MEMILIH WAKIL RAKYAT
Oleh K.Suheimi 

Seminggu lagi kita akan memilih wakil rakyat pada Pemilu 9 April 2009
Tinggi harapan rakyat pada Pemilu ini yang menjujung tinggi azas demokrasi. 
Inti demokrasi adalah toleransi. Karena itu, sifat seorang demokrat adalah 
pasti menghormati dan menghargai orang atau kelompok lain.
Demokrasi itu mahal karena menelan banyak waktu. Ia memerlukan kesabaran untuk 
mendengarkan perbedaan, bahkan menghormati perbedaan sebagai sebuah keniscayaan.
Dalam demokrasi, tentu, orang mengejar hasil. Tetapi, hasil tidak boleh diraih 
dengan menghalalkan cara. Hasil diperoleh dengan menaruh hormat yang sangat 
tinggi kepada proses. Cacat dalam proses, cacat pula hasilnya.
Jadi, sekalipun demokrasi itu ujung-ujungnya menghasilkan pemenang atau 
pecundang, kalah atau menang adalah dua perkara yang diterima dengan sama-sama 
elegan. Begitulah mestinya yang terjadi dalam pemilu.
Kita sadari bahwa Demokrasi memakan ongkos yang sangat tinggi. Ia menghabisi 
pundi-pundi rakyat. Misalnya, untuk membayar biaya rutin seperti gaji para 
wakil rakyat yang duduk di DPR/DPRD. Bekerja atau tidak bekerja, bersidang atau 
tidak bersidang, memikirkan rakyat atau tidak, gaji wakil rakyat itu harus 
tetap dibayar.
Yang juga sangat mahal adalah ongkos pemilu yang menjalankan  hajat demokrasi 
yang datang hanya sekali 5 tahun. Inilah ajang pertandingan untuk memenangkan 
dukungan rakyat,  kita harus membiayai nya sebagai sebuah keniscayaan. Biaya 
yang di keluarkan pemerintah dan biaya yang di tanggung oleh calon, ternyata 
diluar dugaan.

Cuma sekarang terkesan mahal dan sulitnya demokrasi dan kebersamaan.  Jadi, 
melihat rapuhnya kebersamaan kita, karena demokrasi kita sesungguhnya serba 
seolah-olah, atau pseudo. Ia hanya bagus dalam aturan, tetapi buruk dalam 
implementasi. Sebab, secara kultural, kita memang belajar demokrasi bukan dari 
praktik keseharian dalam kehidupan, melainkan lewat buku-buku.
Oleh karena itu, menjadi orang yang toleran, kita bisa pertanyakan kepada 
basis-basis pendidikan kita.
Sudahkahsekolah-sekolah, masyarakat, dan keluarga kita mengajarkan akan 
pentingnya toleransi? Adakah para guru, ulama, juga para aulia pernah duduk 
bersama untuk membicarakan bahwa masing-masing agama punya persamaan, 
setidaknya dalam membangun moral para pemeluknya?
Bukankah yang lebih sering kita saksikan masing-masing mengklaim ajarannya 
paling benar sambil menegasi kebenaran agama lain? Bukankah kita sering 
menelanjangi kelemahan kelompok lain daripada mengakui keunggulannya?
Kita jarang mendengar khotbah entah di masjid atau gereja yang memuji dan 
menekankan pentingnya hidup bersama dalam keberagaman.

Ironis jika demokrasi sebagai simbol ketinggian peradaban kita tegakkan dengan 
kekerasan. Tragis jika nasib bangsa ini ditentukan melalui cara-cara rendah 
dengan adu kekuatan dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Demokrasi betapa manisnya kata-kata itu dan cita-cita itu. Semua itu tentu saja 
lebih mudah diomongkan daripada dilaksanakan. 
Saya mengucapkan Selamat ber Pemilu, selamat memilih Wakil Rakyat dengan 
semangat dan toleransi demokrasi
Untuk itu saya teringat akan sebuah Firman suci_Nya dalam Al-Qur'an  
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan 
Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kelompok 
yang lebih besar. (QS. 17:6)
Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan 
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam 
kelompok-kelompok). (QS. 27:83)

Pekan Baru  2 April 2009





      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke