Saya dukung penuh pandangan pak Leonardi ini. Tinggal membuat perencanaan untuk 
melaksanakannya. 
Hanya satu hal yang rasanya perlu disiapkan untuk membuat perencanaan, yaitu 
menghimpun data. 
Sampai sekarang seluruh wacana tentang surau ini hampir tak pernah didukung 
oleh data konkrit.. Ulasan hampir selalu bersifat kualitatif, dan umumnya 
tentang keadaan pada abad yang lalu.
Saya ingin tahu:apa memang tak ada penelitian sosiologis yang didukung oleh 
data statistik masa kini tentang surau sebagai salah satu lembaga sosial 
Minangkabau ?
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
Alternate e-mail address: [email protected];




________________________________
From: Nofiardi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, March 21, 2009 8:44:14 AM
Subject: [...@ntau-net] Tak akan Roboh Surau Kami


Tak akan Roboh Surau Kami   
Jumat, 20 Maret 2009 
Oleh :Leonardy Harmainy, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat 
DUA hari lalu, saya mendapat kehormatan diundang menjadi narasumber seminar 
nasional di Universitas Negeri Padang (UNP). Seminar berlangsung selama dua 
hari (17-18 Maret 2009) mengambil tema ”Menyikapi Kehidupan Beragama di Kampus 
Perguruan Tinggi Umum”. Saya pun selaku Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat 
memberi apresiasi yang tinggi atas undangan tersebut, dengan mengetengahkan 
makalah berjudul; Membangun Karakter Masyarakat Sumatera Barat Melalui Jalur 
Pendidikan Agama. 
  
Pada forum ilmiah itu, saya mengupas keberadaan Surau, yang pada masa lalu 
merupakan lembaga pendidikan nonformal yang tumbuh dan berkembang sangat 
semarak, sehingga mampu melahirkan manusia Minang yang andal dari masa ke masa. 
Surau bagi orang Minang, pernah menjadi institusi yang memberi warna dominan 
terhadap pembentukan karakter dan jati diri mereka. Sementara keberadaan Surau 
yang berdampingan dengan institusi adat, ternyata telah pula memberi warna 
tersendiri bagi lahir dan tumbuhnya tokoh nasional/internasional dari negeri 
ini. 
  
Dengan menyebut beberapa nama yang monumental seperti Hatta, Natsir, Agus 
Salim, Sutan Sjahrir dan lainnya, setidaknya mempertegas bahwa negeri ini 
merupakan negeri yang subur melahirkan tokoh nasional. Dan, itu tak bisa 
dibantah bahwa mereka lahir di alam yang mengakomodasikan secara seimbang 
antara adat dan agama (Islam). Bahkan, kalau mau menyebut nama tokoh Islam asal 
Minangkabau di dunia Islam, maka nama Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi asal 
Nagari Koto Gadang Agam, tak bisa tak disebut. 
  
Ahmad Khatib merupakan Imam Besar di Masjidil Haram Mekkah di penghujung abad 
ke-19, dan dari beliaulah Kyai Haji Hasyim Anshari dan Kyai Haji Ahmad Dahlan 
mendalami agama Islam. Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, kedua 
orang inilah yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Sejarah 
pula yang mencatat, kedua organisasi ini merupakan organisasi keagamaan (Islam) 
paling berpengaruh di Indonesia hingga sekarang. 
  
Lantas, seberapa besar sumbangan surau dalam kehidupan masyarakat Minang saat 
ini? Beberapa dekade terakhir, sastrawan nasional asal Minang AA Navis pernah 
menyindir dengan karya sastranya berjudul Robohnya Surau Kami. Dalam karyanya 
Navis melukiskan bahwa Surau itu betul-betul sudah roboh. Penggambaran robohnya 
surau sebagai institusi pembentuk karakter masyarakat Minang itu, tak bisa 
dilepaskan dari memudarnya atau menghilangnya fungsi surau sebagai lembaga 
full-fledged. Malah dalam pandangan kita, surau sebagai lembaga pembentukan 
karakter dan kepribadian masyarakat nyaris atau telah hilang. 
  
Padahal, bila kita telisik ke belakang, jauh sebelum Indonesia merdeka dan 
berkembangnya pendidikan seperti sekarang ini, kepribadian orang Minang 
terbentuk melalui lembaga pendidikan nonformal di Surau. Dari kecil anak Minang 
tidur dan mendapat pendidikan awal di Surau. Peran Surau bukan sekadar tempat 
melaksanakan ibadah semata (sembahyang dan mengaji), tetapi juga sarana 
pembentukan karakter dan kepribadian orang Minang. 
  
Dengan bekal itulah, karakter orang Minang dimana pun berada terlihat menonjol. 
Mereka tergambar dengan tipikal manusia yang memegang teguh adat-istiadat dan 
keyakinan agama yang kuat, memiliki sifat dinamis, mudah bergaul dan kritis 
terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan. Dan tipikal lain yang sangat 
menonjol, mereka adalah pekerja keras, ulet dan tekun berusaha. 
  
Terjadi Perubahan Besar 
  
Di tengah makin memudarnya peran surau, permasalahan dan tantangan besar yang 
dihadapi orang Minang saat ini juga tak terlepas dari perubahan yang terjadi 
dalam kehidupan yang makin modern, yang gejalanya sudah terasa sejak beberapa 
dekade terakhir. Salah satu permasalahan besar yang dihadapi orang Minang saat 
ini, telah mulai terasa di peralihan tahun 50-an ke tahun 60-an. Jati diri dan 
harga diri orang Minang seperti terkoyak dan tercabik seiring dengan 
pemberontakan PRRI. 
  
Di masa itu, harga diri orang Minang jatuh, sehingga banyak yang merasa malu 
mengakui diri sebagai orang Minang. Malah ada penulis yang menyebutkan, saat 
itu orang Minang tak berani menengadahkan mukanya, karena malu yang tak 
tertanggungkan. Mereka yang sebelumnya punya harga diri yang tinggi, seperti 
sudah kalah. Itulah kondisi objektif yang menghiasi Minangkabau sampai awal 
tahun 70-an. 
  
Di tengah masyarakat Minang yang ‘kalah perang’ itu, sulit memobilisasi rakyat 
untuk membangun sekalipun. Karena untuk hidup saja semangatnya sudah berkurang. 
Sehingga tak banyak prestasi yang bisa diukir negeri ini di era tersebut. 
Ketika Harun Zain mendapat mandat dari pusat untuk menjadi gubernur, barulah 
secara perlahan harga diri orang Minang itu bisa dikembalikan, sehingga 
berbagai prestasi membanggakan sempat diraih hingga periode-periode gubernur 
setelahnya. 
  
Berentetan dengan peristiwa PRRI, dalam kehidupan dunia dan nasional  terjadi 
pula perubahan besar dan mendasar. Modernisasi dan globalisasi telah 
menyebabkan mudahnya infiltrasi dan penetrasi budaya asing masuk ke budaya 
orang Minang. Dalam kondisi budaya diri yang lemah, sangat mudah budaya asing 
masuk, dan itulah yang dialami oleh budaya Minang. Ketika pagar diri masyarakat 
kita lemah, maka yang akan terjadi adalah; jalan dialieh urang lalu. Mereka 
tidak lagi bangga dengan jatidiri dan adat-budayanya, sebaliknya mereka memilih 
akrab dengan yang berbau asing dan barat. Mereka larut dalam pergaulan ala 
barat, dan makin menjauh dari nilai kesopanan. 
  
Jangan Sampai Roboh 
  
Perubahan besar dan mendasar itu ditambah lagi dengan makin surutnya peran 
surau dalam masyarakat Minang, mungkin disebabkan oleh berubahnya pola 
pendidikan dan kehidupan masyarakat. Secara perlahan, peran surau hilang oleh 
sistem pendidikan nasional, dan berubahnya fungsi rumah sebagai keluarga. 
Keterpinggiran surau sebagai lembaga pendidikan agama, juga ditandai dengan 
perkembangan lembaga pendidikan umum dalam masyarakat Minang. Untuk 
mengantisipasi agar jangan sampai keadaan makin memburuk, maka lembaga 
pendidikan umum mulai dari TK sampai perguruan tinggi umum, harus memberi porsi 
yang cukup untuk pendidikan agama di masing-masing tingkat pendidikannya. 
Sekolah umum tersebut diharapkan dapat menggantikan fungsi surau dalam 
memberikan pendidikan agama. 
  
Mungkin secara formal peran surau sudah memudar, tetapi semangat pendidikan 
yang selama ini ada di surau perlu terus ditumbuhkembangkan. Saatnya kita 
kembali kepada pegangan hidup yang mulia, yaitu; adat basandi syarak, syarak 
basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai. (ABS-SBK). Kita sadari pula 
bahwa pendidikan agama yang dilaksanakan sekarang ini belum mampu membentuk 
karakter dan kepribadian orang Minang, karena pendidikan agama yang diberikan, 
termasuk di Perguruan Tinggi umum, lebih mengedepankan pada ilmu, bukan pada 
amalan, sikap mental dan perilaku peserta didik. 
  
Padahal, pribadi yang kuat selain harus dibekali dengan ilmu yang memadai, juga 
harus dilengkapi dengan jati diri dan kepribadian yang kuat pula. Untuk 
mewujudkan manusia yang kuat itulah, lembaga pendidikan tinggi umum harus ikut 
berperan serta. Hal itu harus diwujudkan dengan menjadikan pendidikan agama 
Islam menjadi basis dan kurikulum pendidikan di Sumatera Barat. Sebagai langkah 
awal, Pemerintah bersama DPRD Sumatera Barat telah menetapkan Peraturan Daerah 
(Perda) tentang pendidikan Al-Quran di Sumatera Barat. 
  
Perda itu dilahirkan untuk mengimplementasikan pendidikan agama di 
sekolah-sekolah umum, termasuk di Perguruan Tinggi umum. Saya ingin mengatakan 
sebuah tekad; Tak Akan Roboh Surau Kami. Secara fisik surau bisa saja roboh, 
tetapi semangat pendidikan surau masih bisa dipertahankan, kendatipun harus 
diadopsikan ke lembaga pendidikan formal. Semoga...(***) 
http://www.padangekspres.co.id/content/view/32740/55/
 The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you. 


[email protected]

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke