Belajar Dari Bung Hatta

(Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik)
Oleh : Irwan Setiawan

Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah 
memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah 
menjadi begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan 
sifatnya yang begitu merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri 
ini sehingga ai disebut sebagai salah seorang “The Founding Father’s of 
Indonesia”.
Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan 
dibukukan, mulai dari masa kecil, remeja, dewasa dan perjuangan beliau untuk 
mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Namun ada hal yang rasanya perlu sedikit 
digali dan dipahami yaitu melihat Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan 
partai politik, hal ini dikaitkan dengan usaha melihat perkembangan kegiatan 
politik dan ketokohan politik di dunia politik Indonesia sekarang maka pantas 
rasanya kita ikut melihat perjuangan dan perjalanan kegiatan politik Bung Hatta.
Setelah perang dunia I berakhir generasi muda Indonesia yang berprestasi makin 
banyak yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan luar negeri seperti di 
Belanda, Kairo (Mesir). Hal ini diperkuat dengan diberlakukannya politik balas 
budi oleh Belanda. Bung Hatta adalah salah seorang pemuda yang beruntung, 
beliau mendapat kesempatan belajar di Belanda. Kalau kita memperhatikan 
semangat berorganisasi Bung Hatta, sebenarnya telah tumbuh sewaktu beliau 
berada di Indoensia. Beliau pernah menjadi ketua Jong Sematera (1918-1921) dan 
semangat ini makin membara dengan asahan dari kultur pendidikan Belanda / Eropa 
yang bernafas demokrasi dan keterbukaan.
Keinginan dan semangat berorganisasi Bung Hatta makin terlihat sewaktu beliau 
mulai aktif di kelompok Indonesische Vereeniging yang merupakan perkumpulan 
pemuda-pemuda Indonesia yang memikirkan dan berusaha memajukan Indonesia, 
bahkan dalam organisasi ini dinyatakan bahwa tujuan mereka adalah : “ 
kemerdekaan bagi Indonesia “. Dalam organisasi yang keras dan anti penjajahan 
ini Bung Hatta makin “tahan banting” karena banyaknya rintangan dan hambatan 
yang mereka hadapi.
Walau mendapat tekanan, organisasi Indonesische Vereeniging tetap berkembang 
bahkan Januari 1925 organisasi ini dinyatakan sebagai sebuah organisasi politik 
yang kemudian dinamai Perhimpunan Indonesia (PI). Dan dalam organisasi ini Bung 
Hatta bertindak sebagai Pemimpinnya.
Keterlibatan Bung Hatta dalam organisasi dan partai poltik bukan hanya di luar 
negeri tapi sekembalinya dari Belanda beliau juga aktif di PNI (Partai Nasional 
Indonesia) yang didirikan Soekarno tahun 1927. Dalam organisasi PNI, Bung Hatta 
menitik beratkan kegiatannya dibidang pendidikan. Beliau melihat bahwa melalui 
pendidikanlah rakyat akan mampu mencapai kemerdekaan. Karena PNI dinilai 
sebagai partai yang radikal dan membahayakan bagi kedudukan Belanda, maka 
banyak tekanan dan upaya untuk mengurangi pengaruhnya pada rakyat. Hal ini 
dilihat dari propaganda dan profokasi PNI tehadap penduduk untuk mengusakan 
kemerdekaan. Hingga akhirnya Bunga Karno di tangkap dan demi keamanan 
organisasi ini membubarkan diri.
Tak lama setetah PNI (Partai Nasional Indonesia) bubar, berdirilah organisasi 
pengganti yang dinamanakan Partindo (Partai Indonesia). Mereka memiliki sifat 
organisasi yang radikal dan nyata-nyata menentang Belanda. Hal ini tak di 
senangi oleh Bung Hatta. Karena tak sependapat dengan Partindo beliau 
mendirikan PNI Pendidikan (Partai Nasional Indonesia Pendidikan) atau disebut 
juga PNI Baru. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta bulan Agustus 1932, dan 
Bung Hatta diangkat sebagai pemimpi. Organisasi ini memperhatikan “ kemajuan 
pendidikan bagi rakyat Indonesia, menyiapkan dan menganjurkan rakyat dalam 
bidang kebathinan dan mengorganisasikannya sehingga bisa dijadakan suatu aksi 
rakyat dengan landasan demokrasi untuk kemerdekaan “.
Organisasi ini berkembang dengan pesat, bayangkan pada kongres I di Bandung 
1932 anggotanya baru 2000 orang dan setahun kemudian telah memiliki 65 cabang 
di Indonesia. Organisasi ini mendapat pengikut dari penduduk desa yang ingin 
mendapat dan mengenyam pendidikan. Di PNI Pendidikan Bung Hatta bekerjasama 
dengan Syahrir yang merupakan teman akrabnya sejak di Belanda. Hal ini makin 
memajukan organisasi ini di dunia pendidikan Indonesia waktu itu. Kemajuan, 
kegiatan dan aksi dari PNI Pendidikan dilihat Belanda sebagai ancaman baru 
tehadap kedudukan mereka sebagai penjajah di Indonesia dan mereka pun 
mengeluarkan beberapa ketetapan ditahun 1933 diantaranya:
a. Polisi diperintahkan bertindak keras terhadap rapat-rapat PNI Pendidikan..
b. 27 Juni 1933, pegawai negeri dilarang menjadi anggota PNI Pendidikan.
c. 1 Agustus 1933, diadakan pelarangan rapat-rapat PNI Pendidikan di seluruh 
Indonesia.
Akhirnya ditahun 1934 Partai Nasional Indonesia Pendidikan dinyatakan 
Pemerintahan Kolonial Belanda di bubarkan dan dilarang keras bersama beberapa 
organisasi lain yang dianggap membahayakan seperti : Partindo dan PSII. Ide-ide 
PNI Pendidikan yang dituangkan dalam surat kabar ikut di hancurkan dan surat 
kabar yang menerbitkan ikut di bredel. Namun secara keorganisasian, Hatta 
sebagai pemimpin tak mau menyatakan organisasinya telah bubar. Ia tetap aktif 
dan berjuang untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
Soekarno yang aktif di Partindo dibuang ke Flores diikuti dengan pengasingan 
Hatta dan Syahrir. Walau para pemimpin di asingkan namun para pengikut mereka 
tetap konsisten melanjutkan perjuangan partai. PNI Pendidikan tetap memberikan 
kursus-kursus, pelatihan-pelatuhan baik melalui tulisan maupun dengan kunjungan 
kerumah-rumah penduduk.
Dalam sidang masalah PNI Pendidikan M.Hatta, Syahrir, Maskun, Burhanuddin 
,Bondan dan Murwoto dinyatakan bersalah dan dibuang ke Boven Digul (Papua). 
Demi harapan terciptanya ketenangan di daerah jajahan. Walau telah mendapat 
hambatan yang begitu besar namun perjuangan Hatta tak hanya sampai disitu, 
beliau terus berjuang dan salah satu hasil perjuangan Hatta dan para pahlawan 
lain tersebut adalah kemerdekaan yang telah kita raih dan kita rasakan sekarang.
Sebagai tulisan singkat mengenai sejarah ketokohan Muhammad Hatta di organisasi 
dan partai politik yang pernah beliau geluti, kita haruslah dapat mengambil 
pelajaran dari hal ini. Karena sejarah tak berarti apa-apa bila kita tak mampu 
mengambil manfaat dan nilai-nilai positif didalamnya. Dari kehidupan Hatta di 
dunia politik kita bisa melihat bahwa : Munculnya seorang tokoh penting dan 
memiliki jiwa patriot yang tangguh dan memikirkan kehidupan orang banyak serta 
memajukan bangsa dan negara “bukan hanya muncul dalam satu malam” atau bukanlah 
tokoh kambuhan yang muncul begitu saja, dan bukanlah sosok yang mengambil 
kesempatan untuk tampil sebagai pahlawan dan sosok pemerhati masyarakat. Tapi 
tokoh yang dapat kita jadikan contoh dan panutan dalam organisasi, partai, dan 
kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesunguhnya adalah seorang sosok yang 
lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat, ia terlatih untuk mampu memahami 
keinginan dan cita-cita
 masyarakat, serta bertindak dengan menggunakan ilmu dan iman.
Seiring dengan meruaknya wacana demokrasi, terutama di era reformasi kita bisa 
melihat bahwa di Indonesia berkembang berbagai partai baru yang jumlahnya telah 
puluhan. Dalam kenyataanya memunculkan nama-nama baru sebagai tokoh, elit 
partai, elit politik yang berpengaruh di berbagai partai tersebut. Ada juga 
tokoh politik yang merupakan wajah-wajah lama yang konsisten di partainya atau 
beralih membentuk partai baru. Apakah mereka sudah pantas dikatakan sebagai 
tokoh, elite politik / elite partai?. Sebagai salah satu sosok tokoh ideal, 
dengan mencontoh ketokohan Bung Hatta kita harus mampu melihat berapa persen 
diantara tokoh-tokoh, orang-orang penting, elite politik / elite partai di 
Indonesia sekarang yang telah memperhatikan kehidupan masyarakat, berapa persen 
diantara mereka yang sudah melakukan usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat 
Indonesia baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain.
Dalam kenyataannya, kebanyakan kita melihat tokoh politik, elite politik dan 
tokoh-tokoh partai di Indonesia dewasa ini kurang memperhatikan kehidupan dan 
kemajuan masyarakat. Mereka hanya mengambil simpati masyarakat disaat-saat 
mereka membutuhkan suara dan partisipasi penduduk, seperti saat-saat akan 
diadakannnya pemilihan umum (nasional), saat diadakannya pemilihan kepala 
daerah (Pilkada), setelah kegiatan itu berlangsung mereka mulai meninggalkan 
dan melupakan masyarakat. Namun ada beberapa partai dan tokoh yang sering 
terlihat dalam berbagai kegiatan social dan memperhatikan masyarakat.
Apakah kita masih menganggap bahwa seorang penjahat, pemaling (koruptor) yang 
lolos dari sergapan hukum sebagai tokoh panutan kita di organisasi, partai 
politik, pemerintahan, atau kehidupan sehari-hari?. Jadi pantaslah kita belajar 
dari ketokohan Muhammad Hatta dalam kehidupan politiknya yang selalu bertindak 
demi kesejahteraan dan kemajuan rakyat Indonesia.

--- Pada Kam, 19/3/09, Arnoldison <[email protected]> menulis:


Dari: Arnoldison <[email protected]>
Topik: [...@ntau-net] Si Pitung Dari Kota Padang
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 19 Maret, 2009, 2:24 PM



Si Pitung Dari Kota Padang

Kisah  Robin  Hood  di  Inggris  ataupun si Pitung di Batavia ternyata
banyak  juga  terjadi  didearah  lain. Salah satunya adalah orang yang
terkenal dengan sebutan si Rancak dari Kota Padang pada awal abad 19.

Kota  Padang  sejak  abad  18  merupakan  kota  metropolis terbesar di
Sumatera  karena  aktivitas  perekonomiannya  apalagi  sejak dibukanya
tambang   batubara   di   Ombilin  dan  pelabuhan  Teluk  Bayur  serta
perkebunan-perkebunan baru.

Seiring  dengan  kemajuan  perekonomian  angka  kriminalitaspun  turut
bertambah. Perkelahian antar perguruan silat ataupun kelompok kriminal
seringkali  terjadi.  Orang-orang  dari  Pauh  dan  Koto  Tengah  juga
tercatat  paling  sering membuat onar di kota Padang karena rasa benci
yang mendalam terhadap Belanda sebagai penjajah.

Si  Rancak digambarkan sebagai pemuda yang rupawan, mungkin karena itu
pula  ia  disebut  si  Rancak.  Pada  wajahnya  terpancar  sifat keras
hatinya.  Badannya  tinggi semampai, atletis, sigap dan lincah seperti
macan.  Hidungnya sedikit bengkok dengan kumis panjang dan tipis. Yang
paling  menonjol  adalah  sorot  matanya yang tajam dan berapi-api dan
disebut si Mata Setan oleh Belanda.

Si  Rancak  ini  selain ditakuti, ia juga memiliki banyak pengagum dan
pengikut.  Pada  tahun  1880,  ia  merupakan  musuh  nomor satu aparat
kepolisian  kota  Padang.  Usaha  menangkapnya  sering  gagal, mungkin
karena  si Rancak ini lebih mengenal medan atau karena banyak penduduk
kota  Padang  yang  menyembunyikannya  bila  dikerjar  Belanda ataupun
banyak  aparat  kepolisian yang tidak ingin konfrontasi fisik langsung
dengan si Rancak.

Si Rancak adalah seorang penjahat yang mencari nafkah dengan melakukan
perbuatan  melawan  hukum.  Tetapi  ia juga dikenal sebagai orang yang
tidak  senang menindas orang yang lemah. Si Rancak selalu mengandalkan
kemampuan  silatnya,  ia selalu menantang orang-orang yang dianggapnya
mampu bertarung kecuali bila orang tersebut secara sukarela memberinya
uang  sirih atau uang tembakau. Seringkali pula uang yang didapat dari
satu tempat diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Si  Rancak  memiliki  banyak  pengikut,  murid  dan  lebih banyak lagi
pengagumnya.  Bila seseorang ketahuan sebagai mata-mata polisi, adalah
hal  yang beruntung bila rumahnya hanya dibakar oleh kawanan si Rancak
ini.

Dalam  aksinya  tidak selalu si Rancak ini berhasil, tercatat dua kali
ia  pernah  gagal.  Pertama,  di gelanggang kuau (burung aduan), dekat
kota  Padang.  Disana  si Rancak melihat seorang pria berjalan bersama
putrinya  yang  masih kecil dengan membawa bungkusan. Seperti biasa si
Rancak  sedang  tidak  punya  uang  dan ia menyapa hormat pria itu dan
setelah  basa-basi diketahui bahwa pria itu berasal dari Indrapura dan
hendak pergi ke Mekkah. Seperti biasa juga ia menantang pria tersebut,
hasilnya si Rancak terpaksa mengambil langkah seribu dengan mata merah
berair, untung saja ia tidak buta.

Si  Rancak  mungkin  adalah pendekar silat jempolan tetapi silat bukan
satu-satunya  ilmu  beladiri yang berkembang di kota Padang. Pada masa
itu  telah berkembang pula beladiri kuntao yang dipakai orang Cina dan
kebetulan  calon  haji  yang  ditemuinya  ini  adalah ahli kuntao yang
jari-jarinya telah terlatih, keras dan sangat berbahaya.

Kekalahan  si  Rancak  yang  kedua ialah ketika ia sedang meminta uang
tembakau  tetapi  kali  ini yang ditemuinya adalah ahli gulat. Mungkin
karena  cara  bertarung  yang tidak biasa ditemui, si Rancak mengalami
kesialan,  ia  berhasil  dipiting  dan  tidak  dapat  bergerak  hingga
berteriak-teriak minta ampun.

Walaupun  dengan dua catatan kekalahan itu, si Rancak tetap tidak jera
dan   dianggap   jagoan.   Diantara   pengikutnya  ini  terdapat  pula
orang-orang  Belanda  yang lahir dan besar di kota Padang yang bekerja
sebagai   pegawai  rendahan  ataupun  penjaga  toko.  Tugasnya  adalah
mengambil barang-barang milik majikan mereka.

Entah berapa banyak perampokan dan pembakaran yang dilakukan si Rancak
dan   kelompoknya,   pihak   kepolisian   kota   Padang  selalu  gagal
menangkapnya  walaupun  telah  mengetahui  tempat persembunyiannya. Si
Rancak ternyata telah mengembangkan jaringan mata-matanya seperti yang
dilakukan  polisi.  Ketika pengawasan dilakukan makin ketat, si Rancak
melarikan diri ke Jambi dan bergabung dengan kelompok Sultan Taha.

Penangkapan si Rancak
Marah Pense adalah seorang mantri kopi tetapi ia memiliki banyak tugas
seperti polisi, mantri jalan, penyuluh pertanian, pengamat irigasi dan
lain-lain.  Marah  Pense sering mendapat tugas-tugas yang berat karena
oleh  Belanda,  ia  dianggap  tahu  benar  keadaan rakyat. Marah Pense
menjabat sebagai mantri kopi di Panjalinan, sebuah daerah yang rawan.

Kontrolir  Pauh  memberi  Marah Pense dan saudaranya Marah Dayat Sutan
Pangeran untuk menangkap si Rancak, hidup atau mati, sebuah tugas yang
cukup sulit. Setelah mengeluarkan banyak uang untuk membeli informasi,
Marah  Pense mengetahui bahwa Si Rancak tidak pergi ke Jambi tetapi ke
utara dekat Manggopoh. Dengan membawa enam pengawal bersenjata lengkap
mereka  berangkat  ke  Manggopoh,  Marah Pense sendiri membawa senapan
laras ganda.

Didepan sebuah lapau (warung kopi), Marah Pense melihat seorang wanita
dengan   bungkusan   disebelahnya.  Ketika  bungkusan  itu  diperiksa,
didalamnya  ditemukan  sepucuk  pistol  dan  beberapa  senjata  tajam.
Setelah  diinterogasi,  ditemukanlah pemiliknya dan ia mengaku bernama
si Rancak.

Kebiasaan  si Rancak tetap tidak berubah, ia menantang bertarung Angku
Mantari  tetapi belum selesai si Rancak bicara, senapan pengawal Marah
Pense  telah  menyalak  mengenai dada dan tembus kepunggung. Menyadari
keadaan   tidak  menguntungkan  si  Rancak  segera  terjun  ke  sungai
disebelah  lapau,  Marah  Pense  segera  mengejarnya dan terus menerus
memukuli  si Rancak dengan senapannya. Menurut laporan si Rancak terus
melawan  hingga  akhirnya  ia  berhasil  menyelam  dan tiba diseberang
sungai,  akan tetapi tidak lama kemudian ia jatuh pingsan. Berakhirlah
riwayat si Rancak.

Si  Rancak  diikat  erat  dengan  sebuah  tangga  dan  dibawa  kerumah
kontrolir di Lubuk Bagalung tetapi kontrolir menyuruh si Rancak dibawa
ke kota Padang, dengan iringan banyak orang yang ingin ikut melihat si
Rancak.   Sesampainya   mereka   ke   kota   Padang,   kontrolir   dan
asisten-asistenya  menolak  dan  menyuruh  si Rancak dibawa kembali ke
Lubuk Bagalung. Tetapi sekali lagi si Rancak disuruh dibawa kembali ke
kota  Padang, setelah rombongan Marah Pense beristirahat dan si Rancak
dalam  keadaan  terluka  parah  ditaruh  digudang untuk dipertontonkan
kepada masyarakat, mereka berangkat lagi ke kota Padang.

Karena   kabar  penangkapannya  telah  tersiar,  makin  berduyun-duyun
masyarakat  datang  untuk melihat si Rancak. Tentara didatangkan untuk
menjaga keamanan dipenjara Pulau Karam karena beredar isu bahwa rakyat
Pauh  ingin  membebaskannya.  Akhirnya  si Rancak meninggal dunia pada
hari yang sama karena kehabisan terlalu banyak darah.

Si  Rancak  dan  Marah  Pense  adalah  saudara  seperguruan silat yang
menurut  aturan pada waktu itu, sesama saudara seperguruan tidak boleh
saling  serang  dan  baku hantam. Berita yang beredar waktu itu, Marah
Pense kesal karena si Rancak meniduri janda Marah Pense tanpa ijinnya.
Atas  jasanya  menangkap  si  Rancak,  Marah  Pense mendapat hadiah 50
gulden.

Kisah Pengikut si Rancak

Si  Galuang  dan  Baruak  adalah dua pengikut si Rancak yang ditangkap
setelah  si Rancak meninggal dunia. Sebuah ekspedisi yang terdiri dari
satu  pasukan polisi dari Pauh, Penghulu Rajo Dihilir, centeng bernama
si Gagak Rajo Jambak dan beberapa jagoan asal Jawa seperti Kadirun dan
Gundat  juga  dikerahkan  untuk  menangkap mereka berdua di Bandarbuat
ketika  mereka  menginap  dirumah saudara perempuan salah seorang dari
mereka,  didekat  jalan menuju ke Mata Air, perbatasan Wijk VII tetapi
ekspedi ini kembali dengan tangan hampa.

Seorang  kontrolir  Belanda  bernama  H.A Mess yang bertugas di Painan
mendengar  nama si Kabuik, seorang pendekar silat. Ia sering mendengar
kehebatan  para  pendekar  silat di Sumatera, mungkin karena si Kabuik
ini  luar biasa hebatnya maka ia menawarkan pekerjaan sebagai pembantu
polisi.  Si  Kabuik  senang bukan kepalang, karena ia hanyalah seorang
pemancing  ikan  dan  sekarang  mendapat  penghasilan tetap. Si Kabuik
tetap   melanjutkan   pekerjaannya   sebagai  pemancing  ikan  diwaktu
luangnya.

Si  Kabuik  adalah orang yang sopan dan mungkin lebih manusiawi, tidak
seperti  Marah Pense yang senang main keroyokan dan gemar menyiksa. Si
Kabuik  menangkap  Galuang  dan  Baruik seorang diri, dua orang sekali
tangkap. Sebenarnya ia dikawal dua pengawal bersenjata, tetapi sewaktu
tiba  ditempat  persembunyian kedua orang itu, si Kabuik masuk seorang
diri  untuk  menantang  keduanya  berkelahi, setelah keduanya menyerah
kalah,  mereka  dibawa  ke  kota Padang tanpa di borgol, saat memasuki
kota, mereka diborgol untuk sekedar formalitas saja. Menurut berita di
surat kabar waktu itu, keris pusaka yang dipinjamkan oleh regen itupun
tidak sempat keluar dari sarungnya dalam perkelahian itu.

Berikut  adalah nasib dari beberapa anggota kelompok si Rancak, Baruak
akhirnya  dipenjara  untuk waktu yang lama, Mara Otong dibawa ketempat
pembuangan,   Galuang   tewas,   Abang  dieksekusi  mati  dengan  cara
digantung. Beberapa orang tidak pernah tertangkap.

Reference: 
Rusli  Amran, Padang Riwayatmu Dulu, 1988, Cetakan Kedua, Penerbit CV.
Yasaguna.

sumber
http://www.pelaminanminang.com/tahukah/si_pitung_dari_padang.html








      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke