Dear Ibu Evi dan Majelis RN Yang Mulia, 1. Berkaitan dengan ajakan Bu Evy utk ikut serta berdiskusi dalam hal sosialisme di Minangkabau, maka sungguh saya TIDAK MAMPU rasanya. Saya tidak mempunyai pengetahuan sejarah, ....tidak juga berpengetahuan politik (kecuali sedikit sekali dalam hal politik sumberdaya alam dan pariwisata),.....tidak berpengetahuan adat dan budaya (bahkan karena tergolong individu yang berpola egaliter malah sering dianggap sebagai orang yg tidak beradat dan tidak berbudaya),....dan juga tidak berpengetahuan hukum dan tata negara sama sekali.
2. Jika saya diijinkan untuk ikut berdiskusi dengan melepaskan diri dari berbagai terminologi yang ada dalam khasanah berbagai ilmu pengetahuan di atas, dan jika saya diijinkan untuk ikut berdiskusi dengan melepaskan belenggu metodologi pada berbagai khasanah ilmu pengetahuan di atas,.......maka barangkali saya menjadi sangat senang jika boleh ikut berdiskusi untuk bisa belajar pada Ibu dan Datuak Endang tentang topik sosialisme tersebut. 3. Jika saya mencuatkan dan membayangkan kata SOSIALISME, kata LIBERALISME, dan kata MINANGKABAU secara bersamaan di dalam alam khayal dan fikiran saya, maka sepertinya saya menemukan beberapa hal berikut : a. kata Minangkabau (baca : dalam arti segala tatanan adat istiadatnya) adalah merupakan suatu SUPRA SYSTEM yang tidak tertandingi oleh SOSIALISME, tidak tertandingi oleh LIBERALISME,....baik dalam konteks secara partial maupun dalam konteks secara bersamaan. b. Berbagai tata nilai dalam sosialisme, jika di bandingkan kepada adat minang ternyata hanya mengelompok kedalam tatanan adat minang yang berkaitan dengan segelintir visi sosial saja. Elemen adat minang lebih banyak mempunyai tatanan visi sosial daripada filosofi sosial yang menonjol di dunia ( Cina dan Rusia misalnya), ....dan tatanan visi sosial pada adat Minang (jika dijalankan secara baik dan benar) adalah TIDAK MENIMBULKAN BIAS PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA seperti yang umum terjadi pada berbagai wilayah yang menggunakan filosofi sosialisme. Tatanan adat Minang mempunyai elemen dan kriteria adat yang teliti dan berlapis agar visi sosial tidak menjadi bumerang bagi siapapun (baik bagi masyarakat minang sendiri, maupun tidak bagi masyarakat dari suku lainnya). Untuk sampai pada kesimpulan tersebut di atas, ......maka dinamika "MALAKOK" yang diatur dengan begitu manis dalam tatanan adat Minang barangkali dapat kita jadikan sebagai contoh ekstrim tapi sangat sederhana untuk mengatakan bahwa visi sosial adat Minang adalah jauh lebih hebat dari filosofi sosialisme. c. Demikian juga halnya jika kata LIBERALISME disandingkan dengan kata MINANGKABAU (baca : tatanan adatnya). maka tatanan Adat Minangkabau ternyata juga telah mengajarkan tentang filosofi HAK ASASI MANUSIA (sebagai ciri paling mendasar dari faham liberalisme) jauh lebih dahulu dan dengan cara yang juga jauh lebih baik daripada berbagai negara penganut faham liberalisme saat ini. Kemuliaan dan keutamaan bundo-kanduang pada tatana adat Minang barangkali dapat kita jadikan sebagai contoh termudah untuk mencapai kesimpulan itu. Ternyata Adat Minang telah ratusan tahun lebih dahulu mengajarkan masyarakatnya tentang feminisme ataupun persamaan gender (yg menjadi salah satu icon liberalisme pada era milenium ini). 4. Dengan kebodohan saya dan pola berfikir yang "sangat liar" seperti persepktif saya pada butir 3 di atas, maka saya sering terheran-heran dan bingung sendiri jika melihat masih ada masyarakat Minang yang mempertanyakan dan menyesali diri "telah terlahir" sebagai "anggota Masyarakat Minang" (baik dlm arti anak-kemanakan ataupun dalam arti anak-pisang orang Minang).....dan bahkan saya menjadi SANGAT GALAU rasanya ketika mengetahui bahwa ada anggota Masyarakat Minang yang mencaci maki dan menghina leluhurnya sendiri. 5. Jika dikaitkan dengan tatanan berinterkasi dengan sumberdaya alam, maka kebodohan dan keliaran saya berfikir ternyata juga sampai pada kesimpulanpribadi bahwa faham EGOSENTRIS yang dipertentangkan dengan faham EKOSENTRIS yang kemudia ditengahi dengan faham GAIA ternyata juga masih belum ada apa-apanya dengan tatanan adat Minang dalam mengatur masyarakatnya berinteraksi dengan alam. Tatanan Adat Minang ternyata tidak hanya mengatur keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya (seperti yang dicuatkan oleh faham GAIA), tetapi juga menyandarkannya secara penuh pada ALLAH yang menjadi TUHAN SEMESTA ALAM. Ketika faham Ekosentris baru dilahirkan pada abad 20, dan faham GAIA baru dicuatkan pada akhir abad 20, maka ternyata ADAT MINANG telah mengatur itu semua sejak ratusan tahun yang lalu. HEBAT BUKAN?? Ketika GAIA pada akhir abad 20 melahirkan paradigma keberlanjutan (SUSTAINABLE, yang sampai saat ini orang sedunia masih bingung bagaimana cara mengimplementasikannya), ternyata Adat Minang telah menerapkan adat PUSAKO sejak ratusan tahun lalu. LUAR BIASA BUKAN?? Ketika manusia modern terperangkap dalam keserakahannya memperebutkan harta sehingga tidak malu-malu lagi unuk saling mencaci dan menghina bahkan membunuh ibu kandung nya sendiri,.....ternyata Adat Minang telah sejak ratusan tahun lalu mengatur adat "sawah pambawo", adat "ba bako - ba anak pisang", adat "sawah bagele" etc...etc yang menjamin segala kebutuhan dasar hidup anggota keluarganya secara pasti tanpa harus "mahabih tandek kan" harta itu sendiri dan sekaligus menjaga keberlangsungan dan keberlanjtan perkembangbiakan keluarga hingga beranak pinak. MENAKJUBKAN BUKAN?? Ketika berbagai negeri telah banyak DIOKUPASI (boleh juga jika dibaca sebagai DIJAJAH) oleh berbagai suku lain dimana anak negeri itu sendiri telah menjadi "tikus yang mati di lumbung padi" (seperti suku Betawi misalnya),.....maka adat HARATO PUSAKO TINGGI telah menyelamatkan Masyarakat Minang dari pola penjajahan modern tersebut. CERDAS BUKAN???? 6, Dengan pengakuan saya bhw saya sungguh tidak memiliki pengetahuan atas berbagai bidang ilmu di atas, maka tentunya semua perspektif yang saya tuliskan di atas hanyalah untuk diri saya sendiri, dan tentunya tidak pantas untuk disandingkan dengan tantanan berfikir dan metodologi pada masing-masing bidang ilmu tersebut. Di satu sisi, keliaran saya berfikir tentu sulit (atau sebut saja sekalian adalah TIDAK RELIABLE) untuk dipetakan dalam tatanan bidang-bidang ilmu tersebut, .....namun di sisi lain kawan2 yang memang menggeluti bidang-bidang ilmu tersebut di atas juga SANGAT SERING TERPERANGKAP dan TERJEBAK dalam LABIRIN tatanan berfikir dan metodologi bidang keilmuannya sendiri. Bahkan ketika sekelompok kawan2 begitu antusias "MEMPERTARUHKAN" keberlanjutan Adat Minang melalui berbagai studi dan hasil studi yang dilakukan oleh BANGSA LAIN, maka kegalauan saya berubah menjadi "hampir gila" rasanya. Ketika bangsa lain "menguliti" (sebut saja demikian sebagai analogi kedalaman penelitian) Adat Minang, maka tentu kita boleh saja merasa senang dan berterima kasih. Tentu boleh juga menjadikannya sebagai salah satu acuan perspektif berfikir, ....namun barangkali tentunya berbagai hasil penelitian bangsa lain (thd Adat Minang) tersebut perlu kita letakan pada porsinya. Saya yakin mereka bisa MENGULITI Adat Minang, tapi saya TIDAK YAKIN bahwa mereka berhasil menyentuh ROH dan JIWA dari ADAT MINANG. Sehingga, ...ketika dibaca dengan teliti....maka tidak aneh kalau kesimpulan mereka menjadi "aneh-aneh" bunyinya (baca : provokatif, memutar balikan fakta, menurunkan nilai, mendiskreditkan etc.etc hingga kesimpulan yg bersifat anomali). Dlm pandangan saya, ....belajar ADAT MINANG tanpa mengenal ROH dan JIWA nya barangkali sama saja seperti mahasiswa kedokteran belajar tentang manusia melalui bedah anatomi belaka.....yang mereka pelajari hanyalah bangkai manusia. Saya sangat yakin bhw org luar (bukan Minang) TIDAK AKAN BISA menyentuh ROH DAN JIWA dari ADAT MINANG. Katakanlah mereka melakukan suatu penelitian yang betul2 bersifat PRA misalnya, maka proses penelitiannya akan dihadang oleh suatu "pertahanan" berupa adaik salingka nagari. Tidak akan ada seorang penelitipun yang akan mampu menyelesaikjan penelitiannya ttg Adat Minang secara keseluruhan,......(alias tenaga, biaya dan waktunya gak cukup kaleeeee......). Utk contoh ekstrim,.....katakanlah seorang peneliti (laki-laki) akan menggunakan pendekatan "perkawinan" (seperti yg pernah dilakukan para peneliti Amerika utk meneliti suku di Irian) sebagai caranya masuk ke dalam "lingkaran satu" Adat Minang, maka dia akan "dihadang" oleh tatanan adat "urang sumando", dan sekaligus dinamika "palimbayan rusuak" kaleeeee..... Sedangkan kalau dia seorang peneliti wanita, maka dia juga akan "dihadang" oleh tatanan adat "bamintuo" kaleeee........... 7. Hingga di sini, maka masih ada satu perasaan saya yang tersisa, yaitu BAGAIMANA CARA NYA MEMPERSIAPKAN GENERASI PENERUS KITA AGAR MAMPU MENYARING SEMUA ITU di masa datang. 8. Mohon maaf atas kebodohan dan keliaran saya berfikir. Salam, r.a (lagi begadang krn kena giliran nungguin kawan yg lagi sakit). --- On Thu, 4/9/09, Evy Nizhamul <[email protected]> wrote: From: Evy Nizhamul <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Ba-Kau, ba-kamu, atau ba-elu, ba-aden, ba-aku,atauba-gw To: [email protected] Date: Thursday, April 9, 2009, 3:30 PM Assalamualaikum, wr.wb Luar biasa .... uraian sanak ambo nan ciek iko .. iyo sabana langkok.. Dari no 1 hingga no 6 - adalah uraian yang jelas dan tuntas. Jika sekiranya ambo seorang Dosen - sudah pasti nilai A, yang akan ambo berikan. Tahu ndak sanak Ricky - samo awak, ilmu yang dikunyah kunyah di Rantau Net sungguh banyak sekali. Sehingga akhirnya kita akan mendapat ilmu yang bermanfaat seputar Ranah Minangkabau dari milist inilah. Oleh karena itu - marilah kita menggali secara bersama-sama agar adat dan budaya kita yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujang dapat kita pertahankan. Disini ada yang menggelitik di hati saya adalah Adaka sosialisme minangkabau itu ? Mengapa saya bertanya - karena saya melihat sanak Ricky adalah orang yang bergelut dibidang Sumber Daya Alam .. tentunya banyak memahami paham paham yang tumbuh dan pernah ada di masyarakat pada umumnya dan Minangkabau khususnya.. Postingan yang lalu saya sudah berdiskusi dengan Datuak Endang Pahlawan dan jika sanak Ricky ikut bergabung - pasti semakin seru nampaknya. Wassalam Evy Nizhamul http://bundokanduang.wordpress.com --- On Thu, 4/9/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Ba-Kau, ba-kamu, atau ba-elu, ba-aden, ba-aku,atauba-gw To: [email protected] Date: Thursday, April 9, 2009, 12:23 AM Dear Bu Evy dan Majelis RN Yang Mulia, 1. Terima kasih atas pencerahan Bu Evy. Alhamdulillah rasanya saya dapat membayangkan pejelasan Ibu, dan rasanya ada pula paham yg saya dpt. Namun demikian, rasanya saya masih ragu akan 4 tingkatan Bahasa Minang. 2. Saya sdh mencoba mencari kembali posting Buya HMA, tapi gak ketemu, begitu juga dgn posting Pak Suryadi juga sdh gak ketemu lagi. Maaf, brgkali karena sdh tlalu banyak email shg tidak teliti dlm mencari. 3. Dlm konteks "tingkatan bahasa", .....dlm segala keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya ttg ilmu bahasa,.....rasanya barangkali kesimpulan kita sama atas adanya tingkatan bahasa pd Bhs Jawa (kromo inggil s/d ngoko),......pd Bhs Ambon, pd Bahasa Toraja (yg mereka identifikasi dgn istilah bahasa hari s/d bahasa tanah),......pd Bahasa Jerman (umgang sprache - hochsprache),......ataupun pd Bahasa Inggris (common english - old english). Namun demikian, dinamika dan kekayaan khasanah serta kosa kata dlm Bhs Minang barangkali sebaiknya tidak kita dikotomikan sebagai tingkatan bahasa. 4. Salah satu kekaguman saya yg luar biasa pd Adat dan Budaya Minang (dlm hal ini adlh bahasa sbg elemen adat dan budaya) adalah karena dinamika, khasanah, dan kekayaan kosa kata Bhs Minang adalah DIPERUNTUKAN bagi SEMUA ANGGOTA MASYARAKAT nya. Sedangkan terminologi "tingkatan bahasa" umumnya adalah selalu berkorelasi kuat atas "jiwa" feodalisme yg ada dlm masyarakat pemilik bahasa tsb (selain aspek gramatik sebagai variabel yg umum dipakai dlm klasifikasi) Semua anggota masyarakat BOLEH menggunakan khasanah dan kosa kata yg dimiliki Bahasa Minang,.....semua org boleh berpola berpepatah-patitiah, berpola "mandaki-malereang", berpola "basayok-cipeh cimeeh" (baik dlm keseharian.....ataupun dlm prosesi adat dan budaya),......dan "basayok" nyo samo,.....papatahnyo samo,...dst dimana pola kesamaan ini adalah TIDAK TERJADI pada tingkatan Bhs Jawa (misalnya). Itulah mengapa saya lebih cenderung utk berpendapat bhw dinamika, khasanah dan kekayaan kosa kata Bhs Minang adalah TIDAK DITUJUKAN utk menggambarkan tingkatan bahasa. Bagi saya, di situlah kehebatan dan kemuliaan budi nenek moyang org minang. Sungguh LUAR BIASA dan ADI LUHUNG. 5. Perihal dewasa ini semakin sedikit anggota masyarakat yg mengenal ataupun menguasai pepatah petitih (dimana disisi lain masih dijaga oleh para niniak mamak),...... ataupun semakin miskinnya kosa kata masyarakat Minang (baca juga dlm arti semakin banyak kosa kata minang yang jarang dipakai),.....maka itu hanyalah menggambarkan dinamika "degradasi bahasa" belaka (yg juga merupakan masalah umum dlm berbagai bahasa daerah lainnya). 6. Satu hal lagi, rasanya cukup banyak kasus sejarah dunia yg menggambarkan bhw ternyata tingkatan bahasa adalah menjadi salah satu "pangka-bala" terjadinya fragmentasi yg berujung pada kehancuran kaum dan bangsa itu. Utk itu, brgkali kita perlu hati-hati dan teliti sebelum mencanangkan bhw ada "tingkatan bahasa" dlm adat dan budaya Minang. 7. Apapun itu, ......seperti yg telah saya akui pd awal perspektif saya dlm ikut berdiskusi dlm tema ini,.....saya sesungguhnya tidak punya pengetahuan sedikitpun dlm bidang bahasa,......untuk itu saya mohon pencerahan dari Ibu dan segenap Majelis RN Yang Mulia. Salam, r.a (Lagi duduk antri utk nyontreng disebelah seorang nenek yg bertanya : "anak ada pada nmr berapa ?") Powered by Telkomsel BlackBerry®From: Evy Nizhamul Date: Wed, 8 Apr 2009 16:47:07 -0700 (PDT) To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Ba-Kau, ba-kamu, atau ba-elu, ba-aden, ba-aku, atauba-gw Salam sanak Ricky yang energik, Saya tidak menyangka jika sanak menyapa dengan " dear Ibu Evy ". Begitu sapa keakraban yang disampaikan sanak di palanta ini. 1. Rasanya sebulan yang lalu ada diskusi tentang " sejarah tutur lisan minangkabau " yang pencerahan kita peroleh dari Buya Mas'oed atas pertanyaan sanak kita di rantau Pak Jamaludin Mochyidin. Intinya dapat kita simpulkan bahwa : - Minangkabau memiliki tingkatan pula dalam bertutur yang tinggi. Sehingga bagi kita yang besar di rantau seperti Sanak Ricky katanya "mangarinyiak" dulu baru paham apa yang di disampaikan oleh lawan bicara kita. Rasanya ada 4 tingkatan dalam kita bertutur itu. 2. Di RantauNet ini kita akan menemukan 4 kategori orang yang bercakap-cakap. Diantara tutur kesantunan yang tinggi - sering disampaikan oleh Datuk - datuk kita. Seperti " Manolah datuak ambo.......dstnya. Indah jika kita membacanya .. dan enak didengar.... Jujur saya jarang mendengar percakapan resmi dengan cara berbahasa minang - kecuali di perhelatan - perhelan namun tidak dikalangan adat seperti pengangkatan Datuk atau penghulu. Pingin juga sih... untuk mendengar dan mengamati tutur Datuak -datuak awak kalau berpidato. 3. Di Cimbuak pernah diadakan " Pasambahan di Palanta Cismbuak " yang reportasenya sudah saya posting di blog Bundokanduang atau di Cimbuak sendiri pernah saya posting pula. Tujuannya adalah agar generasi muda memahami khazanah bertutur lisan di Minangkabau. 4. Saya pernah terkaget -kaget ketika add Iffah berpuisi dengan menggunakan kata " waden". Ketika itu spontan saya berkata ; waduh... kok co iko aku ngomong di rumah kala aku kecil dulu - sudah pasti kanai lado dek Mande.... Karena saya ndak paham saya tanya sama kenalan saya " orang Bukittinggi" . Memang demikian Uni... jika kami orang Bukittinggi - memanggil diri "waden" untuk menunjukkan tingkek lawan bicara sejajar...- 5. Doeloe sekali ketika sangkek ketek ( 40 tahun) yang lalu- saya sering mendengar kakak-kakak sepupu saya yang masih gadis pernah ber - waang ke pada teman padusinya. Rupanya itu adalah bahasa " okem" di Kota Padang Zaman dulu. Entah ya... untuk masa kini. 6. Nah... bagi sanak Ricky yang juga gadang di rantau - rasanya akan garing bukan ? jika menggunakan kata " Elu " atawa gue.. Apalagi jika berkomunikasi dengan teman sesama IPBnya. Tapi awas......jika sanak Ricky ber "elu ber gue" di palanta ini - nanti saya " Lado muncuangnya. Ha... ha.... bercanda eh bagarah..... Nah kembali pada subject milist - dalam rangka romantisme berminang - minang , bisa saja di keseharian orang - orang rantau kan menyebut yang demikian kepada lawan bicaranya. Terserah elu deh.... diganti terserah waang lah... Juga bisa saja "Terserah pendapat gue dong....? diganti tasarah di wakden lah.. Semuanya itu adalah ketika lawan bicaranya se umur ..... Tentu ndak pantas jika saya bertutur dengan sanak Ricky seperti itu bukan...?? Terlebih dan terkurangnya mohon dimaafkan. Mari kita nyontreng hari ini dan selamat menyontreng...... Wassalam, Evy Nizhamul (Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang) http://bundokanduang.wordpress.com --- On Wed, 4/8/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Ba-Kau, ba-kamu, atau ba-elu, ba-aden, ba-aku, atauba-gw To: [email protected] Date: Wednesday, April 8, 2009, 8:13 AM Dear Bu Evy, dan Majelis RN Yang Mulia, 1. Kalau tidak salah satu tulisan Pak Suryadi pernah menyinggung tingkatan bahasa di Minang. Maaf lupa pd posting yg mana (kalau tdk salah saat itu beliau menyinggung ttg kromo inggil di jawa). 2. Saya juga tertarik utk mengetahui itu. Mohon kiranya pencerahan dari Pak Suryadi. Salam, r.a.Powered by Telkomsel BlackBerry®From: Dewi Mutiara Date: Wed, 8 Apr 2009 05:06:42 -0700 (PDT) To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Ba-Kau, ba-kamu, atau ba-elu, ba-aden, ba-aku, atau ba-gw Ass.Wr.Wb. aduh ..Ozi sorry ya saya gak tau kalau anda itu padusi. mengenai panggilan kau ,waang tergantung dari kecilnya kebiasaan dalam rumah masing-masing dan kedengarannya kasar atau tidak juga dari kebiasaan, kalau saya dirumah dari kecil tidak pernah orang tua saya pakai kau atau waang walaupun ibu saya dirumah selalu berbahasa minang, saya tidak bisa mengatakan itu kasar atau tidak, setelah saya tinggal di Padang waktu kuliah antar sesama teman biasa saya dengar misalnya ...dari ma ang tadi lah lamo den tunggu. Kedengaran enak karena bicaranya tidak sambil marah , atau urang dipasa batanyo mambali apo kau piak, tidak kasarkan karena itu kebiasaannya. Seumpama ibu saya yang berkau atau waang itu mungkin sedang marah besar ,karena tidak biasa kita dengar dirumah. demikian ya Ozi yang bisa saya sampaikan. wassalam. Dewi Mutiara.suku Sikumbang. --- On Wed, 4/8/09, ozidateno <[email protected]> wrote: From: ozidateno <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Ba-Kau, ba-kamu, atau ba-elu, ba-aden, ba-aku, atau ba-gw To: [email protected] Date: Wednesday, April 8, 2009, 10:53 AM uNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
