Da Nanang dan dun sanak kasadonyo, sebagai tambahan ota, berikut (agak banyak) artikel2 seputar urang rantai nan ado di dunia maya, baiak nan alah pernah di posting di Palanta babarapo raun nan lapeh, ataupun nan masih baru, tapi alun tabaco dipalanta.
Sekedar panambah2 info tentang carito urang rantai Wassalam ======= Orang rantai : dari penjara ke penjara by Erwiza Erman Type: Book : Local government publication; Indonesian Publisher: Yogyakarta : Diterbitkan atas kerja sama Ombak [dengan] Pemerintah Kota Sawahlunto, 2007. ISBN: 9793472804 9789793472805 OCLC: 241303327 http://www.worldcat.org/isbn/9793472804 Orang rantai dari Silungkang by Bachtiar Djamily Type: Book : Fiction; Indonesian Publisher: Djakarta : Firma Tekad, 1963. Editions: 4 Editions OCLC: 9397242 http://www.worldcat.org/oclc/9397242 =============== Menyaksikan Jejak 'Orang Rantai' di Sawahlunto PadangKini.com | Rabu, 5/3/2008, 8:08 WIB Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com PENEMUAN batubara oleh seorang insinyur Belanda, Willem Hendrik De Greve di pengujung abad ke-19 telah menyulap Sawahlunto, sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan di pedalaman Sumatera Barat, menjadi kota tambang yang ramai hingga kini. Cadangan batubara yang waktu itu disebut juga 'emas hitam' dalam jumlah besar, menarik Pemerintahan Hindia Belanda untuk menanamkan modal sebesar 5,5 juta gulden dan membebaskan lahan tambang pada 27 Juli 1886. Tak tanggung-tanggung, Belanda juga membangun jalur kereta api dari Pelabuhan Emma Haven (sekarang Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang ke Sawahlunto sepanjang 155,5 km. Jalur kereta api ini melewati Lembah Anai (Padangpariaman), Padangpanjang, dan Solok. Bahkan Pelabuhan Emma Haven sendiri didirikan untuk tujuan memperlancar ekspor batubara ini. Untuk membangun jalur kereta api, Pemerintah Kolonial Belanda mendatangkan ribuan kuli dari Jawa dan daerah lainnya. Bahkan sebagian besar di antaranya adalah kuli paksa yang diambil dari berbagai penjara seperti Jawa, Bali, dan Sulawesi. Kuli paksa bekerja dengan kaki dirantai, karena itu mereka disebut 'orang rantai'. Usai pengerjaan jalur kereta api, para kuli ini kemudian dipekerjakan sebagai buruh tambang. Sejak dibukanya perusahaan penambangan pada 1891 di Ombilin, Sawahlunto, daerah itu dengan cepat berubah menjadi kota yang dihuni berbagai macam etnis dan bangsa. Mulai dari pegawai tinggi dan administratur dari bangsa Belanda dan Indo, hingga buruh dari etnis Jawa, Minang, Sunda, Batak, Nias, dan Tionghoa. Fasilitas kota pun dibangun lengkap. Kantor perusahaan tambang, pabrik, pusat pembangkit listrik tenaga uap, stasiun keretapi, gereja, sekolah, rumah sakit, dapur umum, ruang rangsum, mess, kantor telepon, rumah dansa, pasar, dan sebagainya. Kekuasaan Belanda terhadap usaha pertambangan batubara di Ombilin berakhir ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942. Setelah Indonesia merdeka, tambang ini dikelola perusahaan negara yang terakhir bernama Perusahaan Tambang Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin (PT BA-UPO). Setelah beroperasi lebih seabad, perusahaan penambangan batubara di Ombilin berhenti beroperasi pada 2002. Menipisnya cadangan tambang terbuka dan berhenti beroperasinya kereta api yang dikelola PT Keretapi Indonesia sebagai sarana utama menjadi penyebabnya. Sebagai gantinya, bermunculan puluhan penambangan rakyat dalam skala kecil. Wisata Tambang Setelah eksploitasi tambang batubara tak lagi menjadi andalan, kini Pemerintah Kota Sawahlunto menyulap kota ini menjadi objek wisata tambang. Pengunjung bisa menyaksikan bangunan-bangunan bersejarah di kawasan tambang dan kota lama Sawahlunto. Bangunan yang menonjol adalah sebuah menara setinggi 80 meter yang menjulang di tengah kota dan kini berfungsi sebagai menara masjid. Jika pengunjung akan memasuk kota yang mirip kuali itu, mata akan langsung tertuju kepada menara tersebut. Menara itu dibangun pada 1894 sebagai cerobong asap sentra listrik tenaga uap. Melihat ketinggian menara yang hampir menyamai tinggi bukit di sekelilingnya, sepertinya arsitek Belanda yang membangunnya sangat mempertimbangkan aspek bebas polusi. Asap yang muncul dari cerobong tidak akan terperangkap ke dalam kota, tetapi diterbangkan angin ke balik bukit. Bangunan menonjol lainnya adalah gedung megah kantor pertambangan dengan halaman yang luas. Gedung bergaya kolonial Belanda itu didirikan pada 1896. Hanya berjarak 200 meter dari gedung ini terdapat sebuah gedung yang kini menjadi kantor Bank Mandiri. Dulu bangunan itu adalah gedung pertemuan (societeit) dengan nama "Gluck Auf" yang dibangun pada 1910. Di sana dulunya tempat pejabat kolonial berdansa, bernyanyi, sambil menikmati minuman. Di sekitar itu juga terdapat lebih selusin bangunan bergaya kolonial Belanda lainnya. Seperti Wisma Ombilin, satu-satunya penginapan, yang dulunya adalah Ombilin Hotel yang dibangun pada 1918, gedung koperasi, gereja Katolik, Sekolah Dasar Santa Lusia, rumah sakit, penjara, dan sejumlah rumah pejabat. Yang tak kalah menarik adalah tiga buah bangunan besar yang didirikan pada 1894 yang dua di antaranya berfungsi sebagai rumah rangsum atau tempat makan untuk ribuan kuli tambang, termasuk 'orang rantai'. Satu bangunan lainnya berfungsi sebagai dapur umum, atau tempat memasak. Di dapur umum masih berdiri kukuh tungku besar yang sebagian dari besi dengan tempat perapian di bawahnya. Kuali dan periuk besar tempat memasak sambal dan nasi dengan diameter lebih 2 meter yang dulu digunakan di dapur ini masih tersimpan dan rencananya akan dipajang kembali di tempat ini. Tempat ini sekarang menjadi Museum Gudang Ransum. Kereta Api Bangunan pabrik yang sekarang tak lagi dioperasikan menjulang tinggi dan dapat dilihat dari halaman kantor pertambangan. Di halaman kantor ini juga terdapat patung dua pekerja tambang sedang menyekop batubara dan mengangkat pangkur. Sedangkan di dekat menara terdapat stasiun kereta api yang sekarang melayani kereta wisata dengan rute Muara Kalaban sejauh 5 km dengan pemandangan "Living Museum Kota Tambang Sawahlunto". Termasuk melewati terowongan kereta api sepanjang 900 meter. Terowongan dengan kamar-kamar kecil di kiri kanan, tempat orang atau pekerja tambang menghindar jika kereta api lewat. Tempat ini sekarang dijadikan Museum Kereta Api. Tentu saja masih banyak bangunan bersejarah lainnya terserak di sepanjang jalan kota yang tidak menghabiskan waktu 4 jam untuk menelusurinya dengan berjalan kaki. Termasuk bangunan berarsitektur Cina dan deretan toko yang berdiri di atas sungai Ombilin yang menggambarkan sedikitnya lahan untuk pasar di kota kecil ini. "Bangunan bersejarah zaman Kolonial Belanda pengujung abad 19 adalah ciri khas Sawahlunto dan kami akan secepatnya memugar dan berusaha mengembalikan semuanya ke bentuk semula, termasuk fungsi bangunannya, agar wisatawan betul-betul merasakan suasana tempo dulu sebagai heritage tour," kata Amran Nur, Wali Kota Sawahlunto. Saat ini Pemerintah Kota sedang memugar rumah rangsum dan dapur umum. One Day City Tour of Sawahlunto Kota Sawahlunto berjarak 94 km dari Padang, 38 km dari Batusangkar, dan 137 km dari Bukittinggi. Semuanya hanya dapat ditempuh melalui darat dengan naik bus, travel, atau taksi. Dari Padang dapat ditempuh 2 jam perjalanan. Saat ini Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Sawahlunto menyediakan paket wisata "One Day City Tour of Sawahlunto" dengan dresin (kereta api wisata) atau bus wisata. Anda dapat naik dresin pada pukul 10.00 WIB setiap hari di Stasiun Sawahlunto ke Stasiun Muara Kalaban sejauh 5 km. Namun dresin ini paling sedikit hanya bisa membawa 12 penumpang dengan tarif Rp75.000 pulang-pergi. Dalam perjalanan Anda dapat melihat menara bekas sentrak listrik dan dapat merasakan kegelapan ketika melewati terowongan sepanjang 900 meter. Tour lainnya adalah dengan bus wisata yang mesti di-carter Rp250.000 dengan kapasitas 25 orang. Tour ini melewati kota lama, living museum, bekas tambang terbuka, lokasi Ombilin Mines Training College (OMTC), dan makan Profesor M. Yamin, SH di Talawi. M. Yamin asal Talawi adalah pahlawan nasional, pendiri Republik Indonesia, konseptor Pancasila, pencetus Sumpah Pemuda, pembuat gambar Gadjah Mada yang dijadikan lambang korp Polisi Militer, dan juga seorang sastrawan. Di OMTC pengunjung akan mendapat keterangan dengan simulasi sistem dan proses penambangan bawah tanah, museum geologi, dan laboratorium tambang batubara. Di pengujung tour Anda juga bisa membeli berbagai macam cinderamata aneka kerajinan masyarakat. Silungkang adalah salah satu kecamatan Sawahlunto yang terkenal dengan tenunnya yang beranekaragam. Aneka kerajinan lidi, payung kertas, gerabah, adalah produk Talawi yang unik. Selain itu juga ada aneka kerajinan dari batubara seperti asbak rokok dan plang nama. Semuanya tidak bisa ditemukan selain di Sawahlunto. ** http://www.padangkini.com/wisata/?sub=jalan2&id=11 ============ Bangunan Bersejarah Sawahlunto | Senin, 06/10/2008 09:27 WIB Lobang Tambang Mbah Soero : Mengenang Sejarah Orang Rantai Lobang Tambang Mbah Soero dulunya dinamakan Lubang Soegar. Lubang ini merupakan lubang pertama di kawasan Soegar yang dibuka oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898. Pada lubang ini terdapat kandungan batubara yang paling bagus (Kalori 7000) dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya, seperti Sungai Durian, Sigalut, Parambahan dan Tanah Hitam. Hal ini disebabkan karena kawasan Soegar terletak dilapisan patahan paling bawah dari permukaan Bumi. Untuk membuka lubang ini, Belanda mendatangkan buruh paksa dari berbagai penjara di nusantara, seperti Medan, Jawa, Sulawesi dan Padang. Mereka dibawa dengan kapal melalui Pelabuhan Emmahaven sekarang Teluk Bayur dan selanjutnya menggunakan transportasi kereta api dari Pelabuhan Emmahaven menuju Sawahlunto. Sesampainya para buruh ini di Sawahlunto, mereka langsung dikirim ke penjara orang rantai yang khusus dibuat oleh Belanda untuk para buruh paksa (orang rantai). Mereka dipekerjakan membuka lobang tambang Soegar dengan posisi kaki dirantai, makan seadanya dan menerima upah sangat kecil. Namun, tenaga mereka dikuras habis untuk menyelesaikan konstruksi lobang tambang. Setelah lobang tambang selesai dibuka sebanyak dua buah sebagai lobang angin (ventilasi udara), maka Belanda mulai melakukan eksplotasi batubara atau emas hitam yang sangat berkualitas tersebut. Jumlah produksi batubara yang dihasilkan oleh orang rantai pada tahun 1892 sebanyak 48 ribu ton. Kemudian dengan adanya lobang Soegar ini, produksi batubara meningkat menjadi 196 ribu ton lebih, pada tahun 1900. Hal ini membuktikan keberadaan Lobang Soegar sangat berpengaruh pada produksi batubara. Meningkatnya produksi batubara juga mendatangkan penderitaan bagi buruh paksa, nasib mereka sangat menyedihkan, disamping mendapatkan hukuman cambuk, rata-rata tiga kali setahun, juga mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari rekannya sendiri, seperti perkelahian antar etnis, juga dipaksa menjadi nanak jawi (homo seksual). Kejadian ini dibiarkan oleh mandor tambang, dengan syarat jumlah produksi tidak berkurang dari 6 ton/ shift setiap kelompok. Tidak hanya sesama buruh, para mandorpun menyukai anak jawi, hal ini disebabkan karena tidak adanya perempun disekitar kawasan tambang. Tidak mengherankan jika sering terjadi perkelahian untuk memperebutkan barang-barang langka seperti rokok, uang dan seks yang menimbulkan tidak sedikit korban jiwa. Hampir setiap hari ditemukan mayat serta potongan bagian anggota tubuh manusia yang terbawa bersama batubara ke kawasan saringan. Pada awal abad ke-20, orang Belanda mendatangkan mandor dari Jawa, salah satunya Mbah Soero, ia diangkat menjadi mandor oleh Kolonial Belanda karena ilmu kebatinan yang dimilikinya. Ia ditugaskan untuk mengawal penambang di lobang Soegar ini. Dalam kesehariannya ia dikenal sangat rajin bekerja, berperilaku baik dan taat beribadah. Selanjutnya lobang ini ditutup pada tahun 1920-an, karena adanya perembesan air dari Batang Lunto dan kadar gas methan yang terus meningkat . Kemudian pada tahun 2007, sesuai dengan visi dan misi Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang berbudaya, maka objek bekas tambang kembali dibenahi, salah satunya yaitu Lobang Soegar. Untuk penghargaan kepada mandor Mbah Soero, yang dianggap sebagai pahlawan pekerja dimasa buruh paksa (orang rantai), maka Lobang Soegar ini lebih populer ditengah masyarakat Sawahlunto dengan sebutan Lobang Tambang Mbah Soero. Ketika waktu lobang kembali dibuka, hanya tiga meter dari mulut lobang yang tidak digenangi air, tepatnya pada pintu kedua waktu melakukan konservasi awal dalam lobang tambang ditemukan ada beberapa kejadian yang aneh-aneh di alami oleh beberapa anggota tim, seperti terdengarnya sayup-sayup suara gamelan jawa, serta suara orang-orang berbicara dalam bahasa Jawa. Didalam lobang juga ditemukan beberapa peralatan tambang dan potongan tulang panggul manusia, dan pada lokasi yang berbeda didalam lobang tambang atau tepatnya pada lobang ventilasi udara yang mengarah ke Batang Lunto, tim konservasi juga menemukan tumpukan belulang tengkorak manusia. Namun penggalian disini tidak dilanjutkan, itu sebabnya lobang jalur kiri ventilasi udara ini ditutup. Anggota konservasi yang menemukan tulang panggul manusia, selama tiga hari berturut-turut mengalami mimpi-mimpi yang sangat aneh. Dalam mimpi mereka dia didatangkan oleh seseorang yang tidak mereka kenal dan meminta tulang tersebut dikebumikan seperti layaknya manusia dan dikuburkan di sebelah makam Jaya Sentana. Jaya Sentana adalah seorang buruh tambang yang meninggal pada tahun 1960 dalam usia 120 tahun dan dikuburkan pada pemakaman orang rantai. Setelah ditelusuri, akhirnya tim konservasi menemukan makam Jaya Sentana, dan kemudian tulang belulang panggul manusia itupun dikuburkan disebelah makam Jaya Sentana tersebut Kini sejarah bekas Lobang Tambang Mbah Soero yang dibangun Belanda dengan tangan-tangan anak bangsa secara paksa yang sangat menyedihkan itu, banyak dikunjungi masyarakat sebagai objek wisata sejarah. Objek wisata sejarah ini dibuka pada hari Senin-Minggu mulai Jam 9.00 s/d 17.30 WIB dengan harga karcis masuk Rp7.500/ orang. Untuk memasuki lobang tambang Mbah Soero harus mematuhi prosedur dan ketentuan yang tidak boleh dilanggar, mengingat pengalaman yang tidak diingini sering terjadi jika kita melanggarnya, seperti: menitipkan barang bawaan apa saja termasuk alas kaki, sandal dan sepatu, menggunakan alat pengaman/ safety yang disediakan sepatu, helm dan kostum, masuk lobang tambang minimal sebanyak 20 orang/ rombongan, jika masuk mulai dari pintu lobang utama (LBU) dan keluar melalui lobang vetilasi udara, dan selama berada di dalam lobang tambang pengunjung dilarang menyentuh material lobang tambang, mengambil material batubara, jangan memisahkan diri dari pemandu/ guide dalam rombongan, kemudian buang air besar dan kecil, serta jangan berbicara atau mengeluarkan kata-kata kotor. (Har/yul) http://padang-today.com/?today=tourism&id=61 ================= [...@ntau-net] LEGENDA ORANG RANTAI SAWAH LUNTO Dessy, Tue, 16 Mar 2004 20:57:18 -0800 LEGENDA ORANG RANTAI SAWAH LUNTO Batu bara di Sawahlunto terpendam jauh di bawah tanah. Dahulu, pada awal penambangan dibuat terowongan besar di kaki bukit untuk pekerja dan lori pembawa batu bara keluar-masuk. Di bagian dalam terowongan, penggalian bersimpang siur kiri-kanan dan atas-bawah. Supaya tidak runtuh, terowongan itu disangga dengan balok kayu. Ada kalanya terowongan itu runtuh juga hingga ada pekerja yang mati karena terkurung atau tertimbun reruntuhan. Bekerja di tambang itu sangat berat dan berbahaya, tapi gajinya sangat kecil. Akibatnya penduduk sekitarnya tidak mau bekerja di sana. Mana yang bekerja dalam waktu sehari dua hari mereka sudah lari. Supaya pekerja tambang itu tidak bisa lari lagi, diambillah orang dari pulau seberang dengan paksa. Pada umumnya, mereka itu berasal dari Pulau Jawa. Sekitar 20 tahun kemudian kerja paksa itu diganti dengan cara kerja kontrakan, yaitu pekerja itu membuat perjanjian bekerja selama beberapa tahun. Siapa yang minggat sebelum kontraknya habis dikenakan hukuman penjara. Pada masa penjajahan Belanda pekerja tambang itu disebut kuli kontrak. Di samping kuli kontrak, tambang itu menggunakan pula orang yang hukuman penjara lebih dari 10 tahun. Mereka dihukum karena merampok atau membunuh. Semuanya berasal dari pulau lain. Supaya tidak melarikan diri, kaki mereka diikat dengan rantai. Mereka itu disebut orang rantai. Entah bagaimana caranya ada juga orang rantai itu yang dapat meloloskan diri. Maka gemparlah seluruh penduduk oleh ketakutan. Ketakutan karena diceritakan bahwa orang rantai itu adalah orang jahat yang suka mengamuk. Banyak ibu-ibu menakut-nakuti anaknya yang nakal dengan mengatakan, "Naik ke rumah. Ada orang rantai kabur". Hampir semua orang rantai yang lari itu tertangkap lagi karena tidak tahu mau pergi ke mana setelah dapat lari. Salah seorang yang tidak pernah dapat ditangkap adalah Karta. Karta berasal dari Banten. Dia dihukum seumur hidup karena tuduhan membunuh tentara. Sebenarnya dia adalah seorang santri muda yang punya ilmu kedukunan berbagai penyakit. Maka dia sangat terkenal sebagai orang sakti. Pada akhir abad ke-19, seluruh daerah Banten tidak aman. Di mana-mana rakyat menentang Belanda. Karta dicurigai sebagai penghasut rakyat melawan pemerintah. Pada waktu tentara menangkap Karta, terjadilah perkelahian ramai antara tentara dan rakyat. Banyak orang yang mati. Seorang tentara terbunuh. Karta ditangkap dan dipenjarakan seumur hidup. Lalu diangkut ke Sawahlunto. Kedua kakinya dirantai supaya tidak melarikan diri. Setiap pagi, kuli kontrak dengan orang rantai digiring ke dalam terowongan untuk menambang batu bara. Sore mereka digiring kembali ke tempat masing-masing. Kuli kontrak ke barak, orang rantai ke penjara. Setiap rombongan dikawal oleh mandor yang umumnya berkumis panjang dan bercemeti di tangannya. Mereka itu orang yang bengis. Mandor untuk orang rantai juga membawa senjata api. Cemeti mereka mudah saja hinggap pada punggung orang-orang yang malas bekerja. Semua pekerja tambang ingin melarikan diri agar bebas dari bekerja berat dan siksaan camnbuk atau makian kasar. Demikian pula dengan Karta. Dia selalu berpikir dan mencari kesempatan untuk lari. Siasat atau cara berpikir dan mencari kesempatan untuk lari. Siasat atau cara yang dilakukannya ialah dengan berlaku baik, patuh dan rajin. Maksudnya supaya para pengawal mempercayainya dan tidak banyak lagi mengawasinya. Beruntung pula Karta punya ilmu kedukunan. Banyaklah orang rantai atau kuli kontrak yang sakit dapat disembuhkannya. Kemanjuran pengobatannya terkenal sampai ke luar daerah tambang. Lebih-lebih ketika ia berhasil menyembuhkan patah kaki seorang pimpinan penjara karena jatuh di lereng bukit. Sejak itu dia banyak mendapat keleluasaan bergerak. Pada suatu subuh, seperti tiba-tiba petugas penjara tidak menemuinya lagi. Berita orang rantai lari segera saja menggemparkan penduduk sekitar Sawahlunto. Berita itu cepat tersebar ke seluruh Minangkabau. Polisi dan tentara dikerahkan mencari Karta, tapi tidak berhasil. Konon Karta sempat menghirup udara kemerdekaan Republik Indonesia beberapa tahun lamanya. Begini kisahnya dari mulut ke mulut penduduk Sawahlunto tentang pelarian Karta itu. Ibarat dongeng yang tak kunjung dari ingatan orang-orang tua di masa itu. Berminggu-minggu lamanya, Karta bersembunyi di hutan perbukitan sekitar Sawahlunto. Menurut dongeng itu, pada malam ke-40 muncullah seorang tua berjubah serba putih, berjenggot panjang sampai ke lutut. Dia mengaku sebagai nenek moyang Karta yang sengaja datang dari Banten untuk membuka rantai pada kaki cucunya. "Orang biadab yang merantai manusia seperi anjing", katanya. Setelah itu raiblah dia sambil membawa Karta entah ke mana. Kisah yang sebenarnya adalah demikian. Setelah itu Karta lolos dari penjara dia menghilir Batang Ombilin. Ketika tiba pada anak sungai kelima, ia mudiki anak sungai itu. Pada hari ketiga, sampailah Karta ke sebuah pondok yang letaknya di tepi sungai. Di sana ada seorang laki-laki tua dengan seorang anak gadis yang usianya menjelang remaja. Laki-laki itu Kakek Pado dipanggil orang. Anak gadis itu bernama Upik. Tampaknya Upik sakit. Badannya panas. Dua hari yang lalu dia disengat kalajengking ketika baru saja sampai di pondok itu mengantarkan makanan untuk kakeknya. Demi melihat Karta yang kumal dan kakinya berantai, kedua penghuni pondok itu bukan kepalang takutnya. "Jangan takut. Aku bukan orang jahat", kata Karta dengan wajah yang tersenyum ramah. Demi melihat Upik sakit, Karta langsung mendekat. Dipegangnya ubun-ubun kepala Upik. Dibacanya mantera. Selanjutnya ditekannya bekas sengatan kalajengking pada kaki Upik yang telah sembab. Dibacanya lagi mantera. Setelah itu, disemburnya dengan ludahnya. Air ludah itu dibarut-barutnya sambil terus membaca mantera. Beberapa saat kemudian, Upik merasa sakitnya hilang. Berita tentang orang rantai pandai mendukun cepat tersebar. Banyaklah orang datang minta diobati. Dalam pada itu, rantai di kaki Karta telah dibuka orang. Berita itu sampai juga ke polisi di Sawahlunto. Akan tetapi, setiap polisi datang, Karta disembunyikan penduduk. Semua orang sayang padanya karena selain pandai mendukun, Karta pun pandai mengaji. Katanya selalu kepada orang-orang yang datang berguru atau berobat kepadanya, "Kalau kita berbuat baik, Tuhan akan membalasnya dengan kebaikan. Balasan Tuhan itu baru kita ketahui ketika kita menghadapi kesulitan, Tuhan datang menolong kita. Kepada yang lain Karta mengatakan, "Perbuatan baik akan lebih berfaedah kalau kita punya ilmu. Kebaikan tanpa ilmu, ibarat nasi tanpa gulai". Sejak itu, penduduk tidak lagi percaya bahwa semua orang rantai di Sawahlunto adalah orang jahat. Yang tidak jahat itu pastilah karena salah tangkap oleh fitnah. Entah karena kebetulan kemudian cara merantai orang hukuman yang bekerja di tambang dihapuskan. http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_arsip.htm?tp=legenda ========== Balada Roslena, Orang Rantai di Zaman Merdeka, Minggu, 18 Mei 2008 ( Padangekspres ) Dua abad nan lewat, ketika nusantara masih terjajah, rakyat Jawa dan Sumatera, dipaksa Belanda membangun jalur kereta api dari pelabuhan Teluk Bayur ke Kota tambang Sawahlunto. Otot mereka diperas, keringat mereka dikuras. Lalu, supaya tidak lari dari tugas, kaki mereka diikat dengan besi oleh opsir-opsir yang maha beringas. Ikatan itulah yang kemudian membuat mereka berjuluk "orang rantai". Kini, setelah musim berganti, cuaca bertukar, dan udara kemerdekaan dihirup bersama. Ternyata, masih ada rakyat Indonesia yang hidup dengan kaki dirantai. Setidaknya itu dialami Roslena, janda delapan puluh tahun, asal Nagari Gurun, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Walau Roslena tidak disuruh bekerja paksa dari Emma Haven (sebutan lain untuk Teluk Bayur) atau menambang batu bara di terowongan gelap. Namun, tetap saja kebebasannya telah dikungkung. Apalagi rantai yang melilit kaki kanannya, juga diikatkan pada sebuah tonggak rumah. Sehingga dia tidak bisa ke mana-mana. "Bahkan, kalau tidak bisa ditahan lagi, saya langsung pipis di sini. Habis, mau apalagi? Rantai yang mengikat kaki ini juga dikunci," ucap Roslena pada sepotong senja nan lengang. Roslena mulai menjalani hidup dengan kaki dirantai sejak beberapa tahun terakhir. Rantai itu bukan dipasang karena Roslena sedang mengidap kelainan jiwa, sebagaimana kebiasan masyarakat yang suka memasung atau merantai orang gila. Namun terpaksa dilakukan anak semata wayangnya Asni alias Udin (45), karena susahnya hidup. Ya, lantaran terus-terusan hidup dalam kubangan kemiskinan. Udin terpaksa mengikat Roslena dengan rantai besi yang biasa digunakan untuk hewan peliharaan, dan membiarkan ibunya itu tinggal dalam sepetak rumah kayu tidak layak huni. "Saya terpaksa mengikat ibu, karena kalau tidak diikat, beliau suka keluar rumah dan meninggalkan kampung. Sementara saya tidak bisa mengurus, karena juga harus mencari nafkah untuk beliau dan anak-anak," ujar Udin kepada Padang Ekspres, Selasa (13/5). Udin mengaku, sebenarnya juga tidak tega harus merantai ibu yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang. "Namun apalah daya, kalau saya tetap menjaga beliau di rumah, kami juga tidak bisa makan. Karena hanya sayalah tulang punggung satu-satunya keluarga ini," ucap Udin yang bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp 20 Ribu sampai Rp 25 Ribu perhari. Udin juga pernah berfikir, untuk menitipkan Roslena pada keluarga atau tetangga. Namun mereka tiap hari juga harus mencari nafkah. "Mana mungkin bisa menunggu ibu saya saja? Makanya, saya terpaksa mengikat ibu," kata Udin. Memiriskan memang, apa yang dilakukan udin terhadap ibunya Roslena. Namun sekali lagi, Udin sungguh tidak bermaksud durhaka. Apalagi ingin menandingi Malin Kundang, legenda anak Minang yang dikutuk jadi batu karena melawan pada sang ibu. Hanya saja, hidup terlalu kejam untuk kaum kusam seperti dirinya. Pernah Udin memendam cita-cita, membahagiakan ibu dan anak istrinya, dengan cara merantau ke berbagai daerah di Indonesia. Tapi bagaikan menggantang asap dan mengukir langit, usaha Udin sia-sia. Perantauan berbelas tahun, justru dilaluinya dengan tumpahan air mata. "Berbelas tahun saya merantau, namun kesuksesan seperti tidak bisa didapat. Setelah pulang kampung, saya dapati hidup makin susah. Ibu makin tua dan pikun, tidak ada yang mengurus. Saya camkan untuk menjaga beliu. Tapi akhirnya, karena desakan hidup saya pun terpaksa merantai ibu. Saya tidak punya cara lain," ucap Udin sambil menghembuskan asap rokok. Dulu Orang Berada Kembali pada kisah Roslena, ibu kandung Udin yang terpaksa diikat dengan rantai besi. Sebenarnya, dia dulu termasuk perempuan berada atau terpandang di Nagari Gurun. Harta pusakanya banyak. Tanah ulayatnya luas. Sawah dan kolam dia juga punya. Namun semenjak ditinggal mati suami tercinta, ekonomi Roslena mulai morat-marit. Sawahnya yang membentang luas, terjual sepetak demi sepetak. Tanah dan kebunnya yang banyak juga sudah tergadai. Mula-mula sebidang, kemudian dua bidang. Lalu gadai diperdalam, ketika tidak bisa ditebus, langsung dijual habis. Hingga akhirnya, Roslena jatuh-tapai. Dia terpaksa menjalani kehidupan seperti mayoritas warga Nagari Gurun yang dijerat kemiskinan dan terabaikan sumber daya manusia-nya. Walau begitu, Roslena tetap berlapang dada. Dia yakin betul, bahwa hidup tanpa berjuang adalah kematian dan mati dalam berjuang justru sebuah kehidupan. Karenanya, Roslena terus tegar sambil memperbanyak ibadah kepada Sang Khalik. Apalagi usianya sudah diambang senja. Jika Nabi Muhammad saja yang menjadi panutannya siang dan malam, cuma dikarunai Tuhan usia sampai 63 tahun. Maka, adalah keberuntungan bagi Roslena bisa melihat dunia hingga usia 80 Tahun. Karena itu pula Roslena makin mempedekat hubungan dengan Sang Pencipta. Cuma saja, sejak setahun terakhir, dia mulai jarang mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam sebagai kewajiban tiap muslim. "Bagaimana mau shalat nak, kaki saya dirantai. Tidak bisa mengambil wudhu. Makanya, tolong lepaskan rantai saya," kata Roslena kepada Padang Ekspres. Roslena mengaku, pernah juga mengerjakan Shalat tanpa mengambil air Wudhu. "Saya coba shalat dengan bertayamum saja. Namun ketika tubuh saya punya hadas besar dan perlu mandi. Tentu saya tidak bisa mengerjakan lagi, karena saya juga harus mandi," ucapnya pula. Sejauh ini belum ada upaya nyata dari pemerintah daerah ataupun pihak terkait untuk membantu Roslena. Padahal, perempuan itu ingin sekali menjalani hidup normal. Hidup tanpa rantai yang mengikat kaki kanannya. Ironi di Kabupaten Kaya. Kisah Roslena sendiri adalah sebuah ironi di kabupaten kaya. Ironi itu muncul bagaikan air bah yang tumpah. Sebelumnya, Yayasan Pedati Emas yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, mencatat, ada puluhan warga kabupaten Limapuluh Kota dipasung dan dirantai. "Nasib mereka juga sama dengan Roslena, tak bisa bergerak ke mana-mana, kecuali di rumah saja. Baru pada tahun 2007 kemarin, sebanyak 25 orang diantara mereka kami bebaskan dari belenggu tersebut," kata Presedium Yayasan Pedati Emas Ferizal Ridwan, secara terpisah. Ferizal menilai, persoalan warga dirantai dan dipasung di Kabupaten Limapuluh Kota. Sebenarnya adalah persolan hilangnya kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap masalah-masalah sosial. "Persoalan ini benar-benar ironis sekali. Padahal, Kabupaten Limapuluh Kota kaya potensi. Salah satunya adalah daerah penghasil gambir terbesar di Indonesia," kata Ferizal Ridwan. Sedangkan Bupati Limapuluh Kota Amri Darwis, mengaku, telah berupaya untuk memecahkan masalah-masalah sosial di wilayahnya, termasuk masalah yang menimpa Roslena. "Saya juga meminta para Camat atau Wali Nagari untuk segera memberi laporan. Sehingga serajut problema sosial bisa dicarikan solusinya," kata Amri Darwis. Namun upaya Pemkab Limapuluh Kota tersebut, nampaknya masih jauh panggang dari api. Karena di atas fakta, jumlah orang miskin dan penyandang masalah sosial justru semakin banyak. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 1006 terdapat 20.952 rumah tangga miskin yang hidup di kabupaten ini. Rumah tangga miskin tersebut, rata-rata nasibnya sama dengan Roslena. Menjadi "orang rantai" di zaman merdeka. Tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, benar juga kata pujangga Shakespeare, "manusia hanyalah sebuah bayangan dan hidup hanya sebuah mimpi". (Fajar r vesky) =============== NEGERI ORANG RANTAI Seminggu di Sawahlunto, hmm...mengesankan. Apalagi aku meninggalkan Jakarta hanya beberapa jam sebelum banjir besar Februari 2007. Senangnyaaa tak bersentuhan dengan segala kerepotan gara-gara air. Waktu itu Sawahlunto sedang musim durian pula. Kuning-hijau buah durian berkelompok-kelompok pada pohon-pohon sepanjang jalan menuju pusat kota, seperti jajaran tiang lampu neon. Harganya? Sudah pasti murahlah dibanding Jakarta. Waktu aku ke sana, Sawahlunto yang sudah berusia 119 tahun sedang berbenah diri menuju kota wisata sejarah. Kata Pak Walikota, Amran Nur, kalau di Bukittinggi dan kota-kota lainnya di Sumatera Barat, jumlah antara bangunan-bangunan tuanya dan rumah bagonjong (rumah khas Minangkabau) seimbang, di Sawahlunto yang berpenduduk lima puluh tujuh ribu jiwa ini nyaris semua bangunan tuanya bergaya kolonial Belanda. Pak Wali sendiri menempati rumah dinas eks kediaman Asisten Residen Belanda yang dibangun tahun 1920an. Nah, bangunan-bangunan tua dan bersejarah diinventarisir satu demi satu dan dibuatkan rencana renovasinya. Salah satunya Rumah Fak Sin Kek yang dikasi cat merah-putih itu (....Tapi kok plang-nya Pek Sin Kek ya? Padahal di buku inventaris Pemda namanya ya Rumah Fak Sin Kek...), satu-satunya bangunan berarsitektur Cina di Sawahlunto. Dibangun tahun 1906, dulunya rumah ini tempat tuan dan noni Belanda menonton pertunjukan tonil. Zaman revolusi kemerdekaan, eh jadi pabrik es...sekaligus markas para pejuang. Seperti bangunan lama umumnya, dindingnya tebal-kokoh, bikin nyaman. Sayang waktu ke sana itu coffee shop-nya masih sederhana sekali, begitu juga koleksi oleh-oleh tenun dan songket Silungkang-nya. Dalam pelajaran sejarah atau geografi bolehlah hafalan tentang Sawahlunto berhenti pada kota penghasil batubara terbesar di Indonesia saja, sejak si emas hitam tersebut ditemukan pertama kali oleh geolog Willem Hendrik de Greve. Tapi masa lalu Sawahlunto tak sesederhana itu. Erwiza Erman dalam buku "Membaranya Batubara. Konflik Kelas dan Etnik Ombilin-Sawahlunto-Sumatera Barat 1862-1996" yang merupakan hasil disertasi di Universitas Amsterdam (2005) menulis bahwa penemuan lapisan batubara di tepi sungai Ombilin bukan saja menjadi awal berkembangnya Sawahlunto dari desa kecil berpenduduk tak lebih dari lima ratus orang menjadi kota yang hiruk-pikuk, tapi juga neraka bagi ribuan orang hukuman di Jawa, baik dari penjara Glodok maupun Cipinang, dan tak sedikit pula yang merupakan tawanan politik. Ke Sawahlunto-lah mereka dibuang. Mereka bekerja minimal 10 jam di dalam tambang bersuhu 37 derajat celcius, dan sempit, dengan makanan seadanya, dan di bawah pengawasan mandor-mandor yang kejam. "Orang-orang (maksudnya karyawan PT Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin) biasa mendengar teriakan yang menggaung dari dalam tambang. Kadang-kadang pada malam hari orang masih mendengar suara-suara itu. Itu adalah suara-suara dari mereka yang meninggal di dalam tambang, karena terluka atau karena kecelakaan tambang, perkelahian bahkan pembunuhan. Potongan tubuh mereka tak jarang dijumpai terbawa lori pengangkut bongkahan batubara dari dalam tambang." (Erwiza Erman. 2005: 1-2). Tak heran kalau kemudian banyak buruh tambang yang berusaha kabur meskipun taruhannya nyawa, atau minimal cacat, sebab Belanda memberlakukan hukum cambuk. Baru pada tahun 1910 hukuman cambuk dilarang, meskipun hingga tahun 1917 narapidana yang divonis hukuman kurang dari 5 tahun masih harus memakai rantai di kaki dan leher selama berada di tambang untuk mencegah mereka melarikan diri. Makanya masyarakat Sawahlunto waktu itu menjuluki mereka "orang rantai" sedangkan Belanda menyebut mereka "kettingganger". Karena memang butuh batubara untuk bahan bakar armada kapal perangnya dan butuh tenaga manusia yang kuat maka Belanda merasa perlu membangun dapur umum untuk memasak 4 ton beras setiap harinya, plus sayuran dan lauk-pauk. Dapur umum peninggalan Belanda itu kini diubah Pemda Sawahlunto menjadi Museum Goedang Ransoem, tempat anak-anak sekolah takjub melihat periuk-periuk besi raksasa yang bisa menjadi perahu berpenumpang 10 orang seusia mereka. Betapa seriusnya Belanda membangun dapur umum ini bisa dilihat dari tungku pembakarannya yang masih utuh berdiri di bagian belakang museum. Tahun pembuatannya.....1894. Cukup segitu dulu soal sejarah Sawahlunto. Yang jelas negeri yang landskapnya berbentuk kuali ini punya banyaaak tempat rekreasi. Mau berenang, ada Waterboom dengan tiga kolam perosotan yang dikelilingi bukit hijau (Siapapun yang membangunnya, aku perlu bilang: "baguuusss"). Ada kebun binatang kecil juga, ada taman rekreasi air di Danau Kandih (dulunya ini tambang luar batubara milik PTBA Unit Sawahlunto), ada Museum Adinegoro, dan ada kereta api wisata yang relnya melewati terowongan ("lubang kalam" kata urang awak). Kecuali Waterboom, Danau Kandih, dendeng batokok Muaro Kalaban made in Hajjah Ermis, dan Museum Gudang Ransum, semua lokasi wisata sejarah itu bisa dijangkau dengan berjalan kaki saja. Bahkan Gedung Societit, tempat dansa-dansi sinyo dan noni Belanda, dan sekarang dicanangkan sebagai balai pertemuan dan tempat pertunjukan seni berada persis di seberang Wisma Ombilin. Jangan khawatir dengan makanan. Menjelang sore, penjual makanan kaki lima berjejer di sepanjang Sungai Ombilin. Dari sate padang sampai sate kambing dan tongseng, ada. Hanya saja sulit rasanya mengharapkan serbuan para turis ke Sawahlunto selama penginapan layak tak banyak. Satu-satunya tempat menginap adalah Wisma Ombilin. Semua perabotan serba orde lama. Di kamar, air pun mengalir pelit dari keran tuanya. Pelayanan juga ala kadar. Lalu, sarana telekomunikasi. Hanya ada satu wartel, itupun tanpa koneksi internet. Lalu, tidak ada tempat nyaman buat ngeteh atau ngopi setelah seharian berkeliling. Padahal katanya turis yang mau disasar adalah Oma-Opa from Negeri Tulip yang kulitnya ingin terantuk angin sambil mengelanakan pikiran ke masa lalu.*** http://f3nty.multiply.com/photos/album/19/NEGERI_ORANG_RANTAI ============ Menghidupkan Negeri Orang Rantai Sawahlunto berbenah menjadi kota pariwisata. Melakukan konservasi dan revitalisasi bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda. ------- MENARA itu menjulang di tengah kota. Tingginya 80 meter, hampir menyamai pucuk-pucuk bukit di sekelilingnya. Tapi jangan khilaf. Bangunan yang berfungsi sebagai menara masjid itu tidak baru, bahkan semula bukan menara masjid. Ia dulu cerobong asap pembangkit listrik tenaga uap, yang didirikan pada 1894. Para perancangnya, yakni arsitek dari Belanda, membangunnya untuk menghindarkan kota dari polusi udara. Dengan ketinggian seperti itu, asap langsung diterbangkan angin ke balik bukit. Menara jangkung itu hanya salah satu contoh. Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, memang sedang ligat-ligatnya "menghidupkan" kembali bangunan-bangunan tua untuk kepentingan wisata. Sebermula pada 2001, ketika berlaku peraturan daerah tentang visi Sawahlunto sebagai "Kota Wisata Tambang yang Berbudaya"--begitulah. Peraturan daerah yang ditetapkan pada Oktober lalu tentang perlindungan situs-situs bersejarah memperkuat arah pengembangan kota. Sampai kini, tercatat 68 bangunan pemerintah dan rumah tinggal masyarakat telah dijadikan cagar budaya. Berdasarkan peraturan itu pula pemerintah lokal memberikan bantuan Rp 10 juta untuk renovasi. Tengok saja gedung yang sekarang berfungsi sebagai kantor bank. Dulu bangunan bergaya neoklasik itu berfungsi sebagai gedung pertemuan (sositet) bernama Gluck Auf, yang dibangun pada 1910. Di sanalah para pejabat kolonial berdansa-dansi, bernyanyi, sambil menikmati minuman. Di sekitar situ juga terdapat lebih dari selusin bangunan bergaya kolonial. Misalnya Wisma Ombilin, satu-satunya penginapan, dulunya Ombilin Hotel, dibangun pada 1918. Kemudian deret-berderet gereja Katolik, sekolah, rumah sakit, bahkan penjara. Semuanya berusia hampir satu abad. Sebelumnya, daerah dengan luas sekitar 273 kilometer persegi ini dikenal sebagai penghasil batu bara. Ketika kegiatan pertambangan mandek, pemerintah kota harus berpikir keras untuk mendapatkan pemasukan. Cara yang ditempuh adalah mendaur ulang situs-situs tua menjadi tempat wisata. Adalah Amran Nur, Wali Kota Sawahlunto, yang menggerakkan metamorfosis bekas kota tambang menjadi living museum. Dia meneruskan perencanaan yang sudah dibuat wali kota sebelumnya, Subari Sukardi. Amran menargetkan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata Rp 1,8 miliar per tahun. Tak hanya gedung-gedung peninggalan Belanda yang direvitalisasi bertahap, tapi juga bangunan-bangunan bekas pertambangan. Menara-menara, terowongan menuju tambang bawah tanah, dan berbagai alat produksi pengolahan batu bara juga didandani. Untuk meningkatkan pendapatan daerah pengganti tambang, pemerintah sama sekali tidak membangun gedung baru. Mereka melakukan konservasi berbagai bangunan tua. Bahkan reruntuhan bekas tambang tidak dianggap perusak pemandangan, tapi dijadikan "monumen". Langkah ini yang membedakan Sawahlunto dengan kota lain yang, demi mendapat uang, malah meratakan dengan tanah bangunan-bangunan tua bersejarah. Tahun lalu pemerintah di sana mendirikan Museum Kereta Api Heritage Tourism. Mereka memugar bekas gudang ransum dan dapur umum tambang, yang pernah menjadi tempat makan ribuan kuli tambang--yang disebut "orang rantai"--menjadi Museum Gudang Ransum. "Orang rantai" memang tak bisa dilepaskan dari sejarah Sawahlunto. Mereka adalah para terpidana yang oleh pemerintah kolonial Belanda dikaryakan sebagai pekerja tambang batu bara. Mereka nyaris tak pernah lepas dari rantai besi. Mereka juga dipanggil berdasarkan nomor karena nama mereka harus ditanggalkan--bahkan nisan-nisan di sana hanya mencantumkan angka. Sawahlunto memang kawasan yang ditumbuhkan pemerintah kolonial Belanda. Kota ini mulai menggeliat setelah William Hendrik de Greve, seorang insinyur pertambangan Belanda, menemukan batu bara di Batang Lunto, pada 1867. Dalam waktu singkat, kota ini menjelma sebagai penghasil batu bara berkualitas terbaik. Nama daerah itu pun berganti menjadi Sawahlunto karena pertambangan pertama dilakukan di sawah milik penduduk di sekitar Batang Lunto. Selanjutnya, daerah ini berubah menjadi kawasan tambang batu bara terbesar sekaligus tertua di Indonesia. Kini Sawahlunto seolah menjelma kembali menjadi kota kolonial. Untuk melengkapi kesan baheula, Wali Kota membenahi taman kota dan "mengimpor" delman dari Jawa. (Sumber: Tempo, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008) ============= Karta dan penderitaan manusia rantai di ombilin di zaman colonial Belanda Posted by Bustamam Ismail on November 24, 2008 lubang-kunoBatu bara di Sawahlunto terpendam jauh di bawah tanah. Dahulu, pada awal penambangan dibuat terowongan besar di kaki bukit untuk pekerja dan lori pembawa batu bara keluar-masuk.Di bagian dalam terowongan, penggalian bersimpang siur kiri-kanan dan atas-bawah. Supaya tidak runtuh, terowongan itu disangga dengan balok kayu. Ada kalanya terowongan itu runtuh juga hingga ada pekerja yang mati karena terkurung atau tertimbun reruntuhan. Bekerja di tambang itu sangat berat dan berbahaya, tapi gajinya sangat kecil. Akibatnya penduduk sekitarnya tidak mau bekerja di sana. Mana yang bekerja dalam waktu sehari dua hari mereka sudah lari.Supaya pekerja tambang itu tidak bisa lari lagi, diambillah orang dari pulau seberang dengan paksa. Pada umumnya, mereka itu berasal dari Pulau Jawa. Sekitar 20 tahun kemudian kerja paksa itu diganti dengan cara kerja kontrakan, yaitu pekerja itu membuat perjanjian bekerja selama beberapa tahun.Siapa yang minggat sebelum kontraknya habis dikenakan hukuman penjara. Pada masa penjajahan Belanda pekerja tambang itu disebut kuli kontrak. Di samping kuli kontrak, tambang itu menggunakan pula orang yang hukuman penjara lebih dari 10 tahun. Mereka dihukum karena merampok atau membunuh. Semuanya berasal dari pulau lain. Supaya tidak melarikan diri, kaki mereka diikat dengan rantai. Mereka itu disebut orang rantai.Entah bagaimana caranya ada juga orang rantai itu yang dapat meloloskan diri. Maka gemparlah seluruh penduduk oleh ketakutan. Ketakutan karena diceritakan bahwa orang rantai itu adalah orang jahat yang suka mengamuk. Banyak ibu-ibu menakut-nakuti anaknya yang nakal dengan mengatakan, "Naik ke rumah. Ada orang rantai kabur". Hampir semua orang rantai yang lari itu tertangkap lagi karena tidak tahu mau pergi ke mana setelah dapat lari. Salah seorang yang tidak pernah dapat ditangkap adalah Karta. Karta Karta berasal dari Banten. Dia dihukum seumur hidup karena tuduhan membunuh tentara. Sebenarnya dia adalah seorang santri muda yang punya ilmu kedukunan berbagai penyakit. Maka dia sangat terkenal sebagai orang sakti.Pada akhir abad ke-19, seluruh daerah Banten tidak aman. Di mana-mana rakyat menentang Belanda. Karta dicurigai sebagai penghasut rakyat melawan pemerintah.Pada waktu tentara menangkap Karta, terjadilah perkelahian ramai antara tentara dan rakyat. Banyak orang yang mati. Seorang tentara terbunuh. Karta ditangkap dan dipenjarakan seumur hidup. Lalu diangkut ke Sawahlunto. Kedua kakinya dirantai supaya tidak melarikan diri. Setiap pagi, kuli kontrak dengan orang rantai digiring ke dalam terowongan untuk menambang batu bara. Sore mereka digiring kembali ke tempat masing-masing. Kuli kontrak ke barak, orang rantai ke penjara.Setiap rombongan dikawal oleh mandor yang umumnya berkumis panjang dan bercemeti di tangannya. Mereka itu orang yang bengis. Mandor untuk orang rantai juga membawa senjata api. Cemeti mereka mudah saja hinggap pada punggung orang-orang yang malas bekerja. Semua pekerja tambang ingin melarikan diri agar bebas dari bekerja berat dan siksaan camnbuk atau makian kasar. Demikian pula dengan Karta. Dia selalu berpikir dan mencari kesempatan untuk lari. Siasat atau cara berpikir dan mencari kesempatan untuk lari.Siasat atau cara yang dilakukannya ialah dengan berlaku baik, patuh dan rajin. Maksudnya supaya para pengawal mempercayainya dan tidak banyak lagi mengawasinya. Beruntung pula Karta punya ilmu kedukunan. Banyaklah orang rantai atau kuli kontrak yang sakit dapat disembuhkannya. Kemanjuran pengobatannya terkenal sampai ke luar daerah tambang. Lebih-lebih ketika ia berhasil menyembuhkan patah kaki seorang pimpinan penjara karena jatuh di lereng bukit. Sejak itu dia banyak mendapat keleluasaan bergerak. Pada suatu subuh, seperti tiba-tiba petugas penjara tidak menemuinya lagi. Berita orang rantai lari segera saja menggemparkan penduduk sekitar Sawahlunto. Karta Lari dari tambang Berita itu cepat tersebar ke seluruh Minangkabau. Polisi dan tentara dikerahkan mencari Karta, tapi tidak berhasil. Konon Karta sempat menghirup udara kemerdekaan Republik Indonesia beberapa tahun lamanya. Begini kisahnya dari mulut ke mulut penduduk Sawahlunto tentang pelarian Karta itu. Ibarat dongeng yang tak kunjung dari ingatan orang-orang tua di masa itu. Berminggu-minggu lamanya, Karta bersembunyi di hutan perbukitan sekitar Sawahlunto.Menurut dongeng itu, pada malam ke-40 muncullah seorang tua berjubah serba putih, berjenggot panjang sampai ke lutut. Dia mengaku sebagai nenek moyang Karta yang sengaja datang dari Banten untuk membuka rantai pada kaki cucunya. "Orang biadab yang merantai manusia seperi anjing", katanya. Setelah itu raiblah dia sambil membawa Karta entah ke mana. Kisah yang sebenarnya Setelah itu Karta lolos dari penjara dia menghilir Batang Ombilin. Ketika tiba pada anak sungai kelima, ia mudiki anak sungai itu. Pada hari ketiga, sampailah Karta ke sebuah pondok yang letaknya di tepi sungai. Di sana ada seorang laki-laki tua dengan seorang anak gadis yang usianya menjelang remaja. Laki-laki itu Kakek Pado dipanggil orang. Anak gadis itu bernama Upik. Tampaknya Upik sakit. Badannya panas. Dua hari yang lalu dia disengat kalajengking ketika baru saja sampai di pondok itu mengantarkan makanan untuk kakeknya. Demi melihat Karta yang kumal dan kakinya berantai, kedua penghuni pondok itu bukan kepalang takutnya. "Jangan takut. Aku bukan orang jahat", kata Karta dengan wajah yang tersenyum ramah. Demi melihat Upik sakit, Karta langsung mendekat. Dipegangnya ubun-ubun kepala Upik. Dibacanya mantera.Selanjutnya ditekannya bekas sengatan kalajengking pada kaki Upik yang telah sembab. Dibacanya lagi mantera. Setelah itu, disemburnya dengan ludahnya. Air ludah itu dibarut-barutnya sambil terus membaca mantera. Beberapa saat kemudian, Upik merasa sakitnya hilang. Berita tentang orang rantai pandai mendukun cepat tersebar. Banyaklah orang datang minta diobati. Dalam pada itu, rantai di kaki Karta telah dibuka orang. Berita itu sampai juga ke polisi di Sawahlunto. Akan tetapi, setiap polisi datang, Karta disembunyikan penduduk. Semua orang sayang padanya karena selain pandai mendukun, Karta pun pandai mengaji. Katanya selalu kepada orang-orang yang datang berguru atau berobat kepadanya, "Kalau kita berbuat baik, Tuhan akan membalasnya dengan kebaikan. Balasan Tuhan itu baru kita ketahui ketika kita menghadapi kesulitan, Tuhan datang menolong kita. Kepada yang lain Karta mengatakan, "Perbuatan baik akan lebih berfaedah kalau kita punya ilmu. Kebaikan tanpa ilmu, ibarat nasi tanpa gulai". Sejak itu, penduduk tidak lagi percaya bahwa semua orang rantai di Sawahlunto adalah orang jahat. Yang tidak jahat itu pastilah karena salah tangkap oleh fitnah. Entah karena kebetulan kemudian cara merantai orang hukuman yang bekerja di tambang dihapuskan. Sumber http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_arsip.htm?tp=legenda =========== --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
