Sanak Palanta

Ambo kirimkan cerpen karangan Pak AA Navis. Cerpen iko menggugah banyak
urang, termasuk ambo. Judulnyo ndak asing lai, yaitu "Robohnyo Surau Kami".

Salam

Andiko ST Mancayo

http://andiko2002.multiply.com/



*Robohnya Surau Kami*

AA Nafis

(http://sentirpitu.multiply.com/journal/item/2)

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan
menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri
jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan
sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan,simpang
yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu
nanti akan Tuan temui sebuah surau.

Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah
pancuran mandi. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang
tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaanya dan
ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga
surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari
sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat
seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali
setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin
ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena
ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong
kepadanya, sedang ia tak pernah meminta imbalan apa-apa. Orang-orang
perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya
sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya
imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya
ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum. Tapi kakek ini sudah tidak
ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal.

Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak
menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai
mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan
dinding atau lantai di malam hari. Jika Tuan datang sekarang, hanya akan
menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan
kerobohan itu kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di
dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama
ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa
yang tidak dijaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah
dongengan yang tak dapat disangkal kebenarnya.

Beginilah kisahnya. Sekali hari aku datang pula mengupah kepada Kakek.
Biasanya Kakek gembiri menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi
sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya
menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan,
seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang
berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau
cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat
Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat
itu.

Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya
Kakek: "Pisau siapa, Kek?" "Ajo Sidi." "Ajo Sidi?" Kakek tak menyahut.

Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia.
Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya yang
aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk
dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah
karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk
diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di
sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya.
Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan
kebetulan ada pula seorang yang ketagihan jadi pemimpin berkelakuan
seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pemimpin tersebut kami
sebutkan pemimpin katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya.
Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah
yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi: "Apa
ceritanya, Kek?" "Siapa?" "Ajo Sidi.""Kurang ajar dia." Kakek menjawab.

"Kenapa?" "Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini,
menggoroh tenggoroknya."

"Kakek marah?"

"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan
ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak
karenanya, ibadatku rusak karenanya.

Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan.
Sudah begitu lama aku menyerahkan diriku kepada-Nya.Dan Tuhan akan
mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi
memuncak. Aku tanya lagi Kakek: "Bagaimana katanya, Kek?" Tapi Kakek
diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali.

Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku.
"Kau kenal padaku, bukan? Sedari kecil aku sudah di sini. Sedari mudaku,
bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah
perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah
membuka mulutnya, di takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan
pertanyaanya sendiri. "Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat
punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu?
Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah.
Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu
wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku
membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka.
Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku
kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak Kupikirkan hari
esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada
umat-Nya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul
beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya.
Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya.
Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku
bila aku terkejut. Masya-Allah, kataku bila aku kagum.Apalah salahnya
pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk." Ketika Kakek
terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku: "Ia katakan Kakek begitu,
Kek?" "Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya." Dan
aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku
aku mengumpati Ajo Sidi. Tapi aku lebih ingin mengetahui apa ceritanya
Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek.

Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek
bercerita juga. “Pada suatu waktu,” kata Ajo Sidi memulai, “di akhirat
Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat
bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan
pahala manusia. Begitu banyaknya orang yang diperiksa. Maklumlah di
mana-mana ada perang.

Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia
dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia
sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan
di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk.
Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan
senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia
melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan “selamat ketemu nanti”.
Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di
muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala
sifat-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum
bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
"Engkau?" "Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku."

"Aku tidak tanya nama. Nama bagiku tak perlu. Nama hanya buat engkau di
dunia."

"Ya, Tuhanku."

"Apa kerjamu di dunia?"

"Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku."

"Lain?"

"Setiap hari, setiap malam, bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu."

"Lain?"

"Segala tegah-Mu, kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat,
walaupun dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis
laknat itu."

"Lain?"

"Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat
menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku
sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa,
mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu."

"Lain?"

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia
kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya
saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya,
ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus
dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka
tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia
menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa
panas neraka itu.

"Lain lagi?" tanya Tuhan.

"Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi
Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu."

Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji
Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya
dan tidak salah tanya kepadanya. Tapi Tuhan bertanya lagi: "Tak ada lagi?"

"O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu."

"Lain?" "Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku
lupa mengatakannya, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu."

"Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang
kauceritakan tadi?"

"Ya, itulah semuanya, Tuhanku."

"Masuk kamu."

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh
tidak mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti yang
dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. Alangkah
tercenggangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di
dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti
lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di
neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah
seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula.

Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan
semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti
juga. "Bagaimana Tuhan kita ini?" kata Haji Saleh kemudian,

“Bukankah kita disuruhnya-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu
semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita
dimasukkan-Nya ke neraka.”

“Ya, Kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang se-negeri dengan kita
semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat.” “Ini sungguh tidak adil.”
“Memang tidak adil,” kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji
Saleh.“Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.”
“Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke
neraka ini.”

“Benar. Benar. Benar.” Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. “Kalau
Tuhan tak mau mengakui lesilapan-Nya, bagaimana?” suatu suara melengking
di dalam kelompok orang banyak itu.

“Kita protes. Kita resolusikan,” kata Haji Saleh.“Apa kita revolusikan
juga?” tanya suara lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan
revolusioner.

“Itu tergantung pada keadaan,” kata Haji Saleh.

“Yang penting sekarang, mari kita berdemontrasi menghadap Tuhan.” “Cocok
sekali. Di dunia dulu dengan demontrasi saja banyak yang kita
peroleh,”sebuah suara menyela.

“Setuju. Setuju. Setuju.” Mereka bersorak beramai-ramai. Lalu mereka
berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya. “Kalian
mau apa?”

Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan
dengan suara menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: “O,
Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu
yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah
orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,
mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di
luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. Akan tetapi,
Tuhanku yang Mahakuasa, setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau
masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini,
maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut
agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan
memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.”

“Kalian di dunia tinggal di mana?” tanya Tuhan. “Kami ini adalah umat-Mu
yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.”

“O, di negeri yang tanahnya subur itu?”

“Ya, benarlah itu, Tuhanku.”

“Tanahnya yang mahakaya-raya, penuh oleh logam, minyak dan berbagai
bahan tambang lainnya bukan?”

“Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.” Mereka mulai
menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya
kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap
menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

“Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa
ditanam?”

“Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.” “Ya. Ya. Ya. Itulah dia
negeri kami.”

“Negeri yang lama diperbudak orang lain?”

“Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.”

“Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkutnya ke
negerinya, bukan?”

“Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat
mereka itu.”

“Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu
berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?”

“Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu.
Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.” “Engkau rela
tetap melarat, bukan?”

“Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.”

“Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?”
“Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar
mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.”

“Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke
hatinya, bukan?”

“Ada, Tuhanku.”

“Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu
teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya
untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu
sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang
kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena
beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku
menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau
bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk
disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku
saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka.

Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di
keraknya.” Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi.
Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diredhai Allah di dunia. Tapi
Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang dikerjakannya di dunia itu
salah atau benar.

Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat
yang mengiring mereka itu. "Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami
menyembah Tuhan di dunia?" tanya Haji Saleh.

"Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu
sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi
engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak
istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah
kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia
berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka
sedikit pun."

Demikian cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang
memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi,
istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. "Siapa yang meninggal?"
tanyaku kaget. "Kakek." "Kakek?" "Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di
suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya
dengan pisau cukur."

"Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat
meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Aku cari Ajo Sidi ke
rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya dia. "Ia
sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

"Tidakkah ia tahu Kakek meninggal?"

"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek
tujuh lapis."

"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala
peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung
jawab, "dan sekarang ke mana dia?"

"Kerja.""Kerja?" tanyaku mengulangi hampa."Ya. Dia pergi kerja."



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke