Assallamualaikum
ambo taruih an tulisan add. Muhammad Taufik Tgk.Rajo Mangkuto
penulis adalah alumni Madrasah Tarbiyah Canduang dan S2 Sosiologi
UGM,
salam,
Datuak Arifz, 37+,bpn
=========

REPUBLIK BALIHO:OBRAL MIMPI

oleh Muhammad Taufik Tuangku Rajo Mangkuto

Dunia tidak diubah oleh orang-orang yang menciptakan peristiwa-
peristiwa besar seperti revolusi dan reformasi, namun dunia diubah
oleh mereka yang menciptakan niali-nilai baru secara diam-diam
(Fredreich Neizche)

Pertarungan para caleg semakin seru saja. Sejumlah partai atau
kandidat mencoba keluar dari kepengapan dan endapan ide-ide yang telah
disusun secara sistemik dan apik sebelum kampanye digelar. Banyak
gelagat yang muncul sebagai pertanda akan atau telah dimulai genderang
pertarungan dalam penguasaan (penjajahan?) opini masyarakat. Banyak
uang yang akan atau telah dihamburkan sebagai bagian dari suatu
kemestian dari setiap pesta dan karnaval pemilu. Telah banyak stretegi
jujur (hipokrisi?) disusun yang nantinya akan menusuk dan
mengkerangkeng kepala rakyat untuk memilih apa kemauan kandidat.
Gemuruh kesemuanya akan memecah keheningan dan kedamaian masyarakat
yang masih dikhusukkan dengan keterjepitan hidup. Mereka diajak
(dipaksa?) untuk ikut bagian dari setiap peristiwan dan karnaval yang
kadang-kadang menyuguhkan dagelan-dagelan dan arak-arakan politik.
Mata mereka dipusingkan dengan kepadatan visual-visual, gambar,
baliho, umbul-umbul, iklan, bendera baik di media, di dinding toko
atau di sepanjang jalan bahkan sampai merusak lingkungan (batang
kayu). Mereka digiring dalam batas-batas kewarasannya untuk memilih
dan mengikuti irama pertarungan yang warna-warni. Barangkali tidak
salah, mengutip Baudrillard, masyarakat dipenjara dalam bentuk
keheningan dan kediaman (silent majority). Mereka acapkali diposisikan
sebagai bagian dari sasaran tanpa sepantasnya mereka merespon secara
sadar dan kritis atas apa yang mereka mamah dari ide-ide yang kadang
kala tidak mereka mengerti.
Masyarakat disuguhkan dengan berbagaimacam jargon, istilah, idiom,
makna, penafsiran, terminologi dan kemestian yang senyatanya tidak ada
adalam kamus keseharian mereka. Kecenderungan ke arah itu mulai
menampakan tubuhnya. Betapa kontradiksinya, nantinya, dalam level
kebahasaan (kampanye) membawa dampak yang menyedihkan pada sudut
pandang pengetahuan masyarakat. Mereka terbenam dalam gelegar kata-
kata, celotehan para kandidat. Tak ayal lagi mereka tetap berada pada
posisi diam. Dengan permaianan bahasa (languange game) dan sedikit
dibumbuhi dengan tanda-tanda, partai atau para kandidat selalu
memproduksi, mereproduksi gagasan, program dan segala tetek bengeknya
sehingga gaya-gaya terus berputar secara kaleidoskopis dan terus
diteriakan dengan lantang. Partai dan kandidat tidak hanya mencoba
mengoraganisir pikiranya tapi memobilisasi massa diam dalam
kampanyenya. Mereka tidak hanya memberikan pendidikan, tetapi juga
pembodohan. Mereka tidak hanya menampilkan ‘kebenaran’ tetapi juga
penipuan di sana-sini. Mereka tidak hanya membacakan ‘program-program’
tetapi juga menyampaikan khayalan-khayalan. Mereka tidak hanya
menyuarakan kepentingan bersama, tetapi juga kepentingan dirinya.
Mereka tidak hanya ‘menyadarkan’ masyarakat tetapi juga membutakannya.
Mereka tidak hanya bermain dengan kata-kata, tetapi juga
memanipulasinya. Mereka tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi
juga mendistorsinya. Dan inilah ketidakwarasan
Dalam parktiknya, kandidat dan partai yang mengusung justru mencela
dan membenci kandidat lain dan menggantungakan secara berlebihan
harapan, mimpi dan imaji untuk masa yang akan datang. Mereka
memanfaatkan momen untuk menubuhkan dalam benak masyarakat sebuah
citra dan image betapa tidak jelasnya seseorang atau orde sekarang.
bagi incumbent/orang lama dengan gembira dan percaya diri, yang kadang
berlebihan, merinci segala prestasi dan pencapaian sebagai bagian
pembumian karakter diri. Kedua bentuk kandidat tersebut meringsut
untuk mengubur masyarakat dalam mimpi-mimpi yang tidak waras perihal
orde masa depan. Banyak kosa kata yang keluar sebagai bagian dari
pengukuhan citra ini. Kosa kata yang dipopuler, salah satunya, adalah
‘membangun masyarakat yang lebih baik dan sejahtera, membangun bersama
masyarakat, konsisten membangun aqidah, bangkit untuk perubahan,
konsisten memperbaiki kesejahteraan guru, generasi baru dengan harapan
baru, pengentasan kemiskinan, pintar memilih dan memilih yang pintar,
bersama kita kuat, saiyo sakato membangun nagari, terbukti membawa
perubahan dan entah apalagi’. Kata-kata tersebut diluncurkan dengan
mulus melalui uraian-uraian indah dan syahdu serta mencampakan
penderitaan yang sedang dialami, kepedihan hidup yang dirasakan,
kerisauan dan kegagalauan tentang kondisi sekarang, kelaparan, busung
lapar dan banyak lagi. Dengan kata-kata yang manis bahwa kandidat
tertentu dengan santun (sombong?) akan segera menuntaskan agenda yang
masih terbengkalai/tidak tercapai. Dengan citra yang disuguhkan
masyarakat tidak hanya berfikir dan memahami masyarakat masa depan,
tetapi juga seolah-olah dipaksa “membentuk” realitas masa depan sesuai
dengan mimpi-mimpi para kandidat. Mereka dibanjiri citra, makna,
simbol, sosok dan jargon akhirnya mereka jatuh dalam medan simbolik
karena penguasaan citra oleh parati atau kandidat. Manipulasi bahasa
terjadi dimana-mana, kedistorsian ide berserakan dimana-mana,
pemerkosaan citra terpampang, penyimpang tafsiran, makna dan ungkapan
terjadi dimana-mana disetiap sudut kota demi penaklukan pikiran-
pikaran masyarakat (silent majority). Tidak disangkal lagi partai dan
para kandidat bergaya seolah-olah mereka adalah rezim kebenaran
penafsiran atas realitas, masalah dan sebagainya. Dan inilah kegilaan
Wacana normaliasasi juga akan senantiasa muncul dari setiap kandidat/
caleg yang bermasalah hari ini. Sehingga dengan normalisasi kandidat
yang bermasalah, kelompok atau masyarakat tertentu yang dinggap
potensial dalam menggoyang stabilitas kandidat tidak lagi mendapatkan
tempat sebagai subyek politik. Mereka dikelompokkan dalam sudut ruang
masa mengambang yang dinggap kurang kompeten untuk terlibat aktif
dalam politik. Jargon ‘mereka masih tertinggal, rakyat menderit, bodoh
dan sebagainya’ adalah bagian yang juga ikut meremaikan arakan-arakan
ini. Disinilah, dengan mengikuti iramanya, tepat apa yang dilantunkan
oleh Yasraf. Dalam kampanye akan lahir mesin bahasa (languge machine)
yang menjadikan bahasa sebagai satu cara penipuan. Lahir mesin simbol
(symbolic machine) yang digunkan untuk memanipulasi tanda-tanda, lahir
mesin informasi (information machine), yang digunakan untuk
melencengkan atau mendistorsikan informasi. Lahir mesin citra (image
machine) yang digunakan untuk menciptakan dunia yang serba semu. Dan
inilah ketidakwajaran
Hasrat untuk membakukan suatu jargon merupakan bagian dari manipulasi
bahasa kampanye, sebuah strategi untuk membumikan kultur suatu partai.
Dibalik itu akan muncullah pemahaman biner dalam memadang kandidat;
berpengelaman dan tidak berpengelaman, memperjuangkan syariat Islam
atau sekuler dan sebagainya, parta peduli rakyat atau partai yang
hanya peduli kepentingan sendiri. Hal ini mengakibatkan pemerkosaan
dan alienasi suatu bahasa dari komunitas kepemilikan bahasa secara
luas (masyarakat). Partai atau kandidat menampilkan pesona padahal
dibelakangnnya bersemayam shadow. Dihadapan massa mereka melantunkan
kebenaran (truth) namun sebenarnya yang mereka menyembunyikan
kepalsuan (pseudo). Mereka, dengan lantang akan menyelesaikan masalah
(problem solver), senyatanya mereka adalah pencipta masalah (problem
maker). Akhirnya suatu bahasa seolah-olah milik otoritas tertinggi
suatu kandidat tertentu. Dengan cara dilaogis, musyawarah, cara
kebersahajaan, lembut dan hati-hati mereka melakukan tafsiran dan
pemaknaan atas realitas, namun didalamnya tersimpan mesin kepura-
puraan, kebohongan, penipuan dan bahkan penyesatan. Artinya, disini,
ditilik adanya ruang yang menyempal atas ruang yang lebih besar
(kemaslahatan). Inilah ruang yang membuat masyarakat merasa pengap dan
hidup dalam simpang siur pembicaraan. Walhasil masyarakat tetap dalam
lubang ketidakmenentuan dan ketidakpastian, ketidakmengertian,
kebingungan; kejahatan dianggap kebenaran, penggusuran dianggab
kemaslahatan bersama, kepalsuan dianggap lebih benar dari kebenaran,
rumor lebih shahih daripada informasi. Muaranya, yang tercipta bukan
kesadaran politik namun yang dituai adalah false politic
consciousness, yang terbangun bukan melekpolitik namun yang terjadi
adalah penjahilan politik dan yang terjadi bukanlah demokrasi namun
yang timbul adalah pemasungan ide.

Masyarakat Tidak “Bodoh”?.
Kita berharap dan sudah banyak bukti bahwa masyarakat sudah mulai
cerdas dan tidak mudah tertipu dengan pencitraa kandidat yang kadang
tidak rasional dan lucu.Masyarakat sudah mulai faham dengan pengelaman
pemilu legislatif, pilkada sebelumnya, bagaimana cara “memanfaatkan”,
“cara mengcounter tipuan” atau menemukan formula/serum sebagai penawar
atau anti toksin dari virus para kandidat. Kalau pilkada sebelumnya
masyarakat merasa ditipu oleh kandidat atau team sukses, maka sekarang
saatnya bagi mereka negoisasi secara langsung. Atmosfer Politik uang
atau perilaku politisi sebelumnya bagi masyarakat hari ini adalah
senjata untuk menekan para kandidat. Ini kultur masyarakat yang
disering ditipu yang akan selalu mencari counter sebagai tipuan-tipuan
ala mereka. Berdasarkan pengelaman mereka datang bukan datang lagi
dengan kekosangan, tapi mereka datang dengan taktik sendiri yang
didiamkan dalam akal fikiran mereka. Inilah senjata bagi kandidat yang
pendusta dan tidak amanah. Hay…..masyarakat bersatulah melawan
kandidat pembohong dan pengobral mimpi. Wallahu’alam bishawab

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke