Sisa-Sisa Keangkuhan Benteng Fort de Kock

 

Kompas.com/Dok. Budpar/Caroline Damanik
<http://travel.kompas.com/read/xml/2009/02/26/07440353/Sisa-Sisa.Keangku
han.Benteng.Fort.de.Kock##> 

/

Kamis, 26 Februari 2009 | 07:44 WIB

MASIH ingat Perang Paderi di mana tokoh adat Sumatera Barat, Tuanku Imam
Bonjol memimpin perlawanan rakyat Minangkabau melawan serdadu Belanda
yang mencoba menjajah tanah Minang? Pemerintah penjajah Hindia Belanda
akhirnya merasa penting membangun sebuah benteng sebagai pertahanan
pemerintah dalam menghadapi perlawanan rakyat.

Benteng Fort de Kock didirikan pada tahun 1825 oleh Kapten Bauer di atas
Bukit Jirek Negeri, Bukit Tinggi. Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock
masih menjadi saksi bisu angkuhnya penjajahan Belanda pada saat itu
untuk berkuasa atas Minangkabau dan sisa-sisa keangkuhannya masih
tersirat dalam bangunan setinggi 20 meter dengan warna cat putih dan
hijau ini. 

Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya.
Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi
sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak. 

Benteng yang berada di kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Bukit Tinggi ini berada di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukit
Tinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di
bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan kebun binatang dan
museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan. 

Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah
jalan raya dalam kota Bukit Tinggi. Memang kawasan ini hanya terletak 1
km dari pusat kota Bukit Tinggi di kawasan Jam Gadang, tepatnya di
terusan jalan Tuanku nan Renceh. Bukit Tinggi sendiri dapat ditempuh
sekitar 2 jam dari Kota Padang sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat.

Dengan membayar retribusi sebesar Rp 5.000, melihat benteng,
menyeberangi jembatan dengan pemandangan yang indah, mengamat-amati
berbagai macam satwa dan belajar sejarah di museum dapat dinikmati
sekaligus. Khusus memasuki Rumah Adat Baanjuang, pengunjung harus
membayar lagi tiket masuk sebesar Rp 1.000 per orang. Tempat ini sering
dijadikan tempat piknik keluarga atau tujuan bagi rombongan siswa TK
maupun SD untuk mengenal alam, sejarah dan budaya sekaligus.

Sejumlah pengunjung bahkan tampak bergembira hanya sekedar menikmati
suasana rindang di sekitar Benteng Fort de Kock usai membaca sedikit
penjelasan sejarah mengenai benteng tersebut. Ini tertulis di sebuah
prasasti sekitar 10 meter di depan benteng yang ditandatangani oleh
Walikota Bukit Tinggi H. Djufri ketika diresmikan sebagai tempat wisata
pada tanggal 15 Maret 2003. Berikut sedikit penjelasan tentang Benteng
Fort de Kock:

Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di
atas Bukit Jirek negeri Bukit Tinggi sebagai kubu pertahanan
pemerintahan Hindia Belanda menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang
Paderi yang dipimpin oleh TUANKU IMAM BONJOL.

Ketika itu Baron Hendrick Markus de Kock menjadi Komandan de Roepoen dan
Wakil Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda. Dari sinilah nama
lokasi ini menjadi Benteng Fort de Kock.

Udara sejuk Bukit Tinggi bisa saja membuat pengunjung yang datang
menjadi lupa waktu. Apalagi jika memandangi keindahan Ngarai Sianok,
Gunung Singgalang, Gunung Pasaman dan juga kota Bukit Tinggi dari atas
Jembatan Limpapeh. Lalu terus berjalan melihat berbagai satwa dan mampi
sebentar di Rumah Adat Baanjuang untuk menambah sedikit wawasan tentang
budaya Minangkabau. 

Di dalam bangunan yang sengaja dibangun pada tahun 1930 oleh seorang
Belanda, Mr. Mandelar Controleur tersimpan berbagai macam benda-benda
khas Minangkabau, seperti pakaian adat, tanduk kerbau dan peralatan
menangkap ikan tradisional. Di tempat ini, pengunjung juga dapat berfoto
di anjungan maupun dengan pakaian adat Minang hanya dengan membayar Rp
2.500-Rp 5.000.

Keangkuhan Benteng Fort de Kock juga terekam dalam berbagai cendera
mata yang dijajakan di kios-kios di luar kawasan wisata, seperti kaus,
gantungan kunci dan tas khas Minangkabau. Sayang rasanya, jika pulang
tanpa kenangan tersendiri tentang Benteng Fort de Kock.


LIN 

http://travel.kompas.com/read/xml/2009/02/26/07440353/Sisa-Sisa.Keangkuh
an.Benteng.Fort.de.Kock
<http://travel.kompas.com/read/xml/2009/02/26/07440353/Sisa-Sisa.Keangku
han.Benteng.Fort.de.Kock> 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke