Walaikumussalam Buya serta sanak sapalanta yang dirahmati Allah,

Ondeh.. kok sarupo itu akhir kesimpulan Buya .. iyolah batitiek aie mato ambo 
jadinyo.. Kasia dikadu oi kanduang....... Mangunyah alun pulo lunak untuak ka 
diluluah ruponyo nan kadiluluah tuh.. kasada'an pulo malah kironyo.

Buya Mas'oed yang ambo muliakan,
Ternyata kemenakan - kamanakan Buya masih paralu ditunjuak ajari. Sarupo ambo 
iko dek indak gadang dikampuang - masih banyak nan alun mangarati apo bana nan 
disabuik adat - baa bana nan sabana adat - apo nan manjadi adat istiadat nan 
kadiselaraskan jo agomo awak Islam.
Tantu sajo disegalo sisi tingkatan adat awak - pasti bana ado hal-hal yang 
indak sasuai jo norma-norma agamo Islam nan wajib kito luruskan.

Datuk Bagindo dan Datuk Endang Pahlawan yang ambo hormati,

katiko umua mulai baranjak tuo - alah banyak kamanakan nan batanyo - ado nan 
bantanyo nak barusaho pulo manjaniehkan pamahaman adat mano nan kadisasuaikan.. 
( kok alergi awak manyabuik ma - ubah - bisa diganti jo manyasuaikan). 
Sesungguhnya kapado Datuak - datuaklah  tampek kami batanyo - dek kami sabana 
yakin bahwa apo nan dikatokan Datuak-datuak ka  jadi referensi bagi kami dalam 
menyimpulkan seputar dinamikan adat minangkabau maso kini.

Kepada Mak Saaf yang ambo hormati,
Kito berdiskusi berdasarkan pengalaman dikeluarga - lingkungan bermasyarakat 
dimano ado nan kito caliek bahwasanya satu sisi - adat minangkabau ada yang di 
posisi yang tidak menguntungkan seperti ayahanda Mak Saaf. 

Ambo menilai itulah yang terjadi didalam sistem kekerabatan adat minangkabau 
yang bersifat eksogami itu. Apo nan dicaritoan Mak Saaf tentang status punah 
ayahanda - persis pulo terjadi di Papa Ambo - Induak bako indak paduli jo anak 
pisang - sekalipun Ambo masih sesuku jo Papa dan induak bako, yaitu suku 
Tanjung.

Dusanak Sapalanta yang ambo hormati secara keseluruhan,
Ini menjadi pengalaman bagi kita bahwasanya diskusi dalam sibuah milist memang 
agak sukar terarah.Namun ketika saya mencoba membuat kesemipulan dulu dalam 
posting yang berjudul : Resume Tambo - gelar sasangko - silsilah kerajaan, 
inipun masih belum menghasilkan suatu kesimpulan. Meskipun demikian 
...Alhamdulilah bagi saya resume yang tidak berkesimpulan itu tetap pegangan 
saya.

Marilah kita tetap berbesar hati dalam menerima postingan yang masuk di milist 
ini. Insya Allah menjadi pengetahuan yang berharga bagi kita - terutama yang 
muda -muda atau seperti saya walau sudah tua sekalipun namun masih mudo dalam 
pemahaman adat minangkabau.

Terlebih kurangnya sebelum tetesan mata saya ...berketerusan marilah kita 
saling memaafkan. Senantiasa berjernih hati dan kepala serta lapang dada dalam 
menerima perbedaan.

Wassalam


  Evy Nizhamul bt Djamaludin
(Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang


http://bundokanduang.wordpress.com
  

   
  


--- On Fri, 3/27/09, buyamasoedabidin <[email protected]> wrote:

From: buyamasoedabidin <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: SUDAH PERLUKAH MENGUBAH ADAT ?
To: [email protected]
Date: Friday, March 27, 2009, 9:28 PM

Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Barangkali kita sudah perlu menjuruskan pikiran kita sekarang ini...., 

Apakah Adat bersendi Syarak (Syariat Islam), dan syarak (syariat) bersendi 
Kitabullah (Alquran), yang sudah diterima oleh masyarakat Minangkabau selama 
ini (apakah itu hasil dari Sumpah Satie Bukik Marapalam atau Fatwa Tuanku Imam 
Bonjol versi Dobin), yang nyatanya telah menjadi ciri dan sebutan atas adat 
budaya Minangkabau, dirasakan tidak sesuai lagi oleh sebagian masyarakat 
Minangkabau, sehingga kuat alasan bahwa adat (ABSSBK) yang ada seperti sekarang 
ini mesti diubah dan mungkin nanti suatu ketika akan diubah pula, karena satu 
alasan klasik sakali aie gadang sakali talatak ba ubah ... dan satu masa 
sesudah itu akan diubah usai lagi...??? 


Apakah masyarakat Minangkabau tidak lagi memiliki kebanggaan dengan adatnya 
sendiri yang terang-terang berasas kepada Kitabullah (Alquran) dan bukan 
kitab-kitab yang lainnya?

Walhasil masyarakat Minangkabau adalah beragama Islam, bukan beragama dengan 
yang lainnya, yang  secara lebih tajam disebutkan, bila ada generasi Miangkabau 
yang secara sadar atau tidak (ikut-ikutan karena trend) mengganti keyakinannya 
dari Islam, dia tidak dapat disebut orang Minangkabau lagi...


Apakah keyakinan semulia ini tidak dapat dijadikan Hak Asasi Masyarakat (HAM) 
orang Minangkabau??? 

Saya secara peribadi menjadi cemas dengan diskusi yang berkembang ini, 
sementara di alam kenyataan kini, sudah banyak anak kemenakan orang Minangkabau 
yang tidak mengindahkan lagi alur syarak dan kepatuhan hukum kepada agama Islam 
dan kepatutan adat yang luhur dari warisan mulia yang ditinggalkan pendahulunya.


Maafkan saya, bila mulai saat ini saya secara peribadi mulai menghindar dari 
mengamati diskusi ini.

Sekali lagi maaf.
Wassalam
Buya HMA


Pada 27 Maret 2009 11:30, ricky avenzora <[email protected]> menulis:



Yang Mulia Datuak-datuak, Buya, Bapak/Ibu di RN


1. Membaca semua perspektif (yang sangat beragam) atas tema MENGUBAH ADAT dalam 
beberapa hari ini, maka mohon izin kan saya untuk kembali sedikit bertanya 
APAKAH IYA KITA SAAT INI SUDAH PERLU "MENGUBAH" (bisa dibaca sebagai 
menyempurnakan/, melengkapi) ADAT MINANG??? ADAT nya yang sudah perlu kita ubah 
(sempurnakan/lengkapi) atau BIAS nya yang sesungguhnya HARUS kita luruskan?


2. Perihal HANYA ALLAH yang MAHA SEGALANYA (termasuk MAHA SEMPURNA dan MAHA 
KEKAL), .....perihal hanya ATAS IZIN ALLAH suatu adat bisa bertahan.......saya 
fikir adalah sudah duduk di hati dan fikiran kita semua....dan SUDAH SEMESTINYA 
menjadi LANDASAN kita semua dalam berfikir dan bertindak. Namun demikian, 
perihal bagaimana kita "menjaga" dan "melestarikan" adat  atau
 bagaimana kita akan "mengubah" adat (kalau mampu) .....saya kira adalah sudah 
menjadi bagian IKHTIAR yang telah menjadi kewajiban manusia (krn ALLAH tidak 
akan mengubah nasib suatu bangsa kalau bangsa itu sendiri tidak mau 
mengubahnya).


3. Saya fikir, ....semua persepktif yang tertuang dalam milis ini bisa kita 
ambil sebagai contoh/gambaran tentang bagaimana orang minang di rantau 
mengetahui, mengerti, memaknai dan memahami .....serta bereaksi tentang  Adat 
Minang. Ada yang bergerak dari pengalaman pribadi, pengalaman keluarga, 
........ada yang berpandangan dari sudut gender,.....dst....dst....hingga ada 
yang mencuatkan persepktif jahiliyah.Pertanyaan nya adalah APAKAH IYA ADAT 
MINANG YANG "SALAH"  (baca : salah / kurang / tidak relevan lagi / perlu 
penyempurnaan) atau JANGAN-JANGAN KITA (termasuk saya sendiri tentunya) yang 
"SALAH" (baca: kurang mengetahui / kurang memahami / kurang memaknai / tahu 
tapi tidak mau / tahu dan mau TAPI
 lebih suka memilih yang enak nya saja) ????

4.  Sedemikian kompleksnya keragaman kita di rantau, maka pada hari ini saya 
telah mendengar langsung dari salah seorang Ketua KAN bahwa selama sepuluh 
tahun belakangan ini telah banyak terjadi "pelanggaran" adat, yang salah 
satunya ingin saya cuatkan adalah MEMPERJUAL BELIKAN TANAH DI DALAM KAMPUANG. 
Ketika saya mendapat informasi itu dari beliau, maka reaksi saya pertama kali 
adalah: DI DALAM KAMPUANG ATAU DI LADANG (istilah yang saya pakai utk 
menunjukan daerah "abu-abu" dari harato pusako tinggi). Beliau jawab : "DI 
DALAM KAMPUANG, bahkan beberapa bulan lalu Wali Nagari pun telah ikut membeli 
tanah di dalam kampuang". 


Ketika pertanyaan saya berlanjut : "KOK BISA???", maka beliau menjawab dan 
mengajar saya tentang 4 syarat harato pusako tinggi bisa di jual sambil 
mengatakan bahwa semua surat-suratnya lengkap dan telah ditandatangani oleh 
semua ahli waris. 


Ketika kemudian saya
 merespon ajaran beliau tersebut : " Iya, saya tahu ttg 4 syarat itu, namun 
pertanyaan saya MENGAPA DI JUAL, MENGAPA BUKAN DI GADAI SAJA,.....dan coba 
bayangkan kalau TANAH X (yg sdh 3 kali berpindah tangan tsb) suatu saat dijual 
ke tangan CINA  akan jadi apa ranah minang nantinya???",......maka beliau 
menjawab: "Iya,...itulah tekanan batin saya selama beberapa tahun belakangan 
ini".


5. Jika semua dinamika tersebut di atas kita golongkan sebagai ANCAMAN 
INTERNAL,.....maka saya tidak bisa membayangkan seperti apa RAPUHNYA kita saat 
ini dalam menghadapi ANCAMAN EKSTERNAL. 

Salam,
r.a








     






-- 
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min 
sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa 
taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun 
rahiim.










      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke