Pak Nof dan para sanak sapalanta,
 
Susah juga kita membantah tulisan dokter Kartono Mohamad ini, karena 
indikasinya memang banyak terdapat di tengah masyarakat kita. Saya rasa 
seluruhnya itu merupakan bagian dari kenyataan bahwa masyarakat kita sedang 
berada dalam masa transisi besar dari masa lampau yang feodalistik dengan masa 
depan yang lebih demokratik. Kita berayun-ayun antara dua ujung ini, 
kadang-kadang tertarik kembali pada kenangan indah masa lampau yang ditata 
secara hirarkik 'atas' 'bawah' dengan masa depan dimana semua -- idealnya -- 
'duduk sama rendah tegak sama tinggi'.
 
Kita orang Minangkabau meyakini demokrasi dan faham 'duduk sama rendah tegak 
sama tinggi.' Namun ada baiknya juga kita sesekali sigi benar-benar 1)   apa 
kita sudah sungguh-sungguh berbuat seperti yang kita yang kita yakini itu ?; 
2)  bagaimana caranya secara jernih membedakan antara demokrasi yang mengenal 
etika, hukum, dan tata tertib dengan anarki dan apa yang pernah dinamakan Bung 
Hatta sebagai 'ultra demokrasi', yang bagaikan memusuhi segala tatanan ?  

 Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak".
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]





________________________________
From: Y. Napilus <[email protected]>
To: RantauNet2 Milis <[email protected]>; WSTB 
<[email protected]>; Milis SMA1Bkt <[email protected]>; MPKAS 
<[email protected]>; Gebu Minang <[email protected]>; 
[email protected]; IPMPP <[email protected]>
Sent: Saturday, March 7, 2009 10:56:14 PM
Subject: [...@ntau-net] Opini: Budaya Papan Nama oleh Kartono Mohamad


Mungkin menarik untuk disimak dan kita renungkan bersama...:) Apakah ini dilema 
atau tantangan positif walau tampaknya tidak mudah....? Bgmn menurut Pak Saaf 
dan dunsanak2 ttg isu ini...? Semoga kedepan kita bisa lebih baik lagi. Mohon 
maaf sblmnya. Wass


Budaya Papan NamaSabtu, 7 Maret 2009 | 03:13 WIB 

Oleh KARTONO MOHAMAD

Penindasan demi penindasan telah membuat orang Indonesia sering kehilangan rasa 
percaya diri. Banyak dari antara kita yang sering merasa tidak yakin apakah 
bisa tampil dengan mengandalkan kemampuan diri tanpa ditopang penguasa.
 
Merit system yang berlaku selalu ditetapkan oleh para penindas, baik penindas 
itu bangsa lain maupun bangsa sendiri. Di sisi lain, para penindas tidak ingin 
ada orang lain yang dapat menyaingi dirinya karena dia sendiri juga merasa 
tidak yakin bahwa ia dapat menjadi pemimpin karena kemampuan pribadinya. Tidak 
boleh ada dua matahari di langit, begitu prinsipnya.
 
Maka, jika ada orang yang tampak cemerlang, bukannya diberi kesempatan untuk 
maju, tetapi malah ditekan. Kreativitas, prestasi, dan kecerdasan bukan tolok 
ukur kenaikan jenjang. Yang jadi ukuran hanya loyalitas dan kesediaan menjilat.
Di Indonesia belum ada pemimpin seperti Shogun Tokugawa Ieyashu yang menyindir 
anak buahnya yang memberinya hadiah burung beo, ”Aku tidak suka burung yang 
hanya bisa meniru suara orang lain dan tidak bisa menyuarakan suaranya sendiri.”


Di Indonesia, budaya yang menghargai penjilatan berlangsung berabad-abad 
sehingga keinginan untuk dekat ke atas dan mengidentifikasikan diri dengan para 
penindas menjadi lebih utama dibandingkan dengan keinginan menunjukkan 
prestasi. Kasta-kasta sosial terbentuk tanpa disadari. Orang dikelompokkan 
dalam kelas- kelas berdasarkan kedekatan dengan penguasa tanpa harus 
berprestasi. Buat apa pintar dan berprestasi jika tidak membawa perbaikan pada 
dirinya. Itulah salah satu dampak feodalisme Indonesia. Sebaliknya, siapa pun 
yang berkuasa akan mempertahankan budaya feodal seperti itu.

Dstrsnya di : 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/07/03131014/budaya.papan.nama
 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke