[ Minggu, 01 Maret 2009 ] Jawa Pos.
        
        
Pada Trowulan Kita Bercermin        
        
        
        
          Oleh: Zen Rachmat Sugito, Sejarawan muda, tinggal di Jogja

Majapahit,
imperium yang mewariskan Negarakrtagama dan Sutasoma, sudah lama lewat,
tapi ia tak pernah benar-benar minggat. Lewat Muhammad Yamin, (tilas)
Majapahit hadir kembali dengan jalan sedikit memutar, tapi justru tepat
pada fase genting persiapan kelahiran jabang bayi republik ini. 

Saat sedang merenung-renung di tengah sidang BPUPKI, Yamin mengucapkan satu 
parafrase yang diambil dari Kakawin Sutasoma,
yang ia ucapkan hanya untuk dirinya sendiri, semacam gumaman lirih:
''Bhineka tunggal ika...'' Tak disangka, seorang dari Bali dengan
penampilan bak pandita yang duduk di sebelahnya menyahut, ''Tan hana
dharma mangrwa.''

Saya tidak tahu persis siapa orang yang
menyahut gumaman Yamin (ada yang bilang I Gusti Bagus Sugriwa,
cendekiawan serbabisa dari Bali). Tapi, cukup jelas, fragmen kecil itu
menjadi bagian tak terpisahkan dari digunakannya frase ''Bhineka
tunggal ika'' sebagai sesanti atau semboyan republik ini. 

Frase ''Bhineka tunggal ika'' sendiri diunduh dari bait kelima metrum ke-139 
Kakawin Sutasoma karya Rakawi Prapanca yang bunyinya: ...Jinatwa kalawan 
Siwatatwa tunggal bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Kurang lebih ia 
menjelaskan bahwa antara (agama) Buddha dan Syiwa itu berbeda tapi tetap satu 
karena memang tidak ada darma yang mendua.

***

Sayangnya,
hanya sebatas itu tilas intelektual Majapahit direproduksi dan
dikonversi menjadi bentuk-bentuk baru yang relevan. Selebihnya, yang
diadopsi dan ditonjol-unggulkan dari Majapahit hanyalah kemampuan duet
Gajah Mada-Hayam Wuruk dalam meluaskan teritori kekuasaan Majapahit,
itu pun -seperti yang akan kita lihat sebentar lagi-- dalam cara yang
sepotong-potong alias ''cari enaknya saja''.

Konsepsi Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) -terutama dalam soal luas dan batas
wilayah-- tak bisa tidak memang direproduksi dari luas wilayah
Majapahit sebagaimana Gajah Mada memancangkannya dalam Sumpah Amukti
Palapa. 

Soekarno --terutama Muhammad Yamin-- adalah pribadi
yang paling gigih mengejawantahkan luas wilayah Majapahit dalam bentuk
baru NKRI. Yamin melakukannya dengan menyitir metrum-metrum tertentu
dalam Negarakrtagama (terutama syair 13-15) untuk memperkuat
argumentasinya. Soekarno --yang sebelumnya berseberangan paham dengan
Yamin dalam soal hak warga Negara--kali ini segendang-sepenarian dengan
Yamin. Hanya Hatta yang secara tegas menolak adopsi wilayah kekuasaan
Majapahit versi Prapanca, terutama menolak dimasukkannya Papua.

Sayangnya,
cara Majapahit mengelola teritori kekuasaannya yang luas dipandang
sebagai kelemahan, bukan sebagai peluang. Majapahit mengelola wilayah
kekuasaannya yang jauh dengan cara-cara yang mirip dengan otonomi di
zaman sekarang, di mana penguasa-penguasa setempat diberi keleluasaan
untuk mengelola wilayahnya sendiri. Yamin atau Soekarno menolak cara
pengelolaan macam ini (itulah sebabnya gagasan federalisme Hatta
ditolak secara dini). Selanjutnya, kita bisa melihat, bagaimana
sentralisme dipraktikkan secara eksesif. Majapahit diadopsi wilayah
kekuasaannya, tapi tidak cara pengelolaannya.

Majapahit
melakukan semuanya dengan armada militer yang berporoskan kekuatan
maritim yang tangguh. Dari pedalaman Mojokerto, kapal-kapal perang
Majapahit --yang salah satunya dipimpin Nala-- berlayar ke nusa-nusa
yang jauh, melakukan misi penaklukan atau misi dagang juga diplomasi.
Soekarno sedikit banyak paham soal ini, itulah sebabnya Angkatan Laut
RI cukup tangguh pada masa kekuasaannya. Tapi Soeharto menghancurkan
fondasi kekuatan maritim yang diwariskan Soekarno dengan
menganak-emaskan Angkatan Darat dan seraya pada saat yang sama
mengabaikan (kekuatan di) laut(an). Soeharto menganakemaskan Kopassus
yang kelak dikirim ke Timor Timur dalam Operasi Seroja --yang kata
antropolog Daniel Dhakidae mirip pasukan jalady mantri-nya Majapahit.

Maka, tergelarlah titik balik, persis seperti yang diwedarkan Rama Cluring, 
kamitua dalam epos  Arus Balik-nya
Pramoedya: ''Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa
berlayar ke utara, ke Atas Angin, ke Campa ataupun ke Tiongkok. Arus
kapal dari selatan semakin tipis. Sebaliknya arus dari utara semakin
deras, membawa barang-barang baru, pikiran-pikiran baru, agama baru.
...Ya, kapal besar hanya dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan
kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya,
dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa
segala-galanya... termasuk penghancuran, penindasan, dan penipuan.''

***

Johan
Huizinga, ketika menguraikan Abad Pertengahan dan Renaissance di Eropa,
dengan baik menggambarkan bagaimana warisan peradaban Yunani dan Romawi
Kuno digali tiada habis sekaligus dikonversi terus-menerus dalam
teks-teks baru oleh para teolog, cendekiawan dan seniman. Peradaban
besar, masih merujuk Huizinga, pastilah mewariskan pikiran cemerlang
yang bisa terus direproduksi dan dikonversi menjadi pikiran-pikiran
baru. 

Yamin memang unggul dalam perkara ini. Pada umur 26 tahun, ia sudah menulis dan 
mementaskan lakon Arok-Dedes, umur 30 tahun mementaskan lakon Krtajaya, umur 31 
tahun mementaskan lakon Sandyakala ning Majapahit.
Yamin pula yang menyusun biografi Gajah Mada dan Tata Negara Majapahit.
Dengan keluasan pengetahuannya tentang kesustraan Jawa Kuno dan
ikon-ikon yang terpacak di banyak candi dan arca, ia susun buku 6000 Tahun Sang 
Saka Merah Putih. 

Dalam
soal mengkaji ulang warisan peradaban-peradaban kuno Nusantara (bahkan
Pasifik) untuk kemudian mereproduksinya dalam bentuk baru yang bisa
digunakan untuk kepentingan pada zamannya, Yamin nyaris tak ada
tandingan. Semangatnya dalam melakukan studi --hingga level tertentu--
bisa dibandingkan dengan para cendekiawan di pantai-pantai Italia pada
abad 12-13 saat menyiapkan fondasi kebangkitan Eropa melalui pengkajian
ulang warisan intelektual peradaban Yunani-Romawi.

Yamin tentu
tak sendiri, tapi apa yang dilakukannya tak pernah menjadi sebuah
gerakan kebudayaan yang mengejawantah menjadi sebuah arus besar yang
bergelombang dalam kurun yang panjang. Yamin dan orang-orang yang
menjadi lawan tanding Sutan Takdir Alisjahbana yang menganjurkan untuk
berpaling ke Barat dalam polemik kebudayaan pada tahun 1930-an (macam
Ki Hajar Dewantoro, Sanoesi Pane atau Soetatmo) tak pernah berhasil
mengerek gerbong Renaissance layaknya bangsa Eropa melakukannya
terhadap warisan kebudayaan dan peradaban Yunani-Romawi pada akhir Abad
Pertengahan. Inisiatif Ki Hajar dalam mengonversi konsep paguron
yang berakar panjang dalam tradisi kita ke dalam sistem pendidikan
modern yang disusunnya adalah inisiatif berharga yang sayangnya langka.

Minat
dan semangat mereka dalam mempelajari warisan kebudayaan dan peradaban
tua di Nusantara tergerus oleh syahwat politik yang merasa puas dengan
mengadopsi pilar-pilar kekuasaan di masa silam untuk kepentingan
menggerakkan instrumen nasionalisme. Reproduksi dan konversi
pilar-pilar kekuasaan Majapahit secara eksesif dalam bentuk NKRI yang
sentralistik tak diimbangi dengan reproduksi dan konversi warisan
intelektual Majapahit yang menjadi ruh peradaban Majapahit ke dalam
bentuk baru yang bisa memecahkan persoalan yang dihadapi zaman kita. 

''Bhineka
tunggal ika'' kita junjung layaknya mantra, tapi semangat zaman yang
melahirkan sesanti itu --di mana agama Buddha dan Syiwa berdampingan
damai laksana buku-buku teologi yang berjejer mesra di rak buku-- gagal
kita adopsi dalam kehidupan sehari-hari. SARA menjadi isu yang
mengerikan, etnis Tionghoa mengalami diskriminasi yang pahit, para
penganut agama-kepercayaan di luar yang resmi dikejar-kejar dan tempat
ibadahnya dihancurkan.

Baru belakangan saja upaya serius untuk
memelajari dan mengkaji naskah-naskah lama dari khasanah Nusantara
mulai banyak dibicarakan. Ini bukan hanya berlaku pada Majapahit yang
ada di Jawa, tapi juga pada semua warisan kebudayaan dan peradaban lain
di Nusantara, seperti Sureq la Galligo. Pentas La Galigo
di Singapura dan New York hasil olah-kreasi Robert Wilson diliput
besar-besaran, sesuatu yang membuat kita bangga, tapi pada saat yang
sama menyedihkan karena tiba-tiba kita sadar: kemarin ke mana saja?

Kita gagal mempelajari Assikalaibineng, misalnya lagi, apalagi memopulerkannya 
agar bisa sejajar dengan Kamasutra.
Tak pernah kita mampu mereproduksi naskah-naskah pengobatan dalam
banyak bahasa lokal kuno untuk dikonversi menjadi sebuah tradisi
pengobatan yang kuat dan mengakar dalam urat nadi kesadaran dan
pengetahuan kita sendiri. Perdagangan gelap naskah-naskah Melayu dari
Pulau Panyengat adalah ilustrasi riil yang --hingga level tertentu--
bisa dibandingkan efeknya dengan berubahnya orientasi maritim ke
daratan bagi sebuah negeri yang dua-pertiga wilayahnya adalah lautan.

Jika Kakawin Negarakertagama atau Bharatayudha atau Sutasoma atau 
Siwaratrikalpa atau Centhini dikenal
oleh bangsa-bangsa lain, ini bukan karena inisiatif bangsa kita, tapi
berkat jerih payah sarjana-sarjana asing, dari mulai Brandes, Krom,
Casparis, Zoetmulder, hingga Inindiak dan banyak lagi nama lain. Sosok
seperti Poerbatjaraka, Slamet Muljana atau Koentara Wiryamartana -yang
mewarisi asketisme dan ketekunan para rakawi dan meneruskan rintisan
para sarjana asing di atas-- makin susah dicari di zaman sekarang.

Mereka
seperti Ibnu Rusyd atau Maimonides bagi peradaban Eropa. Para
cendekiawan Eropa di ujung Abad Pertengahan --berkat Perang Salib yang
mempertemukan dua peradaban-- menyadari bahwa warisan intelektual nenek
moyang mereka justru direproduksi dan dikonversi secara jenial oleh
para sarjana muslim. Dari situlah, dari terjemahan dan kajian
sarjana-sarjana muslim, mereka menggelar arus-balik kebudayaan,
merintis Renaissance, dan memulai era baru kejayaan peradaban Eropa.

Atau,
jangan-jangan, semua warisan kebudayaan dan peradaban lama di Nusantara
memang tak cukup cemerlang untuk direproduksi dan dikonversi dalam
bentuk baru (debat Ibn Rushd dan al-Ghazali tentang metode filsafat
Aristoteles terjadi 2 abad sebelum Sutasoma dan Negarakrtagama
ditulis), sampai-sampai dua Sutan kita (Takdir atau Sjahrir) sangat
sinis pada orang-orang yang mempelajari dan mengagung-agungkan warisan
masa silam sebagai ''praktik mengelap peti tua''.

 Dua Sutan itu
mungkin mengalami dilema seperti yang dialami Minke saat ditangai
gurunya ihwal apa sumbangan bangsanya bagi peradaban manusia. Dengan
tajam dan memukau, seperti menggemakan kembali suara Takdir dan
Sjahrir, Pram melalui mulut Minke menulis: ''Bukan saja aku menggeragap
mendapat pertanyaan dadakan itu, boleh jadi seluruh dewa dalam kotak
wayang ki dalang akan hilang semangat hanya untuk menjawab.'' 

Saya
berani bertaruh Takdir dan Sjahrir akan ikut protes jika mendengar
Trowulan dihancurkan dengan ruda-paksa yang menyedihkan, sebab bukan
itu yang mereka maksudkan dengan ''belajar dan berpaling ke Barat''.
Lebih-lebih, mereka juga sedih, karena saat kita meninggalkan warisan
lama kebudayaan dan peradaban Nusantara (seperti yang sedikit banyak
mereka kampanyekan), saat yang sama kita juga tak tuntas belajar pada
Barat yang mampu secara jenial mereproduksi dan mengkonversi warisan
tua Yunani-Romawi. Pada Barat kita tak becus belajar, pada warisan lama
kebudayaan dan peradaban sendiri kita berlaku serampangan dan asal
comot yang enak-enaknya saja. 

Trowulan yang rusak adalah cermin di mana samar wajah kita yang bopeng terlihat 
lamat-lamat di sana. (*)



      Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari 
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke