“AYAH BACA YANG KERAS YA” Pada suatu malam, Budi seorang eksekutif sukses, seperti biasanya memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang di bawa pulang kerumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Rahma, baru berusia 4 tahun, datang mendekati, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru.
Buku itu bergambar seorang peri kecil yang ‘imut’, sangat menarik perhatian Rahma. “Ayah, liat!” Rahma berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurukan kaca matanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi. “Wah, Buku baru ya, Nak?” “ia, yah” Rahma berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. “Bacain Yah…,” pinta rahma lembut. “Wah Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang ya…,” sanggah Budi dengan cepat. Lalu sang ayah segera mengalikhan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakan didepannya. Rahma terpaku, tetapi ia belum menyerah, dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu.. “Yah, Bunda bilang, Ayah mau baca untuk Rahma.” Budi mulai agak kesal. “Nak, Ayah sedang sibuk sekarang minta Bunda bacakan ya”? “Yah, Bunda juga sibuk terus, Nih, Ayah lihat gambarnya, lucu-lucu.” “Lain kali Rahma, Sana…! Ayah sedang banyak kerjaan…!” Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu, Rahma menarik napas panjang dan tetap disamping ayahnya, berdiri penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi. “Yah…, gambarnya bagus, Ayah pasti suka…” “Rahma, LAIN KALI…!!” Budi membentaknya dengan keras. Kali ini Budi berhasil, semangat Rahma kecil terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergerser menjauhi ayahnya. “Iya, Yah. Lain kali ya Yah?” Rahma masih sempat mendekati sambil menyentuh lembut tangan sang ayah, lalu meletakkan buku cerita itu dipangkuan ayahnya. “yah, kalau Ayah ada waktu, bacain keras-keras ya Yah, supaya Rahma bisa denger…” Hari demi hari berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Rahma kecil tidak pernah terpenuhi, Buku cerita peri imut itu, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras. “Bukk…!!” Beberapa tetangga mengabarkan dengan histeris bahwa Rahma kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang di depan rumah Budi. Tubuh Rahma mungil terpental beberapa meter. Dalam keadan panik, Budi segera menelepon Rumah Sakit terdekat, minta didatangkan ambulan secepatnya. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Rahma kecil sempat berkata dengan begitu lirih. “Rahma takut yah, Rahma takut Bunda, rahma sayang Ayah dan Bunda.” Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat. Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak dia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang menyentuh tangannya, memohon untuk membacakan sebua cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali. “…Ayah baca keras-keras ya Yah, supaya Rahma bisa dengar…” Kata-kata anaknya itu mengiang terus ditelinganya. Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Rahma kecil tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita Peri yang imut, diambilnya perlahan dari onggokan mainan Rahma di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya menjadi sebuah kenangan indah dari Rahma kecil. “Rahma, dengar Ayah baca ya…” Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan mencoba membacanya dengan suara keras. Tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, sambil berlinang air mata. Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi. “rahma, Ayah mohon maaf, Nak. Ayah sayang Rahma..” Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya. Tak kuasa menahan sakit itu, Budi bersujud dan menangis…, memohon satu kesempatan lagi untuk belajar mencintai. (Oleh Faisal, Rotterdam) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
