Orang Minang Susah Berhenti Merokok

 

PadangKini.com | Selasa, 3/3/2009, 15:04 WIB

 

 

PADANG--Sejak dibuka pertengahan 2008 lalu, poliklinik berhenti merokok
di Rumah Sakit Khusus Jantung, Yayasan Jantung Indonesia Cabang Sumbar
masih sepi pasien.

Menurut data kunjungan di poliklinik tersebut, tercatat baru lima orang
yang mengunjungi tempat rehabilitasi tersebut hingga hari ini.

"Kesadaran akan bahaya rokok pada masyarakat masih kurang meski MUI
sudah mengeluarkan fatwa haram," kata Direktur RS Khusus Jantung,
Yayasan Jantung Indonesia Cabang Sumbar dr Vera Maya Sari pada
PadangKini, Selasa (3/3).

Menurut Vera, faktor penyebab sulitnya berhenti merokok di Sumbar yakni
pengaruh kebiasaan orang Minang yang banyak menghabiskan waktu di
warung.

Menurutnya, hanya penyakit yang akan membuat para perokok kapok dan
menghentikan kebiasaannya.

Meskipun telah dibuka sejak sembilan bulan lalu, Vera mengaku,
poliklinik berhenti merokok hanya dikunjungi pasien penyakit jantung
yang berobat ke RS yang terletak di jalan Khatib Sulaiman, Padang itu.

"Yang berobat di sini hanya pasien penyakit jantung akibat merokok.
Dalam satu bulan, rata-rata jumlah pasien mencapai sekitar 450 orang,"
ujarnya. Rata-rata, para perokok tersebut berhenti merokok saat mengidap
penyakit jantung.

Poliklinik berhenti merokok memberikan layanan konsultasi dan pengobatan
bagi para perokok yang ingin berhenti. Sejumlah terapi dan pengobatan
dilakukan untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Untuk konsultasi berhenti merokok dan biaya pengecekan jantung,
pengunjung dikenai biaya Rp50 ribu. Sedangkan biaya konsultasi ditambah
jasa psikolog selama satu jam, akan dikenai biaya sebesar Rp150 ribu.

Untuk biaya pembelian obat khusus agar berhenti merokok, pengunjung akan
dikenai biaya Rp500 ribu. Poliklinik stop merokok dan obesitas merupakan
layanana khusus satu-satunya yang ada di Sumatera Barat.

Dari data yang dilansir RS Jantung, sejak tahun 1998 persentase perokok
di Sumbar tercatat cukup tinggi, yakni mencapai sekitar 80 persen dari
100 orang.

Hingga sekarang, persentase tersebut terus menurun. Tahun 2009,
persentase merokok tercatat sekitar 30 persen dari 100 orang yang
dijadikan sampel. "Persentase tersebut jauh lebih besar bila
dibandingkan dengan jumlah perokok yang ada di Jawa," katanya. (lian/rd)

 http://padangkini.com/headline.php?sub=berita&id=3614

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke