KEBUN BINATANG BUKITTINGGI DALAM LINTAS SEJARAH
(1900-1949)

oleh: Irwan Setiawan*


A. Pendahuluan

Bukittinggi adalah salah satu kota yang diakui memiliki peran dan
pengaruh dalam perjalanan sejarah Indonesia. Penulisan sejarah kota
ini telah diusahakan oleh berbagai peneliti yang membahas aktifitas
sosial ekonomi, politik. Sebagai bagian daerah darek di Sumatera
Barat, kota ini mulai meliki nilai lebih dan diutamakan sejak Belanda
mulai aktif menekan pihak Paderi dimasa berkecamuknya Perang Paderi
1821-1837. Dan pada tahun 1888, Belanda mengusahakan perluasan kota
ini, yang mencapai 75% dari daerah Kanagarian Kurai Limo Jorong.
Sebuah keunikan yang jarang dikaji dan ditulis seiring dengan
perjalanan sejarah Kota Bukittinggi adalah sejarah objek wisata kebun
binatang Bukittinggi, yang bila dilakukan penelitian lebih lanjut
dapat dilihat bahwa munculnya kebun binatang tertua kedua di Indonesia
itu berkaitan erat dengan sejarah penguasan kota ini oleh Pemerintahan
Kolonial Belanda.
Penguasaan daerah Bukittinggi oleh Belanda diikuti dengan usaha
membuat dan menyediakan berbagai sarana bagi para penguasa Belanda
yang ada di kota ini. Untuk melepas lelah dan bersantai setelah
bekerja, maka Pemerintah Kolonial Belanda membuat sebuah taman, kebun
bunga yang mereka kembangkan hingga menjadi sebuah kebun binatang.
Untuk melihat perkembangan institusi kebun binatang Bukittinggi ini
dilakukanlah penelitian sejarah yang juga memanfaatkan alat bedah dari
teori manajemen. George R. Terry dalam buku “Principles Of Management”
menyatakan bahwa demi keefektifan kerja, dan kemajuan sebuah lembaga
harus memiliki fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning).
Mengandung pengertian sebagai proses kegiatan, usaha, pekerjaan untuk
menentukan tindakan yang akan dilakukan secara berkoordinasi dan
terarah dalam melaksanakan sesuatu[1]. Mereka menentukan garis besar
untuk dapat memulai usaha.
2. Pengorganisasian (Organizing).
Dalam proses pengorganisasian ini diadakanlah penggolongan dengan
tugas sendiri-sendiri. Masing-masing mendapat kekuasaan yang diberikan
kepadanya, dari pihak yang berkedudukan lebih tinggi[2].
3. Penggerakan (Actuating).
Adalah proses untuk menggerakkan seseorang untuk bereaksi (bekerja)
dan untuk melaksanakan suatu kegiatan secara fisik maka diambillah
tindakan yang bersifat: kepemimpinan, perintah, instruksi,
communication (hubung menghubungi), dan nasehat.
4. Pengawasan (Controlling).
Adalah proses untuk mengecek apa yang telah dilakukan, guna memastikan
apakah pekerjaan orang-orangnya berjalan dengan memuaskan dan menuju
kearah yang diharapkan[3].
Jadi dalam melihat perkembangan Kebun Binatang Bukittinggi, disini
peneliti juga ikut melihat perkembangan pola manajeman, sehingga bisa
dilihat bagaimana cara pengelolaan yang baik demi mencapai kemajuan
yang optimal.

B. Berkuasanya Pemerintahan Kolonial Belanda di Bukittinggi.

Bangsa Belanda pertama kali mendarat di Padang tahun 1818. Mereka
berusaha mendapatkan kedudukan di daerah Sumatera Barat dengan jalan
melibatkan diri dalam konflik yang terjadi antara kelompok adat dan
kelompok agama. Bahkan Belanda ikut aktif membantu kelompok adat
menekan kelompok agama dalam Perang Paderi 1821-1837[4].
Belanda melakukan usaha penekanan kelompok agama di sekitar Agam,
Pasaman yang ditindak lanjuti dengan pembuatan perjanjian persahabatan
dengan Penghulu Kurai Lomo Jorong yang berisi: adanya kerjasama dan
usaha bersama kelompok adat (yang diwakili penghulu) dengan Belanda
dalam menekan kelompok agama. Kesepakatan ini dibuat tahun 1820, dan
hasil perjanjian ini ditindak lanjuti dengan pemberian izin oleh
Penghulu Kurai Lomo Jorong pada Belanda untuk mendirikan benteng di
daerah ini dalam tahun 1825/1826. Saat itu Kapten Bauer mendirikan
Benteng Sterreschant yang kemudian lebih dikenal dengan Benteng Fort
De Kock di Bukit Jirek[5]. Benteng inilah yang menjadi cikal bakal
penguasaan dan perluasan kekuasan Belanda di Bukittinggi, Agam dan
Pasaman. Penguasaan Belanda berlanjut ke Bukit Sarang Gagak, Bukit
Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malambung yang
merupakan areal pengembangan Kebun Binatang Bukitinggi[6].
Didaerah-daerah penguasaan Belanda itulah didirikan beberapa kantor,
rumah pemerintah sipil, rumah rapat, kompleks kuburan, pasar, sarana
dan prasarana transportasi, sekolah serta sarana rekreasi[7]. Untuk
memperkuat kedudukan Belanda mereka memanfaatkan pemimpin-pemimpin
tradisional Minangkabau. Untuk daerah Bukittinggi, Agam yang disebut
dengan Staats Gementee Fort De Kock dikepalai oleh seorang Controleur
yang dijabat oleh orang Belanda. Mereka memiliki hubungan yang dekat
dengan masyarakat terutama pemimpin-pemimpin adat di nagari-nagari
Agam, Bukittinggi. Masyarakat menyebutnya dengan “Tuanku
Kumentur” (Tuanku Kumandua), ia sangat ditakuti, berhak mengeluarkan
instruksi-instruksi yang harus dijalankan rakyat, mengeluarkan hukum
bagi pelanggar[8]

B. Kebun Bunga (Strom Park) sampai Kebun Binatang Bukittinggi (Fort De
Kocksche Dieren Park).

Bukit Malambuang adalah salah satu bukit yang terdapat di kawasan
Bukittinggi, dengan posisi yang bersebelahan dengan Bukit Jirek
(Benteng Fort De Kock) dan Bukit Kubangan Kabau (Pasar Atas sekarang).
Berdasarkan Meetderief Nomor 78 Register No 353 tanggal 30 Agustus
1933 Bukit Malambung memiliki luas 33.620 M 2, dengan ketinggian 924 M
diatas permukaan laut dengan iklim pegunungan (sub tropis) bersuhu
18-22 °C. Di puncak bukit ini terdapat dataran yang sering dipakai
anak nagari untuk melakukan pertandingan adu perkutut, manaikkan
layang-layang (melambungkan layang-layang), dan berbagai permainan
lain. Sedangkan dibagian lereng lainnya terdapat area pemakaman
penduduk di sekitar kawasan Bukit Malambuang[9]. Karena panorama bukit
yang begitu indah, maka disore hari anak nagari dan masyarakat
Bukittinggi sering bersantai dan melepas lelah di area puncak bukit
ini. Dari sana mereka dapat menikmati panorama Gunung Merapi, Gunung
Singgalang, Gunung Sago, Gunung Pasaman, dan Ngarai Sianok[10]. Bukit
malambuang juga dijadikan sebagai tempat mengembalakan kambing, sapi
dan domba milik orang-orang keling (keturunan India)[11].
Sejak diberikannya kekuasaan atas tanah di Bukit Jirek oleh Penghulu
Kurai Limo Jorong pada Belanda, apalagi setelah keluarnya Surat
Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda No. 1 Tahun 1888, yang
berisi tentang perluasan penguasaan Belanda di Bukittinggi secara
otomatis mereka telah memiliki hak dalam pengelolaan beberapa bukit di
daerah Bukittinggi. Perluasan kekuasaan Belanda ini diistilahkan
masyarakat dengan “tajua nagari ka Bulando” [12].
Karena ketertarikan atas keindahan panorama di Bukit Malambuang serta
telah adanya kekuatan hukum yang dimiliki Belanda, maka Controleur
Belanda di Bukittinggi yang bernama Gravenzanden melakukan
pengembangan bukit ini dengan menjadikannya kebun bunga “strom park”.
Atas perintahnya semak-semak di Bukit Malambuang dibersihkan,
dilanjutkan dengan pemindahan kuburan masyarakat yang terdapat di area
ini. Setelah itu ditanamlah berbagai jenis pohon, bunga, pembuatan
taman-taman, bangku-bangku sebagai tempat bersantai. Bahkan di tengah-
tengah tanah lapang di puncak bukit dibuatlah sebuah lapangan tenis
yang dinamai Lapangan Tenis Baan[13]. Pekerjaan untuk pembersihan area
bukit, terpaksa memindahkan kuburan masyarakat. Untuk itu diberikanlah
ganti rugi untuk pihak keluarga sebanyak 5-20 gulden[14]. Setelah
dilakukannya perubahan dan perbaikan ini, ternyata kebun bunga lebih
diperuntukkan bagi para penguasa Belanda di Bukittinggi[15]. Karena
area kebun bunga hanya dijadikan sebagai tempat beristirahat, melepas
lelah disore hari maka taman ini tidak memiliki pengelola secara
resmi. Penamaan kebun bunga ini masih akrab dengan masyarakat Sumatera
Barat sampai tahun 1980-an, masyarakat menyebutnya dengan “kabun
bungo” [16].
Karena makin kuatnya determinasi kekuasaan Belanda di Indonesia dan
termasuk di Bukittinggi ternyata ikut memberi pengaruh pada perubahan
dan arah kebijakan pemerintah Belanda terhadap kebun bunga. Hal ini
dapat dilihat dengan diberikannya hak bagi pengembangan taman bunga
pada pihak yang tertarik untuk memperbaikinya. Drh. J. Heck seorang
dokter hewan di kota Bukittinggi, Groeneveld seorang Asisten Resident
Van Agam yang merangkap sebagai Voortter-Gemeente-Raad Fort De Kock,
J.H Schalling merupakan sekretaris Van de Geemente-Raad Fort De Kock,
Edwar Jacoboan seorang hartawan berkebangsaan Belanda. Mereka berusaha
menjadikan kebun bunga (strom park) yang dikembangkan sejak tahun 1900
untuk dijadikan kebun binatang[17].
Sebuah hal menarik yang pernah terjadi di Indonesia adalah dengan
didatangkannya arsitek Belanda ke Indonesia pada tahun 1900-an, mereka
bekerja di kotamadya (gemente) di seluruh Indonesia[18]. Sebagai pola
umum pada kota yang dikembangkan oleh para arsitek Belanda, mereka
berusaha membuat sebuah taman kota dan tempat bersantai di daerah
kotamadya yang dikembangkan[19]. Nampaknya kebijakan dan usaha
permbaharuan oleh para arsitek Belanda ini juga terjadi di Bukittinggi
sehingga pemerintah Hindia Belanda memberi peluang agar kebun bunga
dikembangkan menjadi kebun binatang sekaligus sebuah area taman kota
untuk sarana rekreasi dan bersantai.
Karena berbagai dukungan itu, maka tanggal 3 Juli 1929 kebun bunga
(strom park) dirubah dan dikembangkan menjadi kebun binatang yang
dinamai “Fort De Kocksche Dieren Park” atau Kebun Binatang
Bukittinggi, sejak itulah dibangun kandang-kandang yang bagus (dimasa
itu) dan permanen untuk penempatan hewan-hewan koleksi kebun binatang
[20]. Pada tahap awal pembangunan kebun binatang ini dibuatlah kandang-
kandang binatang koleksi dengan bentuk persegi sebelas. Tiap sudut
ditarik batas ketengah pohon beringin yang merupakan pusatnya. Pada
bulan Juli1929 itu, Kebun Binatang Bukittinggi diisi dengan hewan
koleksi sederhana seperti: burung, kelinci, ayam hutan, dan kuaw.
Karena makin banyaknya jenis koleksi hewan burung yang terdapat di
kebun binatang, maka A.Murad Sutan Batuah, seorang kepercayaan Belanda
di kebun binatang memperbaiki kandang-kandang burung agar lebih baik
dan aman dari gangguan tikus. Kemudian dilanjutkan dengan pembatasan
area Bukit Malambuang dengan kawat berduri sehingga anak nagari yang
biasa bermain disana menjadi terhalang dan tak dapat lagi menggunakan
lokasi ini sebagai tempat bermain[21]. Untuk perkembangan selanjutnya
dibuat pula kandang rusa, kandang kasuari, kandang kambing hutan,
kandang singa, dari terali besi bekas penjara militer Belanda di Lubuk
Basung[22].
Dalam mendatangkan koleksi-koleksi hewan baru pihak pengelola kebun
binatang dibantu pula oleh Groeneveld yang merupakan Asisten Resident
Agam dan merangkap Voorzitter Gemeente-Raad Fort De Kock dapat dengan
mudah mendatangkan satwa-satwa yang di butuhkan dan ditemukan dari
sekitar kawasan Agam dan Bukittinggi[23]. Tentu dapat kita bayangkan
bagaimana keadaan alam dan satwa liar dimasa itu tentu jauh berbeda
dengan keadaan sekarang. Lingkungan yang masih asri, perburuan yang
masih kurang, tentu membuat koleksi kebun binatang dapat dilengkapi
dengan mudah. Dan sebuah budaya orang-orang Belanda dimasa penjajahan
yang mendukung pengembangan kebun binatang adalah kebiasaan berburu
hewan-hewan liar di daerah-daerah perbukitan yang hasil buruannya
diserahkan pada pihak pengelola kebun binatang[24].
Dibidang kepemimpinan dan pengelolaan Kebun Binatang Bukittinggi
ternyata Belanda tidak main-main, ia memilih dan mempercayakan
kepemimpinannya pada A.Murad St. Batuah, seorang pribumi yang dinilai
memiliki profesionalisme dan integritas yang tinggi bagi pengembangan
kebun binatang tersebut. Ia dipercaya dari tahun 1929-1932. Sebagai
pemimpin pertama kebun binatang ia dinilai cukup berhasil. Setiap
kegiatan dan usahanya dilaporkan pada Drh,J. Heck, Groeneveld, J.H.
Schalling, Edwar Jacoboan yang bertindak sebagai tim pengontrol dan
penilai keberhasilan institusi ini.
Setelah periode kepemimpinan A. Murad St.Batuah, beliau digantikan
oleh Van Ommen dari tahun 1932-1933. Dimasa kepemimpinannya beliau
berhasil meningkatkan jumlah koleksi kebun binatang karena adanya
tenaga ahli dan ketersidiaan dana[25]. Setelah periode kepemimpinan
Van Ommen ia digantikan oleh Opstal yang merupakan seorang bekas
tentara Belanda (eks KNIL) . Dimasa kepemimpinannya dari tahun 1933
ternyata kebun binatang ini mengalami masa gemilang dengan mampu
melengkapi jumlah koleksi kebun binatang. Kebun Binatang Bukittinggi
mampu mensuplai 150 ekor binatang koleksi khas Sumatera ke Kebun
Binatang Surabaya yang telah berdiri sejak tahun 1916 dan untuk
kompensasinya Kebun Binatang Surabaya mengirim koleksi binatang khas
Indonesia timur ke Bukittinggi [26]. Tahun 1934 pimpinan kebun
binatang digantikan oleh Smith, 1935 dipimpin oleh Nutzman, Schap
tahun 1936, dan Drh. Bernecker merupakan dokter hewan dari Belanda
yang bertugas di Bukittinggi yang memimpin dari tahun 1936-1937[27].
Dalam periode 1931-1935 dilakukan pembangunan kandang-kandang baru
yang diisi dengan harimau, beruang hitam, macan tutul, orang hutan,
ular, anoa, buaya, dan banteng liar. Dari segi pengunjung diperiode
ini hanyalah untuk orang Belanda[28]. Tempat ini hanya diperuntukkkan
bagi para penguasa Belanda yang ingin bersantai.
Masa kepemimpinan Nutzman tahun 1935, munculah ide untuk melakukan
penambahan sarana di Kebun Binatang Bukittinggi (Fort de Kocksche
Dieren Park) yaitu usaha pembangunan rumah gadang baanjung di area
kebun bintang. Untuk peletakan batu pertamanya dilakukan tanggal 1
Juli 1935. Rumah Gadang Baanjuang ini berukuran 36,5 x 10 M2 dengan 7
gonjong. Rumah gadang ini bertipe gajah maharam yang merupakan jenis
rumah koto piliang yang memiliki anjungan di bagian kiri dan kanan.
Untuk melengkapi dengan arsitektur standar minang, maka tahun
1955/1956 dilengkapi dengan pembangunan rangkiang sibayau-bayau,
sitinjau lauik, dan ditambah dengan dibangunnya rumah tabuah. Sebagai
fungsi utamanya rumah gadang ini dijadikan sebagai museum yang
mengoleksi barang-barang sejarah dan barang budaya[29].
Rumah gadang ini di kerjakan oleh tukang-tukang dari Panyalaian Padang
Panjang, Lasi IV Angkek Candung. Kayu sebagai bahan utama didatangkan
dari daerah sekita Bukittinggi, atap menggunakan ijuk yang dibawa dari
Batusangkar dan Solok. Setiap ukiran memiliki nilai filosofi dan
estetika Minangkabau[30]. Untuk melengkapi prasarana maka dibangun
pula sebuah restoran oleh pengusaha Cina di area kebun binatang ini
pada tanggal 1 September 1935[31].
Tahun 1937-1938 tidak diketahui siapa pemimpin kebun binatang, barulah
tahun 1938 kebun binatang ini dipimpin oleh Drh. Bernecker sampai
tahun 1945. Beliau memimpin kembali kebun binatang ini untuk yang
kedua kalinya. Dimasa kepemimpinan nya yaitu tahun 1941 datanglah
pemimpin Kebun Binatang Surabaya Scoemacher ke Bukittinggi dan ia
berkujung ke Kebun Binatang Bukittinggi. Setelah melihat keadaan Kebun
Binatang Bukittinggi, Scoemacher memuji Kebun Binatang Bukittinggi
“inilah kebun binatang yang terbaik dan terindah di Hindia kita”. Hal
ini merupakan sebuah penghargaan yang diberikan atas kelengkapan
koleksi, kebersihan dan keindahan Kebun Binatang Bukittinggi yang
waktu itu telah memiliki 155 macam koleksi satwa[32]. Kebersihan kebun
binatang dilengkapi dengan adanya air bersih untuk minum dan mandi
satwa yang dipelihara sehingga menghasilkan banyak keturunan. Dari
segi kedudukan organisasi kebun binatang ini yang disebut dengan
Dieren Park / Dieren Tuin Fort De Kocksche (Kebun Binatang
Bukittinggi). Organisasi ini memiliki status sebagai bagian dari
pemerintahan Staad Gemeente Fort De Kock yang memiliki 21 orang pegawai
[33]. Sehingga dari segi kedudukan dan perhatian pemerintah tentunya
akan lebih optimal.
Tahun 1941 pengelolaan kebun binatang Bukittinggi yang telah ditata
oleh Belanda, memiliki struktur organisaasi tersendiri yang telah
membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing bagiannya.
Direktur : Drh.MF.Berbecker
(merangkap kepala dinas pasar dan rumah potong Fort De Kock)Struktur
Organisasi Kebun Binatang Bukittinggi tahun 1941.


Mandor: Thahar Sutan Mudo
Kepala Bagian Rumah Gadang: Nawi Sutan Bagindo
Bendahara: Makmur Datuiak Palindih
Kepala Bagian Bangunan: Datuak Magek
Penjual karcis: Apan Sutan Sari Pado
Pekerja Biasa : 15 Orang














Sumber: Edison, Skripsi, Taman Bundo Kanduang 1980-1993
Karena makin banyaknya masyarakat yang tertarik untuk mengunjungi
kebun binatang maka mulailah dilakukan pengembangan dengan memberi
kesempatan bagi masyarakat umum untuk bisa masuk dan melihat koleksi
kebun binatang. Pada tahun 1941 diberlakukanlah karcis masuk bagi
pengujung. Karcis untuk dewasa 10 sen, untuk anak-anak 5 sen ( sebagai
perbandingan harga nasi bungkus waktu itu adalah 2,5 sen). Sedangkan
untuk anggaran dana pemerintah Hindia Belanda untuk kebun binatang
adalah 800 gulden (sebagai perbadingan harga emas waktu itu adalah, 1
emas 1,6 gulden) dan dana didukung sepenuhnya oleh Assistant Residen
Agam waktu itu yaitu Burgemeester Nydam dan sekretaris walikota Fort
De Kock Grvutes[34]. Karena mahalnya harga karcis masuk pada waktu
itu, maka yang mengunjungi kebun binatang hanyalah dari kelompok orang-
orang menengah ke atas sedangkan bagi masyarakat biasa, umumnya hanya
mengunjungi kebun binatang sekali dalam setahun yaitu saat hari raya
Idul Fitri dan sebagian ada yang berkunjung saat sanak saudara pulang
dari rantau dan ingin bertamasya di Bukittinggi[35].

C. Kebun Binatang Bukittinggi dimasa Pendudukan Jepang dan Diawal
Kemerdekaan.

Tahun 1942 Jepang telah berkuasa di Indonesia, termasuk di Kota
Bukittinggi. Daerah ini diberi nama “Bukittingggi Shi Yasuko”, yang
dari segi daerah kekuasaanya lebih luas dari masa pemerintahan
Kolonial Belanda. Dengan mencakup daerah Kurai Limo Jorong, Ngarai
Sianok, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba, Bukit Batabuah, dan
beberapa daerah yang masuk dalam daerah Agam sekarang[36]. Keadaan ini
bertahan sampai tahun 1945. Dimasa kekuasaan Jepang, Bukittinggi
dijadikan sebagai tempat kedudukan Komandemen Militer se Sumatera
dengan komandonya yang bergelar Saiko Sikikankakka dibawah Jendral
Kabaya Shi[37].
Diawal kedatangan Jepang ke Kota Bukittinggi, tepatnya 21 Maret 1942
dengan semboyan “Asia Untuk Asia” mulai mendapat simpati sebagaian
masyarakat. Namun seiring dengan penguasannya di Indonesia yang telah
melakukan berbagai kekerasan, mulailah muncul pergolakan dan usaha
penentangan terhadap kekuasaan Jepang, termasuk di Bukittinggi.
Perlawanan terhadap Jepang di Kota Bukittinggi yang terkenal dilakukan
oleh Syamsuddin dan Abbas Rahman[38].
Terjadinya kekacauan politik di Kota Bukittinggi, berdampak buruk
terhadap pengelolaan kebun binatang. Jepang sama sekali tidak
memperhatikan keadaan kebun binatang, malahan mereka merusak saluran
air untuk kebun binatang dan mengalihkannya untuk keperluan tentara
Jepang. Banyak satwa-satwa penghuni kebun binatang yang ditembaki dan
di bayonet. Sekeliling kebun binatang dibuat lobang-lobang untuk
pertahanan tentara jepang di Bukittinggi[39]. Terowongan atau lobang-
lobang yang dibuat Jepang di sekitar area kebun binatang terhubung
dengan Lobang Jepang yang dibuat dengan kerja paksa dan penderitaan
bagi pekerjanya yang berasal dari orang-orang Sumatera Barat[40].
Pembuatan Lobang Jepang yang dilakukan di Bukittinggi adalah usaha
mengembangkan kota bawah tanah dan sebagai tempat pertahanan Jepang.
Titik-titik penyebaran lobang kota bawah tanah ini menyebar di sekitar
kota Bukittinggi[41].
Sebagai pengaruh dari minimnya perhatian terhadap kebun binatang
banyaklah satwa-satwa peliharaan yang mati, dibunuh, dan tak terawat,
sehingga banyak kandang-kandang yang satwa yang kosong[42].
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, Jepang kalah dalam perang
menghadapi sekutu yang berakibat pada lemahnya kekuatan Jepang di
Indonesia. Hal ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pemimpin-pemimpin
Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Pada tanggal 17
Agustus 1945 berkumandanglah proklamasi Indonesia yang menjadi tonggak
sejarah lahirnya Indonesia merdeka.
Pasca kemerdekaan Indonesia, politik tidak serta merta mengalami
perubahan kearah kestabilan. Indonesia sebagai sebuah negara baru
sibuk berbenah dan mempersiapkan badan-badan yang diperlukan untuk
sebuah Negara merdeka. Selain itu keadaan masyarakat sat itu sangat
memperihatinkan, mereka hidup menderita, tertindas, kelaparan dan
nyaris tanpa pakaian[43].
Keadaan kebun binatang sangat menghawatirkan, tanpa pengelola. Demi
menjaga dan menyelematkan Kebun Binatang Bukittinggi maka ketua Komite
Nasional Indonesia kota Bukittinggi yaitu: M.Z. Dt. Maharajo menunjuk
A. Murad St. Batuah sebagai pimpinan kebun binatang[44]. Karena
keadaan yang belum aman, maka dimasa kepemimpinan A. Murad St. Batuah
setelah kemerdekaan ini tidak banyak perubahan yang dapat beliau
perbuat. Masa jabatan beliau dimulai tahun 1945-1949.
Melihat perubahan situasi politik di Indonesia sejak kedatangan Jepang
tahun 1942 sampai periode awal kemerdekaan tahun 1949 dapat
disimpulkan bahwa keadaan politik, ekonomi, sosial yang tidak stabil
menyebabkan pengelolan kebun binatang mengalami masalah besar bahkan
nyaris ditutup karena ketiadaan pengelola.

D. Penutup.

Kebun Binatang Bukittinggi yang sekarang bernama Taman Margasatwa dan
Budaya Kinantan telah melewati masa-masa panjang. Institusi ini ikut
mengiringi sejarah kota Bukittinggi. Keadaan politik, ekonomi, sosial
yang stabil menyebabkan pengelolan kebun binatang dapat berkembang
dengan baik, begitu juga sebaliknya, saat keadaan politik, ekonomi,
sosial bermasalah maka pengelolan kebun binatang pun ikut mengalami
fase penurunan.
Setelah mempelajari sejarah Kebun Binatang Bukittinggi ini, maka demi
kemajuan institusi ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:
1. Kebun binatang seharusnya dikelola oleh orang-orang yang paham
dengan binatang itu sendiri. Bahkan sedapat mungkin mereke memiliki
latar belakang pendidikan dokter hewan. Dan untuk kelancaran
institusi, pekerja yang dipilih adalah mereka yang memiliki loyalitas
yang tinggi terhadap pekerjaanya dan mereka bekerja dengan nilai-nilai
profesionalisme.
2. Pemerintah seharusnya menyediakan dana yang diperlukan oleh
pengelola kebun binatang, hal ini mendukung pengembangan Kebun
Binatang Bukittinggi kedepannya. Sehingga tidak ditemukan kesulitan-
kesulitan dalam pengembangan institusi dari segi pendanaan.
3. Kebun binatang diberikan posisi dan kedudukan yang setara dengan
dinas lainnya sehingga mendapat perhatian yang sama dari pemerintah.
4. Dalam menetapkan tarif karcis masuk kebun binatang pemerintah dan
pengelola juga harus mampu melihat keadaan masyarakat, sehingga
masyarakat tidak kecewa dengan pembiayaan yang memberatkan. Hal ini
akan berdampak pada jumlah pengunjung, dan uang masuk dari Kebun
Binatang Bukittinggi.
5. Pengelola harus mampu memberikan rasa nyaman, tenang, aman bagi
pengunjung. Hal ini bisa terwujud dengan pengamanan yang baik dan
penyediaaan sarana-sarana yang dibutuhkan di area kebun bintang.


Daftar Pustaka

Amir B, 2000, “Sejarah Sumatera Barat. Fakultas Ilmu Sosial”, UNP,
Padang,

Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S, Reno
Oktaviani,2004 “Dinamika Pemerintah Lokal Kota Bukittinggi”, Kerjasama
Pemerintah Kota Bukittinggi Lembaga Pengembangan Masyarakat, Institut
Ilmu Pengetahuan LPM-IIP, Bukittinggi.

Bappeda dan Badan Statistik Kota Bukittinggi, Bukittinggi dalam Angka
2002, Bukittinggi : Kerjasama Dinas Bappeda dan Badan Pusat Statistik.
.
Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minagkabau, 1978, Sejarah perjuangan
Kemerdekaan Republik Indonesia di Minangkabau 1945-1950, Jakarta :
BPSIM.

Boestamam Iskandar, “Kesan dan Pengalaman Dikaitkan Sejarah Taman
Bundo KanduangKodya Bukittinggi, Bukittinggi: Dinas Taman Bundo
Kanduang, 1993.

Edison, “Taman Bundo KanduangBukittinggi 1980-1993”. Skripsi, Padang:
Jurusan sejarah, Universitas Andalas, 1994.

Hardinoto, Paulus H Sohargo, ”Pengembangan Kota dan Arsitektur
Kolonial Belanda di Malang”. Malang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Pada Masyarakat.

J. Pangklaykim dan Hazil Tanzil, Manajemen Suatru Pengatar, Jakarta.
Ghalia Indonesia, 1982.

Marjani Martamin, “Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949”. Padang :
Proyek investasi dan dokumentasi kebudayaan daerah. Pusat penelitian
sejarah, Dep P dan K, 1979/1980.

Syafni Arita, ”Bukittinggi Kota Wisata Suatu Kajian Historis
1984-2000”. Skripsi, Padang: Jurusan Sejarah Universitas Negeri
Padang, 2001.

Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005.

Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005

Zul Asri, 2001, “Bukittinggi 1945-1980, Perkembangan Kota Secara Fisik
dan Hubungannya dengan Kepemilikan Tanah”, Tesis, Program Pasca
Sarjana Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Sastra Universitas
Indonesia, Depok.


.
.

BIODATA PENULIS


NAMA : IRWAN SETIAWAN. S.Pd.
TEMPAT / : PAKAN SINAYAN / 16 AGUSTUS 1981.
TGL LAHIR
*. Staf pengajar program studi pendidikan sejarah STKIP PGRI Sum-Bar.
Tulisan dibuat berdasarkan skripsi penulis tentang Kebun Binatang
Bukittinggi. Ditulis ulang untuk Jurnal Ilmiah “Suluah” BKNST Padang.

[1] J. Pangklaykim dan Hazil Tanzil, Manajemen Suatru Pengatar,
Jakarta. Ghalia Indonesia, 1982. hal 39-40.
[2] Loc cit., hal 39-40
[3] Loc cit., hal 39-40
[4] Amir B, 2000, “Sejarah Sumatera Barat. Fakultas Ilmu Sosial”, UNP,
Padang, hal 68-69.
[5] Amir B, op cit., hal 69.
[6] Zul Asri, 2001, “Bukittinggi 1945-1980, Perkembangan Kota Secara
Fisik dan Hubungannya dengan Kepemilikan Tanah”, Tesis, Program Pasca
Sarjana Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Sastra Universitas
Indonesia, Depok, hal 23.
[7] Zul Asri, op cit, hal 45-46.
[8] Marjani Martamin, “Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949”.
Padang : Proyek investasi dan dokumentasi kebudayaan daerah. Pusat
penelitian sejarah, Dep P dan K, 1979/1980, hal 11-22.
[9] Boestamam Iskandar, “Kesan dan Pengalaman Dikaitkan Sejarah Taman
Bundo KanduangKodya Bukittinggi, Bukittinggi: Dinas Taman Bundo
Kanduang, 1993, hal 3.
[10] Ibid., hal 4.
[11] Edison, “Taman Bundo KanduangBukittinggi 1980-1993”. Skripsi,
Padang: Jurusan sejarah, Universitas Andalas, 1994, hal 11.
[12] Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S,
Reno Oktaviani,2004 “Dinamika Pemerintah Lokal Kota Bukittinggi”,
Kerjasama Pemerintah Kota Bukittinggi Lembaga Pengembangan Masyarakat,
Institut Ilmu Pengetahuan LPM-IIP, Bukittinggi, hal 33.
[13] Boestamam Iskandar,op cit, hal. 5.
[14] Edison, op cit. hal 12.
[15] Syafni Arita, ”Bukittinggi Kota Wisata Suatu Kajian Historis
1984-2000”. Skripsi, Padang: Jurusan Sejarah Universitas Negeri
Padang, 2001. hal 5.
[16] Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005.
[17] Boestamam Iskandar,op cit, hal 4-5
[18] Hardinoto, Paulus H Sohargo, ”Pengembangan Kota dan Arsitektur
Kolonial Belanda di Malang”. Malang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Pada Masyarakat, hal 151.
[19] Ibid., hal 194.
[20] Boestamam Iskandar,op cit, hal 5.
[21] Edison, op cit. hal 13.
[22] Boestamam Iskandar,loc cit,
[23] Boestamam Iskandar,loc cit,
[24] Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S,
Reno Oktaviani, op cit., hal 124.
[25] Edison, op cit. hal 14.
[26] Boestamam Iskandar,op cit, hal 38.
[27] Boestamam Iskandar,loc cit
[28] Edison, loc cit.
[29] Boestamam Iskandar,op cit, hal 6.
[30] Boestamam Iskandar,op cit, hal 6
[31] Boestamam Iskandar,loc cit
[32] Edison, op cit. hal 14-15
[33] Edison, loc cit.
[34] Edison, loc cit.
[35] Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005
[36] Bappeda dan Badan Statistik Kota Bukittinggi, Bukittinggi dalam
Angka 2002, Bukittinggi : Kerjasama Dinas Bappeda dan Badan Pusat
Statistik, Hal.xxxvi.
[37] Bappeda dan Badan Statistik Kota Bukittinggi, loc cit.
[38] Amir B, op cit., hal 95-111.
[39] Boestamam Iskandar,op cit, hal 39
[40] Wawancara dengan Soedirman, Bukittinggi: Tanggal 5 januari 2005
[41] Azizah Etek, Syahril Tanjung, Yosmardin, Mursyid A.M, Nazief E.S,
Reno Oktaviani, op cit., hal 138-139.
[42] Edison, op cit. hal 16.
[43] Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minagkabau, 1978, Sejarah
perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Minangkabau 1945-1950,
Jakarta : BPSIM., hal 121.
[44] Boestamam Iskandar,op cit, hal 39


sALAm
http://irwansetiawan81.blogspot.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke