Isu point nomor 2 dari "4 Rancak 5 Lamak Bana". Monggo...
Sabtu, 8 November 2008 | 10:12:13 Nasionalisme Seorang Tour Operator ________________________________ Pada tahun 2004, seorang “pejalan kaki” asal Padang, Sumatera Barat, diundang secara resmi oleh Menteri Pariwisata Malaysia, Dt. Michael Toyad. Semua sudah disediakan, mulai dari transpor, penginapan dan segala yang diperlukan untuk hidup mewah di beberapa kota di negeri jiran itu. Ia dirujuk ke hotel first class, Palace of the Golden Horses Kuala Lumpur. Sekadar tahu, inilah hotel termahal di Malaysia. Kemudian dia plesiran ke tempat-tempat nomor satu di Penang. Dan selama 11 hari di sana, dia hanya bersenang-senang tanpa tahu diundang untuk apa. Hingga suatu hari, sang menteri menemuinya langsung dalam acara makan malam di dalam hotel seraya menyapa, ”Halo Mr. Tulus, bagaimana rasanya berpesiar di Malaysia?” Setelah melewati basa-basi, akhirnya lelaki Minang yang bernama lengkap Ridwan Tulus itu menangkap maksud sang menteri. Mereka ingin mendaftar sebagai salah satu negara anggota International Marching League, satu asosiasi jalan kaki dunia yang beranggotakan 15 juta orang dari 27 negara dan berpusat di Fukuoka, Jepang. Di negara Jepang sendiri, terdapat Japan Walking Association dengan jumlah anggota sekitar dua juta orang. Tulus tergabung sebagai anggota Japan Walking Association berkat kegiatannya merintis West Sumatera Walking Association, satu-satunya organisasi jalan kaki di Indonesia yang sudah diakui oleh International Marching League. “Saya terkejut waktu itu. Cepat sekali respon mereka terhadap tren wisata jalan kaki ini. Menurut cerita Pak Michael, dia tahu tentang walker association dari duta besar mereka di Jepang. Sebelumnya memang ada forum wisata jalan kaki dunia di Jepang, dan saya adalah satu-satunya anggota yang diundang dari Asia Tenggara. Ketika itu, pimpinan International Marching League memegang bahu saya di depan peserta dan undangan lainnya seraya mengatakan bahwa saya adalah semacam koordinator untuk Asia Tenggara. Rupanya hal itu menarik perhatian duta besar Malaysia untuk Jepang yang kebetulan hadir, dan dia langsung memberi laporan pada menteri,” tutur Ridwan Tulus yang juga adalah direktur Sumatera and Beyond, satu perusahaan tour operator paling kreatif di Sumatera. Itulah ikhwal mengapa ia akhirnya diundang Menteri Michael Toyad. Lebih jauh, sang menteri juga mengajak Tulus untuk mengadakan kegiatan jalan kaki dunia di negaranya. Mereka sudah siapkan segala-galanya untuk ribuan peserta dari seluruh dunia dan tentu saja sudah membayangkan keuntungan besar yang masuk dari kegiatan akbar itu. Ridwan Tulus sendiri bisa saja menjadi konsultan yang dibayar sangat mahal waktu itu. Tapi dia kemudian sampai pada satu panggilan lain yang tidak bisa digantikan dengan uang. “Maaf Pak, saya tentu saja mau bekerjasama dengan Bapak, asal acaranya dimulai dulu dari Sumatera Barat,” katanya pada menteri. Sepulang dari sana, ia berupaya merealisasikan mimpinya, yakni menjadikan Sumatera Barat, tanah kelahirannya, sebagai host kegiatan jalan kaki pertama di Asia Tenggara. Tapi apa lacur, di negeri ini ia hanya menemukan menteri yang sepertinya lebih sibuk dengan urusan senyum sana senyum sini. Setali tiga uang dengan gubernur yang memerintah di daerahnya, semua urusan jadi berbelit-belit. Meski Ridwan Tulus sendiri sudah bersedia menanggung setengah dana yang dibutuhkan untuk acara itu, tapi Pemerintah Propinsi Sumatera Barat terus plintat-plintut dengan anggarannya. Dua kali rencana itu mundur, hingga akhirnya batal sama sekali. Rencana pertama adalah tahun 2002. Tapi kegiatan ini harus batal karena peristiwa Bom Bali. Para peserta jalan kaki dari negara lain ragu-ragu untuk datang. Kemudian, ia mencoba lagi kegiatan serupa pada bulan Maret 2006. Untuk urusan itu, Tulus pergi ke Jerman pada awal November 2005 mengikuti sidang International Marching League (IML). Di sana ia meyakinkan semua peserta agar Sumbar disepakati sebagai tuan rumah kegiatan wisata jalan kaki dunia tahun 2006. Lobinya sukses. Tapi kemudian justru mentah di negeri sendiri karena komitmen pemerintah yang sulit dipegang. “Saya sangat malu dengan rekan-rekan asosiasi pejalan kaki, khususnya di Jepang yang sudah mengkonfirmasikan kedatangannya sebanyak dua kali. Entah mau ditaruh di mana lagi mukaku sekarang. Rasanya saya tak punya nyali lagi berkunjung ke Jepang,” keluh Tulus. Menjadi nasionalis di negeri ini memang sulit. Para pejabat yang memimpin upacara bendera di halaman kantor-kantor pemerintahan adalah orang-orang yang paling tidak bisa dipercaya tentang kesetiaan dan kebangsaan. Intelektualitasnya tumpul. Mereka hanya setia pada kekuasaan dan keserakahan. Tetapi tidak untuk urusan rakyat. “Berurusan dengan para pejabat kita selalu melelahkan. Kontras sekali dengan pejabat tinggi Malaysia yang justru datang meminta kesediaan saya untuk bekerjasama, karena mereka tahu kedatangan ribuan turis asing adalah berkah untuk rakyatnya,” papar Tulus dengan nada masgul. ........... Silahkan terusin bacanya di: http://www.insidesumatera.com/?open=view&newsid=423&go=Nasionalisme%20Seorang%20Tour%20Operator --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
