Assalamualaikum ww

Alah sobana langkok apo nan lah dicuraikan dek Dt. Endang kito ko dalam
manjawek tanyo sanak kito Mohyidin ko, raso2 indak ado bana ka tukuak
tambahnyo lai doh kecuali mungkin hanya sedikit sakadar panguek sajo

Mamak dan dunsanak yang dirahmati Allah

Satu lagi nan mambuek ambo tertarik adalah seputar tambo, namun ada juga
terpikir dek sayo kapan dan kenapa adanya Tambo Minangkabau ini dan yang
amat menggelitik adalah apapula sangkut pautnya orang Minang ini dengan
Alexander de Great yang orang Macedonia ini

Saya curiga jangan2 ini kerjaan orang2 dari anak benua India yang datang ke
Indonesia sebelum kedatangan orang Barat mencari rempah kenegeri ini karena
kalau tidak salah anak benua India ini dahulu memang pernah diduduki
Iskandar Zulkarnain dan rupanya orang di anak benua ini kagum benar dengan
sang Alexander ini

Pedagang2 Gujarat India ini disamping berdagang juga men-da’wah-kan Islam
kenegeri ini, pedagang2 Gujarat inilah yang ambo curigai sebagai pembawa
berita tentang Iskandar Zulkarnain yang kemudian diadopsi oleh orang2 Minang
kedalam sastra lisan yang kemudian ditulis dan dibukukan sebagaimana kita
kenal sekarang Tambo Minangkabau

Tambo yang kita dapati berbagai versi ini kemudian dibukukan orang yang kita
kenal sekarang sebagai karya sastra klasik bentuk prosa lama yang anonym
yang sebetulnya sama saja dengan yang lain seperti hikayat Malin Deman,
Hikayat Nur Muhammad, Hikayat Hang Tuah dan lain lain

Aneh nya lagi dalam Sastra Sejarah Klasik Melayu juga dijumpai Iskandar
Zulkarnain hampir sama juga dengan Tambo Minangkabau dimana mereka juga
meyakini nenek moyang mereka juga masih zuriat Iskandar Zulkarnain

Kok gitu ya, wallahualambuissawab

wasalam

abp-57


Pada tanggal 15/03/09, Datuk Endang <[email protected]> menulis:
>
>   Engku Jamaluddin yth, saya tertarik dengan kesimpulan awal engku yang
> mengatakan bahwa asas berdemokrasi ala Minang itu hidup dan menghidupkan;
> dan saya sandingkan dengan pituah : singkek bauleh, panjang bakarek, senteng
> babilai, kurang takuak manakuak. Secara khusus komentar dan kesimpulan engku
> perlu pembahasan oleh cerdik pandai, terkait sistem permusyawaratan dan
> tabligh.
>
> Bila diperkenankan saya coba lanjutkan dengan jawaban pertanyaan no. 4,
> yang sebenarnya sedikit bayang-bayang jawabannya telah sampai.
>
> Terdahulu disampaikan pituah : luhak bapanghulu, yang dimaksudkan seluruh
> negeri di tiga luhak menerapkan sistem kelarasan Dt. Perpatih nan Sabatang,
> nan mambusek dari bumi. Kemudian dilanjutkan dengan pituah: rantau barajo,
> yang dimaksudkan negeri-negeri yang menjadi rantau dari Luhak nan Tigo di
> sekeliling Alam Minangkabau menjalankan sistem kelarasan Dt. Katumanggungan.
> Negeri-negeri ini di masa lampau menjunjung tinggi Daulat Tuanku di
> Pagaruyung, sehingga menjalankan ameh manah tiang bubuq, titahnya dijunjung,
> adatnya diturut, lembaganya dituang, dan cupaknya diisi.
>
> Sesudah Aditiawarman berkedudukan di Pagaruyung, maka hubungan dengan
> negeri-negeri di Jambi diikat dengan perjanjian : undang dari Minang, teliti
> dari Jambi, kilek camin di Sungai Dareh. Perjanjian itu diperteguh di masa
> Cindua Mato menjadi raja, yang dilakukannya di Tanjung Simalidu.
>
> Kolaborasi antara Aditiawarman dan Dt. Katumanggungan melahirkan Kerajaan
> Melayu Pagaruyung. Sedangkan sistem kelarasan Dt. Katumanggungan disebutkan
> titiak dari ateh, atau adatnyo ba-rajo-rajo. Namun terdapat keganjilan
> terhadap Kerajaan Pagaruyung, yaitu lokasinya terletak di antara kumpulan
> negeri-negeri yang berdiri sendiri di atas daerah hukum Luhak, walaupun
> wilayah pengaruhnya terdapat di rantau. Hal ini menjadi suatu kenyataan
> bahwa pengaruh Dt. Perpatih dalam lingkungan hukum Tigo Luhak adalah lebih
> besar daripada pengaruh Dt. Katumanggungan. Sedangkan pengaruh Dt.
> Katumanggungan meluas di daerah rantau sampai ke Jambi. Secara khusus
> anomali lokasi ini akan coba saya jelaskan kelak dari sudut pandang
> spatial-culture.
>
> Susunan kemasyarakatan dalam sistem kelarasan Dt. Katumanggungan ini dapat
> dilihat dari pituah :
>
> tiap negeri beraja
>
> tiap rantau berjenang
>
> tiap dusun berpenghulu
>
> tiap rumah bertungganai
>
> Setelah sekian waktu Dt. Katumanggungan merasa bila Pagaruyung harus
> diperkuat.  Untuk itu dengan persetujuan Aditiawarman dibentuklah Basa 4
> Balai (Dewan Menteri) yang diambil dari penghulu terkemuka dari 4 negeri,
> yaitu :
>
> 1. Dt. Bandaharo di negeri Sungai Tarab
>
> 2. Dt. Indomo di negeri Suruaso
>
> 3. Dt. Makhudum di negeri Sumanik
>
> 4. Tuan Gadang di negeri Batipuh.
>
> Oleh Dt. Perpatih pembentukan Basa 4 Balai itu dibiarkan saja, karena dewan
> ini dapat dipakai untuk membatasi wilayah pengaruh Pagaruyung. Sepeninggal
> Aditiawarman, dewan ini ditambah keanggotaannya walaupun tetap bernama Basa
> 4 Balai, yaitu :
>
> 5. Tuan Kadhi di Padang Ganting
>
> 6. Raja Adat di Buo
>
> 7. Raja Ibadat di Sumpu Kudus.
>
> Sepeninggal Aditiawarman dilangsungkan sidang Kerapatan Luhak nan Tiga
> bertempat di Tanjung Alam untuk mengambil kata sepakat, tetapi tidak
> berhasil. Kemudian diulang di Tanjung Sungayang, juga belum berhasil.
> Terakhir dilangsungkan di Tanjung Barulak dan berlangsung cukup lama. Wakil
> yang terbanyak hadir adalah dari Luhak Tanah Datar, dan akhirnya tercapai
> keputusan untuk mengangkat raja dengan kata-sepakat dan dalam
> permusyawaratan. Wakil-wakil dari pendukung kelarasan Dt. Perpatih merasa
> puas, karena dengan mengangkat raja seperti itu berarti : “raja berdaulat
> kepada kata mufakat”, dan setiap gantinya harus menurut perintah adat Bodi
> Caniago :
>
> patah tumbuh hilang baganti
>
> adat pusako baitu pulo
>
> Akan tetapi kemudian pengikut kelarasan Koto Piliang yang telah mundur
> selangkah kemudian menyusun sendiri petitinya :
>
> asa barasa anak puti
>
> sunduik basunduik anak rajo
>
> patah tumbuh hilang baganti
>
> tumbuahnyo disinan juo
>
> Disinilah pangkal permasalahannya keputusan sidang Kerapatan 3 Luhak di
> Tanjung Barulak tidak dimasukkan dalam bab Cupak Usali untuk menjadi pasal
> Undang-undang Alam Minangkabau, karena ‘dalam Barulak barulai pulo’.
>
> Walaupun demikian proses-proses yang telah berlangsung telah menghilangkan
> sanding dari masing-masing kelarasan, yang akhirnya berabad-abad kemudian
> bertaut kembali menyemarakkan adat Minangkabau.
>
> hilang sandiang dek bagisia
>
> hilang biso dek biaso
>
> hilang kasam dek sapo-manyapo.
>
> Demikian sedikit jawaban saya sampaikan, mudah-mudahan dapat
> ditukuak-tambahkan dari nan lain. Puntuang hanyuik api pun padam.
>
> Wassalam,
>
> -datuk endang
>
> --- On *Sat, 3/14/09, jamaludin mohyiddin <[email protected]>* wrote:
>
>    Assalamu alaikum warahmatulLahi wabarokatuh,
>
> Yang mulia Datuk Endang, Dun sanak dan pengunjung RN,
>
> Saya ucapkan terima kasih dengan penjelasan yang di muatkan dengan
> postingan balasan pertama dan kedua ini. Sesungguhnya jawapan Datuk Endang
> jelas dan terang benderang. Saya kagum syarat pertama amalan bermasyarakat
> di Alam Minang itu ialah muafakat. Perletakan amalan dan lembaga muafakat di
> Alam Minang itu sendiri menceritakan kepada kita semua bahwa asas
> berdemokrasi ala Minang itu sebenarnya hidup dan menghidupkan.
>
> Nilai muafakat ini inti dari segala gala nya Minang. Muafakat jua berisi
> atau bernadakan mengizinkan dan menghormati perbedaan pendapat. Muafakat
> (mengambil keputusan muktamat) di Alam Minang mengandungi keimbangan di
> antara unsur unsur keunggulan political pluralism dan political majority as
> political/governance principle. Unsur, nilai dan lembaga muafakat di
> terapkan dari paling bawah, yakni dalam keluarga, sehingga ke yang paling
> tinggi, yakni di Nagari.
>
> Nampaknya, berdasarkan bidalan dan pituah yang di tuliskan oleh Datuk
> Endang, unsur dan nilai muafakat sudah di lembagakan di Alam Minang. Unsur
> dan nilai muafakat ini telah bersemadi dan mendarah daging dan berbudaya
> dari dahulu lagi sebelum penyebaran Islam. Lembaga kemuafakatan ala Minang
> Minang ini, the reason d/etre of Minang communitarian democracy, sudah pasti
> mendapat perhatian di kalangan mubaligh mubaligh di peringkat awal
> penyebaran Islam. Mubaligh mubaligh ini mahfum dengan pengertian syura'
> bainahum.
>
> Sudah pasti para mubaligh dan aktivis Islam ini telah menilai sejauh mana
> nilai dan lembaga muafakat ini memenuhi tuntutan syura' bainahum ini.
> Perbahasan menyusul bagaimana menjambati permasalahan sehubungan syura'
> bainahum dengan nilai dan lembaga muafakat Minang ini. Adakah telah ada
> kesefakatan atau perbedaan pendapat di antara mereka dalam hal mengangani
> hal jalan terbaik pengislaman kaedah/modus operandi atau metode muafakat ala
> Minang ini, saya masih belum pasti. Mungkin telah ada penyelidikan ilmiyyah
> dalam hal ini yang saya sendiri belum menekuni dengan baik.
>
> Konsep, nilai dan lembaga muafakat ini sesungguhnya memerlukan pencernaan
> ilmiyyah nampaknya.
>
> Terima kasih sekali lagi kepada datuk Endang.
>
> --- On *Fri, 3/13/09, Datuk Endang <[email protected]>* wrote:
>
>    Engku Jamaluddin yth, saya coba lanjutkan lagi:
>
> 2. Pasal tentang kekuasaan politik yang mengikat semua negeri (Alam
> Minangkabau) sebagaimana kita ketahui tidak disebutkan dalam bab Cupak
> Usali, dan tidak tertulis di dalam tambo. Hal ini dikarenakan tidak tercapai
> kata sepakat antara Dt. Perpatih nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan tentang
> bentuk Negara Alam Minangkabau.
>
>  Perbedaan pendapat ini sejak datangnya Aditiawarman dari Darmasraya yang
> berkehendak memindahkan ibu negeri Kerajaan Melayu Lama ke wilayah
> Minangkabau. Dt. Katumanggungan menerima pendapat Aditiawarman bila
> kedaulatan berada di tangan raja, sedangkan Dt. Perpatih nan Sabatang
> berpendapat tentang beraja kepada mufakat, sebab kata semufakatlah yang
> berdaulat, dan itulah akan ganti raja. Untuk mencapai mufakat digunakan
> sistem perwakilan, karena pituah beliau : talampau banyak cadiak, rusak
> nagari; talampau banyak tukang, binaso kayu. Dengan demikian Dt. Perpatiah
> tetap berpegang kepada bentuk musyawarah terpimpin yang sudah tumbuh subur
> dari bawah, yaitu di nagari-nagari; karena sudah berurat-tunggang ke bawah,
> maka harus berpucuk bulat sampai ke atas.
>
> Karena pertentangan kedua datuk ini tidak dapat didamaikan maka gagallah
> rencana mempersatukan Alam Minangkabau ke dalam sistem kerajaan. Peristiwa
> ini dibayangkan dalam kata-kata:
>
> datanglah anggang dari lauik
>
> ditembak datuak nan baduo
>
> badie sadatuih duo dantamnyo
>
> Karena kerajaan berpagar adat ini tidak dapat didirikan, maka didirikan
> juga Kerajaan Melayu yang ‘berpagar ruyung’, yang artinya berpagar
> kekerasan, sebab berdirinya dengan kekerasan hati Dt. Katumanggungan sebagai
> putera tertua. ‘Pagar’ artinya ‘tata-aturan’, dan ‘ruyung’ artinya ‘alat
> kekerasan/kekuasaan’. Jadi Kerajaan Pagaruyung artinya ‘Kerajaan Kekuasaan’.
> Demikian riwayat kenapa tidak disebutnya Undang-undang Alam Minangkabau
> dalam bab Cupak Usali sebagai undang-undang ketatanegaraan. Hanya yang telah
> mencapai kata sepakat kedua datuk itu saja yang masuk dalam bab Cupak Usali
> oleh orang tua-tua pada masa dahulu.
>
> Dengan demikian Kerajaan Pagaruyung tidak dapat disebut sebagai Kerajaan
> Minangkabau, karena kato-pusako menyebutkan : berdiri raja, sekata Alam!
> Pengertiannya: raja/kerajaan baru sah berdiri apabila dengan kata-sepakat
> seluruh negeri-negeri di Alam Minangkabau. Konsekuensinya adalah terbagi
> duanya wilayah hukum Adat Minangkabau yaitu :
>
> a. Luhak, sistemnya : kelarasan adat Dt. Perpatih, kemudian tersohor dengan
> nama kelarasan Bodi Caniago,
>
> b. Rantau, sistemnya: kelarasan adat Dt. Katumanggungan, kemudian tersohor
> dengan nama kelarasan Koto-Piliang.
>
> Kato-pepatahnya:
>
> luhak ba-panghulu
>
> rantau ba-rajo
>
> tagak samo indak tasundak
>
> malenggang samo indak tapepeh.
>
> Dalam luhak ba-panghulu dalam barih-balabeh-nya digunakan hirarki political
> alliance-nya sebagaimana diungkapkan terdahulu. Hal ini juga mudah-mudahan
> dapat menjawab pertanyaan no. 3 engku, yaitu adat as governing political
> authority and legitimacy.
>
> Sementara demikian dulu, tukuak tambah dari yang lain. Untuk pertanyaan
> terakhir saya coba jawab kelak.
>
> Wassalam,
>
> -datuk endang
>
> --- On *Fri, 3/13/09, Datuk Endang <[email protected]>* wrote:
>
>    Engku Jamaludin yth.
> Tanpa maksud mendahului dari yang diharapkan, saya mencoba menjawab
> beberapa pertanyaan engku, mudah-mudahan dapat dilengkapi oleh yang lain
> lebih lanjut.
> Secara umum ada referensi yang tepat menjawab seluruh pertanyaan engku,
> yaitu buku "Seluk-Beluk Adat Minangkabau" karya Darwis Thaib Dt. Sidi
> Bandaro (1965). Saya coba kutipkan sepotong-sepotong sesuai tujuan
> pertanyaan.
>
> 1. Konsep nagari didasarkan pada pituah: nagari bakaampek suku, dalam suku
> babuah paruik, kampuang nan batuo, rumah batungganai. Pengertiannya pernah
> saya sampaikan 
> terdahulu<http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/48092>
> .
> Political legitimacy disebutkan sebagai: nagari bapaga undang, kampuang
> bapaga cupak. Political legitimacy ini telah dimulai dari pituah terdahulu
> (kampuang nan batuo), yaitu batagak penghulu yang disaksikan oleh kerabat
> dan tetangga. Proses pertumbuhan kampung sendiri disebutkan sebagai :
> taratak manjadi dusun, dusun manjadi koto, koto manjadi nagari.
> Pakaian nagari disebutkan : balabuah, batapian, babalai, bamusajik,
> bagalanggang.
> Hiasan nagari disebutkan : sawah-ladang berpiring berpematang, rumah-gadang
> berbilik beruang, lumbung-rangkiang tinggi menjulang, emas-perak bertahil
> bertimbang, beras-padi bercupak bergantang.
> Untuk political alliance Alam Minangkabau, di masa lampau dikenal sistem
> perwakilan tiga tingkat :
> I. Sidang Kerapatan Adat Nagari
> II. Sidang Kerapatan Lingkungan Luhak
> III. Sidang Kerapatan Luhak Nan Tiga Lingkung.
> Pada level ketiga ini pituahnya adalah : pancuang putuih, galangan rabah,
> indak bapucuak bakucambah lai, kato putuih, rundingan sudah, tak batukuak
> batambah lai. Di masa lampau perundingan level ketiga ini sering
> dilaksanakan di Nagari Tanjuang Alam, di Bungo Setangkai (Sungai Tarab), dan
> di Tanjuang Sungayang Batusangkar. Tanjung Alam masuk lingkungan Tanah
> Datar, namun letaknya ditengah-tengah Luhak Nan Tigo, yang disebutkan
> sebagai : ikua dek Luhak Tanah Datar, kapalo dek Luhak Limopuluah, dan
> rusuak dek Luhak Agam. Sehingga lahir pituah : Tanjung Alam, Bungo
> Satangkai, pamenan urang tigo luhak.
> Namun ada satu perundingan yang dilangsungkan di Bukit Marapalam, antara
> para penghulu dan kaum ulama, dan dinamakan Piagam Bukit Marapalam, yang
> melahirkan kato-pusako: adat bapaneh, syarak balinduang; syarak mangato,
> adat mamakai.
> Sistem perwakilan level ketiga ini telah hapus sejak masuknya Belanda,
> sehingga ikatan nagari-nagari menjadi putus. Namun sesungguhnya ikatan
> adatnya tidak putus karena : indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.
> Adat Minang dapat bertahan di dalam negeri masing-masing.
>
> Sementara demikian dulu engku. Untuk pertanyaan berikutnya saya coba jawab
> kelak.
>
> Wassalam,
> -datuk endang
>
>
> --- On *Thu, 3/12/09, jamaludin mohyiddin <[email protected]>* wrote:
>
>
>     Wa' alaikum salam warahmatulLahi wabarokatuh,
>
> Angku Arman, Bunya Mas'oed dan dun sanak yang saya kasihi,
>
> Idzinkan saya mencelah untuk bertanya.
>
> 1. Di mana letaknya political legitimacy atau governing legitimacy Nagari
> dalam 'persekutuan'/federation atau 'persatuan' politik/political alliance
> Alam Minang? Dimana sumber (asli) meng-sah-kan kekuasaaan/authority
> Nagari.
>
> 2. Apa bentuk kekuasaan politik yang mengikat kesemua nagari ini? Fahaman
> saya unit asas pemerintahan beradat di Alam Minang ialah terletak dan
> bermula di Nagari.
>
> 3. Ada kah adat Pepatih di Alam Minang hanya berkuasa dalam hal adat
> sahaja? Adakah pengertian dan penghayatan adat Perpatih ini merangkumi hal
> hal dan struktur pentadbiran/political power? Kalau lah pengertian dan
> penghayatan adat merangkumi soal, hal dan struktur kekuasaan, boleh kah kita
> sebut ini pemerintahan beradat? Dalam pergertian lain, adat as governing
> political authority and legitimacy.
>
> 4. Dalam skima pemikiran dan cara hidup Minang, di mana letaknya kesahihan
> beraja di alam Minang? Adakah sistem berraja itu satu asas atau
> nilai keNaagarian atau keMinangan? Boleh kah kita
> sebutkan kepemerintahan/governance  di *wilayah* Alam Minang itu satu
> ke-raja-an?
>
> Pertanyaan di atas bertujuan meningkat kefahaman dan pengetahuan kita
> tentang Alam Minang.
>
> Terima kasih.
>
>
> --- On *Thu, 3/12/09, Arman Bahar <[email protected]>* wrote:
>
>
>
> Assalamualaikum ww
>
>
>
> Betul da Zul, ada juga yang menyebutnya sebagai pisang timbatu
>
>
>
> Pisang sikalek - kalek hutan
> Pisang timbatu nan bagatah
> Koto Piliang inyo bukan
> Bodi Caniago inyo antah
>
>
>
> Tepatnya pantun ini ditujukan kepada Kelarasan atau system pemerintahan
> adat yang dibangun oleh Dt. Nan Ba-nego2 untuk wilayah Pariangan Padang
> Panjang, Dt Nan Ba-nego2 ini juga masih adik dari datuk nan berdua Dt.
> Katumangguangan dan Dt. Parpatiah Nan Sabatang
>
>
>
> Kalau Dt. Katumangguangan mendirikan Kelarasan Koto Piliang dengan azas
> “Titiak Dari Langik” atau otoriter dimana semua keputusan yang diambil harus
> sesuai dengan titah raja dan daerah kekuasaan berpusat di Padang Tarab
>
>
>
> Dt. Parpatiah Nan Sabatang mendirikan Kelarasan Bodi Caniago dengan azas
> “Mambusek dari Bumi”  yang lebih demokratis karena semua keputusan yang
> diambil harus berdasarkan suara anak kemenakan dari bawah sebagai rakyat
> badarai sesuai dengan pipatah adat “Naiak di-janjang turun di-tanggo”  dan
> daerah kekuasaannya berpusat di Limo Kaum
>
>
>
> Sementara Dt. Nan Ba-Nego2 juga mendirikan Kelarasan yang meng-adopsi kedua
> prinsip Koto Piliang dan Bodi Caniago dan daerah kekuasaanya di sealiran
> Batang Bingkaweh Pariangan Padang Panjang, sehingga sulit di-klaim sebagai
> salah satu dari keduanya hingga disebut sebagaimana pantun diatas
>
>
>
> Pisang sikalek - kalek hutan
> Pisang timbatu nan bagatah
> Koto Piliang inyo bukan
> Bodi Caniago inyo antah
>
>
>
> Kapan ini terjadi, tentu semasa hidup datuak nan batigo sekitar tahun
> 1100an Masehi sementara diperkirakan setelah zaman Adityawarman sekitar
> tahun 1300an Raja2 Minangkabau mewariskan tahta tidak lagi menurut system
> Matriachat atau turun kepada kamanakan tetapi Patriachat yang turun kepada
> anak atau nasab sebagaimana Mojopahit atau kelaziman lain-nya
>
>
>
> Wasalam
>
> Abp-57
> --- On *Thu, 12/3/09, zul amry piliang <[email protected]>* wrote:
>
> --- In [email protected], "hambociek" <hamboc...@...>
> wrote:
> >
> >
> > Indak baSuku!
> > Lai tasabuik dalam pantun papatah:
> > [lupo sampiran pantunnyo, tolong isi ko ado nan tahu]
> >
> > Koto Piliang inyo bukan,
> > Bodi Caniago inyo antah ...
> >
>
> Mak Ngah dan sanak Palanta Yth ;
>
> Pantun diateh salangkapnyo babunyi :
>
> Pisang sikalek - kalek hutan
> Pisang rajo nan bagatah
> Koto Piliang inyo bukan
> Bodi Caniago inyo antah
>
>  salam : zul amry piliang
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke