Assalamu'alaikum Wr. Wb.,

Tabik taragak pulo ambo ruponyo lah lamo mailang.. mudah2an Rang Dapua indak
bosan jo sapo ambo malalui tulisan pendek ko...  walaupun sakali2
mancogok... tapi jan sampai patah salero pulo Rang Dapua jadinyo... :-),
Baitu pulo handaknyo untuak runsanak2 ambo... uni2.. uda2, tarutamo niniak
mamak dan urang tuo2 ambo...

*Indak den sangko sirigo-rigo*
*Pipik dikanduang mamakan padi*
*Indak den sangko ka cando iko*
*Rantaunet maimbau-imbau mamanggia hati...*
(baitu bana rindu mandandam di hati)

Salam taragak dari subarang.

Wassalam,
Ibed/35 tahun, babuyuang duo -6 th jo 4 th- Banda Aceh





*GERAKAN KEBUDAYAAN; BERSAMA DAN SEMUA*

*(Zubaidah Djohar, peminat masalah-masalah sosial-budaya dan politik)*



Wacana kebudayaan bukanlah hal baru. Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk
hidup berbudaya. Misalnya nasehat-nasehat yang sering kita dengar sejak
kecil: *jan tamak, jan suko mancido urang, elok-elok lah laku,
musyawarahlah,* dan lain sebagainya. Disinilah nilai luhur kebudayaan di
negeri kita. Semua itu bukanlah jargon kosong, tetapi memiliki makna dan
menjadi pertanda masih hidupnya nilai-nilai kemanusiaan.



Dalam konteks ini gerakan kebudayaan ini ditulis. Asumsinya adalah untuk
menyelesaikan masalah secara bermartabat. Ia mengedepankan toleransi,
menghargai keberagaman dan melahirkan kedamaian. Ia juga mampu melonggarkan
ego-ego sempit, mempertinggi solidaritas, memperkuat partisipasi dan
membangun kesadaran. Namun, telahkah spirit ini mewujud dalam suasana
pembangunan ranah kita hari ini?



Ternyata wajah buram ranah tak bisa ditutupi. Spirit itu seperti kehilangan
nyawa. Banyak realita tak terbantahkan, di antaranya, korupsi yang telah
membudaya, bahkan semakin menggerogoti dari tahun ke tahun, misalnya,
ditemukannya 103 kasus tindak pidana korupsi per-Desember 2008 oleh LBH
padang, dugaan manipulasi dana APBD Padang Pariaman Tahun 2001-2006 sebesar
Rp 7.773.566.361, kemiskinan yang tak kunjung padam, kerusakan
lingkungan-hutan, serta masih banyaknya ditemukan kasus-kasus gizi buruk dan
minimnya kualitas pelayanan kesehatan.



Realita itu bahkan menemukan puncaknya dalam situasi politiki hari ini,
saling memojokkan dan saling mengembar-gembor keberhasilan, serta lenyapnya
budaya malu dalam menebar janji yang tak ber-visi.



Semua realita ini semakin memperkuat tanya kita, di mana kebudayaan
disematkan? Semua mulai menipis, ruh kebudayaan itu mulai terkikis, bahkan
luntur dengan keegoisan, ketamakan, kezaliman yang berbungkus dalil atas
nama rakyat. Entah rakyat yang mana, entah untuk kesejahteraan siapa, karena
realitasnya tetap tidak bisa dipungkiri.



Lantas, bagaimana semestinya kita merefleksikannya?



Ibarat orang yang sedang membuka kembali lembar buku putih kehidupannya,
tentunya ia ingin membangun kembali kesepakatan hidup yang lebih
bermartabat. Demikian pula hendaknya proses pembangun ranah kita hari ini,
dengan membangun gerakan pikiran dan ketajaman hati. Pikiran yang
mengedepankan khazanah lokal, prinsip-prinsip Islam yang humanis, santun dan
berkeadilan. Ia juga mampu membuka ruang-ruang untuk berbicara, sehingga
cahaya yang redup mulai menampakkan sinarnya, meskipun hanya secercah.
Memulainya dengan pikiran-pikiran yang lepas namun bertanggungjawab,
berdialog dengan hati, berbicara dengan banyak sisi kehidupan dan jenis
manusia.



Langkah lainnya yang patut diperhitungkan dalam gerakan kebudayaan ini
adalah bersih dari kepentingan praktis-individualis, menata ulang peta
perjalanan ranah kita, membangun *networking* antar individu dan kelompok
–dimana semua komponen hadir untuk berembuk memaknai ranah hari ini tanpa
membawa baju kebesaran masing-masing.



Dunia mencatat, bahwa ranah sangat kaya akan suku, bahasa dan budaya. Ini
adalah fitrah yang patut disyukuri. Ragam perbedaan jelas membuka peluang
konflik, karena itulah konflik mesti dikelola. Ia bukan sesuatu yang harus
ditakuti atau dihindari, tetapi sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam
kehidupan: untuk mengasah ketajaman hati melalui gerakan pikiran yang
bertanggungjawab.



Di tengah hiruk pikuk politik kita, di tengah tumpukan uang untuk
pembangunan daerah, disinilah martabat manusia itu diuji, dipertaruhkan dan
diperjuangkan. Adakah hiruk pikuk itu mampu mengetuk hati dan memberi
kehidupan bagi masyarakat? Adakah ragam mata uang itu merata dan tidak hanya
menyejahterakan diri sendiri? Adakah pembangunan itu melibatkan semua
komponen, termasuk perempuan? Inilah semangat kebudayaan itu, ketika hati
dan pikiran terasah, disaat peluang dan keuangan berlimpah ruah.



Ujian itu ada di berbagai lintas, mulai dari lintas rumah tangga,
perkawanan, pekerjaan, pemerintahan, lembaga-lembaga sosial, dan apa saja
yang terkait dengan relasi kehidupan. Karena itu, sepatutnya gerakan
kebudayaan menjadi pendekatan dalam membangun ranah kita hari ini dengan
melepaskan slogan-slogan basa-basi dan penuh kamuflase. *Adat basandi
syara’, Syara’ basandi Kitabullah, *hendaknya tidak hanya menjadi keindahan
dalam catatan saja, tapi semestinya sudah mampu dibumikan dengan ketajaman
pikiran dan hati –salah satunya, melalui percaturan politik hari ini.



Saatnya memulai gerakan kebudayaan itu melalui diri sendiri, dengan
integritas kerja, memiliki rasa malu untuk mencelakai orang, dan pada saat
yang sama, tidak malu untuk memperbaiki kesalahan sendiri. Juga yang tidak
kalah penting adalah penghargaan terhadap manusia tanpa membeda-bedakan
keberadaan dirinya.



Hidup itu indah dengan saling menghargai. Hidup itu bermakna dengan saling
berbagi dan melengkapi. Saatnya keberagaman kita rayakan, saatnya kebudayaan
kita banggakan.  Saatnya pula, pikiran-hati kita fungsikan. (ZDj)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke