan angka kedua tertinggi di dunia menyangkut pembunuhan > jurnalis > dengan motif politik. Brunei dianggap ”so and so”. Singapura tetap penting > dalam perekonomian, tetapi bukanlah model demokrasi. Myanmar adalah problem > dunia. Indochina masih ruwet. Untuk Asia Tenggara, Indonesia adalah > ”belt of stability”. > > Dalam pendekatan baru dengan dunia Islam, Timur Tengah adalah masa lalu, > adapun Indonesia masa depan. Negara berpenduduk Muslim terbesar, dan > demokrasi terbesar ketiga, di dunia, dengan watak keterbukaan, moderasi, dan > toleransi yang menonjol, bisa dijadikan acuan baru dalam tata hubungan > berbasis > kekuatan cerdas dan kebersamaan nilai kemanusiaan. > > Fakta menunjukkan, di antara sesama negara demokratis, permusuhan lebih > jarang terjadi. Usaha AS memperbaiki hubungan dengan dunia Islam bisa > dilakukan dengan membantu negara demokratis dalam peradaban itu mengukir kisah > sukses. Keberhasilan demokrasi Indonesia, secara ekonomi-politik, akan > memperkuat pengaruhnya yang akan menularkan pengadopsian tatanan baru di dunia > Islam. > > Tidaklah berarti bahwa keberhasilan demokrasi Indonesia bergantung pada > belas kasih AS. Ada atau tiadanya peran AS, demokrasi adalah pilihan > Indonesia. Begitu pun dengan menunjukkan sisi positif yang dicapai tidaklah > perlu > membuat kita puas diri. Tengoklah berita utama Kompas beberapa pekan > terakhir, betapa merisaukan indeks kesengsaraan di negeri ini: anarki di > Medan, > perbatasan tak terurus, infrastruktur daerah mengkhawatirkan, ekspor > terancam, pulau terancam, kemiskinan bertambah. Seolah membenarkan gambaran > Samuel > Beckett, ”air mata dunia masih dalam kuantitas yang konstan”. > > Demokrasi telah membawa perubahan, tetapi belum kunjung membawa > kebahagiaan. Padahal, semua modus kekuasaan harus diarahkan untuk mengejar > kebahagiaan. Menurut Abu Nasr al-Farabi dalam Al-Madinah al-Fadhilah, ”negara > yang > baik berbuah kebahagiaan.” > > Bagi kebanyakan warga, rongrongan utama kebahagiaan ini tidaklah berasal > dari persoalan alam dan kualitas perseorangan, melainkan dari kualitas > pemerintahan. Bahwa negara merupakan penentu kebahagiaan ditunjukkan oleh > survei > yang dilakukan di 50 negara, seperti dilaporkan oleh Geoff Mulgan (2008). > ”Pengaruh kualitas pemerintahan terhadap kebahagiaan (kesejahteraan) > hidup jauh melampaui efek yang ditimbulkan oleh pendidikan, pendapatan, dan > kesehatan, yang kesemuanya itu pun bergantung pada kualitas pemerintahan.” > > Usaha demokrasi membawa kebahagiaan menuntut penjelmaan > ”negara-pelayan”. Basis legitimasi negara-pelayan ini bersumber pada empat > jenis > responsibilitas: perlindungan, kesejahteraan, pengetahuan, serta keadilan. > Negara memiliki legitimasi sejauh melindungi warganya dari bahaya karena > ketertiban dan keselamatan sangat esensial bukan saja bagi kehidupan, tetapi > juga untuk meraih kebahagiaan. Terbukti, negara-negara dengan pencapaian > tertinggi dalam indeks kebahagiaan, seperti Norwegia, Swiss, dan Denmark, > umumnya adalah negara demokrasi stabil yang mampu menegakkan hukum, keamanan, > dan ketertiban. > > Legitimasi kedua adalah responsibilitas negara untuk mempromosikan > kesejahteraan. Peran pemerintah dalam memfasilitasi kesejahteraan sangat > penting. > Seperti ditunjukkan Amartya Sen, kelaparan di sejumlah negara bukanlah > karena kekurangan makanan, melainkan karena rakyat tak memiliki hak milik dan > daya beli sebagai akibat buruknya layanan pemerintahan. > > Legitimasi ketiga adalah kemampuan negara mempromosikan pengetahuan dan > kebenaran yang sangat vital bagi kelangsungan komunitas bangsa. Tidak ada > perbantahan antara rezim demokratis dan nondemokratis atas pentingnya > pengetahuan. Bahkan, seorang Mao dalam Revolusi Kebudayaannya meyakini, > ”Sebanyak > apa pun mimpi kita, alam akan memberikannya sejauh ada pengetahuan.” > > Legitimasi pamungkas adalah kemampuan negara menegakkan keadilan. Menurut > Aristoteles, yang membedakan manusia dan binatang adalah kemampuan > membedakan yang baik dan buruk, adil dan zalim, yang memperoleh puncak > ekspresinya > pada negara yang dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Keadilan > negara ini sangat vital bagi resolusi konflik dalam masyarakat multikultur. > > Pemenuhan keempat basis legitimasi negara-pelayan tersebut merupakan > pertaruhan atas kebahagiaan warga negara. Para pendiri bangsa secara visioner > memosisikannya sebagai tujuan negara dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar > 1945. > > Jalan demokrasi Indonesia menuju kebahagiaan masih teramat panjang. Namun, > seperti kata Lao Tzu, ”Perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan > langkah pertama.” Apresiasi dunia luar memberi motivasi tambahan bagi para > pemimpin untuk lebih bertanggung jawab mengelola negara demi kebahagiaan hidup > bersama. > -- Psssst! Schon vom neuen GMX MultiMessenger gehört? Der kann`s mit allen: http://www.gmx.net/de/go/multimessenger01 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
