Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya ingat sekali, dalam tahun 1960-an Prof Bahder Djohan pernah berpesan agar 
di Sumatera Barat didirikan Fakultas Filsafat, tentunya untuk membantu tumbuh 
dan berkembangnya cara berfikir kritis,sistematis, logis, komprehensif, dan 
konsisten di Ranah Minang yang kaya dengan pepatah petitih itu.
Entah mengapa, amanah beliau tersebut tak pernah ada tindak lanjutnya, sampai 
sekarang. Mungkin karena kita sudah nyaman dengan cara berfikir non filsafat. 
Padahal, jika kita kaitkan dengan ABS SBK, justru umat Islam yang menjadi 
penyambung tradisi filsafat Yunani dengan dunia modern, mengatasi abad gelap 
pemikiran dalam Abad 10 sampai ke 17, sewaktu Eropa berada di bawah kekuasaan 
Gereja Katolik.
Lucunya, kemudian justru Eropa dan Gereja Katolik yang mengembangkan berbagai 
pemikiran filsafat, sedangkan kita umat Islam lebih banyak hanya 
mengulang-ulang kaji lama tanpa kritik sama sekali. Dunia modern sekarang ini 
bermula dengan pembaharuan pemikiran filsafat.
Tradisi pemikiran filsafat dalam artian modern di Indonesia dipelopori oleh 
Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Secara berkebetulan, atas 
ajakan Romo Sastrapratedja, saya diminta mengajar Filsafat Pancasila di STF 
tersebut, selama 12 tahun, antara 1987 sampai 1999, sewaktu saya terpaksa 
mengundurkan diri karena terserang hepatitis C, yang hampir merenggut nyawa 
saya.
Sungguh saya senang sekali menjadi dosen di STF tersebut, bukan saja oleh 
karena saya dipercaya mengajar Pancasila dari perspektif filsafat, tetapi juga 
karena saya bisa memperoleh perspektif baru dari pertanyaan kritis para 
mahasiswa, yang sebagian akan menjadi pastor Katolik. Sekedar catatan, saya 
pernah belajar filsafat pada tahun pertama kuliah saya di Universitas Gadjah 
Mada, tahun 1955-1956. Jadi pemikiran filsafat tidaklah asing bagi saya.
Seperti dijelaskan dalam artikel di bawah ini, kurikulum STF tersebut 
menitikberatkan pada pengembangan daya fikir secara kritis, yang saya kira bisa 
kita terima sebagai umat Islam, karena bukankah Al Quranulkarim sendiri 
berkali-kali menanya: 'tidakkah kamu fikirkan?'
Tidak ada yang perlu ditakutkan oleh umat Islam, baik terhadap filsafat maupun 
terhadap Gereja Katolik, khususnya sejak Konsili Vatikan II tahun 1962-1965, 
yang menghormati agama dan umat beragama lainnya, termasuk umat Islam..
Sikap dasar yang perlu kita anut terhadap umat beragama lainnya adalah: hayo, 
mari ber-fastabiqul khairaat, berlomba-lomba untuk berbuat baik.
Bagaimana dengan 'kristenisasi' ? Wah, jika itu benar, kan kita juga berhak 
'islamisasi'? Sama halalnya, kan? Pertanyaan tersebut malah kok terasa 'kurang 
pede'.
Yang jelas, STF Driyarkara bukanlah sarana 'kristenisasi', tetapi bagian dari 
upaya besar 'pencerdasan kehidupan bangsa'.
Kalau tak mau juga, bagaimana kalau kita dirikan STF sendiri dengan kiprah yang 
mutunya lebih unggul?
Kepada STF Driyarkara umumnya dan kepada Romo Magnis dan Romo Sastrapratedja 
khususnya saya ucapkan selamat.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
Alternate e-mail address: [email protected];

[email protected]

40 TAHUN STF DRIYARKARA
Mau Bertanya, Mau Mendengarkan

Sabtu, 18 April 2009 | 03:38 WIB 

 
Oleh ST SULARTO 
Nama kawasan Jembatan Serong di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Timur, 
mengadopsi visi-misi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Lokasi sekolah tinggi, 
tertua sebagai lembaga pendidikan tinggi filsafat di Indonesia itu, terletak di 
dekat Jembatan Serong, jembatan berbentuk menyerong persis di mulut gang kampus 
STF Driyarkara.
Memasuki kampus yang kini sedang diperluas dan dilakukan penambahan bangunan 
bertingkat, tak ada kesan megah dan mewah. Sederhana! Melani Budianta, dosen 
Universitas Indonesia, menyaksikan masih banyak mahasiswa datang bersepeda, 
sesuatu yang kini digalakkan di berbagai kampus megah.
Membaca buku, kata Melani, dia punya kesan tersendiri. Pada saat istirahat 
mahasiswa tidak duduk ngobrol dan ngerumpi, tetapi masuk perpustakaan. Yang 
kedua itu dibantah Romo M Sastrapratedja, Ketua STF tahun 1980-1984 dan kini 
pengajar di sana, ”Dulu waktu istirahat banyak yang masuk ke perpustakaan, ya, 
tetapi untuk cari udara sejuk. Sekarang hanya sedikit, lebih banyak yang 
ngobrol-ngobrol.”
Romo Simon Petrus L Tjahjadi, rekan dosennya, menambahkan, ”Ya, dulu dan 
sekarang mereka masuk ke perpustakaan waktu jam istirahat, untuk ngadem. Di 
kelas panas, tak ber-AC, di perpustakaan dingin.” 
Soal sepeda dan ngadem terkait kutu buku menunjukkan kekhasan kampus STF 
Driyarkara. Kekhasan lain, dulu pada awal- awal tahun ajaran di pintu masuk ada 
wayang Bima, sekarang sudah dicopot. ”Tak tahu alasannya, tapi Bima, kan, 
mungkin karena bersosok besar, selain tentu karena idola Romo Franz 
Magnis-Suseno,” kata Ketua STF Driyarkara Eddy Kristianto.
Bebas simbol
Berbeda dengan kampus lain, kampus STF Driyarkara bebas simbol keagamaan. 
Didirikan oleh konsorsium Keuskupan Agung Jakarta, Ordo Fransiskan (OFM) dan 
Societas Iesu (SJ) —tentu saja berlabel Katolik—di sana tak ada salib atau 
kapel.
Sesuai maksud awal didirikan, 1 Februari 1969, sekolah ini membuka diri sebagai 
komunitas yang inklusif dan pluralis. Para mahasiswa Muslim pun kerasan. Tak 
ada diskriminasi, kata mantan Ketua STF Driyarkara, J Sudarminta, seperti 
dikutip majalah Hidup (25/2/07). Kehadiran mereka ikut menjembatani 
kelompok-kelompok atau gagasan-gagasan yang saling berseberangan dan saling 
mengeksklusifkan. Sesuai semangat Driyarkara, tekanan pendidikan pun untuk 
menumbuhkan mahasiswa berpikir kritis. 
Mahasiswa dan dosen didorong aktif peduli terhadap permasalahan bangsa. Wajar 
kalau sebagian mahasiswanya adalah aktivis.
Seperti disampaikan Sastrapratedja, beberapa orang suka menyatakan diri sebagai 
mahasiswa atau lulusan STF Driyarkara, padahal hanya ikut beberapa kali kuliah 
atau ikut ekstension. Menjadi mahasiswa STF bisa meningkatkan harga jual. 
Artinya, dia tidak lagi hanya tempat pendidikan calon-calon pastor, tetapi juga 
kaderisasi tokoh-tokoh masyarakat, seiring pula dengan gejala orang 
”bercas-cis-cus” kosakata filsafat.
Dalam terbitan yang sama, menarik komentar Budhy Munawar Rachman, pemikir muda 
Muslim yang memperoleh gelar S-1 dan S-2 dan kini sedang menyelesaikan S-3 di 
sana. ”Kalau boleh disebut secara langsung pendidikan yang saya peroleh di STF 
telah menjadikan saya sebagai Muslim liberal,” katanya.
Baginya STF mempersiapkan dia terus mengembangkan pemikiran Islam yang 
diperlukan dalam mendorong kemajuan bangsa Indonesia, khususnya dalam 
pengembangan demokrasi dan hubungan antaragama.
Berpikir intelektual
Di tengah belantara lembaga pendidikan tinggi, STF Driyarkara bagi Bambang 
Hidayat ibarat oase Ibu Kota. Kehadirannya tidak saja sebagai oase dalam arti 
fisik, terletak di tengah perkampungan dan terbebas dari hiruk pikuk Jakarta, 
tetapi terutama dalam aura dunia pendidikan tinggi yang mengidap wabah 
komersialisasi. ”Pendidikan di negeri ini secara tidak langsung telah dianggap 
sebagai aset perdagangan,” katanya dalam seminar reflektif di STF Driyarkara, 
28 Februari lalu.
Padahal, kata anggota Akademi Ilmu Pengetahuan itu, sumber kekuatan dan 
kepercayaan sebuah lembaga pendidikan tinggi tidak dari penampilan fisik, 
tetapi penciptaan kapasitas menghargai nilai hakiki ungkapan intelektual, daya 
cipta manusia dan ungkapan.
Sudah sepantasnya pada usia 40 tahun, setelah berhasil mengukuhkan kepentingan 
intelektual dalam filsafat dan teologi, STF berjuang menjadikan diri sebagai 
universitas bangsa bukan semata-mata universitas kebangsaan; sebuah nation’s 
university yang mengandung nilai-nilai kebangsaan Indonesia..
Entakan ahli astronomi Bambang Hidayat itu menjadi pelecut para penyelenggara 
lembaga pendidikan, mahasiswa, bahkan kolega STF Driyarkara. Berpikir kritis 
sebagai salah satu ciri intelektual, dibangun lewat filsafat yang selalu 
dirangsang bertanya dan menggugat, menjadi semacam tuntutan mutlak kepakaran 
intelektual. Setiap lembaga pendidikan diharapkan menghasilkan lulusan yang 
berpikir intelektual, kata Karlina Supelli, filosof yang saat ini aktif 
mengembangkan program S-2 dan S-3 STF Driyarkara.
Keraguan Rama N Driyarkara, ahli ilmu filsafat yang berhasil memopulerkan 
filsafat, kini terjawab. Filsafat bisa menjadi komoditas yang layak jual, 
mempertajam dan memperkuat kerangka berpikir ilmu-ilmu positif yang berpikir ke 
hal-hal yang produktif lewat ilmu-ilmu filsafat yang lebih reflektif, dengan 
cara mempertanyakan dan menggugat. Pendirian STF yang dulu diperuntukkan 
terutama untuk studi filsafat calon-calon pastor sebelum menempuh studi teologi 
menjadi milik masyarakat.
Studi teologi
Sejarah kehadiran STF tercatat untuk terutama sebagai bagian dari pendidikan 
calon-calon imam Jesuit. Mereka tidak lagi belajar filsafat di Poona, India, 
atau berbagai kota di luar, tetapi cukup di Jakarta. Pada era awal, sejalan 
pula dengan keinginan agar setidak-tidaknya mereka yang umumnya berasal dari 
pedalaman dan pedesaan, sebelum studi lanjut pernah mengenyam hidup di Jakarta, 
Ibu Kota negara yang kelak menjadi bagian karya pelayanan mereka.
Sekarang STF pun menyelenggarakan studi teologi. ”Tetapi semangat Driyarkara 
terutama dalam mengasah kepekaan pada kemanusiaan tetap dihidupkan dan 
dijadikan sumber inspirasi,” kata Sudarminta.
Pernyataan Sudarminta sejalan dengan tema yang ingin disasar peringatan 40 
tahun STF. ”STF ingin menyapa masyarakat dengan mendengarkan mereka.. Setelah 
40 tahun terus-menerus bertanya dan menggugat, STF ingin mendengarkan,” kata 
Eddy Kristianto.
Dikatakannya, ada dua segi yang mau ditingkatkan, yakni segi akademik dan 
organisasi manajemen. STF mau memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama dalam 
mengajak masyarakat berpikir kritis lewat perkuliahan dan jenjang-jenjang 
pendidikan.
Adakah mazhab STF? ”Mazhab STF? Wuah-wuah, wuah!,” komentar Rama Setyo Wibowo 
dan Rama Th Sarjumunarso, dua dosen yang sehari-hari tinggal di kampus STF. 
”Ilmu itu tidak pernah tunggal. Setiap pendapat atau mazhab selalu merefer dan 
diperkaya oleh ide atau pemikiran yang lain.. Sekolah Frankfurt misalnya, 
sebagai mazhab tidak dihasilkan dan disuarakan oleh seorang Theodore Adorno,” 
sanggah Setyo Wibowo.
Jadi? Yang diinginkan STF bukanlah sebuah mazhab pemikiran, tetapi sebuah cara 
berpikir yang kritis sebagai refleksi atas perkembangan masyarakat lewat 
pemikiran-pemikiran besar para tokoh filsafat. Karena itu, di sini ada 
kelompok-kelompok studi Habermas, Malebranche, dan lain-lain.
”STF perlu kembali ke semangat awal, yaitu sebagai pusat training intelektual 
dan bukan jadi pesantren atau seminari, karena hal itu akan membuat para calon 
pastor menjadi tidak terpelajar ketika 10 tahun mereka berkarya sebagai 
pastor,” tambah Rama Herry Priyono.
Dengan 122 mahasiswa filsafat, 167 mahasiswa teologi, 53 mahasiswa magister 
filsafat, 30 peserta matrikulasi dan 10 mahasiswa program doktor, kini STF 
sudah meluluskan tiga doktor filsafat. Setahun peringatan 40 tahun usianya, 
dirayakan dengan serangkaian acara. Di antaranya seminar ”STF Bertanya dan STF 
Mendengarkan”, peluncuran buku dan pada tanggal 18 dan 19 April ini pementasan 
Rapat Rakyat oleh Teater STF Driyarkara dengan sutradara Adi Kurdi di Teater 
Kecil, TIM. 
Setelah 40 tahun bertanya, sudah waktunya STF mendengarkan!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke