Assalamualaikum, Wr. WB
Ini pengalaman pribadi dengan dokter yang tidak komunikatif . Semoga bermanfaat 
bagi sanak yang pernah mengalami seperti saya.
TRAUMA DENGAN DOKTER 

Suatu ketika saya mengalami gangguan
telinga yang menyebabkan sakit kepala sebelah yang sangat luar biasa. Karena
gangguan telinga, maka datanglah saya ke dokter spesialis THT. Sungguh mata
saya serasa merebak, ketika saya menyampaikan keluhan itu, sang dokter berkata
dengan sangat ketus. 

“Semestinya ibu tidak memeriksakan penyakit ibu kepada
saya, tetapi ke dokter syaraf...!!!. Nah lho...??. Saya menjawab ; kenapa
dok..??? Bukankan saya ini sakit telinga..??. Sang dokter dengan nada ogah
tanpa ingin menjelaskan, berkata : ya.. ibu ke dokter syaraf saja. Bahasanya
dingin dan kaku.

Sepuluh tahun yang lalu, saya menjalani oprasi lutut dan berhadapan dengan
dokter spesialis ortopedi. Kalimat apa dilontarkan ke saya ketika saya sangat
putus asa ingin sebuah kesembuhan dari sebuah penyakit yang saya kira adalah
hanya sekedar rematik. Saya memiliih seorang Professor ahli bedah yang sangat
terkenal, yang saya anggap dapat memenuhi ketenangan bathin saya untuk sebuah
kesembuhan. Tanpa basa basi ia berkata: 

“ Besok ibu periksa darah, jantung, paru-paru. Setelah
itu lusa, kaki ibu kita bongkar... 

“ Haah.. Maksudnya .. dok..??? kata saya dengan kecut.  

“Apa tidak bisa dengan cara lain... ???

“ Bagaimana
Ibu.. ini. Katanya ibu sudah menderita selama 6 tahun dan sudah dibawa ke rumah
sakit besar. Apa hasilnya...??? Lagi-lagi jawab sang dokter sangat sangat
ketus.  

Air mata saya menetes ketika itu.
Dengan nada lemah saya meng- iyakan sang dokter.  

 

Saya keluar ruangan dokter dan
menangis sesunggukkan. Ya .. Allah.. apa salah saya .. bagaimana selanjutnya
nasib saya. ALhamdulillah ada suami yang membesarkan hati saya dan kami 
berencana mencari second opinion. 
Saya membayar tagihan dokter dan saya kabur
pulang dengan membawa medical recordnya yang semestinya saya kembalikan ke
petugas di klinik itu (RS SETIA
MITRA  JAKARTA).  



Akhir cerita,  saya kembali bersedia
dioperasi - yang diistilahkan oleh dokter spesialis Ortopedi “ bongkar lutut - 
dengan dokter yang
berbeda. Ketika
dokter yang saya temui ini - secara lembut, membujuk saya untuk dioperasi.
Beliau adalah seorang professor - ahli rheumatologi yang bernama Professor Remi 
Siregar dari Yayasan Rhumatologi Indonesia.  

“ Ibu….? Kita operasi lututnya ya…?? Kita bersihkan
virusnya. Kemudia kita pasang pen untuk sementara dan setelah itu Ibu akan
sembuh..?, Lembus sekali beliau membujuk saya. Tanpa rasa ketakutan saya ikuti
satannya untuk dilakukan operasi.
 

Tahukah Anda, ketika saya berupaya mengetahui jenis
penyakit apa – tidak satupun dokter yang mau berkomunikasi secara tuntas apa
jenis penyakit kita. Apalagi untuk seorang dokter di RSCM yang mungkin
berpraktek untuk menyusun kasus-kasus belaka, karena mereka adalah
dokter-dokter residen dan bukan konsulen. Sementara itu kita tidak pula
berhadapan langsung dengan para dokterdokter  konsulen kala itu.  

 

Sekarang, mungkinkah kita akan
menemui para dokter- dokter yang mau berkomunikasi
 yang menampilkan citra dirinya
sebagai pelayan pasien dan masyarakat dan mengabdikan dirinya seumur hidup bagi
kesembuhan seorang pasien..?? , ketika biaya pendidikan dokter sudah tidak
terjangkau lagi oleh sebagian orang tua untuk mebiayai anaknya untuk menjadi
dokter. 


Biaya pendidikan non reguler/jalur khusus di Universitas Indonesia 350 juta.
bahkan bagi yang mengikuti program internasional 1 milyar..... ceckkk...
ceck... saya hanya geleng-geleng kepala. Adakah rakyat yang mampu membiayai
anaknya ketika ia memiliki anak yang cerdas dan bercita-cita menjadi seorang
dokter...dengan biaya sebesar itu. 

Peristiwa itu saya jadikan pelajaran bahwa jarang ada dokter yang santun dalam
mengobati pasien ?? ditengah masyarakat yang semakin materialistis. 
Apakah pola
dokter-dokter ini akan berubah dari seorang yang dituntut pengabdiannya menjadi
seorang dokter yang mengejar target berdasarkan pola produksi agar biaya
pendidikannya dapat kembali cepat dan singkat. 

Bagaimana pada akhirnya masyarakat mempercayai penyembuhan alternatif ?? Karena
ternyata sikap yang diberikan oleh paranormal itu adalah ketenangan bathin,
kelembutan. Seandainya para normal bersikap tidak komunikatif , maka 
Masyarakatpun
akan menjauhi dunia paranormal. 



Wassalam, 

   



  3vy Nizhamul 

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com
  

   
 
 


--- On Mon, 3/23/09, rahyussalim <[email protected]> wrote:

From: rahyussalim <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: DOKTER Indonesia Tak Komunikatif, Apa kata Mantan  
Ketua IDI.
To: [email protected]
Date: Monday, March 23, 2009, 12:58 AM




 
 






Satuju sacaro prinsip pak Yansen… 

Indak adoh nan salah… Di Divisi Orthopaedi FKUI/RSCM kami
biaso maadoan CPC (Clinico Pathological Conference). Barangkali di rs lain pun
adoh. 

Di CPC ko lah di parambuk an kasus2, tarutamo kasus nan secara
kedokteran berado di daerah abu2. Di CPC nan mambahas kasus sulit dari berbagai
bidang kedokteran radiologi, patologi anatomi, dan ahli lainnya kalua diagnosis
basamo dan terapi basamo. 

   

rahyussalim 

   

   





From:
[email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Sri
Yansen

Sent: Monday, March 23, 2009 10:49 AM

To: [email protected]

Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: DOKTER Indonesia Tak Komunikatif, Apa
kata Mantan Ketua IDI. 





   





maota masalah  mutu dotor..ambo punyo pengalaman buruak
jo dotor nan tarlalu over analisanyo..kajadiannyo di rumah sakik nan cukuik
tanamo di daerah Bintaro jo dotor anak nan punyo title Prof.(Maaf sabalunyo
bukan mukasuik untuak mendiskreditkan institusi/profesi) karano sampai kini
ambo sekeluarga masih barubek dirumah sakik ko...... 










 






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke