Dunsanak di lapau sekalian,
 
Satu dari karakter nan tampak jaleh dari orang2 itu: iduik sederhana. walaupun 
posisinya dari segi politik memungkinkan mereka untuk memperkaya diri, mereka 
tak mau dan tak berniat melakukannya.  
 
Salam,
Suryadi


--- Pada Jum, 13/3/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis:


Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
Topik: [...@ntau-net] SUTAN SJAHRIR
Kepada: "Rantau Net" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 13 Maret, 2009, 5:57 AM







Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
Saya kurang tahu, berapa banyak di antara kita yang benar-benar kenal dengan 
siapa Sjahrir, atau Tan Malaka, Natsir, Hamka, atau tokoh-tokoh Perantau Minang 
lainnya, yang demikian kita banggakan. Namun memang ada kalanya kita perlu 
mendalami karakter orangnya, oleh karena karakter mereka itulah sesungguhnya 
yang menjadikan mereka demikian menonjol dibandingkan dengan rekan-rekan 
sezamannya. [Bukan hanya karena ia salah seorang berdarah Minang].
Dalam rangka mengenal beliau-beliau ini akan besar manfaatnya jika kita membaca 
atau mendengar bagaimana pendapat orang lain,yang mampu melihat kebesaran -- di 
samping kelemahannya -- secara lebih obyektif. 
Sebelum ini kita sudah membaca demikian banyak komentar tentang Tan Malaka, 
yang makamnya kini sudah ditemukan di Desa Seloparang, Kediri, Jawa Timur. 
Sekarang kita bisa membaca komentar beberapa tokoh nasional mengenai Sjahrir, 
dalam rangka memperingati 100 tahun kelahirannya, seperti tertera di bawah ini.
Secara pribadi saya bertanya kepada diri saya sendiri: dimana letak unsur atau 
warisan budaya Minang dalam karakter tokoh-tokoh nasional masa lampau yang 
berdarah Minang ini ? Apakah ketokohan mereka itu disebabkan oleh karena 
(because of) mereka berdarah Minang, yang berarti bisa ditiru atau dikembangkan 
lagi oleh masyarakat Minang, ataukah mereka menjadi tokoh besar karena keunikan 
karakter mereka, walaupun (despite of) mereka berdarah Minang ? 
Apakah kemunculan para tokoh-tokoh tersebut merupakan produk suatu koinsidensi  
kurun sejarah Minang dan kurun  sejarah Indonesia, yang tak akan pernah 
terulang lagi ?
Wallahualambissawab.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak".
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]
 

100 Tahun Sjahrir 
Inspirator untuk Bangsanya

Kompas, Jumat, 13 Maret 2009 | 03:09 WIB 

ST SULARTO
Sudah banyak ulasan dan karya mendalam tentang tokoh Sutan Sjahrir (1909-1966). 
Atributnya beragam, mulai dari kontroversial, jauh dari ingar-bingar di atas 
panggung, dipuja pengagum, hingga dihujat lawan-lawan politiknya.
Dibanding Soekarno dan Mohamad Hatta, ketokohan Sjahrir menyimpan lebih banyak 
tanda tanya, apalagi termasuk salah satu tokoh yang sengaja dilupakan, padahal 
pada era awal persiapan proklamasi kemerdekaan Sjahrir merupakan satu dari 
triumvirat Indonesia di samping Soekarno dan Hatta.
Tanda tanya-tanda tanya itu justru merangsang minat orang untuk menguak harta 
karun seorang beretnis Minang tetapi terbang tinggi melewati batas-batas etnis 
primordialnya. Setelah 100 tahun ”terkubur”, di saat mencari-cari tokoh panutan 
dan apresiasi sosok-sosok terlupakan, muncul di antaranya nama Sutan Sjahrir.
Di antara upaya mengais-ngais warisannya, melesat spontan genealogi cara 
berpikir Sjahrir, di antaranya intelektualitas, kedalaman hati, kebebasan 
batin, dan komitmen pada keluhuran martabat manusia—sifat-sifat adiluhung 
umumnya elite negeri ini di awal-awal kemerdekaan.
Panelis Herry Priyono membuat metafor cara berpikir either-or (salah satu dari 
dua). Ada dua ciri either-or, pertama yang bersifat praktis, lainnya 
eksistensial. Sjahrir menempatkan either-or sebagai cara menghidupi realitas, 
ketegangan antara aksi dan refleksi, individualitas dan sosialitas.
Cara berpikir ”salah satu dari dua” itu diamini penanggap Jakob Oetama. Sosok 
Sjahrir yang tidak hitam putih, tetapi either-or menunjukkan ia seorang pemikir 
yang tidak terbatasi ada di sana dan tidak ada di sini. Sjahrir menghadapi 
dilema yang kemudian dicoba diatasi dengan mendukung sosialisme kerakyatan yang 
intinya negara kesejahteraan. Kesejahteraan untuk seluruh rakyat dengan 
kebebasan yang manusiawi yang dalam pelaksanaannya tidak menutup kemungkinan 
fleksibilitas.
Either-or , mirip istilah berpikir nggiwar (lateral thinking) -nya 
Mangunwijaya, yang jika dikembangkan bisa berpengaruh lebih luas dalam mencari 
jalan keluar membangun kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Sosok Sjahrir 
sebagai pemikir sekaligus politisi merupakan inspirator seumur-umur bagi 
bangsanya, Indonesia.
Kematangan dalam hidup nasional di bidang politik, ekonomi, dan budaya 
tergantung dari seberapa besar kemampuan merangkul dan menghidupi ketegangan 
eksistensial ini tidak sebagai problem, tetapi sebagai jalan hidup berbangsa 
dan bernegara. Dan inilah harta karun warisan terbesar Sjahrir, yakni kita 
tidak terjebak dalam dikotomi kapitalisme atau komunisme, individualitas atau 
kolektovitas, deregulasi atau regulasi.
Ketika kedalaman dan kematangan berpikir Sjahrir ditempatkan dalam kondisi 
Indonesia saat ini, sebulan menjelang Pemilu 2009, terlihat perbedaan mencolok 
dalam cara berdemokrasi di tingkat elite Indonesia. Kata panelis Rocky Gerung, 
ada instalasi politik modern seperti partai, parlemen, pemilu, MA, tetapi 
sesungguhnya yang mengalir dalam instalasi itu adalah politik demagogi. Para 
demagog bekerja keras merebut, memperbesar, dan melanggengkan kekuasaan—persis 
petuah Niccolo Machiavelli abad XVI.
Menurut Sjahrir, analisis politik perlu daya pikir yang kuat sekaligus 
keteguhan hati pada keadilan. Dengan daya pikir itu politik merupakan 
pendidikan demokrasi, bukan perburuan, pembesaran, dan pelanggengan kekuasaan.
Humanis Indonesia
Sjahrir dalam konteks perjuangan sebuah bangsa tidak bisa disejajarkan dengan 
Nehru, kata panelis Budiman Sudjatmiko, tapi mungkin dengan Ali Jinnah dari 
Pakistan atau seagung Mohamad Iqbal. Begitu juga menempatkan Sjahrir hanya 
sebagai pendiri Partai Sosialis Indonesia atau pimpinan partai sosialis, 
atribut itu terlalu kecil bagi Sjahrir.
Dia seorang humanis Indonesia, yang muncul tidak hanya dengan tesis antifasisme 
dan kolonialisme, tetapi membangun nasionalisme Indonesia. Karena itu, dalam 
beberapa hal terjadi persentuhan dan pertemuan cara berpikir Sjahrir dengan 
sosok Tan Malaka—rekan dan pesaingnya di bawah permukaan, tetapi sama-sama 
bernasib dilupakan. Humanisme Sjahrir, konon, tidak semenukik Tan Malaka, 
menonjol dalam cara menyampaikan. Di antaranya Sjahrir menulis, ”...aku cinta 
negeri ini dan orang-orangnya... terutama barangkali karena mereka selalu 
kukenal sebagai penderita, sebagai orang kalah. Jadi biasa saja, simpati kepada 
orang-orang yang ditindas.”
Sebagai sosialis, didefinisikan panelis Fadjroel Rachman, sebagai sosialisme 
berdasarkan kerakyatan (menyitir rumusan Lindsay Rae), Sjahrir menganjurkan 
dicapai tidak dengan kekerasan seperti Tan Malaka, tetapi dengan cara 
demokratis, yakni lewat partai tidak dengan kriteria ukuran jumlah pemilih, 
tetapi dengan perjuangan sosial demokrasi. Gagasan Sjahrir lebih tepat 
dikelompokkan sebagai gagasan filosof, filosof Indonesia, sebagaimana 
dicita-citakan Mohamad Iqbal bahkan Plato yang mengandaikan pemahaman ideal 
demokrasi bagi tumbuhnya kehidupan demokratis suatu negara atau kota (polis).
Diterapkan untuk Indonesia saat ini, dalam kondisi perpolitikan tereduksi 
sebagai perebutan kekuasaan, masih relevankah pemikiran dan cara berpikir 
Sjahrir? Masih, kata panelis Rachman Tolleng, ketokohan sentral Sjahrir 
berdasarkan data sejarah menonjol paling tidak dalam dua tahun pertama republik 
ini.
Bahkan orang-orang Partai Sosialis Indonesia tidak bosan-bosan mengatakan 
seandainya Sjahrir tidak ada, apakah Indonesia bisa merdeka. Sjahrir adalah 
”kekecualian”, sosok serba kontroversial—mungkin wajar setiap manusia 
berprinsip biasanya kontroversial—dan telanjur dimarginalkan republik ini, 
sambung panelis Daniel Dhakidae yang menegaskan jasa Sjahrir dalam membela 
politics of value dengan memunculkan gerakan-gerakan antifasisme dengan alamat 
Jepang.
Peranan diplomasi
Ketersingkiran Sjahrir bersamaan dengan pengelabuan sejarah, menurut istilah 
Daniel Dhakidae, kemerdekaan merupakan hasil perang. Diplomasi adalah 
”kecelakaan sejarah” sehingga sejak 1959—kembalinya ke UUD 1945—ditabalkan 
seruan rediscovery of our revolution, diplomasi adalah ”politik menyerahkan 
diri kepada kepentingan asing”; sesuatu yang kemudian diperkuat oleh 
berkuasanya Orde Baru yang dengan otomatis menempatkan militer sebagai pemilik 
terbesar kenikmatan dan privilese politik yang menentukan kehidupan negeri ini.
Padahal senyatanya diplomasi semacam komplemen, semacam pelengkap yang tidak 
kalah penting dibanding peranan militer. Tesis George MT Kahin membuktikan 
besarnya peran diplomasi itu dalam membangun citra Indonesia. Perlu dimunculkan 
ketokohan orang-orang seperti Sjahrir atau Amir Sjarifuddin—menyebut dua nama 
sebagai sosok-sosok yang sengaja dilupakan.
Di samping diplomasi dan politics of value, masih adakah kemungkinan menawarkan 
alternatif lain untuk negeri ini? Tantangan-tantangan yang dihadapi negeri ini, 
di tengah karut-marutnya perpolitikan dan merosotnya fatsoen politik—menurut 
istilah Budiman Sudjatmiko, ”Indonesia berada di atas panggung yang diretakkan” 
dan ”disorganisasi sosial”, eksistensi pemikiran seharusnya menjadi bahan 
merajut ke-Indonesia seperti awal negeri ini diciptakan.
Dengan peran aktif sepintas Sjahrir sebagai rujukan yang tidak sempat meluas, 
perjalanan Indonesia mau dibawa ke mana? Pilihlah di antara dua kemungkinan, 
kata panelis Rosihan Anwar. Belajarlah dari China dan India! China berhasil 
membangun negeri miskin jadi kaya raya, India sukses membangun sumber daya 
manusia—tentu dengan sisi-sisi negatifnya—merupakan bahan belajar dan tempat 
menengok.
Memungut istilah agama, diperlukan satu pertobatan—dalam arti sekuler sebagai 
kemauan eksistensial untuk memungut sisi-sisi baik-positif dari warisan 
tokoh-tokoh besar semacam Sutan Sjahrir. Selintas bagaimana tokoh-tokoh besar 
sosialis semacam Soedjatmoko mewarnai pergulatan pemikiran humanistik untuk 
negeri ini, tetapi privilese pemegang kuasa yang antifasis dan militeristik 
cenderung ”memuntes”-nya. Perlu dimunculkan buku-buku sejarah yang benar, 
semacam real history dan bukan unreal his story seperti yang diharapkan 
penanggap Rais Abin.
Singkat kata, demikian panelis Sabam Siagian, ketokohan Sjahrir menjadi 
inspirator bagi bangsa ini, yang menawarkan pemahaman politik sebagai nilai 
luhur mewujudkan kesejahteraan rakyat dan bukan berburu kekuasaan. Perjuangan 
kemanusiaan memang tidak semudah caleg mengumpulkan suara terbanyak untuk 
beringsut posisi dari caleg menjadi anggota legislatif! Tobat! Tobat! Tobat!









#yiv615080247 html .fb_share_link {padding:0px 0 0 
20px;margin-top:5px;height:16px;background:url(http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981)
 no-repeat top left;font:normal 11px arial;}
Share on Facebook




      ____________________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke