Dunsanak sa palanta, ambo minta ijin untuak menampilkan kutipan dari artikel
di harian Kompas 27 Februari 2009
**
*Tujuan:
*Dalam rangka ”*babaliak ka nagari, kambali ka surau*” yang dilewakan oleh
masyarakat Minangkabau di Sumbar, maka artikel di  bawah ini bisa menjadi
bahan pertimbangan untuk membuat peraturan-peraturan nagari (*adat nan
diadatkan yang berlaku salingka nagari*). Semacam "peraturan nagari" yang
akan membatasi atau melarang samasekali masuknya produk makanan olahan dari
luar nagari, kecuali bila terjadi force mayeur.

Perna yang dapat melindungi anak nagari dari *ancaman degradasi SDM di
komunitas nagari masing-masing* (cupak salingka batuang, adat salingka
nagari), sekaligus bisa  menghemat anggaran pengeluaran rumah tangga
keluarga.

Mungkin belum semuanya dunsanak kito di kampuang mengetahui permasalahan
semacam ini, maka tidak ada salahnya apabila kito nan bakumpua di palanta
rantaunet ikut mengkomunikasikan langsung ka wali nagari atau BPAN (semacam
DPR nagari) masing-masing.
*GENERASI TELEVISI KITA
*Dominasi penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya
hidup. Salah satunya adalah soal pilihan menu.
Penyakit degeneratif dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita
makan sedari kecil.
Itulah sebabnya jantung koroner dan stroke kini menimpa usia lebih muda.
Oleh HANDRAWAN NADESUL

Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi masih
kecil. Cita rasa dirusak oleh menu restoran dan jajanan (snackaholic) sejak
kanak-kanak. Anak sekarang tak menyukai sayur lodeh, tempe, dan pepes jamur
di meja makan rumah.

Sungguh celaka kini kita melihat jajanan pabrik sudah merambah kampung dan
desa. Di mana-mana anak memilih keripik ketimbang kacang rebus.

Ketika kini di Jepang dan orang Barat menjauhi menu olahan serta mencari
ubi,
labu, bulgur, dan padi-padian alami, masyarakat kita masih gandrung pada
ayam goreng dan kerupuk.
Gorengan kita kebanyakan buruk jenis minyaknya dan kerupuk memakai penyedap
serta zat warna yang belum tentu layak dikonsumsi.
*Generasi Televisi*
Tepat bila menyebut generasi anak sekarang sebagai "generasi televisi".
*Gizi anak dibangun oleh asupan penganan yang ditawarkan iklan televisi*.
Belum tentu semua menyehatkan alih- alih bergizi.
Yang aman dikonsumsi pun masih perlu dikaji kandungan penyedap dan pemanis
buatannya (sweetener).
Tentu tidak semua pemanis buatan aman dikonsumsi. Yang tergolong aman buat
orang dewasa belum tentu aman untuk anak.
Tabiat serba manis, asin, dan berlemak dari menu jajanan adalah sumber
penyakit di hari depan.
Namun, sihir iklan makanan televisi mengecoh cita rasa sehat anak kita.

Zat kimia bertambah
Di Amerika Serikat, zat kimia dalam industri makanan terus bertambah.
Namun, Food and Drugs Agency (FDA), se¬macam Badan Pengawas Obat dan Makanan
(POM), di sana ketat melarang dan mengawasi produk yang membahayakan
kesehatan.
Sementara itu, industri makanan rumahan begitu menjamur di sini sehingga
tidak terjangkau oleh rentang kendali Badan POM sendiri.

Belum terhitung industri makanan yang nakal. Ada yang nekat memakai bahan
berbahaya plastik untuk bikin garing gorengan, mencampurkan kimiawi
berbahaya untuk minuman cincau, odol palsu, bahan perenyah keripik, zat
antilengket mi, selain pengawet yang belum tentu aman dikonsumsi.

Beberapa negara sudah melarang untuk mengonsumsi minyak trans.
Hampir semua ja¬janan, biskuit, penganan yang dijual di pasar memakai minyak
yang tak menyehatkan.
Sama tak menyehatkannya dengan minyak goreng bekas restoran yang ditadah
oleh penjaja gorengan pinggir jalan.
Orang kaya dan rakyat papa kini sama-sama memikul risiko kanker sebab tak
menginsafi bertahun-tahun menelan karsinogen pencetus kanker dalam makanan
sehari-hari.
Saus tomat dan sambal murah industri rumahan di ibu kota negara pun masih
banyak beredar, apalagi di kampung dan desa.
Tiap hari kita menelan zat warna tekstil rhodamine B dalam saus tomat dan
sambal murah, atau warna kuning sirop dan limun methylene yellow, berarti
bibit kanker tengah ditanamkan.

Belum nitrosamine dalam ikan asin, obat nyamuk antibelatung yang disemprot
ke ikan asin, luasnya pemakaian pestisida, kimiawi pengawet kulit apel
impor, dan banyak lagi yang tertelan dari air minum, serta jajanan, tak
semua terbebas dari zat karsi¬nogen (bersifat menyebabkan kanker).

*Ada yang meramalkan, generasi anak sepuluh tahun lalu dan sepuluh tahun di
depan bakal berbondong-bondong masuk rumah sakit kanker jika konsumsi menu
tercemar karsinogen tidak dihentikan. *

Termasuk generasi orang tua yang tergoda menukar menu ikan pindang ke
bistik. Kelebihan konsumsi daging juga berkorelasi dengan kejadian kanker.

Daripada makanan industri rumah, makanan dan penganan pabrik betul lebih
aman, tetapi kelebihan kalori di minyak, gula, susu, dan mentega (junk
food).

Adapun makanan buatan rumahan selain belum tentu cu¬kup bergizi dan tak
higienis, mungkin tak aman dikonsumsi jika kita melihat zat aditif yang
dipilih.
Adalah kewajiban pemerintah menyediakan makanan yang aman bagi masyarakat.
Masya¬rakat berhak dilindungi dari ancaman makanan yang merusak kesehatan.
Ke Meja Makanan Nenek
Sudah saatnya memberi tabu anak dan masyarakat untuk kembali memilih menu
"meja makan nenek".
Selain lebih murah, menu makanan itu juga menyehatkan.

Menu tradisional bersifat me¬nu seimbang (slow food). Bahwa yang menyehatkan
itu bukanlah bistik, melainkan pepes ikan.
Bukan donat atau ayam goreng, melainkan pisang rebus atau ta¬bu dan tempe
bacem. Bukan roti putih, melainkan bekatul dan bulgur. Bukan biskuit,
melainkan talas rebus. Terigu dan gula pasir tak lebih menyehatkan daripada
gandum dan air tebu.

Menu restoran selain bahan¬nya belum tentu segar, umum¬nya kelebihan kalori
dan diim¬buhi kimiawi yang belum tentu aman dan menyehatkan.
Sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sa¬yur lodeh itu
kiprah menu orang yang sadar hidup sehat sekarang ini.

Ketika ubi, ketela, sayur dan buah organik, biji-bi¬jian, kacang-kacangan,
serta umbi-umbian tersedia di super¬market, berarti komoditas itu yang
sedang digandrungi dan dicari orang sekarang.
Ketika aneka lalapan hadir makin beraneka di pasar mo¬dern, bukti orang
gedongan mulai sadar bahwa pilihan sehat bukanlah menu olahan.
Ketika semakin banyak pe¬nyakit sebab tubuh orang se¬karang kekurangan
enzim, maka orang mengejar sayuran dan buah-buahan segar saja.
Orang meninggalkan menu yang bahan bakunya disimpan lama, atau yang diolah
secara berlebihan, atau dengan cara serta alat masak yang berbahaya
kandungan bahan logamnya, dan tingkat pengapiannya.

*Belum terlambat kampanye menu sehat dan makanan aman di sekolah, selain
mendorong peran media massa dan televisi khususnya.
Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. *

Bahwa meja makan ibu yang menentukan hari depan kesehatan keluarga. Jajanan
sehat itu makanan alami yang serba direbus, dikukus, atau disangrai.

Demi tujuan menginvestasi generasi yang sehat, lidah anak perlu disetel
ulang. Jangan sampai lagi kita membangun "generasi kerupuk" dan kelompok
usia produktif yang pada akhirnya nanti sampai (harus) mati prematur oleh
stroke, jantung koroner, dan kanker hanya karena sejak kecil membiarkan
mereka salah memilih menu dan jajanan.

HANDRAWAN NADESUL Dokter, Pengasuh Rubrik Kesehatan, Penulis Buku

Catatan dari pengutip:
Nenek moyang Orang Minang Kabau telah berpesan:
*Pakailah raso jo pareso, jangan diperturutkan kehendak raso sajo !
Raso di bao naiak, pareso di bao turun*.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke