Engku Jamaludin yth. Tanpa maksud mendahului dari yang diharapkan, saya mencoba menjawab beberapa pertanyaan engku, mudah-mudahan dapat dilengkapi oleh yang lain lebih lanjut. Secara umum ada referensi yang tepat menjawab seluruh pertanyaan engku, yaitu buku "Seluk-Beluk Adat Minangkabau" karya Darwis Thaib Dt. Sidi Bandaro (1965). Saya coba kutipkan sepotong-sepotong sesuai tujuan pertanyaan. 1. Konsep nagari didasarkan pada pituah: nagari bakaampek suku, dalam suku babuah paruik, kampuang nan batuo, rumah batungganai. Pengertiannya pernah saya sampaikan terdahulu. Political legitimacy disebutkan sebagai: nagari bapaga undang, kampuang bapaga cupak. Political legitimacy ini telah dimulai dari pituah terdahulu (kampuang nan batuo), yaitu batagak penghulu yang disaksikan oleh kerabat dan tetangga. Proses pertumbuhan kampung sendiri disebutkan sebagai : taratak manjadi dusun, dusun manjadi koto, koto manjadi nagari. Pakaian nagari disebutkan : balabuah, batapian, babalai, bamusajik, bagalanggang. Hiasan nagari disebutkan : sawah-ladang berpiring berpematang, rumah-gadang berbilik beruang, lumbung-rangkiang tinggi menjulang, emas-perak bertahil bertimbang, beras-padi bercupak bergantang. Untuk political alliance Alam Minangkabau, di masa lampau dikenal sistem perwakilan tiga tingkat : I. Sidang Kerapatan Adat Nagari II. Sidang Kerapatan Lingkungan Luhak III. Sidang Kerapatan Luhak Nan Tiga Lingkung. Pada level ketiga ini pituahnya adalah : pancuang putuih, galangan rabah, indak bapucuak bakucambah lai, kato putuih, rundingan sudah, tak batukuak batambah lai. Di masa lampau perundingan level ketiga ini sering dilaksanakan di Nagari Tanjuang Alam, di Bungo Setangkai (Sungai Tarab), dan di Tanjuang Sungayang Batusangkar. Tanjung Alam masuk lingkungan Tanah Datar, namun letaknya ditengah-tengah Luhak Nan Tigo, yang disebutkan sebagai : ikua dek Luhak Tanah Datar, kapalo dek Luhak Limopuluah, dan rusuak dek Luhak Agam. Sehingga lahir pituah : Tanjung Alam, Bungo Satangkai, pamenan urang tigo luhak. Namun ada satu perundingan yang dilangsungkan di Bukit Marapalam, antara para penghulu dan kaum ulama, dan dinamakan Piagam Bukit Marapalam, yang melahirkan kato-pusako: adat bapaneh, syarak balinduang; syarak mangato, adat mamakai. Sistem perwakilan level ketiga ini telah hapus sejak masuknya Belanda, sehingga ikatan nagari-nagari menjadi putus. Namun sesungguhnya ikatan adatnya tidak putus karena : indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh. Adat Minang dapat bertahan di dalam negeri masing-masing. Sementara demikian dulu engku. Untuk pertanyaan berikutnya saya coba jawab kelak. Wassalam, -datuk endang
--- On Thu, 3/12/09, jamaludin mohyiddin <[email protected]> wrote: Wa' alaikum salam warahmatulLahi wabarokatuh, Angku Arman, Bunya Mas'oed dan dun sanak yang saya kasihi, Idzinkan saya mencelah untuk bertanya. 1. Di mana letaknya political legitimacy atau governing legitimacy Nagari dalam 'persekutuan'/federation atau 'persatuan' politik/political alliance Alam Minang? Dimana sumber (asli) meng-sah-kan kekuasaaan/authority Nagari. 2. Apa bentuk kekuasaan politik yang mengikat kesemua nagari ini? Fahaman saya unit asas pemerintahan beradat di Alam Minang ialah terletak dan bermula di Nagari. 3. Ada kah adat Pepatih di Alam Minang hanya berkuasa dalam hal adat sahaja? Adakah pengertian dan penghayatan adat Perpatih ini merangkumi hal hal dan struktur pentadbiran/political power? Kalau lah pengertian dan penghayatan adat merangkumi soal, hal dan struktur kekuasaan, boleh kah kita sebut ini pemerintahan beradat? Dalam pergertian lain, adat as governing political authority and legitimacy. 4. Dalam skima pemikiran dan cara hidup Minang, di mana letaknya kesahihan beraja di alam Minang? Adakah sistem berraja itu satu asas atau nilai keNaagarian atau keMinangan? Boleh kah kita sebutkan kepemerintahan/governance di wilayah Alam Minang itu satu ke-raja-an? Pertanyaan di atas bertujuan meningkat kefahaman dan pengetahuan kita tentang Alam Minang. Terima kasih. --- On Thu, 3/12/09, Arman Bahar <[email protected]> wrote: From: Arman Bahar <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Sebuah Nama dan Arogansi To: [email protected] Date: Thursday, March 12, 2009, 7:26 AM Assalamualaikum ww Betul da Zul, ada juga yang menyebutnya sebagai pisang timbatu Pisang sikalek - kalek hutan Pisang timbatu nan bagatah Koto Piliang inyo bukan Bodi Caniago inyo antah Tepatnya pantun ini ditujukan kepada Kelarasan atau system pemerintahan adat yang dibangun oleh Dt. Nan Ba-nego2 untuk wilayah Pariangan Padang Panjang, Dt Nan Ba-nego2 ini juga masih adik dari datuk nan berdua Dt. Katumangguangan dan Dt. Parpatiah Nan Sabatang Kalau Dt. Katumangguangan mendirikan Kelarasan Koto Piliang dengan azas “Titiak Dari Langik” atau otoriter dimana semua keputusan yang diambil harus sesuai dengan titah raja dan daerah kekuasaan berpusat di Padang Tarab Dt. Parpatiah Nan Sabatang mendirikan Kelarasan Bodi Caniago dengan azas “Mambusek dari Bumi” yang lebih demokratis karena semua keputusan yang diambil harus berdasarkan suara anak kemenakan dari bawah sebagai rakyat badarai sesuai dengan pipatah adat “Naiak di-janjang turun di-tanggo” dan daerah kekuasaannya berpusat di Limo Kaum Sementara Dt. Nan Ba-Nego2 juga mendirikan Kelarasan yang meng-adopsi kedua prinsip Koto Piliang dan Bodi Caniago dan daerah kekuasaanya di sealiran Batang Bingkaweh Pariangan Padang Panjang, sehingga sulit di-klaim sebagai salah satu dari keduanya hingga disebut sebagaimana pantun diatas Pisang sikalek - kalek hutan Pisang timbatu nan bagatah Koto Piliang inyo bukan Bodi Caniago inyo antah Kapan ini terjadi, tentu semasa hidup datuak nan batigo sekitar tahun 1100an Masehi sementara diperkirakan setelah zaman Adityawarman sekitar tahun 1300an Raja2 Minangkabau mewariskan tahta tidak lagi menurut system Matriachat atau turun kepada kamanakan tetapi Patriachat yang turun kepada anak atau nasab sebagaimana Mojopahit atau kelaziman lain-nya Wasalam Abp-57 --- On Thu, 12/3/09, zul amry piliang <[email protected]> wrote: From: zul amry piliang <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Sebuah Nama dan Arogansi To: [email protected] Date: Thursday, 12 March, 2009, 9:16 AM --- In [email protected], "hambociek" <hamboc...@...> wrote: > > > Indak baSuku! > Lai tasabuik dalam pantun papatah: > [lupo sampiran pantunnyo, tolong isi ko ado nan tahu] > > Koto Piliang inyo bukan, > Bodi Caniago inyo antah ... > Mak Ngah dan sanak Palanta Yth ; Pantun diateh salangkapnyo babunyi : Pisang sikalek - kalek hutan Pisang rajo nan bagatah Koto Piliang inyo bukan Bodi Caniago inyo antah salam : zul amry piliang --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
